|
Mengapa Ada Guru Besar yang Terlibat dalam
Konferensi Ilmiah Abal-abal? Tim
Kompas : Wartawan Kompas |
KOMPAS, 28 Juli 2026
|
Sejumlah guru besar terlibat dalam konferensi-konferensi
abal-abal sebagai penyelenggara, pembicara, hingga anggota komite. Bagaimana
hal ini bisa terjadi? Apa yang Anda pelajari dari artikel ini? 1. Sejauh mana keterlibatan guru besar
dalam penyelenggaraan konferensi ilmiah abal-abal? 2. Bagaimana kualitas dari sebuah
konferensi ilmiah abal-abal? 3. Seperti apa jalannya konferensi ilmiah
abal-abal? 4. Apa saja yang dijanjikan oleh
penyelenggara konferensi untuk menggaet peserta? 5. Mengapa Indonesia gemar
menyelenggarakan konferensi? Sejauh mana keterlibatan guru besar dalam penyelenggaraan
konferensi ilmiah abal-abal? Beberapa guru besar di Indonesia diduga terlibat dalam konferensi
yang terindikasi abal-abal. Sebagian dari mereka berperan aktif sebagai
penyelenggara, sebagian yang lain dicatut namanya pada situs konferensi
predator global. Dalam forum The 2nd International Academic Conference on Teaching
Education and Recent Learning Technologies (ICTERLT) 2026, Guru Besar
Universitas Jambi berinisial AM tercatat sebagai ketua konferensi (conference
chair). Forum ini juga mengundang Associate Professor Universitas Sugeng
Hartono Sukoharjo, Jawa Tengah, sebagai pembicara kunci. Pada kasus lain, ada dugaan keterlibatan aktif Guru Besar
Universitas Negeri Jakarta (UNJ) berinisial SH sebagai penyelenggara
konferensi yang meragukan. Namanya tercatat pada tiga konferensi berbeda.
Salah satunya konferensi dengan penyelenggara Indonesian Financial Management
Association (IFMA). Sementara itu, sejumlah guru besar mengaku namanya dicatut
sebagai komite penyelenggara konferensi predator World Academy of Science,
Engineering, and Technology (WASET). Ada Guru Besar Universitas Sriwijaya
Palembang, Sumatera Selatan, berinisial IM dan Guru Besar Universitas
Indonesia berinisial ZR. Bagaimana kualitas dari sebuah konferensi ilmiah abal-abal? Tim investigasi Kompas mengirimkan makalah bodong ke forum
International Conference on Islamic Studies, Society, and Humanities (ICISSH
2026) yang digelar secara hibrida Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno
(UINFas) Bengkulu, 15-16 Juli 2026. Semua informasi dari makalah itu bukan
dari riset yang betul-betul dilakukan. Datanya berasal dari sumber terbuka
internet yang dikumpulkan AI secara mandiri. Tak hanya makalahnya yang bodong, identitas peserta juga
abal-abal. Meski panitia ICISSH 2026 menyatakan ada jadwal revisi makalah
pada 13 Juli 2026, tak ada umpan balik atau permintaan revisi atas makalah
bodong itu. Panitia ICISSH 2026 malah menerima makalah itu dengan menerbitkan
letter of acceptance (LoA). Kompas juga mengirimkan abstrak penelitian bodong ke
International Conference on Interdisciplinary Approaches in Life Sciences and
Healthcare (ICIALH) yang dijadwalkan 17-18 Juni 2026 di Hotel Ciputra,
Jakarta. Alih-alih diabaikan, abstrak bodong ini mendapat apresiasi dan
ucapan terima kasih panitia. Seperti apa jalannya konferensi ilmiah abal-abal? Berbekal makalah bodong, tim investigasi Kompas mengikuti
konferensi International Conference on Islamic Studies, Society, and
Humanities (ICISSH) 2026 dari awal hingga akhir. Tim bahkan ikut memaparkan
materi sesuai makalah bodong tersebut. Sejumlah kejanggalan terjadi pada konferensi internasional ini.
Mulai dari penggunaan bahasa yang tidak konsisten antara bahasa Inggris dan
bahasa Indonesia, hingga adanya pemakalah yang kabur pada sesi paparan.
Pemakalah luar negeri kebingungan saat panitia berbicara dalam bahasa
Indonesia. Seorang akademisi di sebuah kampus negeri ternama, Maya (nama
samaran), juga pernah ikut konferensi yang terindikasi abal-abal di luar
negeri. Ketika itu 2017 dan ia masih bersatus mahasiswa S-2 di salah satu
perguruan tinggi. Ia mengikuti konferensi yang digelar World Academy of
Science, Engineering and Technology (WASET). Konferensinya diadakan di London, Inggris. Niatnya sedari awal
memang bukan untuk mengikuti ”konferensi serius”. Dia hanya ingin ikut
konferensi sekaligus jalan-jalan ke luar negeri. Apa saja yang dijanjikan penyelenggara konferensi untuk menggaet
peserta? Tim Investigasi Kompas menemukan pola yang sama pada sejumlah
situs penyelenggara konferensi. Di situs International Center for Research
& Development (ICRD), misalnya, penyelenggara memuat halaman khusus
Travel to Yogyakarta untuk konferensi 13th International Conference on
Language, Communication and Society 2026 yang akan digelar di Yogyakarta pada
13–14 Juli 2026. Sebaliknya, informasi mengenai daftar keynote speaker ataupun
scientific committee tidak dicantumkan. Kejanggalan lain terlihat pada
informasi lokasi konferensi. Dalam halaman Call for Papers, penyelenggara
menyebut konferensi akan digelar di Universitas Gadjah Mada. Namun, pada
halaman Venue, lokasi kegiatan justru tercantum di Loman Park Hotel,
Yogyakarta. 9th IFMA International Conference yang diselenggarakan The
Indonesian Financial Management Association (IFMA) juga menampilkan foto-foto
destinasi wisata Bali pada halaman utamanya. Konferensi tersebut dijadwalkan
berlangsung pada 1-2 Agustus 2026. Pola serupa juga terlihat pada konferensi
WASET. Laman WASET yang diakses Selasa (21/7/2026) menunjukkan, lembaga
tersebut secara rutin menyelenggarakan konferensi di berbagai kota tujuan
wisata dunia. Mengapa Indonesia gemar menyelenggarakan konferensi? Sepanjang 2002 hingga 2013, jumlah makalah konferensi dari
Indonesia jauh di bawah Australia yang mencapai 10.000-12.000 makalah per
tahun. Namun, setelah 2014, jumlah makalah konferensi dari Indonesia
melonjak, dari di bawah 5.000 pada 2014 menjadi lebih dari 25.000 pada
2019-2021. Lonjakan ini terjadi saat ada perubahan Pedoman Operasional
Penilaian Angka Kredit (PO-PAK) tahun 2014. Saat itu, aturan PO-PAK
menyetarakan kumpulan makalah (prosiding) konferensi internasional yang
terindeks database internasional dengan artikel jurnal internasional.
Padahal, keduanya berbeda kelas dalam tradisi akademik dunia. Satu makalah jurnal internasional dengan penulis tunggal bisa
bernilai 40 angka kredit. Angka ini nyaris setengah dari total kredit yang
dibutuhkan dosen mencapai jenjang guru besar. Ketika prosiding konferensi
disetarakan, sampai batas 25-40 persen dari komponen penelitian, jalur yang
lebih gampang pun terbuka. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar