Kamis, 30 Juli 2026

 

Mengapa Ada Guru Besar yang Terlibat dalam Konferensi Ilmiah Abal-abal?

Tim Kompas :  Wartawan Kompas

KOMPAS, 28 Juli 2026

 

 

                                                           

Sejumlah guru besar terlibat dalam konferensi-konferensi abal-abal sebagai penyelenggara, pembicara, hingga anggota komite. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

 

Apa yang Anda pelajari dari artikel ini?

 

1.    Sejauh mana keterlibatan guru besar dalam penyelenggaraan konferensi ilmiah abal-abal?

2.    Bagaimana kualitas dari sebuah konferensi ilmiah abal-abal?

3.    Seperti apa jalannya konferensi ilmiah abal-abal?

4.    Apa saja yang dijanjikan oleh penyelenggara konferensi untuk menggaet peserta?

5.    Mengapa Indonesia gemar menyelenggarakan konferensi?

 

Sejauh mana keterlibatan guru besar dalam penyelenggaraan konferensi ilmiah abal-abal?

 

Beberapa guru besar di Indonesia diduga terlibat dalam konferensi yang terindikasi abal-abal. Sebagian dari mereka berperan aktif sebagai penyelenggara, sebagian yang lain dicatut namanya pada situs konferensi predator global.

 

Dalam forum The 2nd International Academic Conference on Teaching Education and Recent Learning Technologies (ICTERLT) 2026, Guru Besar Universitas Jambi berinisial AM tercatat sebagai ketua konferensi (conference chair). Forum ini juga mengundang Associate Professor Universitas Sugeng Hartono Sukoharjo, Jawa Tengah, sebagai pembicara kunci.

 

Pada kasus lain, ada dugaan keterlibatan aktif Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) berinisial SH sebagai penyelenggara konferensi yang meragukan. Namanya tercatat pada tiga konferensi berbeda. Salah satunya konferensi dengan penyelenggara Indonesian Financial Management Association (IFMA).

 

Sementara itu, sejumlah guru besar mengaku namanya dicatut sebagai komite penyelenggara konferensi predator World Academy of Science, Engineering, and Technology (WASET). Ada Guru Besar Universitas Sriwijaya Palembang, Sumatera Selatan, berinisial IM dan Guru Besar Universitas Indonesia berinisial ZR.

 

Bagaimana kualitas dari sebuah konferensi ilmiah abal-abal?

 

Tim investigasi Kompas mengirimkan makalah bodong ke forum International Conference on Islamic Studies, Society, and Humanities (ICISSH 2026) yang digelar secara hibrida Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno (UINFas) Bengkulu, 15-16 Juli 2026. Semua informasi dari makalah itu bukan dari riset yang betul-betul dilakukan. Datanya berasal dari sumber terbuka internet yang dikumpulkan AI secara mandiri.

 

Tak hanya makalahnya yang bodong, identitas peserta juga abal-abal. Meski panitia ICISSH 2026 menyatakan ada jadwal revisi makalah pada 13 Juli 2026, tak ada umpan balik atau permintaan revisi atas makalah bodong itu. Panitia ICISSH 2026 malah menerima makalah itu dengan menerbitkan letter of acceptance (LoA).

 

Kompas juga mengirimkan abstrak penelitian bodong ke International Conference on Interdisciplinary Approaches in Life Sciences and Healthcare (ICIALH) yang dijadwalkan 17-18 Juni 2026 di Hotel Ciputra, Jakarta. Alih-alih diabaikan, abstrak bodong ini mendapat apresiasi dan ucapan terima kasih panitia.

 

Seperti apa jalannya konferensi ilmiah abal-abal?

 

Berbekal makalah bodong, tim investigasi Kompas mengikuti konferensi International Conference on Islamic Studies, Society, and Humanities (ICISSH) 2026 dari awal hingga akhir. Tim bahkan ikut memaparkan materi sesuai makalah bodong tersebut.

 

Sejumlah kejanggalan terjadi pada konferensi internasional ini. Mulai dari penggunaan bahasa yang tidak konsisten antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, hingga adanya pemakalah yang kabur pada sesi paparan. Pemakalah luar negeri kebingungan saat panitia berbicara dalam bahasa Indonesia.

 

Seorang akademisi di sebuah kampus negeri ternama, Maya (nama samaran), juga pernah ikut konferensi yang terindikasi abal-abal di luar negeri. Ketika itu 2017 dan ia masih bersatus mahasiswa S-2 di salah satu perguruan tinggi. Ia mengikuti konferensi yang digelar World Academy of Science, Engineering and Technology (WASET).

 

Konferensinya diadakan di London, Inggris. Niatnya sedari awal memang bukan untuk mengikuti ”konferensi serius”. Dia hanya ingin ikut konferensi sekaligus jalan-jalan ke luar negeri.

 

Apa saja yang dijanjikan penyelenggara konferensi untuk menggaet peserta?

 

Tim Investigasi Kompas menemukan pola yang sama pada sejumlah situs penyelenggara konferensi. Di situs International Center for Research & Development (ICRD), misalnya, penyelenggara memuat halaman khusus Travel to Yogyakarta untuk konferensi 13th International Conference on Language, Communication and Society 2026 yang akan digelar di Yogyakarta pada 13–14 Juli 2026.

 

Sebaliknya, informasi mengenai daftar keynote speaker ataupun scientific committee tidak dicantumkan. Kejanggalan lain terlihat pada informasi lokasi konferensi. Dalam halaman Call for Papers, penyelenggara menyebut konferensi akan digelar di Universitas Gadjah Mada. Namun, pada halaman Venue, lokasi kegiatan justru tercantum di Loman Park Hotel, Yogyakarta.

 

9th IFMA International Conference yang diselenggarakan The Indonesian Financial Management Association (IFMA) juga menampilkan foto-foto destinasi wisata Bali pada halaman utamanya. Konferensi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 1-2 Agustus 2026. Pola serupa juga terlihat pada konferensi WASET. Laman WASET yang diakses Selasa (21/7/2026) menunjukkan, lembaga tersebut secara rutin menyelenggarakan konferensi di berbagai kota tujuan wisata dunia.

 

Mengapa Indonesia gemar menyelenggarakan konferensi?

 

Sepanjang 2002 hingga 2013, jumlah makalah konferensi dari Indonesia jauh di bawah Australia yang mencapai 10.000-12.000 makalah per tahun. Namun, setelah 2014, jumlah makalah konferensi dari Indonesia melonjak, dari di bawah 5.000 pada 2014 menjadi lebih dari 25.000 pada 2019-2021.

 

Lonjakan ini terjadi saat ada perubahan Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit (PO-PAK) tahun 2014. Saat itu, aturan PO-PAK menyetarakan kumpulan makalah (prosiding) konferensi internasional yang terindeks database internasional dengan artikel jurnal internasional. Padahal, keduanya berbeda kelas dalam tradisi akademik dunia.

 

Satu makalah jurnal internasional dengan penulis tunggal bisa bernilai 40 angka kredit. Angka ini nyaris setengah dari total kredit yang dibutuhkan dosen mencapai jenjang guru besar. Ketika prosiding konferensi disetarakan, sampai batas 25-40 persen dari komponen penelitian, jalur yang lebih gampang pun terbuka.  

 

Sumber :  https://www.kompas.id/artikel/mengapa-ada-guru-besar-yang-terlibat-dalam-penyelenggaraan-konferensi-ilmiah-abal-abal?open_from=Section_Tematik

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar