|
Pulih Percaya Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 30 Juli 2026
Kalau benar
kemerosotan kurs rupiah ini bersumber dari hilangnya kepercayaan, sulit mana
memulihkan kepercayaan saat ini dibanding tahun 1999?
Jawaban
sederhananya: lebih sulit tahun 1999. Tapi ada jawaban yang tidak sederhana.
Krisis tahun
1997-1998 luar biasa beratnya. Kurs rupiah di tahun 1996 masih Rp2.400/USD.
Tahun 1997-1998 menjadi Rp16.000. Sedang yang terjadi sekarang ini ''hanya''
dari Rp16.000 ke Rp18.000. Hitung sendiri beda persentase kenaikannya.
Penurunan kurs
rupiah dua tahun terakhir tidak ada apa-apanya.
Apalagi di
krisis moneter tahun 1997-1998 itu, ketika Anda masih belajar mberangkang, jauh
meluas ke krisis apa saja. Termasuk krisis politik dan kerusuhan sosial yang
amat berat. Yang lari dari Indonesia bukan hanya dolar tapi berikut manusianya.
Yang terjadi
sekarang apalah artinya. Inflasi masih sangat baik. Kecukupan pangan berlebih.
Defisit APBN masih di bawah tiga persen –meski kabarnya lantaran banyak
pengeluaran berhasil disembunyikan dulu: misalnya restitusi untuk DMO batu
bara. Mahasiswa masih bisa dijinakkan. Oposisi hampir tidak berbunyi.
Sedang di tahun
1997-1998 kacaunya bukan main.
Tapi dalam
setahun kemudian rupiah bisa menguat begitu cepat: dari Rp16.000 ke
Rp8.000/USD. Tidak sampai satu tahun. Sedangkan lemahnya rupiah saat ini sudah
mendekati dua tahun. Sudah sepanjang masa jabatan Presiden Prabowo. Harusnya
sudah bisa dikuatkan pun bila tidak secepat tahun 1999. Penguatan rupiah yang
terlalu cepat juga punya sisi buruknya.
Saya pun,
kemarin, banyak bertanya soal kunci penguatan rupiah di zaman Presiden Habibie
itu. Bahwa itu karena Bank Indonesia dibuat independen betul. Tapi bukan
satu-satunya.
Yang dilakukan
Presiden Habibie adalah mengirim sinyal-sinyal harapan. Ke seluruh rakyat. Ke
seluruh dunia. Misalnya janji akan melakukan demokratisasi. Janji itu sinyal.
Tapi sinyal itu akan padam bila janji sebatas janji. Habibie membuktikannya
dengan ''kebebasan pers'': bikin surat kabar tidak perlu lagi izin siapa pun.
Janji demokrasi
itu juga mewujud dalam kritik yang keras dari pers. Termasuk kritik kepada
dirinya. Presiden Habibie tidak baper: ia sudah terbiasa dengan situasi pers
seperti itu di Jerman sana.
Saking
demokratisnya sampai rakyat Timor Timur pun disuruh memilih: tetap jadi bagian
Indonesia atau merdeka. Gara-gara ''sikap demokratis''-nya itu sampai ia
sendiri kehilangan jabatan presiden. Banyak yang marah kita kehilangan satu
provinsi. Padahal kalau Habibie tidak memberikan kemerdekaan ke Timtim,
presiden-presiden Indonesia berikutnya akan terus seperti berjalan dengan
kerikil di dalam sepatunya.
Sinyal
independensi Bank Indonesia yang diputuskan oleh tim reformasi ekonomi saat itu
juga dijalankan sepenuh hati oleh Habibie: janji yang benar-benar ditepati.
Masih banyak
sinyal lain yang dikirim Habibie ke rakyat. Dan semua sinyal itu mewujud dalam
pelaksanaan.
Akhirnya
kepercayaan pulih. Termasuk kepercayaan kepada Habibie pribadi. Saya ingat
betapa sinis para pelaku usaha besar di zaman awal Habibie –antara lain karena
dikira akan membawa misi ICMI ke jabatannya. Memang banyak ''gank'' ICMI
(Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) masuk ke pemerintahan tapi kunci-kunci
pemerintahan dipegang teknokrat seperti Boediono, Bambang Sudibyo, Syahril
Sabirin.
Lalu sampailah
pada kasus Bank Bali. Anda sudah tahu, biar pun Anda masih mberangkang saat
itu: ada Bali Gate.
Bank Bali
adalah bank yang baik. Nomor empat terbesar di bank swasta Indonesia. Saat
krisis, Bank Bali tidak termasuk 15 bank yang ditutup. Justru Bank Bali
meminjamkan uang ke bank-bank itu: Rp 1,2 triliun.
Lantaran
bank-bank itu ditutup uang Bank Bali nyangkut di sana. Mau menyita aset yang
dijaminkan keburu disita oleh badan penyelamat perbankan yang dibentuk
pemerintah. Akibatnya Bank Bali dianggap kurang punya kecukupan modal. Kalau
saja uang yang dipinjamkan itu bisa balik Bank Bali selamat.
Maka Rudy Ramli
cari orang kuat untuk membantu menagihkan. Dipakailah orang seperti pemilik
Mulia Group, Djoko Tjandra, untuk menagih lewat cessie. Djoko Tjandra
menggunakan orang politik seperti tokoh Golkar Setya Novanto.
Rudy Ramli
kehilangan Bank Bali. Orang banyak, termasuk Anda, kalau kehilangan
paling-paling kehilangan HP. Rudy Ramli kehilangan bank. Kini ia rajin
berkelana ke makam-makam walisongo. Saya pernah diminta menemaninya ke makam
Sunan Ampel. Ia terus berusaha mendapatkan kembali Bank Bali. Salah satu
usahanya: ganti nama. Agar lebih mujur. Nama Rudy Ramli kini sah menjadi Rudhi
Djaja Li.
Bank Bali Gate
mengakhiri masa jabatan Habibie. Sayang sekali Habibie jatuh akibat gabungan
antara hilangnya satu provinsi dan Bali Gate. Syahril Sabirin, gubernur Bank
Indonesia yang sangat berjasa dalam mengendalikan moneter di masa begitu krisis
bahkan masuk penjara tiga tahun.
Jadi apakah
mengembalikan kepercayaan saat ini lebih mudah dibanding saat itu? ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/959896/pulih-percaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar