Senin, 27 Juli 2026

 

Prospek Taksi Mobil Hibrida di Tengah Kelangkaan BBM

M. Faiz Zaki :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 26 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Bluebird mengoperasikan mobil listrik dan hibrida untuk layanan Bluebird Prime.

 

·      Taksi Express mengoperasikan kendaraan listrik dan bekerja sama dengan perusahaan angkutan online.

 

·      Pangsa pasar kendaraan listrik sudah menembus 17 persen pada semester I 2026.

 

SEJUMLAH minibus berwarna biru muda berbaris di sisi selatan mal Senayan City, Jakarta Selatan, pada Kamis, 16 Juli 2026. Di pintu depan mobil-mobil itu tercetak tulisan "Bluebird Prime".

 

Inilah armada baru yang memperkuat operasi PT Blue Bird Tbk (BIRD), operator taksi Bluebird. Untuk layanan Bluebird Prime, perusahaan itu memilih minibus kelas menengah terelektrifikasi seperti Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid dan BYD E6. Menurut Denny Wijoyo Putro, salah satu awak armada Bluebird Prime, model kendaraan baru ini dipilih karena lebih irit bahan bakar dibanding minibus Toyota Transmover yang dipakai untuk layanan reguler.

 

Denny membandingkan Toyota Zenix Hybrid dengan Toyota Transmover yang sebelumnya ia kemudikan. Untuk Innova Zenix Hybrid, dia mengeluarkan Rp 430 ribu buat sekali mengisi penuh tangki berkapasitas 52 liter. Sedangkan untuk mengisi tangki Transmover berkapasitas 43 liter, dia hanya membayar Rp 400 ribu.

 

Biaya itu diperlukan untuk menempuh perjalanan rata-rata 200 kilometer per hari. "Zenix lebih hemat bensin dalam skenario operasional yang sama karena mengkombinasikan energi bahan bakar dengan tenaga listrik dari baterai," ujar pria 35 tahun itu.

 

Jika memakai mobil listrik BYD E6, biayanya bisa lebih hemat. Mobil ini memiliki daya baterai 71,7 kilowatt-jam (kWh) dengan konsumsi energi 17,1 kWh per 100 kilometer. Jangkauan operasional hariannya 522 kilometer. Untuk mengisi baterainya hingga penuh, operator memerlukan waktu 1 jam 30 menit dengan arus searah (DC) atau 1 jam 48 menit dengan arus bolak-balik (AC).

 

Innova Zenix Hybrid dan BYD E6 menambah panjang daftar kendaraan Bluebird. Dalam laporan tahunan 2025, grup usaha Bluebird tercatat memiliki 26.070 kendaraan, bertambah dari 24.166 pada 2024. Persentase kendaraan listriknya juga bertumbuh dari 0,5-1 persen pada 2023 menjadi 1-1,5 persen pada 2024 dan 2,5-3 persen pada 2025.

 

Direktur Utama Bluebird Adrianto Djokosoetono, yang biasa disapa Andre, mengatakan terdapat 225 kendaraan BYD E6 untuk Bluebird Prime, sementara Zenix Hybrid sebanyak 300. “Ini produk yang sudah terbukti nyaman, ruangnya lega, tapi rendah emisi,” katanya.

 

Menurut Andre, meski biaya perawatannya lebih mahal ketimbang mobil biasa, nilai jual kembali atau resale value-nya lebih tinggi walau sudah dijalankan selama lima tahun. Selain itu, yang terpenting adalah penggunaan mobil tersebut bisa menekan biaya bahan bakar sekaligus lebih "bersih" karena emisinya rendah.

 

Kendaraan Bluebird bertambah di tengah makin tingginya harga bahan bakar minyak nonsubsidi, sementara pasokan bahan bakar bersubsidi makin menipis karena kuotanya dibatasi pemerintah.

 

Selain menggunakan kendaraan listrik dan hibrida, Bluebird mengoperasikan mobil bertenaga gas alam terkompresi atau compressed natural gas yang juga bisa menekan biaya bahan bakar.

 

Selain Bluebird, operator taksi yang menjalankan armada kendaraan listrik adalah PT Express Transindo Utama Tbk. Di tengah upaya perusahaan bangkit dari kesulitan keuangan, taksi Express mengoperasikan Citroën Ë-C3 sejak 2025. Dalam situs web Express, perusahaan ini menawarkan program kemitraan berupa kepemilikan sepenuhnya untuk pengemudi dalam lima tahun.

 

Express menjalankan 60 unit Citroën Ë-C3 per kuartal I 2026, naik dari tahun sebelumnya yang mencapai 30. “Penambahan unit pada tahap kedua ini makin memperkuat komitmen kami dalam meningkatkan efisiensi operasional serta kualitas layanan kepada pelanggan,” tutur Direktur Utama Express Johannes B.E. Triatmojo dalam keterangan tertulis pada April 2026.

 

Dalam dokumen keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Express mencatatkan pendapatan Rp 2,26 miliar dengan rugi bersih Rp 338 juta pada kuartal I 2026. Sepanjang tahun lalu, Express memperoleh pendapatan Rp 3,5 miliar dengan rugi bersih Rp 19,57 miliar. Saat ini Express mengoperasikan 365 taksi yang terdiri atas Toyota Calya, Daihatsu Sigra, dan Citroën Ë-C3 serta tiga bus.

 

Sebagian taksi itu dioperasikan bersama dengan perusahaan layanan angkutan berbasis aplikasi online. Pada 2024-2 Juli 2026, Express bekerja sama dengan Gocar yang dioperasikan PT Rekan Anak Bangsa, anak usaha PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk.

 

Pada awal semester II 2026, Express menjajaki kemitraan baru dengan operator taksi asal Vietnam, Xanh SM atau Green SM. “Namun perseroan belum dapat menyampaikan secara rinci baik bentuk maupun implementasi kerja sama itu kepada publik,” kata Johannes.

 

Kehadiran Green SM di Indonesia sejak 18 Desember 2024 juga memanaskan persaingan industri layanan transportasi berbasis kendaraan listrik. Perusahaan ini mengandalkan mobil listrik buatan Vietnam, VinFast. Green SM memulai operasi dengan 1.000 kendaraan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

 

Dalam tiga tahun, perusahaan ini berkembang menjadi salah satu operator taksi listrik terbesar di Asia Tenggara dengan 186 ribu kendaraan di Vietnam, Laos, Filipina, dan Indonesia.

 

Dalam situs resminya, Green SM mengklaim telah memfasilitasi 620 juta perjalanan. Trafik itu mencakup sekitar 4,2 miliar kilometer dengan estimasi pengurangan 580 ribu ton emisi karbon dioksida. Ekspansi Green SM di Indonesia terakhir kali dilakukan pada 9 Juni 2026, yaitu di Lampung. Managing Director Green SM Indonesia Deny Tjia mengatakan perusahaan sedang membangun ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi.

 

Seiring dengan bertumbuhnya adopsi oleh perusahaan taksi, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia mencatat angka penjualan kendaraan listrik terus meningkat sejak 2024 hingga semester I 2026. Saat ini pangsa pasar mobil listrik mencapai 17,65 persen, naik dari 8,29 persen pada 2024.

 

Tingkat penjualan kendaraan listrik pada 2024 mencapai 71.774, naik menjadi 155.750 unit pada 2025. Adapun pada semester I 2026, angka penjualannya telah mencapai 77.055. Jumlah ini meliputi kendaraan listrik murni, hibrida, dan kendaraan listrik hibrida plug-in (PHEV).

 

Meningkatnya adopsi kendaraan listrik oleh perusahaan angkutan juga sejalan dengan target pemerintah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan pada 2030 sebanyak 90 persen sarana transportasi publik di perkotaan berupa kendaraan terelektrifikasi. Jumlah ini setara dengan 2 juta mobil listrik dan 13 juta sepeda motor listrik.

 

Menurut dokumen "Peta Jalan dan Program Insentif Nasional untuk Elektrifikasi Transportasi Publik Perkotaan Berbasis Jalan" yang disusun Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia, target itu setara dengan lebih dari 45 ribu bus listrik di 42 kota.

 

Proyeksi itu dipatok untuk memenuhi komitmen penurunan emisi gas rumah kaca dalam dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution, yaitu mengurangi emisi sebesar 31,89 persen dengan kemampuan sendiri dan hingga 43,20 persen dengan dukungan internasional pada 2030. Tujuan akhirnya adalah mencapai nol emisi pada 2060 sesuai dengan komitmen global.

 

Tapi, menurut ITDP Indonesia, alokasi anggaran untuk insentif kendaraan bermotor listrik berbasis baterai masih lebih terfokus pada kendaraan roda dua dan roda empat pribadi, seperti yang diterapkan pada 2023. “Hanya 1,5 persen dari total anggaran insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah yang dialokasikan untuk insentif bus listrik,” demikian petikan dokumen tersebut.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/ekonomi/taksi-mobil-listrik-hibrida-kelangkaan-bbm-2278190

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar