|
Prospek Taksi Mobil
Hibrida di Tengah Kelangkaan BBM M. Faiz Zaki : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 26
Juli 2026
|
· Bluebird mengoperasikan mobil listrik
dan hibrida untuk layanan Bluebird Prime. · Taksi Express mengoperasikan kendaraan
listrik dan bekerja sama dengan perusahaan angkutan online. · Pangsa pasar kendaraan listrik sudah
menembus 17 persen pada semester I 2026. SEJUMLAH
minibus berwarna biru muda berbaris di sisi selatan mal Senayan City, Jakarta
Selatan, pada Kamis, 16 Juli 2026. Di pintu depan mobil-mobil itu tercetak
tulisan "Bluebird Prime". Inilah
armada baru yang memperkuat operasi PT Blue Bird Tbk (BIRD), operator taksi
Bluebird. Untuk layanan Bluebird Prime, perusahaan itu memilih minibus kelas
menengah terelektrifikasi seperti Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid dan BYD
E6. Menurut Denny Wijoyo Putro, salah satu awak armada Bluebird Prime, model
kendaraan baru ini dipilih karena lebih irit bahan bakar dibanding minibus
Toyota Transmover yang dipakai untuk layanan reguler. Denny
membandingkan Toyota Zenix Hybrid dengan Toyota Transmover yang sebelumnya ia
kemudikan. Untuk Innova Zenix Hybrid, dia mengeluarkan Rp 430 ribu buat
sekali mengisi penuh tangki berkapasitas 52 liter. Sedangkan untuk mengisi
tangki Transmover berkapasitas 43 liter, dia hanya membayar Rp 400 ribu. Biaya
itu diperlukan untuk menempuh perjalanan rata-rata 200 kilometer per hari.
"Zenix lebih hemat bensin dalam skenario operasional yang sama karena
mengkombinasikan energi bahan bakar dengan tenaga listrik dari baterai,"
ujar pria 35 tahun itu. Jika
memakai mobil listrik BYD E6, biayanya bisa lebih hemat. Mobil ini memiliki
daya baterai 71,7 kilowatt-jam (kWh) dengan konsumsi energi 17,1 kWh per 100
kilometer. Jangkauan operasional hariannya 522 kilometer. Untuk mengisi
baterainya hingga penuh, operator memerlukan waktu 1 jam 30 menit dengan arus
searah (DC) atau 1 jam 48 menit dengan arus bolak-balik (AC). Innova
Zenix Hybrid dan BYD E6 menambah panjang daftar kendaraan Bluebird. Dalam
laporan tahunan 2025, grup usaha Bluebird tercatat memiliki 26.070 kendaraan,
bertambah dari 24.166 pada 2024. Persentase kendaraan listriknya juga
bertumbuh dari 0,5-1 persen pada 2023 menjadi 1-1,5 persen pada 2024 dan
2,5-3 persen pada 2025. Direktur
Utama Bluebird Adrianto Djokosoetono, yang biasa disapa Andre, mengatakan
terdapat 225 kendaraan BYD E6 untuk Bluebird Prime, sementara Zenix Hybrid
sebanyak 300. “Ini produk yang sudah terbukti nyaman, ruangnya lega, tapi
rendah emisi,” katanya. Menurut
Andre, meski biaya perawatannya lebih mahal ketimbang mobil biasa, nilai jual
kembali atau resale value-nya lebih tinggi walau sudah dijalankan selama lima
tahun. Selain itu, yang terpenting adalah penggunaan mobil tersebut bisa
menekan biaya bahan bakar sekaligus lebih "bersih" karena emisinya
rendah. Kendaraan
Bluebird bertambah di tengah makin tingginya harga bahan bakar minyak
nonsubsidi, sementara pasokan bahan bakar bersubsidi makin menipis karena
kuotanya dibatasi pemerintah. Selain
menggunakan kendaraan listrik dan hibrida, Bluebird mengoperasikan mobil
bertenaga gas alam terkompresi atau compressed natural gas yang juga bisa
menekan biaya bahan bakar. Selain
Bluebird, operator taksi yang menjalankan armada kendaraan listrik adalah PT
Express Transindo Utama Tbk. Di tengah upaya perusahaan bangkit dari
kesulitan keuangan, taksi Express mengoperasikan Citroën Ë-C3 sejak 2025.
Dalam situs web Express, perusahaan ini menawarkan program kemitraan berupa
kepemilikan sepenuhnya untuk pengemudi dalam lima tahun. Express
menjalankan 60 unit Citroën Ë-C3 per kuartal I 2026, naik dari tahun
sebelumnya yang mencapai 30. “Penambahan unit pada tahap kedua ini makin
memperkuat komitmen kami dalam meningkatkan efisiensi operasional serta
kualitas layanan kepada pelanggan,” tutur Direktur Utama Express Johannes
B.E. Triatmojo dalam keterangan tertulis pada April 2026. Dalam
dokumen keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Express mencatatkan
pendapatan Rp 2,26 miliar dengan rugi bersih Rp 338 juta pada kuartal I 2026.
Sepanjang tahun lalu, Express memperoleh pendapatan Rp 3,5 miliar dengan rugi
bersih Rp 19,57 miliar. Saat ini Express mengoperasikan 365 taksi yang
terdiri atas Toyota Calya, Daihatsu Sigra, dan Citroën Ë-C3 serta tiga bus. Sebagian
taksi itu dioperasikan bersama dengan perusahaan layanan angkutan berbasis
aplikasi online. Pada 2024-2 Juli 2026, Express bekerja sama dengan Gocar
yang dioperasikan PT Rekan Anak Bangsa, anak usaha PT GoTo Gojek Tokopedia
Tbk. Pada
awal semester II 2026, Express menjajaki kemitraan baru dengan operator taksi
asal Vietnam, Xanh SM atau Green SM. “Namun perseroan belum dapat
menyampaikan secara rinci baik bentuk maupun implementasi kerja sama itu
kepada publik,” kata Johannes. Kehadiran
Green SM di Indonesia sejak 18 Desember 2024 juga memanaskan persaingan
industri layanan transportasi berbasis kendaraan listrik. Perusahaan ini
mengandalkan mobil listrik buatan Vietnam, VinFast. Green SM memulai operasi
dengan 1.000 kendaraan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Dalam
tiga tahun, perusahaan ini berkembang menjadi salah satu operator taksi
listrik terbesar di Asia Tenggara dengan 186 ribu kendaraan di Vietnam, Laos,
Filipina, dan Indonesia. Dalam
situs resminya, Green SM mengklaim telah memfasilitasi 620 juta perjalanan.
Trafik itu mencakup sekitar 4,2 miliar kilometer dengan estimasi pengurangan
580 ribu ton emisi karbon dioksida. Ekspansi Green SM di Indonesia terakhir
kali dilakukan pada 9 Juni 2026, yaitu di Lampung. Managing Director Green SM
Indonesia Deny Tjia mengatakan perusahaan sedang membangun ekosistem
kendaraan listrik yang terintegrasi. Seiring
dengan bertumbuhnya adopsi oleh perusahaan taksi, Gabungan Industri Kendaraan
Bermotor Indonesia mencatat angka penjualan kendaraan listrik terus meningkat
sejak 2024 hingga semester I 2026. Saat ini pangsa pasar mobil listrik
mencapai 17,65 persen, naik dari 8,29 persen pada 2024. Tingkat
penjualan kendaraan listrik pada 2024 mencapai 71.774, naik menjadi 155.750
unit pada 2025. Adapun pada semester I 2026, angka penjualannya telah
mencapai 77.055. Jumlah ini meliputi kendaraan listrik murni, hibrida, dan
kendaraan listrik hibrida plug-in (PHEV). Meningkatnya
adopsi kendaraan listrik oleh perusahaan angkutan juga sejalan dengan target
pemerintah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan pada 2030
sebanyak 90 persen sarana transportasi publik di perkotaan berupa kendaraan
terelektrifikasi. Jumlah ini setara dengan 2 juta mobil listrik dan 13 juta
sepeda motor listrik. Menurut
dokumen "Peta Jalan dan Program Insentif Nasional untuk Elektrifikasi
Transportasi Publik Perkotaan Berbasis Jalan" yang disusun Institute for
Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia, target itu setara
dengan lebih dari 45 ribu bus listrik di 42 kota. Proyeksi
itu dipatok untuk memenuhi komitmen penurunan emisi gas rumah kaca dalam
dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution, yaitu mengurangi emisi
sebesar 31,89 persen dengan kemampuan sendiri dan hingga 43,20 persen dengan
dukungan internasional pada 2030. Tujuan akhirnya adalah mencapai nol emisi
pada 2060 sesuai dengan komitmen global. Tapi,
menurut ITDP Indonesia, alokasi anggaran untuk insentif kendaraan bermotor
listrik berbasis baterai masih lebih terfokus pada kendaraan roda dua dan
roda empat pribadi, seperti yang diterapkan pada 2023. “Hanya 1,5 persen dari
total anggaran insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah yang
dialokasikan untuk insentif bus listrik,” demikian petikan dokumen tersebut. ● Sumber :
https://www.tempo.co/ekonomi/taksi-mobil-listrik-hibrida-kelangkaan-bbm-2278190 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar