|
KETIKA SEPAK BOLA MENJADI SEJENIS AGAMA MODERN -
Refleksi Final Spanyol vs Argentina di World Cup 2026 Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
ORBITINDONESIA.COM, 20 Juli 2026
|
Ketika
peluit panjang berbunyi menandai kemenangan Spanyol 1-0 atas Argentina, yang
bersorak kegirangan bukan hanya para pemain dan puluhan ribu pendukung di
stadion. Di
sebuah desa kecil di Andalusia, seorang remaja berusia empat belas tahun
bernama Mateo juga melonjak kegirangan. Sejak
kecil, ia tak pernah melewatkan pertandingan tim nasional Spanyol bersama
ayahnya. Di ruang tamu yang sederhana itu, mereka belajar tertawa ketika
menang, menerima kekalahan ketika kalah, dan tetap berharap pada pertandingan
berikutnya. Namun
Piala Dunia 2026 datang ketika kursi di samping Mateo telah kosong. Ayahnya
meninggal karena serangan jantung enam bulan sebelumnya. Malam
final itu, sebelum lagu kebangsaan Spanyol berkumandang, Mateo meletakkan
syal merah kuning di kursi yang tak lagi berpenghuni. Ketika musik mulai
mengalun, ia berbisik pelan, “Ayah,
malam ini kita menonton lagi bersama.” Seratus
dua puluh menit kemudian, setelah perpanjangan waktu yang menegangkan,
Spanyol akhirnya menang 1-0. Seluruh
desa meledak dalam sorak kemenangan. Orang-orang berpelukan di jalan, bendera
berkibar dari jendela rumah, dan lonceng gereja berdentang lebih lama dari
biasanya. Namun
Mateo tidak ikut berlari keluar. Ia tetap duduk memandangi layar televisi
yang perlahan menjadi gelap. Di pipinya mengalir air mata yang tidak
seluruhnya berasal dari kemenangan. -000- Pada
malam itu, Mateo memahami bahwa sepak bola bukan lagi sekadar permainan
sebelas orang yang memperebutkan sebuah bola. Ia telah menjadi tempat manusia
menyimpan kenangan, mengenang mereka yang telah pergi, menambatkan harapan,
dan menghidupkan kembali kasih sayang yang tak pernah benar-benar berakhir. Air
mata Mateo bukan hanya milik seorang anak yang kehilangan ayah. Ia hanyalah
satu titik kecil dalam kisah manusia yang jauh lebih luas. Di
setiap benua, di kota yang hiruk maupun desa yang sunyi, berjuta-juta orang
sesungguhnya sedang mencari hal yang sama, yaitu sebuah ruang tempat mereka
merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Di
zaman ketika ikatan keluarga semakin renggang, komunitas tradisional kian mengecil, dan
kesepian diam-diam menjadi salah satu penyakit terbesar kehidupan modern,
sepak bola menghadirkan sesuatu yang semakin langka, yaitu sebuah ritual
bersama. Selama
seratus dua puluh menit, orang asing menjadi saudara. Kesepian berubah
menjadi kebersamaan. Perbedaan sosial larut di balik warna seragam yang sama.
Hati yang tercerai-berai kembali percaya bahwa ia tidak sedang menjalani
hidup sendirian. -000- Sejak
Piala Dunia pertama digelar di Uruguay pada 1930, sepak bola perlahan
melampaui batas sebuah olahraga. Ia berkembang menjadi salah satu pengalaman
kolektif terbesar dalam sejarah manusia. Perang
pernah memecah bangsa-bangsa. Ideologi pernah membangun tembok pemisah.
Agama, bahasa, warna kulit, bahkan kelas sosial sering menempatkan manusia di
sisi yang berbeda. Namun setiap empat tahun sekali, miliaran orang rela
menghentikan rutinitas mereka untuk memandang lapangan yang sama. Pada
Piala Dunia 2018, sekitar 3,57 miliar orang menyaksikan setidaknya sebagian
pertandingan. Empat tahun kemudian, final Argentina melawan Prancis
disaksikan hampir 1,5 miliar orang, sementara sekitar lima miliar manusia
berinteraksi dengan berbagai konten Piala Dunia Qatar 2022 melalui televisi
maupun perangkat digital. Piala
Dunia 2026 menjadi lebih besar lagi. Untuk pertama kalinya, empat puluh
delapan negara bertanding dalam seratus empat pertandingan yang digelar di
enam belas kota di tiga negara tuan rumah. Seluruh perjalanan itu akhirnya
bermuara pada satu laga terakhir: Spanyol melawan Argentina, juara Eropa
menghadapi juara bertahan dunia. Namun
kebesaran Piala Dunia sesungguhnya tidak terletak pada angka-angka itu. Yang
membuatnya menyerupai agama modern adalah pengalaman batin yang lahir di sekelilingnya. Ada
stadion yang diperlakukan seperti katedral. Ada lagu kebangsaan yang
dinyanyikan layaknya himne. Ada seragam yang dikenakan bukan sekadar pakaian,
melainkan identitas. Ada perjalanan menuju stadion yang menyerupai ziarah.
Ada hari pertandingan yang ditunggu sebagaimana hari raya. Ada para pahlawan,
para martir, para pengkhianat, serta kisah kejatuhan dan penebusan. Dan
selalu ada doa. Di
ruang ganti, di tribun, di ruang keluarga, di warung kopi, di bandara, di
kapal, hingga di dalam pesawat, manusia menangkupkan tangan sambil memohon
hasil yang sama. Mereka
mungkin menyebut nama Tuhan yang berbeda dan datang dari bangsa yang
berjauhan. Namun selama pertandingan berlangsung, mereka berbagi harapan yang
sama. Tentu
saja, sepak bola bukan agama dalam pengertian teologis. Ia tidak menjawab
asal-usul manusia, tujuan terakhir kehidupan, ataupun apa yang menanti
sesudah kematian. Namun
ia menjalankan sebagian fungsi sosial yang dahulu terutama diberikan oleh
agama: membentuk identitas, menciptakan komunitas, melahirkan ritual,
menghadirkan simbol yang diperlakukan hampir sakral, serta memberi pengalaman
emosional kolektif yang membuat seseorang merasa dirinya sedang disentuh oleh
sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Karena
itu, yang dicari manusia di stadion sering kali bukan sekadar kemenangan.
Yang mereka cari adalah keyakinan bahwa dirinya menjadi bagian dari sesuatu
yang lebih besar. Duka
Mateo membuktikan bahwa sepak bola adalah katedral sunyi; tempat di mana
kesedihan pribadi berjalin rapat dengan sorak sorai publik, mengubah ruang
keluarga sederhana menjadi altar perjumpaan jiwa. -000- Tiga
buku ini membantu kita memahami mengapa sepak bola dapat memperoleh kekuatan
emosional yang sedemikian besar. Buku pertama adalah The Elementary Forms of
Religious Life karya Émile Durkheim, terbit pada 1912. Émile
Durkheim tidak pernah menulis tentang sepak bola. Namun lebih dari seabad
setelah bukunya terbit, pemikirannya justru membantu kita memahami mengapa
sebuah pertandingan mampu mengguncang emosi miliaran manusia. Bagi
Durkheim, agama bukan semata hubungan manusia dengan dunia gaib. Agama adalah
kekuatan sosial yang menyatukan individu menjadi sebuah komunitas moral. Melalui
ritual bersama, manusia mengalami apa yang ia sebut collective effervescence,
yaitu ledakan emosi kolektif yang membuat seseorang seolah terangkat keluar
dari dirinya sendiri dan larut ke dalam energi kelompok. Pengalaman
itulah yang berulang kali lahir di stadion sepak bola. Puluhan ribu orang
yang sebelumnya tidak saling mengenal tiba-tiba berdiri, bernyanyi, menahan
napas, melompat, berpelukan, dan menangis bersama. Selama
beberapa jam, perbedaan pekerjaan, pendidikan, kekayaan, usia, bahkan
pandangan politik seakan menghilang. Mereka tidak lagi hadir sebagai individu
yang terpisah, melainkan menjelma menjadi satu tubuh emosional. Di
sinilah simbol memperoleh kekuatannya. Bendera bukan lagi selembar kain.
Lambang tim bukan sekadar gambar. Warna kostum tidak lagi hanya pilihan
desain. Semuanya berubah menjadi totem yang mewakili identitas kolektif
sebuah komunitas. Ketika
seorang pendukung berkata, “Kami menang,” ia tidak sedang berbicara secara
metaforis. Ia tidak pernah berlatih, tidak menendang bola, bahkan mungkin
tidak pernah menginjak rumput stadion. Namun
kemenangan itu sungguh ia rasakan sebagai kemenangan dirinya sendiri karena
identitas pribadinya telah menyatu dengan identitas kelompok yang
didukungnya. Durkheim
membantu kita memahami bahwa dalam setiap ritual besar, masyarakat
sesungguhnya sedang merayakan dirinya sendiri. Ketika jutaan orang
menyanyikan lagu kebangsaan sebelum pertandingan dimulai, yang sedang
dirayakan bukan hanya sebelas pemain di lapangan, melainkan keberadaan sebuah
bangsa dan rasa memiliki terhadap komunitasnya. Untuk
beberapa saat, manusia berhasil mengalahkan salah satu ketakutan paling purba
dalam hidup, yaitu perasaan sendirian. Tidak
mengherankan apabila begitu banyak orang berkata bahwa mereka benar-benar
“hidup” ketika tim kesayangannya bermain. Yang mereka alami bukan sekadar
pertandingan, melainkan pengalaman kolektif yang memberi rasa memiliki,
persaudaraan, dan makna. Itulah
sebabnya sepak bola dapat menghadirkan pengalaman yang dalam banyak hal
menyerupai fungsi sosial agama. -000- Buku
kedua adalah Sport and Religion, disunting oleh Shirl J. Hoffman dan
diterbitkan pada 1992. Jika
Durkheim menjelaskan mengapa olahraga mampu menyatukan manusia, Hoffman
mengajak kita melihat hubungan yang lebih dalam antara pengalaman olahraga
dan pengalaman spiritual. Berbagai
tulisan di dalam buku itu menunjukkan bahwa olahraga bukan sekadar aktivitas
fisik. Ia juga mengandung disiplin, pengorbanan, kesetiaan, keberanian,
kerendahan hati, dan pencarian makna, nilai-nilai yang sejak lama dikenal
dalam hampir setiap tradisi keagamaan. Seorang
atlet elite menjalani kehidupan yang nyaris asketis. Ia mengendalikan
makanan, tidur, tubuh, dan keinginannya. Ia rela menanggung rasa sakit hari
ini demi hasil yang mungkin baru datang bertahun-tahun kemudian. Ia
percaya bahwa pengorbanan yang diulang setiap hari akan membawanya menuju
pencapaian yang lebih tinggi. Kesetiaan
para pendukung pun mengikuti pola yang serupa. Klub boleh kalah, pelatih
boleh berganti, pemain boleh pindah, bahkan generasi boleh berubah. Namun
kecintaan kepada sebuah tim tetap diwariskan dari orang tua kepada anak.
Sebagaimana Mateo menerima kecintaannya kepada tim nasional Spanyol dari sang
ayah, jutaan keluarga di berbagai belahan dunia mewariskan identitas sepak
bola sebagai bagian dari sejarah keluarga mereka sendiri. Kesetiaan
seperti itu tidak lahir dari logika semata. Ia tumbuh dari kenangan yang
dibangun bersama, dari air mata, pelukan, kemenangan, kekalahan, dan cerita
yang terus diulang di ruang keluarga dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Namun
Hoffman juga mengingatkan bahwa setiap hal yang memberi makna besar kepada
manusia selalu membawa kemungkinan untuk disalahgunakan. Olahraga
dapat menjadi sumber inspirasi, tetapi juga dapat berubah menjadi berhala.
Kemenangan menjadi ukuran harga diri. Kekalahan berubah menjadi penghinaan
yang tidak lagi proporsional. Atlet
dipuja seperti manusia setengah dewa, sementara lawan diperlakukan bukan lagi
sebagai sesama manusia, melainkan sebagai musuh yang pantas dibenci. Komersialisasi
memperbesar bahaya itu. Kesetiaan diubah menjadi pasar. Cinta penggemar
diterjemahkan menjadi angka penjualan. Seragam menjadi komoditas. Identitas
berubah menjadi merek. Tubuh
atlet diperlakukan sebagai mesin yang harus terus menghasilkan kemenangan.
Olahraga yang semula membangkitkan kemanusiaan perlahan dapat terjebak dalam
logika industri yang tidak pernah mengenal kata cukup. Di
situlah tampak paradoks sepak bola. Ia mampu mempertemukan orang-orang yang
tidak pernah saling mengenal, tetapi juga dapat memecah belah mereka. Ia
menghadirkan pelukan, tetapi juga melahirkan hooliganisme, rasisme, dan
nasionalisme yang kehilangan kebijaksanaan. Sejarah
menunjukkan bahwa hampir setiap altar memiliki bayangannya sendiri. Semakin
besar cinta yang diletakkan manusia di atasnya, semakin besar pula
kemungkinan lahirnya fanatisme. Lapangan
hijau tidak terkecuali. Ia dapat menjadi ruang tempat manusia menemukan
persaudaraan, tetapi juga tempat manusia lupa bahwa lawan tetaplah sesama
manusia yang sama-sama menangis ketika kalah, sama-sama bersorak ketika
menang, dan sama-sama pulang kepada keluarganya setelah pertandingan usai. -000- Ada
buku lain, buku ketiga, yang memberikan warning. How Soccer Explains the
World: An Unlikely Theory of Globalization (2004) karya Franklin Foer
mengajak kita memandang sepak bola sebagai jendela yang paling jernih untuk
memahami wajah globalisasi. Melalui
perjalanan ke stadion-stadion di Beograd, Glasgow, Barcelona, Teheran, hingga
Rio de Janeiro, Foer memperlihatkan sebuah paradoks yang menggugah. Globalisasi
tidak selalu menghapus identitas lama, tetapi kerap justru mempertajamnya. Di
balik gemerlap pertandingan, ia menemukan jejak-jejak hooliganisme Serbia,
sektarianisme yang membelah Celtic dan Rangers, serta antisemitisme yang
membayangi tribun Ajax dan Tottenham. Dari
sana, ia menelusuri persinggungan sepak bola dengan oligarki bisnis ala
Silvio Berlusconi, korupsi yang menggerogoti sepak bola Brasil, hingga arus
migrasi pemain Afrika yang mengikuti logika pasar global. Pada
akhirnya, Foer menawarkan sebuah kesimpulan yang bernuansa: nasionalisme yang
tumbuh secara sehat dalam sepak bola tidak harus menjadi bibit fanatisme. Ia
justru dapat menjadi penyangga yang mencegah manusia terjerumus ke dalam
tribalisme yang jauh lebih berbahaya. -000- Di
tengah pusaran bisnis dan ancaman fanatisme itu, manusia toh tetap datang.
Mereka tidak hadir untuk komoditas atau industri, melainkan untuk merawat
kerinduan paling mendasar dalam jiwanya. Sepak
bola, dengan segala cacat kehidupannya, tetap menjadi ruang langka di mana
manusia modern dapat merayakan kerapuhan, membagikan harapan, dan merasakan
kehangatan menjadi manusia yang utuh bersama-sama. Di
dalam pesawat menuju London, saya menyaksikan siaran langsung final Argentina
melawan Spanyol. Kabin
yang biasanya tenang perlahan berubah menjadi ruang menonton bersama.
Beberapa penumpang menahan napas setiap kali bola mendekati kotak penalti. Yang
lain bertepuk tangan ketika sebuah peluang tercipta. Para awak pesawat hanya
tersenyum, memahami bahwa selama seratus dua puluh menit perhatian sebagian
besar penumpang tertuju ke tempat yang sama. Saya
membayangkan jutaan rumah di berbagai penjuru dunia sedang menjalani malam
yang serupa. Di hotel-hotel mewah, di warung sederhana, di ruang keluarga, bahkan
di bandara dan rumah sakit, orang-orang menghentikan sejenak rutinitas hidup
mereka untuk menyaksikan pertandingan yang sama. Untuk
beberapa jam, miliaran manusia yang tak pernah saling mengenal dipersatukan
oleh satu peristiwa. Final
Spanyol melawan Argentina juga seolah mempertemukan tiga babak kehidupan
Lionel Messi dalam satu panggung sejarah. Argentina adalah tanah yang
melahirkan darah, bahasa, dan identitasnya. Spanyol
adalah negeri yang membentuk bakatnya hingga menjadikannya salah satu legenda
terbesar dunia melalui Barcelona. Di hadapannya berdiri Lamine Yamal, anak
ajaib yang dipandang banyak orang sebagai wajah masa depan sepak bola. Pertandingan
itu bukan sekadar mempertemukan dua negara. Ia mempertemukan asal usul dan
masa depan, warisan dan harapan, seorang legenda yang sedang menutup zamannya
dengan seorang pemuda yang baru memulainya. Di
lapangan hijau itu, dunia seolah menyaksikan estafet peradaban. Setiap
generasi melahirkan pahlawannya sendiri, dan setiap pahlawan pada akhirnya harus
menyerahkan panggung kepada generasi berikutnya. Barangkali
di situlah salah satu daya tarik terbesar sepak bola. Ia selalu mengingatkan
bahwa tidak ada juara yang abadi, tidak ada pemain yang selamanya muda, dan
tidak ada rekor yang tak dapat dipecahkan. Justru karena semuanya fana,
setiap kemenangan terasa begitu berharga. -000- Saya
telah menyaksikan cukup banyak perubahan zaman. Saya melihat ideologi besar
lahir dengan penuh keyakinan, lalu perlahan kehilangan pesonanya. Saya
melihat tokoh dipuja seperti penyelamat, kemudian dilupakan oleh sejarah.
Saya juga menyaksikan teknologi menghubungkan manusia dalam hitungan detik,
tetapi pada saat yang sama membuat semakin banyak orang merasa sendirian. Di
tengah dunia yang semakin terhubung sekaligus semakin terpecah, sepak bola
menyediakan satu bahasa yang dipahami hampir semua bangsa. Sebuah gol tidak
memerlukan penerjemah. Air mata kekalahan juga tidak membutuhkan kamus. Namun
justru di situlah muncul pertanyaan yang lebih dalam. Mengapa manusia begitu
mudah menyerahkan seluruh emosinya kepada sebelas pemain di sebuah lapangan? Mungkin
karena di dalam diri kita selalu hidup kerinduan yang sama, yaitu kerinduan
untuk percaya, memiliki, dan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar
daripada diri sendiri. Sepanjang
sejarah, kerinduan itu selalu mencari tempat berlabuh. Kadang pada agama,
kadang pada bangsa, kadang pada ideologi, kadang pada seorang pemimpin,
kadang pada seorang selebritas, dan pada zaman modern sering kali juga pada
olahraga. Ketika
sebagian ikatan tradisional melemah, kerinduan itu tidak ikut menghilang. Ia
hanya berpindah tempat. Sepak
bola menjadi salah satu persinggahan terbesarnya. Namun
di sinilah kita perlu membedakan antara simbol dan tujuan. Sepak bola mampu
menghadiahkan kegembiraan, membangun persaudaraan, serta mengajarkan
disiplin, keberanian, kerja sama, dan kesetiaan. Tetapi ia tidak dapat
memikul seluruh beban pencarian makna hidup manusia. Setelah
peluit terakhir berbunyi, pertandingan berakhir. Trofi diangkat. Para
penonton pulang. Stadion kembali sunyi. Kemenangan yang hari ini terasa abadi
perlahan berubah menjadi kenangan. -000- Ketika
seluruh dunia merayakan kemenangan Spanyol, saya justru kembali teringat
kepada Mateo. Saat
orang-orang memenuhi jalanan untuk berpesta, ia masih duduk di depan kursi
kosong milik ayahnya. Trofi
suatu hari akan tersimpan di museum. Rekor akan dipecahkan. Para pemain akan
pensiun. Nama-nama baru akan menggantikan nama-nama lama. Namun
cinta seorang anak kepada ayahnya tidak pernah diukur oleh papan skor. Di
situlah sepak bola memperlihatkan wajahnya yang paling manusiawi. Ia bukan
sekadar permainan. Ia menjadi wadah bagi kenangan, bahasa bagi kasih sayang
yang sulit diucapkan, dan ruang tempat kehilangan dapat dikenang tanpa harus
dijelaskan. Tetapi
ketika sorak sorai telah reda, setiap manusia tetap harus menjawab pertanyaan
yang lebih sunyi. Apa yang membuat hidup ini benar-benar layak dijalani? Sepak
bola dapat menghadiahkan kita perayaan bersama. Namun makna hidup harus
ditemukan di tempat yang lebih dalam daripada sebuah stadion. Lampu
stadion akhirnya dipadamkan. Nyanyian para pendukung menghilang bersama
malam. Tetapi pencarian manusia tidak pernah benar-benar berakhir. Sepanjang
sejarah, manusia selalu mencari sebuah altar. Yang berubah hanyalah nama
altar itu. ● REFERENSI 1. Émile Durkheim. The Elementary Forms of
Religious Life. Félix Alcan, 1912. 2. Shirl J. Hoffman (ed.). Sport and Religion.
Human Kinetics Books, 1992. 3. Franklin Foer. How Soccer Explains the World: An
Unlikely Theory of Globalization. Harper Perennial, 2004 Sumber : https://orbitindonesia.com/detail/cJvmQqlamP/denny-ja-ketika-sepak-bola-menjadi-sejenis-agama-modern
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar