|
Kerennya Indonesia di Mata WNI yang Baru Balik dari 11 Tahun di
Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat Satrio Arismunandar: Praktisi media, pakar SCSC (South China Sea Council). |
ORBIT INDONESIA, 27 Juni 2026
|
Senior gue - sebut saja
namanya mas Adit - baru setahun balik ke Indonesia setelah 11 tahun kerja di
Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat. Gue ajak ngopi. Satu
pertanyaan gue lempar: "Hal paling mengejutkan dari balik ke sini apa,
mas?" Gue udah siap denger
jawaban standar soal macet atau birokrasi yang ribet. Tapi dia nggak langsung
jawab. Dia diem. Menyeruput kopinya. Lalu senyum kecil. "Irfan, lo tahu
nggak. Yang paling gue kaget bukan yang jelek. Bukan kemacetan. Bukan
polusi." Gue makin penasaran. Dia bilang: "Yang
paling mengejutkan adalah hal-hal luar biasa di sini yang kalian anggap
biasa. Sampai kalian nggak ngeh itu spesial." Diapun lalu bercerita... Minggu pertama balik ke
Indonesia, dia ke warung kopi dekat rumahnya di Depok. Setelah ngopi, dia
refleks keluarin dompet, siap nyari uang cash. Penjual cuma bilang:
"Bisa scan QR aja, mas." Mas Adit bengong. Di
Jerman, banyak toko kecil masih cash-only. Di Amerika, cek fisik masih
dipakai sehari-hari. Di sini? Warung kopi
pinggir jalan sudah pakai cashless payment. "Nggak cuma
itu," lanjut mas Adit. Di Belanda, buat bayar
parkir aja dia harus download aplikasi berbeda-beda tiap kota. Ribetnya minta
ampun. Di Indonesia? Satu QRIS bisa dipakai di
mana-mana. Dari mal mewah sampai tukang pecel di pinggir rel kereta. Sesimpel
scan, bayar, selesai. Bahkan tanpa internet pun bisa offline payment. Tapi diskusi kami nggak
berhenti di situ. Dia makin semangat cerita. "Lo tahu nggak, di
Amerika, delivery makanan yang sampai dalam 30 menit itu barang mewah.
Ongkirnya bisa 10-15 dolar. Belum termasuk tip." Di sini? GoFood bisa anterin sate
padang dalam 15 menit. Ongkir cuma 10 ribu rupiah. "Ini sihir,"
katanya. Dan dia serius. Dia cerita soal
birokrasi. Di Eropa, ngurus izin tinggal bisa makan waktu berbulan-bulan.
Antrinya fisik, bolak-balik bawa dokumen asli. Di Indonesia, banyak
layanan sudah pindah jadi digital. Bikin SKCK online. Perpanjang paspor lewat
aplikasi. Bahkan daftar haji sekarang bisa dari HP. Ini bukan soal sempurna.
Tapi lompatan yang terjadi dalam 5-8 tahun terakhir itu luar biasa. Gue jadi merenung. Selama
ini gue dan teman-teman sering mengeluh soal ribetnya urusan di Indonesia. Tapi dibanding 5 tahun
lalu? Digitalisasinya melesat cepat. Banyak negara maju justru terjebak
sistem legacy mereka sendiri, sehingga lambat berubah. Indonesia melompati itu.
Dari infrastruktur minim langsung ke mobile-first. Itu keunggulan yang
jarang disadari. Mas Adit lalu nyerempet
soal kesehatan. Di Jerman, memang
BPJS-nya bagus. Tapi untuk cek gigi aja harus antre 2-3 minggu. Untuk hal
yang sifatnya kosmetik atau tidak darurat, malah bisa lebih lama. Di sini? Banyak klinik
gigi bisa langsung kita datangi hari itu juga. Harga? Untuk warga lokal,
bahkan dengan BPJS Kesehatan pun banyak yang sudah tercover. Padahal kualitas
alat dan dokternya tidak kalah. Dia juga kaget soal akses
internet. Di beberapa pelosok
Indonesia, sinyal 4G sudah menjangkau. "Teman-teman gue di Australia
masih sering ngeluh internet lemot dan mahal", katanya lagi. Di Jerman, masih banyak
daerah sub-urban yang masuk "dead zone" - sinyal hilang total. Indonesia? Bahkan di
kereta api ekonomi pun penumpang bisa streaming YouTube. Ini belum terjadi di
banyak negara maju. Ekosistem UMKM digital
juga membuatnya tercengang. Di Amerika, untuk buka
toko online butuh integrasi teknis, biaya hosting, dan payment gateway yang
mahal. Di Indonesia? Buka Shopee
atau Tokopedia bisa dari hp harga sejutaan. Lalu upload foto dagangan.
Besoknya sudah bisa terima orderan. Enabler luar biasa untuk
rakyat kecil yang tidak ada di banyak negara. Mas Adit menutup,
"Masalahnya, kalian terlalu terbiasa. Lahir dan besar dengan semua
kemudahan ini, sampai menganggap remeh apa yang ada" Dia benar. Kita sering
membandingkan Indonesia dengan luar negeri - tapi selalu dari sisi yang
kurang. Jarang sekali ada yang mau melihat bahwa di banyak aspek, kita justru
sudah jauh lebih maju secara diam-diam. Bukan berarti Indonesia
tanpa masalah. Macet masih parah. Infrastruktur belum merata. Korupsi masih
banyak, dan birokrasi di beberapa tempat memang menyakitkan. Tapi di saat yang sama,
ada lompatan-lompatan yang sering tidak dihargai. Ironisnya, orang luar
yang datang justru lebih bisa melihatnya. Sementara kita sibuk mengeluh. Obrolan itu mengubah cara
pandang gue. Bukan berarti gue
berhenti kritis. Tapi mulai menghargai proses. Mulai melihat bahwa kemajuan
tidak selalu berisik. Kadang ia bekerja
diam-diam, memudahkan hidup kita setiap hari tanpa kita sadari. Dan itu patut
diapresiasi. (Sumber:
Anonim/Medsos) ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar