|
Kudatuli Goenawan
Mohamad : Penyair, esais, pelukis. Catatan Pinggir
telah terhimpun dalam 14 jilid. Buku terbarunya, antara lain, Albert Camus:
Tubuh dan Sejarah, Eco dan Iman, Estetika Hitam, Dari Sinai sampai Alghazali. |
TEMPO HARIAN, 27 Juli
2026
|
· Akronim, seperti dalam Kudatuli, tak
sekadar mengandung makna totaliter, tapi juga trauma sosial. · Kudatuli mengacu pada peristiwa 27 Juli
1996 ketika tentara menyerbu kantor PDI di Jalan Diponegoro. · Seperti namanya, kekerasan negara
direspons seperti kuda tuli oleh negara. KEBIASAAN
kita membuat akronim membawa kita ke arah pengertian yang saling-silang. Kata
"jagung", contohnya. Kata ini acapkali dipakai untuk mengacu pada
pengertian "Jaksa Agung". Tapi yang denotatif pelan-pelan
bersenyawa dengan pencandraan sosial (social imagining) dan tugas
kejaksaan—posisi penting dalam tata negara—pun berubah jadi sesuatu yang
"enteng". Seakan-akan ia tak ada hubungannya dengan kekuasaan besar
yang bisa menjadikan seseorang dicurigai negara. "Jagung" (lembaga
pentung itu) jadi sesuatu yang banal, seperti "pop corn" yang kita
letakkan di mulut kita sembari nonton film Batman. Di sini
izinkan saya menambahkan apa yang tak diurai George Orwell tentang akronim
dalam 1984, novelnya yang menjadi model analisis bahasa totaliter: akronim
ada hubungannya dengan trauma sosial. Pada gilirannya makna kata
"Jagung" terbentuk dalam pengalaman masyarakat—pengalaman tentang
lembaga-lembaga hukum yang ternyata tak berbobot, bisa diacak-acak, digoreng,
dikacau. Bahkan bisa dianggap tak penting. Hari-hari
ini saya menemukan kata lain: "kudatuli". Kata itu
semula mengacu pada sebuah peristiwa kekerasan pada 27 Juli 1996. Pagi itu,
sejumlah besar orang—perusuh yang dibayar tentara—menyerbu kantor Partai
Demokrasi Indonesia untuk menumbangkan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri yang
dinilai membentuk oposisi kepada pemerintahan Presiden Soeharto. Jelas
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia turut aktif. Saya tak tahu siapa yang
memulai kata "kudatuli"; tapi ia pasti pintar. Saya duga ini
akronim yang ia bentuk dari kata "kudeta 27 Juli". Tak amat pas, agak
dipaksakan, tapi di sini ada unsur "social imagining" dan trauma
sosial yang menyusup ke dalamnya. Dalam
kata "kudatuli", secara sadar atau bawah sadar, ada gambaran
traumatik tentang sesuatu yang tak mau dengar dan tak punya kendali. Ada
kekerasan. Ada kesewenang-wenangan. Pagi 27
Juli itu saya bertemu dengan Marsillam Simanjuntak, Arief Budiman, dan
Susanto Pudjomartono di satu sudut Pasar Senen di Jakarta Pusat yang praktis
untuk rapat-klandestin. Kemudian datang Budiman Sudjatmiko dan seingat saya
Nezar Patria. Kami semua, dengan intensitas yag berbeda, ikut dalam
perlawanan terhadap rezim. Susanto—kini almarhum—wartawan The Jakarta Post,
juga mantan redaktur Tempo; Budiman dan Nezar dari PRD, Partai Rakyat
Demokratik. Sebelum
Budiman dan Nezar hadir, berita tak henti-hentinya datang ke telepon seluler
Susanto: kantor PDI diserbu. Kami tak
kaget. Sudah beberapa hari gedung di pojok Jalan Diponegoro itu
dibayang-bayangi "musuh". Para anggota dan simpatisan partai
berhimpun dan bersiap. Santoso, teman dari Aliansi Jurnalis Independen,
memberi tahu saya bahwa pada 27 Juli, Jalan Diponegoro 58 akan diserbu.
Santoso, yang biasa dan mahir dalam gerakan senyap, entah bagaimana bisa
mendapat informasi itu. Saya tak bertanya. Tapi di Utan Kayu 69 H kami siaga.
Gus Dur kadang-kadang bersama kami. Dukungan
dari masyarakat mengalir. Tampaknya orang tahu mana yang harus dibela. Para
tukang bangunan yang sedang bekerja di satu proyek di dekat situ beriuran
membelikan sarapan buat teman-teman PDI yang bersiaga dan bergadang di
kantor. Di antara kami, terutama yang biasa memproduksi selebaran gelap, ada
yang mencetak pamflet, menggugah semangat. Saya dengan setengah main-main
membuat surat dengan meniru tanda tangan Bung Karno, lalu kami kirim
faksimile ke Jalan Diponegoro, menyerukan agar perlawanan terus (tapi saya
tak tahu apakah surat itu dibaca). Sehari
sebelum serbuan "Kuda Tuli", kami berkumpul di Sekolah Tinggi
Teologi (STT) Jakarta di Jalan Proklamasi, yang hanya berjarak beberapa menit
dari kantor PDI. Pertemuan itu disebut "seminar". Beberapa
selebaran gelap sudah disiapkan. Tapi
saya tak tahu secara detail bagaimana serbuan musuh terjadi pagi-pagi 27
Juli. Jakarta kacau hari itu. Dari Menteng sampai Matraman, kota dalam
keadaan "perang". Ribuan
orang murka di jalan. Ada gardu polisi yang dibakar demonstran. Informasi
simpang-siur. Seorang teman mengabarkan, di kantor PDI tamak darah tumpah di
pelbagai tempat; para penyerbu menggunakan senjata tajam, katanya, dan korban
jatuh. Tapi ada teman yang membantah: sebenarnya tak ada perlawanan.
"Musuh" menyerbu masuk ketika para anggota PDI kecapekan berjaga.
Mereka berhasil. Setelah
27 Juli, penguasa menangkapi para pelawan, atau sebagian pelawan. Saya, Arief
Budiman, dan Marsillam lolos. Tapi Budiman ditangkap. Dia kemudian dituduh
menggerakkan demonstrasi besar itu. Tentu saja tidak benar. Budiman bahkan
baru tahu kantor PDI diserbu dari kami yang berkumpul di Pasar Senen. Tapi,
seperti biasa, bantahan terhadap dakwaan palsu diterima dengan sikap kuda
tuli. Budiman dihukum penjara. Seperti biasa—sebuah "kelaziman"
yang berlaku di kejaksaan sampai hari ini—data dan informasi disulap, dari
tak ada jadi ada. Hukum hanya berpura-pura sekian hari. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/peristiwa-27-juli-1996-kudatuli-pdi-2278583 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar