Catatan
dari London (3)
|
SEJARAH YANG DISIMPAN DALAM BANGUNAN 1000 TAHUN ITU - Kisah
Windsor Castle dan Berubahnya Peran Kerajaan Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
ORBITINDONESIA.COM, 24 Juli 2026
|
Suatu
sore di Windsor, UK, saya berdiri beberapa menit tanpa berkata-kata di
halaman kastel itu. Di hadapan saya menjulang tembok batu yang telah melewati
hampir seribu tahun musim dingin, perang, wabah, pengkhianatan, dan
kemenangan. Tiba-tiba
saya membayangkan seorang raja yang berjalan keluar dari gerbang ini dengan
keyakinan bahwa kekuasaannya berasal dari Tuhan. Beberapa
abad kemudian, seorang raja lain justru kembali ke kastel ini sebagai tawanan
sebelum kehilangan kepalanya di tiang eksekusi. Di
tempat yang sama, saya menyadari bahwa bangunan tua sering kali lebih jujur
daripada manusia. Ia tidak pernah lupa bagaimana kekuasaan lahir, dibatasi,
lalu berubah makna. -000- Windsor
Castle bukan sekadar kastel tertua di dunia yang masih terus dihuni keluarga
kerajaan. Ia adalah naskah hidup yang ditulis selama hampir seribu tahun. Pembangunannya
dimulai sekitar tahun 1070 oleh William the Conqueror, tidak lama setelah
Penaklukan Norman tahun 1066. Lokasinya dipilih karena menguasai jalur Sungai
Thames sekaligus melindungi London dari arah barat. Benteng
kayu pertama kemudian berkembang menjadi kastel batu yang terus diperluas
oleh hampir setiap raja Inggris berikutnya. Di
sinilah lahir keputusan-keputusan kerajaan, pernikahan para raja, pemakaman
para penguasa, hingga perlindungan bangsa pada masa perang. Hampir
tidak ada bangunan lain di dunia yang terus berfungsi selama seribu tahun
sambil tetap menjadi pusat simbolik negara. Windsor bukan hanya menyimpan
sejarah Inggris. Ia menyimpan evolusi cara manusia memahami kekuasaan. -000- Memandangi batu-batu yang
membentuk kastel ini, saya teringat pada tiga peristiwa besar yang bukan
hanya berkaitan dengan Windsor, tetapi juga mengubah cara manusia memahami
kekuasaan. Pertama: Magna Carta: Ketika Raja Mulai Belajar
Bahwa Hukum Lebih Tinggi Daripada Mahkota Musim
panas tahun 1215 menjadi salah satu musim paling menentukan dalam sejarah
politik dunia. Raja
John menghadapi pemberontakan para bangsawan. Pajak yang tinggi, kekalahan
perang di Prancis, dan pemerintahan yang dianggap sewenang-wenang membuat
kesabaran mereka habis. Namun yang menarik, titik tekan perundingan itu tidak
berlangsung jauh dari Windsor Castle. Hanya
sekitar sepuluh kilometer dari kastel, di padang rumput Runnymede, para
bangsawan memaksa Raja John menerima sebuah piagam yang kemudian dikenal
sebagai Magna Carta. Mengapa
di sana? Karena Windsor Castle adalah benteng utama sang raja. Para bangsawan
sengaja memilih lokasi yang cukup dekat agar tekanan militer tetap terasa,
tetapi cukup jauh agar tidak berada dalam kendali langsung pasukan kerajaan. Bahkan
ketika naskah Magna Carta diterima, bayang-bayang menara Windsor masih
mendominasi cakrawala. Pada
pandangan pertama, Magna Carta tampak sederhana. Ia bahkan belum berbicara
mengenai demokrasi, hak pilih, ataupun kesetaraan seluruh warga negara.
Dokumen itu terutama melindungi hak kaum bangsawan. Namun
sejarah sering bergerak melalui gagasan kecil yang kemudian tumbuh jauh
melampaui niat para pembuatnya. Untuk
pertama kalinya, seorang raja dipaksa mengakui bahwa dirinya tidak berada di
atas hukum. Kalimat itu terdengar biasa bagi manusia abad ke-21. Namun
pada abad ke-13, gagasan tersebut hampir terasa mustahil. Selama
berabad-abad sebelumnya, raja dianggap memperoleh legitimasi langsung dari
Tuhan. Menentang raja berarti menentang kehendak langit. Magna
Carta mengubah arah pemikiran itu. Dari dokumen inilah kemudian berkembang
prinsip due process of law, habeas corpus, supremasi hukum, parlemen modern,
hingga konstitusi di berbagai negara demokrasi. Maka
ironi sejarah pun lahir. Di dekat benteng yang dibangun untuk mengukuhkan
kekuasaan raja, justru lahir benih yang perlahan membatasi kekuasaan itu
sendiri. Windsor
Castle sejak saat itu tidak lagi hanya menjadi simbol monarki. Ia
juga menjadi saksi kelahiran sebuah gagasan yang lebih besar daripada
kerajaan mana pun. Bahwa
hukum harus lebih panjang umurnya daripada seorang raja. -000- Kedua: Kisah Charles I, Ketika Sebuah Kepala
Dipenggal dan Sebuah Zaman Ikut Berakhir Empat
abad setelah Magna Carta, Inggris kembali menghadapi pertanyaan yang sama.
Apakah seorang raja benar-benar berada di atas hukum? Charles
I menjawab, ya. Parlemen menjawab, tidak. Charles percaya pada Divine Right
of Kings, keyakinan bahwa raja memperoleh mandat langsung dari Tuhan sehingga
tidak wajib tunduk kepada lembaga mana pun di bumi. Selama
bertahun-tahun ia memerintah tanpa parlemen, memungut pajak sepihak, dan
memaksakan kebijakan keagamaan yang menimbulkan perlawanan luas. Konflik
itu berkembang menjadi Perang Saudara Inggris. Pasukan kerajaan akhirnya
dikalahkan oleh tentara Parlemen di bawah Oliver Cromwell. Nasib
Charles berubah secara tragis. Ia ditahan di Windsor Castle, istana yang
dahulu menjadi lambang kemegahan kekuasaannya. Lorong-lorong yang pernah
menyambutnya sebagai raja kini menjadi ruang penjara yang sunyi. Dari
jendela kastel itu, ia mungkin masih melihat lanskap Inggris yang selama ini
diyakininya sebagai miliknya oleh hak ilahi. Namun
sejarah telah berubah arah. Pada
30 Januari 1649, Charles I dihukum mati di depan Banqueting House, Whitehall,
London. Untuk
pertama kalinya dalam sejarah modern Eropa, seorang raja diadili oleh
rakyatnya sendiri dan dieksekusi atas nama hukum negara. Tubuhnya
kemudian dibawa kembali ke Windsor Castle. Tanpa upacara megah. Tanpa
dentuman meriam. Tanpa
mahkota. Ia
dimakamkan secara sederhana di bawah lantai St George’s Chapel. Peristiwa itu
jauh lebih besar daripada kematian seorang manusia. Yang
sesungguhnya dipenggal hari itu bukan hanya kepala Charles I. Yang dipenggal
adalah keyakinan lama bahwa negara adalah milik seorang raja. Memang
monarki dipulihkan pada tahun 1660 melalui Charles II. Namun Inggris tidak
pernah benar-benar kembali kepada absolutisme. Revolusi
Agung tahun 1688 dan Bill of Rights tahun 1689 kemudian menegaskan bahwa
parlemen menjadi sumber utama kedaulatan politik, sementara raja memerintah
dalam batas konstitusi. Di
bawah batu-batu tua St George’s Chapel, Charles I masih beristirahat hingga
hari ini. Namun sejarah mengenangnya bukan semata sebagai raja yang
kehilangan mahkota. Ia
dikenang sebagai batas yang memisahkan dua dunia. Dunia ketika kekuasaan
dianggap suci. Dan
dunia ketika kekuasaan harus bersedia diadili. -000- Ketiga: Perang Dunia Kedua, Ketika Monarki
Bertahan Bukan Karena Kekuasaan, Melainkan Karena Kepercayaan Rakyat Jika
Magna Carta mengajarkan bahwa raja harus tunduk pada hukum, dan eksekusi
Charles I menunjukkan bahwa raja dapat dimintai pertanggungjawaban, maka
Perang Dunia Kedua memperlihatkan perubahan yang lebih halus sekaligus lebih
mendalam. Monarki
ternyata dapat bertahan bukan karena memiliki kekuasaan, melainkan karena
berhasil memelihara kepercayaan. Pada
tahun 1939, ketika Inggris memasuki Perang Dunia Kedua, ancaman bukan lagi
datang dari para bangsawan atau parlemen. Ancaman itu datang dari langit. Pesawat-pesawat
Luftwaffe Jerman membombardir London dan berbagai kota Inggris. Ribuan warga
sipil meninggal. Rumah-rumah runtuh. Gereja-gereja bersejarah terbakar.
Seluruh bangsa hidup dalam ketidakpastian. Dalam
situasi itulah Windsor Castle kembali memainkan perannya. Kastel
yang selama berabad-abad menjadi benteng pertahanan kerajaan berubah menjadi
benteng perlindungan warisan bangsa. Ribuan
karya seni dari Royal Collection dipindahkan ke sana. Sebagian permata
mahkota disembunyikan secara rahasia di bawah tanah. Ruang-ruang perlindungan
dibangun untuk keluarga kerajaan apabila serangan udara semakin hebat. Namun
nilai sejarah Windsor Castle pada masa perang bukan terletak pada temboknya
yang kokoh. Nilai sejarahnya terletak pada keputusan moral keluarga kerajaan. Raja
George VI dan Ratu Elizabeth menolak meninggalkan Inggris. Mereka tetap
berada di tengah rakyat yang setiap malam mendengar sirene serangan udara. Ketika
Istana Buckingham ikut dihantam bom, sang Ratu mengatakan bahwa kini ia
merasa dapat menatap mata rakyat London tanpa rasa bersalah, karena mereka
mengalami penderitaan yang sama. Kalimat
itu sederhana. Namun dampaknya luar biasa. Monarki
memperoleh legitimasi baru. Bukan karena darah biru. Bukan karena hak ilahi. Bukan
karena tentara. Melainkan karena kesediaan berbagi risiko bersama rakyat. Di
sinilah terjadi perubahan besar yang sering luput dari perhatian. Pada
abad pertengahan, rakyat hidup untuk kerajaan. Pada abad kedua puluh,
kerajaan justru memperoleh maknanya karena hidup bersama rakyat. Monarki
Inggris tidak lagi menjadi pusat kekuasaan negara. Ia berubah menjadi pusat
ingatan kolektif bangsa. Dan Windsor Castle menjadi saksi perubahan itu. Selama
hampir seribu tahun, fungsi kastel ini berubah mengikuti perubahan peradaban.
Ia pernah menjadi benteng penaklukan. Ia
pernah menjadi pusat pemerintahan. Ia
pernah menjadi penjara seorang raja. Ia pernah menjadi tempat perlindungan
bangsa. Sedangkan yang tetap hanyalah satu hal. Kepercayaan
rakyat selalu lebih kuat daripada tembok batu mana pun. -000- Berdiri di halaman Windsor
Castle, saya tidak merasa sedang mengunjungi istana para raja. Saya merasa
sedang berjalan di dalam ruang kelas sejarah yang terbesar. Selama
puluhan tahun saya mempelajari demokrasi, hak asasi manusia, dan perubahan
masyarakat. Namun
baru di tempat ini saya merasakan bahwa peradaban yang besar bukanlah yang
tidak pernah berbuat salah, melainkan yang berani mengubah kekuasaan menjadi
kepercayaan. Dua
buku ini dapat memperluas wawasan kita memahami perubahan peran kerajaan
berkaitan dengan dinamika sejarah. Buku Pertama: The
English Constitution. Penulisnya: Walter Bagehot, 1867. Walter
Bagehot menulis buku ini ketika monarki Inggris telah kehilangan sebagian
besar kekuasaan politiknya. Banyak orang saat itu menganggap kerajaan akan
semakin tidak relevan. Namun Bagehot justru menunjukkan mengapa monarki tetap
bertahan. Menurutnya,
sistem politik memiliki dua unsur. Pertama adalah bagian yang bekerja, yaitu
kabinet, parlemen, dan pemerintahan. Kedua adalah bagian yang dihormati,
yaitu monarki. Yang pertama menjalankan negara. Yang kedua memelihara
imajinasi, identitas, dan emosi kolektif bangsa. Inilah
gagasan yang sangat membantu memahami Windsor Castle. Selama berabad-abad,
kastel itu berubah dari pusat pemerintahan menjadi pusat simbolik negara. Yang
bertahan bukan lagi kekuasaan rajanya. Yang bertahan adalah kemampuannya
menjaga kesinambungan sejarah. Bagehot
mengingatkan bahwa legitimasi politik tidak selalu berasal dari kekuasaan
hukum. Ia
juga lahir dari kepercayaan, tradisi, dan rasa memiliki bersama. Tanpa
dimensi simbolik itu, negara modern mudah kehilangan ikatan emosional dengan
rakyatnya. Sesudah
membaca buku ini, saya memahami mengapa Inggris tidak membubarkan monarki
setelah demokrasi berkembang. Mereka
mengubah fungsinya. Dan
justru perubahan itulah yang membuat monarki tetap relevan hingga hari ini. -000- Buku Kedua: The
English and Their History. Robert Tombs. Allen Lane, 2014. Robert
Tombs melihat sejarah Inggris bukan hanya sebagai rangkaian perang,
pergantian dinasti, dan kebijakan para penguasa. Ia
menelusuri bagaimana masyarakat Inggris terus menafsirkan masa lalunya,
membentuk identitas bersama, lalu mengubah institusi lama agar sesuai dengan
tuntutan zaman baru. Inggris
dalam buku ini tampil sebagai kerajaan yang berkali-kali mengalami invasi,
perang saudara, revolusi, perluasan imperium, dan penyusutan kekuasaan
global. Namun ia tetap memiliki kemampuan luar biasa untuk menyerap perubahan
tanpa sepenuhnya memutus hubungan dengan tradisi. Gagasan
ini sangat relevan untuk memahami Windsor Castle. Monarki Inggris bertahan
bukan karena tidak pernah dikalahkan, melainkan karena berkali-kali mengubah
cara ia dipahami. Raja
yang semula memerintah berdasarkan penaklukan dan hak ilahi perlahan menjadi
raja yang dibatasi hukum, bergantung pada parlemen, dan akhirnya berfungsi
terutama sebagai simbol kesinambungan bangsa. Tombs
membantu kita melihat bahwa sejarah kerajaan bukan hanya sejarah mahkota. Ia
juga sejarah ingatan rakyat terhadap mahkota. Sebuah
monarki dapat kehilangan wilayah, kekuasaan politik, bahkan kemegahan
imperiumnya, tetapi masih bertahan jika masyarakat menganggapnya bagian dari
kisah bersama. Windsor
Castle karena itu bukan sekadar peninggalan feodal. Ia adalah tempat bangsa
Inggris menyimpan, memperdebatkan, dan memperbarui pengertian tentang dirinya
sendiri. -000- Dua
karya tersebut tidak sekadar menjelaskan sejarah, melainkan memperlihatkan
bagaimana simbol monarki dan narasi kolektif saling berkelindan dalam
membentuk kesadaran berbangsa yang melampaui kekuasaan politik formal semata. Sebagian
sejarawan berpendapat bahwa keberhasilan Inggris tidak terutama disebabkan
oleh evolusi monarkinya. Mereka lebih menekankan faktor Revolusi Industri,
perkembangan perdagangan global, kekuatan angkatan laut, munculnya kelas
menengah, serta tradisi hukum yang terus berkembang. Dalam
pandangan ini, Windsor Castle hanyalah latar belakang yang romantis.
Perubahan besar sesungguhnya digerakkan oleh ekonomi dan institusi modern,
bukan oleh simbol kerajaan. Pandangan
itu memiliki dasar yang kuat. Tidak ada masyarakat yang menjadi demokratis
hanya karena memiliki istana tua. Tidak
ada negara yang menjadi makmur hanya karena mempertahankan tradisi. Kemajuan
selalu memerlukan pendidikan, inovasi, pasar yang sehat, supremasi hukum, dan
lembaga politik yang akuntabel. Namun
justru di sinilah letak keistimewaan Windsor Castle. Esai
ini tidak pernah berpendapat bahwa sebuah bangunan mengubah sejarah. Bangunan
tidak pernah mengubah sejarah. Manusialah yang melakukannya. Windsor Castle
menjadi penting karena selama hampir seribu tahun ia menjadi panggung tempat
masyarakat Inggris terus-menerus merundingkan hubungan antara kekuasaan,
hukum, dan legitimasi. Batu-batu
kastel itu tidak berbicara. Tetapi setiap generasi memberi makna baru kepada
batu-batu tersebut. Karena itulah Windsor bukan sekadar objek wisata. Ia
adalah arsip moral sebuah bangsa. Ia mengingatkan bahwa institusi yang mampu
bertahan bukanlah institusi yang menolak perubahan. Melainkan institusi yang
cukup rendah hati untuk berubah tanpa kehilangan jati dirinya. -000- Pelajaran Windsor menjadi
semakin relevan hari ini. Di bawah Raja Charles III, monarki Inggris kembali
diuji oleh skandal keluarga, perdebatan Commonwealth, dan pertanyaan generasi
muda tentang relevansi tahta di era republik digital. Sejarah
seribu tahun itu berbisik satu hal. Lembaga bertahan bukan karena menolak
kritik, melainkan karena bersedia mendengarnya sebelum kritik berubah menjadi
revolusi. Ketika
matahari tenggelam di balik Round Tower, saya menyadari bahwa yang sedang
saya tinggalkan bukan sekadar sebuah kastel. Saya
sedang meninggalkan sebuah ruang kuliah yang telah mengajar dunia selama
hampir seribu tahun. Di
sana saya belajar bahwa sejarah bukanlah museum yang dipenuhi benda-benda
mati. Sejarah
adalah percakapan panjang antara kekuasaan dan kebijaksanaan. Percakapan itu
belum selesai. Ia terus berlangsung di setiap parlemen yang memperjuangkan
keadilan, di setiap pengadilan yang menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Juga
di setiap warga negara yang berani mengingatkan penguasanya bahwa tidak ada
kekuasaan yang lebih tinggi daripada martabat manusia. Barangkali
itulah sebabnya Windsor Castle tetap berdiri dengan tenang. Ia
tidak lagi harus mempertahankan kekuasaan. Ia
hanya perlu mengingatkan setiap generasi bahwa kekuasaan selalu fana,
sedangkan nilai yang memperadabkan manusia dapat hidup jauh lebih lama. Saya
meninggalkan Windsor dengan langkah yang lebih pelan daripada ketika saya
datang. Karena saya tahu, perjalanan yang sesungguhnya bukanlah perjalanan
melintasi kota. Melainkan
perjalanan memahami bagaimana sebuah bangsa belajar mengubah kekuasaan
menjadi kepercayaan, dan kepercayaan menjadi peradaban. Bangunan
dapat bertahan seribu tahun karena batu. Peradaban hanya dapat bertahan
seribu tahun karena manusia terus bersedia belajar dari sejarahnya sendiri. ● REFERENSI 1. Bagehot, Walter. The English Constitution.
Chapman and Hall, 1867. 2. Tombs, Robert. The English and Their History.
Allen Lane, 2014. Sumber : https://www.orbitindonesia.com/detail/n4f0cRi1lX/denny-ja-sejarah-yang-disimpan-dalam-banguna-1000-tahun-itu
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar