|
Mengapa Kelangkaan
BBM Tak Diantisipasi Sejak Dini Caesar Akbar : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 26
Juli 2026
|
· Penyaluran Pertalite hingga pertengahan
Juli telah menembus 47,68 persen dari kuota tahun ini. · Pangsa pasar Pertamax turun dari 23,2
persen menjadi 18,8 persen setelah harganya naik. · Pembenahan sistem pengawasan konsumen
harus diikuti revisi Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014. SELEMBAR
spanduk kuning membentang di atap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum KM 7
Sukarami, Palembang, Sumatera Selatan. Kain itu bertulisan "Awas lur!
Kalau antre bolak-balik (pelangsir) pacak keno UU Migas 6 tahun penjara dan
dendo Rp 60 miliar". Artinya kira-kira mengingatkan masyarakat agar
tidak berlaku curang dengan bolak-balik membeli bahan bakar bersubsidi untuk
dijual kembali. Menurut
seorang petugas SPBU itu, spanduk tersebut dipasang untuk mencegah
penyalahgunaan Pertalite dan solar bersubsidi. Masyarakat, kata dia, diimbau
membeli bahan bakar sesuai dengan kebutuhan dan tidak melakukan pengisian
berulang menggunakan kendaraan yang sama ataupun berbeda untuk ditimbun atau
dijual kembali. "Kami mengimbau masyarakat tidak melangsir,"
ujarnya pada Kamis, 23 Juli 2026. Di
tempat pengisian bahan bakar itu tampak barisan sepeda motor dan mobil di
jalur pembelian Pertalite. Demikian pula di sejumlah SPBU lain di Palembang.
Namun, berdasarkan pengamatan Tempo, antrean tak lagi mengular hingga ke luar
area SPBU seperti yang terjadi beberapa pekan sebelumnya. Di sisi
lain SPBU KM 7 Sukarami, sebuah papan berlapis spanduk kuning memuat
peraturan antrean pembeli solar. Pengendara dilarang antre sebelum pukul
20.30. Penyaluran solar, menurut pengumuman itu, berlangsung pada pukul 21.00
hingga 05.00 WIB. Meski
antrean mulai berkurang, sebagian masyarakat belum sepenuhnya tenang. Sandhy,
pengguna Pertalite, mengaku selalu mengisi penuh tangki kendaraannya.
Pengalaman antre panjang beberapa bulan terakhir membuatnya mengubah
kebiasaan saat membeli bahan bakar. "Sekarang, kalau sudah dapat giliran,
saya isi penuh sekalian supaya tidak perlu sering-sering antre lagi,"
tuturnya. Palembang
hanya satu dari sejumlah daerah yang warganya terpaksa antre untuk
mendapatkan bahan bakar bersubsidi beberapa pekan terakhir. Fenomena serupa
muncul di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, juga di Kalimantan Tengah dan
Nusa Tenggara Timur. Dalam
rapat kerja dengan Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat yang antara lain
mengurus bidang energi pada Kamis, 16 Juli 2026, Wakil Direktur Utama PT
Pertamina Patra Niaga Taufik Aditiyawarman mengakui sempat terjadi antrean di
sejumlah daerah di Sumatera. Menurut
dia, kondisi itu dipicu keterlambatan distribusi dan meningkatnya pembelian.
Untuk mengatasinya, Pertamina Patra Niaga menambah pasokan, mengerahkan
kendaraan distribusi tambahan, serta memperpanjang jam operasional SPBU. ●●● MESKI
harus antre, Muhammad Olga merasa lebih untung membeli Pertalite alih-alih
Pertamax yang harganya melangit. Karyawan swasta yang juga pengemudi taksi
online itu mendaftarkan mobilnya dalam program "Subsidi Tepat" di
aplikasi digital MyPertamina agar bisa membeli Pertalite. Pada
awalnya Olga gagal mendaftarkan mobilnya. Baru sepekan kemudian, setelah
mencoba lagi, ia memperoleh kode respons cepat (QR code). "Kalau ada
Pertalite, saya pilih Pertalite. Selisihnya lumayan," kata Olga, yang
tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Sebelumnya Olga menghabiskan Rp 200
ribu sehari untuk membeli Pertamax. Kini pengeluarannya hanya Rp 100 ribu. Olga
adalah satu dari ribuan, atau mungkin jutaan, pengguna Pertamax yang
bermigrasi ke Pertalite. Tren migrasi ini kian masif setelah harga Pertamax
naik pada Juni 2026. Perilaku ini pun tecermin dalam data Pertamina. Setelah
harga Pertamax naik, pangsa pasar Pertalite meningkat dari 75,4 persen pada
Januari-Mei menjadi 80,3 persen pada Juli. Sebaliknya, pangsa pasar Pertamax
pada periode tersebut turun dari 23,2 persen menjadi 18,8 persen. Rata-rata
penyaluran Pertalite pada Juli naik 9,4 persen atau sekitar 7.129 kiloliter
per hari dibanding pada Januari-Mei. Adapun tingkat penyaluran Pertamax
Series turun 18 persen atau sekitar 4.476 kiloliter per hari. Data
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) juga menunjukkan
penyaluran Pertalite hingga pertengahan Juli telah menembus 13,96 juta
kiloliter atau 47,68 persen dari kuota tahun ini, yang dipatok 29,27 juta
kiloliter. Adapun penyaluran solar mencapai 9,48 juta kiloliter atau 50,85
persen dari kuota 18,64 juta kiloliter. Kepala
BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan kenaikan angka penyaluran itu dipicu
perubahan pola pembelian bahan bakar. "Adanya shifting atau perubahan
pola pembelian bahan bakar nonsubsidi, banyak yang pindah menjadi konsumen
bahan bakar bersubsidi," ujarnya. Kenaikan
tingkat konsumsi itu mendorong BPH Migas mengevaluasi tata kelola distribusi
bahan bakar bersubsidi. "Kami mencermati semua masukan untuk memperbarui
mekanisme tata kelola distribusi bahan bakar, khususnya bahan bakar
bersubsidi dan yang mendapatkan kompensasi dari negara," tuturnya. Menurut
Wahyudi, BPH Migas akan mengevaluasi batas volume pembelian bahan bakar
bersubsidi untuk menekan pembelian dalam jumlah besar yang dilakukan secara
berulang. Lembaganya juga menyiapkan QR code dinamis yang terintegrasi dengan
sistem PT Pertamina Patra Niaga agar transaksi tidak wajar dapat terdeteksi
dan diblokir secara otomatis. Namun,
Wahyudi menambahkan, pembenahan sistem itu perlu diikuti revisi Peraturan
Presiden Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Harga
Jual Eceran Bahan Bakar Minyak. Menurut dia, aturan tersebut masih
mengelompokkan pengguna bahan bakar bersubsidi berdasarkan jenis kendaraan.
BPH Migas mengusulkan revisi peraturan itu sejak 2022, tapi hingga kini belum
disetujui pemerintah. Di sisi
lain, PT Pertamina Patra Niaga memperketat validasi data dalam program
Subsidi Tepat. Hingga pertengahan Juli 2026, anak perusahaan PT Pertamina
(Persero) itu telah memutakhirkan data lebih dari 1,5 juta kendaraan dan
memblokir lebih dari 307 ribu QR code yang diduga menyalahi penggunaan bahan
bakar bersubsidi. Dalam
evaluasinya, Pertamina menemukan berbagai modus penyalahgunaan BBM
bersubsidi, antara lain manipulasi QR code, modifikasi tangki kendaraan,
penggunaan alat pemutus pelacak pada truk tangki, dan penimbunan. Direktur
Eksekutif Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira Adhinegara
menilai pengendalian konsumsi Pertalite masih belum efektif. Menurut dia,
kesiapan pemerintah memverifikasi konsumen bahan bakar bersubsidi belum
sebanding dengan lonjakan jumlah pengguna yang berpindah dari bahan bakar
nonsubsidi. "Kesiapan verifikasi konsumen bahan bakar bersubsidi dengan
lonjakan migrasi tidak sebanding," katanya. Adapun
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Indonesia Mohammad Faisal
mengatakan kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi memperbesar perpindahan
konsumen ke Pertalite dan solar. Menurut dia, makin besar selisih harga
antara produk bersubsidi dan nonsubsidi, makin banyak konsumen yang beralih karena
sensitif terhadap harga. Namun
Faisal menilai antrean pembeli Pertalite dan solar tidak sepenuhnya dipicu
perpindahan tersebut. Menurut dia, antrean telah lama terjadi di sejumlah
daerah di luar Jawa akibat persoalan distribusi dan kuota. "Masalah
kuota di tiap daerah juga perlu dievaluasi karena antrean sudah terjadi
sebelum ini. Dengan kenaikan harga BBM nonsubsidi, antreannya jadi makin
panjang," tuturnya. ● Sumber :
https://www.tempo.co/ekonomi/pertalite-solar-pertamina-kelangkaan-bbm-2278191 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar