|
Hantu Orwell Bagja Hidayat : Wakil Pemimpin Redaksi Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 26
Juli 2026
|
·
Gawai dan algoritma telah menggantikan
pengawasan Bung Besar dan Polisi Pikiran dalam novel 1984. ·
Meski George Orwell tak berniat meramal,
isi novelnya makin relevan dengan keadaan dunia hari ini. · Distopia
kekuasaan bertaut erat dengan pengendalian kebenaran melalui algoritma dan
akal imitasi. GEORGE
Orwell tak berniat meramal ketika menulis dan menyodorkan manuskrip 1984
kepada penerbit Secker & Warburg di London pada 1948. Judul asli naskah
yang ia tulis saat menyendiri di Pulau Jura, Skotlandia, dalam gempuran musim
dingin yang menggigit sambil menahan sesak tuberkulosis adalah “The Last Man
in Europe”. Fred
Warburg, editor dan pemilik penerbitan tersebut, merasa judul itu kurang
menjual. Ia sudah membacanya dan tercengang akan ceritanya. Dalam catatan
internal perusahaan, Warburg yang sudah menerbitkan karya-karya besar penulis
besar semacam H.G. Well menulis komentar tentang novel itu sebagai “cerita
paling menakutkan yang pernah saya baca”. Ia
cenderung memilih judul alternatif yang disodorkan Orwell, 1984, dengan
alasan—bukan semata komersial—sekaligus menggambarkan isinya sebagai sebuah
peringatan. Tak ada penjelasan meyakinkan mengapa 1984, kecuali bahwa latar
ceritanya berkisar pada tahun itu. Melalui Winston Smith, tokoh utama novel
ini, Orwell juga bertanya, untuk apa ia menulis masa depan. “Masa depan akan
menyerupai masa kini, jika ia mengacuhkannya....” Warburg menyukai kalimat
ini: ada misteri dan teka-teki. Kini
1984 menjadi simbol kekuasaan represif. “Orwellian” bahkan menjadi kata sifat
untuk memberi predikat kepada penguasa yang menindas. Terbit pada 8 Juni
1949, enam bulan sebelum Orwell—nama pena Eric Arthur Blair—wafat di usia 46,
1984 disambut gegap gempita pembaca sastra sejak hari pertama. Winston
Churchill, Perdana Menteri Inggris 1940-1945 dan 1951-1955, mengaku
membacanya dua kali begitu buku itu tiba di tangannya. Di
Goodreads, aplikasi ulasan buku, 1984 menjadi novel yang paling banyak
dibahas setelah To Kill a Mockingbird, cerita tentang perbudakan dan
rasialisme di Amerika pada abad ke-20, sampai pekan lalu. Pada 2007, dalam
survei surat kabar Inggris The Guardian, responden menobatkan 1984 sebagai novel
yang paling mewakili abad ke-20. Barangkali
karena apa yang ditulis Orwell terlalu dekat dan makin dekat dengan keadaan
hari ini. Propaganda, manipulasi informasi, dan kekuasaan negara yang makin
merasuk ke dalam hidup orang-seorang menjadi ciri khas zaman ini.
Totalitarianisme tak semata berwujud penguasa otoriter atau politikus koppig
yang antikritik, tapi juga teknologi yang membuat kita terjebak dan tak
berkutik di dalamnya. Toh, di Oceania yang menjadi latar novel 1984, tetap
ada tokoh oposisi semacam Emmanuel Goldstein yang dijuluki “Musuh Rakyat”. George
Orwell memang tak sedang meramal apa yang akan terjadi pada 1984. Oceania
merujuk pada perpaduan Rusia di era Stalin dengan Jerman di masa Hitler.
Winston, pegawai rendahan di Kementerian Kebenaran yang bertugas memeriksa
artikel, menderita di bawah kekuasaan Bung Besar, pemimpin Oceania, yang tak
pernah muncul secara fisik tapi mengendalikan hidup setiap orang detik per
detik. Ia punya Polisi Pikiran dan alat pelacak untuk memantau gerak-gerik
siapa saja. Winston
dipaksa menerima 2 + 2 = 5, menelan jargon-jargon bahasa ganda semacam
“perang adalah kedamaian”, “kebebasan adalah perbudakan”, “ketidaktahuan
adalah kekuatan”. Di Oceania, berpikir waras adalah kejahatan. Dengan
intimidasi pikiran seperti itu, Winston yang memakai segenap tenaga membenci
Bung Besar pun berakhir dengan mencintai dan mengaguminya. Ia tak bisa lagi
bebas berpikir dan bertindak. Di luar
distopia kekuasaan, 1984 sesungguhnya memang novel yang meramal. Teknologi
pengawas dan Polisi Pikiran kini berbentuk mesin algoritma yang membaca
pikiran dan kecenderungan setiap orang di dunia digital. Bung Besar tak lagi
mengacu pada Stalin atau Hitler, tapi para penguasa teknologi digital yang
bersekutu dengan politikus menguasai ruang hidup baru kita saat ini. Sementara
Winston Smith sadar sedang dimanipulasi Bung Besar, miliaran Winston hari ini
merayakannya sebagai tren dunia modern. Kita tak sadar sedang dimanipulasi
mesin algoritma yang menyaring informasi berdasarkan preferensi. Bung Besar
hari ini lebih sukses dibanding Bung Besar dalam 1984 dalam hal mengendalikan
kebenaran. Atas nama kebebasan, kita terjebak di dalam gelembung informasi
yang membuat kebenaran faktual bergeser menjadi kebenaran perspektif. Polisi
Pikiran masa kini adalah gawai dan robot-robot percakapan semacam ChatGPT
atau Gemini. Mesin-mesin ini membaca dan menguping lalu menyodorkan informasi
dan perspektif yang kita suka. Akal imitasi makin menguatkan bias alami
manusia, yang disebut Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow sebagai
sindrom WYSIATI, what you see is all there is: apa yang kita percaya
terbentuk oleh informasi yang terbatas sampai kita alpa bertanya apa yang
tidak kita tahu sebelum membuat kesimpulan tentang sesuatu. Winston
Smith menulis diari pada 4 April 1984—di Oceania, menulis diari adalah
tindakan ilegal karena membuat sejarah menjadi beragam. Ia membuat deskripsi
yang mirip kita lihat di dunia nyata hari-hari ini: penonton terhibur oleh
ribuan pengungsi yang meregang nyawa ketika kapal yang mereka tumpangi karam.
Seorang pria tambun mencoba berenang, dikejar helikopter dan ditembaki hingga
tubuhnya berlubang-lubang. “Penonton tertawa terbahak-bahak melihat ia
tenggelam....” Di dunia
tanpa kebebasan dan informasi dikendalikan, kemanusiaan tak mati sendirian. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/algoritma-george-orwell-1984-ai-2278165
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar