Catatan
dari London (7)
|
KETIKA HIDUP LEBIH KOMPLEKS KETIMBANG DOKTRIN AGAMA - Musical
Theater: The Book of Mormon di West End Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 28 Juli 2026
|
Dua
misionaris muda tiba dari Amerika dengan jas putih yang rapi, kitab suci di
tangan, dan keyakinan bahwa mereka membawa jawaban. Yang
menyambut mereka bukan rasa ingin tahu, melainkan sebuah nyanyian. Penduduk
desa menyanyikannya bersama-sama dengan riang, seolah itu lagu penghibur. Mafala
Hatimbi, tetua desa, menjelaskan artinya kepada dua tamu yang kebingungan
itu. Kalimat tersebut adalah umpatan yang ditujukan langsung kepada Tuhan. Ia lalu
menyebut alasannya satu per satu. Delapan puluh persen penduduk desa hidup
dengan HIV. Seorang panglima perang berkeliaran dengan senjata. Kelaparan
datang tanpa musim. Menyanyikan
kalimat itu, katanya, adalah cara mereka bertahan. Seribu
penonton tertawa. Saya ikut tertawa. Lalu tawa
itu berhenti di tenggorokan saya sendiri. Sebab di balik lelucon paling kasar
malam itu, ada pertanyaan yang tidak lucu sama sekali: ketika hidup terlalu
berat, apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia dari agamanya? Pada detik
itulah saya merasa, bukan hanya para tokoh di atas panggung yang sedang
diuji. Kita semua sedang diuji. Sebab hidup sering kali jauh lebih rumit
daripada doktrin agama yang kita hafal. -000- Saya
menyaksikan The Book of Mormon di West End, London. Ini sebuah musikal yang
sejak pertama kali dipentaskan di Broadway pada 2011 langsung menuai pujian
sekaligus kontroversi. Ditulis oleh Trey Parker, Matt Stone, dan Robert
Lopez, karya ini meraih sembilan Tony Awards serta Olivier Award sebagai Best
New Musical. Namun yang
membuatnya istimewa bukanlah penghargaan itu. Yang membuatnya terus hidup
ialah keberaniannya menggunakan komedi untuk mengajukan pertanyaan paling
serius tentang iman, penderitaan, dan makna hidup. Kisahnya
mengikuti dua misionaris muda Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci
Zaman Akhir. Elder Kevin Price percaya diri, disiplin, dan yakin Tuhan telah
menyiapkan masa depan yang indah baginya. Pasangannya, Elder Arnold
Cunningham, kikuk, gugup, dan lebih pandai berimajinasi daripada menghafal
kitab sucinya. Mereka
berharap diutus ke tempat yang nyaman. Kenyataannya, mereka dikirim ke sebuah
desa miskin di Uganda yang diteror panglima perang, dihantui AIDS, dan
dikepung kemiskinan. Penduduk
desa tidak bertanya tentang surga. Mereka bertanya bagaimana bertahan hidup
sampai esok pagi. Hanya satu
suara yang bergerak ke arah lain. Nabulungi, putri sang tetua desa,
menyanyikan mimpinya tentang sebuah tempat jauh yang ia dengar dari para
misionaris. Ia mengejanya salah — Sal Tlay Ka Siti. Ia membayangkan kota
tempat lalat tidak hinggap di mata bayi dan setiap orang punya cukup makanan. Penonton
tertawa mendengar salah eja itu. Namun lagu itu bukan lelucon. Nabulungi
tidak sedang mencari doktrin yang benar. Ia sedang mencari alasan untuk
percaya bahwa besok mungkin berbeda. Price tetap
menyampaikan ajaran sebagaimana tertulis. Hampir tak seorang pun tertarik.
Cunningham kemudian melakukan sesuatu yang sama sekali tidak diajarkan di
pusat pelatihan misionaris. Ia
mencampurkan kisah Kitab Mormon dengan Alkitab, Star Wars, The Lord of the
Rings, Star Trek, dan berbagai cerita rekaan lain. Secara
teologis semuanya berantakan. Namun justru melalui cerita-cerita yang dekat
dengan imajinasi mereka, masyarakat mulai mendengarkan. Mereka tertawa,
memperoleh harapan, dan menemukan keberanian untuk menjalani hidup. Di situlah
letak ironi musikal ini. Cerita yang tidak akurat secara doktrinal justru
membuka ruang bagi perubahan hidup, sementara ajaran yang sangat akurat gagal
menyentuh hati orang-orang yang sedang terluka. Pertanyaan
terbesar yang dibawa pulang penonton bukanlah apakah semua kisah itu benar
secara historis. Pertanyaannya jauh lebih mengganggu. Ketika hidup berada di
ambang kehancuran, apakah manusia pertama-tama membutuhkan kepastian, atau
justru harapan yang membuatnya sanggup bertahan? -000- Yang paling
mengguncang saya bukan kelucuannya. Saya memang tertawa bersama ribuan
penonton di Prince of Wales Theatre. Namun setiap kali tawa mereda, muncul
keheningan yang jauh lebih dalam. Di
sekeliling saya, tawa masih bergulung dari berbagai sudut teater. Ada
pasangan lanjut usia yang saling menepuk bahu sambil tertawa, sekelompok
mahasiswa yang bertepuk tangan, dan beberapa penonton yang diam menatap
panggung setelah lagu berakhir. Datang
dengan latar belakang keyakinan yang berbeda, tetapi malam itu kami
dipertemukan oleh pertanyaan yang sama tentang rapuhnya kehidupan manusia. Saya
teringat begitu banyak perdebatan agama yang saya saksikan sepanjang hidup.
Orang memperdebatkan ayat, sejarah, dan doktrin dengan semangat luar biasa.
Namun ketika berhadapan dengan mereka yang kehilangan anak, pekerjaan, rumah,
atau harapan, kemenangan argumentasi sering kali terasa begitu kecil. Saya tidak
menangkap pesan bahwa musikal ini menganggap kebenaran tidak penting. Yang
saya tangkap justru lebih halus. Kebenaran yang gagal menghadirkan belas
kasih perlahan kehilangan daya hidupnya. Sebaliknya, belas kasih sering kali
menjadi pintu yang membuat manusia perlahan menemukan kebenaran. -000- Ada tiga
alasan mengapa The Book of Mormon layak dikenang jauh melampaui
kontroversinya. Pertama,
manusia tidak hidup hanya oleh fakta. Manusia juga hidup oleh makna. Penduduk
desa di Uganda tidak sedang mencari perdebatan teologis. Mereka mencari
alasan untuk tetap bangun esok pagi di tengah perang, penyakit, dan kematian. Kedua,
musikal ini mengkritik kepastian yang berlebihan. Elder Price datang dengan
keyakinan bahwa ia telah memiliki hampir semua jawaban. Kehidupan
memperlihatkan kenyataan yang jauh lebih rumit. Ia belajar
bahwa iman yang dewasa bukanlah keyakinan bahwa kita selalu benar, melainkan
kerendahan hati untuk terus belajar ketika realitas mengguncang seluruh
kepastian. Ketiga,
dunia tidak terutama berubah oleh mereka yang memiliki argumen paling kuat.
Dunia lebih sering berubah oleh mereka yang bersedia hadir ketika orang lain
menderita. Kehadiran yang tulus kerap lebih menyembuhkan daripada penjelasan
yang paling cemerlang. -000- Saat lampu
teater menyala kembali, saya tetap duduk beberapa menit. Saya tidak sedang
memikirkan kontroversi musikal itu. Yang terus berputar dalam benak saya
justru tiga pertanyaan sederhana. Apakah
selama ini saya lebih sibuk mempertahankan kebenaran daripada menghadirkan
kasih? Apakah saya cukup rendah hati ketika pengalaman hidup mengguncang
keyakinan yang selama ini saya anggap pasti? Dan ketika
seseorang datang membawa luka, apakah saya benar-benar hadir sebagai sahabat,
atau hanya datang membawa jawaban? Saya
meninggalkan Prince of Wales Theatre dengan langkah yang lebih lambat
daripada ketika datang. Di luar, lampu-lampu West End tetap berkilau.
Wisatawan memenuhi trotoar, restoran masih ramai, dan London berjalan seperti
biasa. Namun dalam
diri saya, sesuatu telah bergeser. -000- Ada dua buku
yang memperkaya pembacaan terhadap musikal ini. Yang pertama
adalah Fear and Trembling karya Søren Kierkegaard. Melalui kisah Abraham dan
Ishak, Kierkegaard menunjukkan bahwa iman tidak berhenti pada kepastian
intelektual. Iman adalah
keberanian berjalan bersama Tuhan ketika seluruh jawaban belum tersedia.
Perspektif ini membantu kita melihat bahwa pertanyaan terbesar musikal
tersebut bukanlah siapa yang paling benar, melainkan bagaimana manusia tetap
setia pada makna ketika hidup dipenuhi paradoks. Buku kedua
ialah The Uses of Enchantment karya Bruno Bettelheim. Bettelheim menjelaskan
bahwa dongeng bertahan selama berabad-abad bukan terutama karena dapat
dibuktikan secara historis, melainkan karena simbol dan cerita memberi makna
bagi jiwa manusia. Kisah-kisah
itu membantu manusia menghadapi ketakutan, kehilangan, harapan, dan kematian
dengan cara yang tidak mampu dilakukan oleh data semata. Gagasan ini membantu
menjelaskan mengapa sebuah cerita yang fiktif sekalipun dapat menggerakkan
hidup jauh melampaui sekadar penyampaian fakta. -000- Tentu saja
pembacaan seperti ini dapat mengundang keberatan. Bila manfaat sebuah kisah
lebih ditekankan daripada kebenaran historisnya, agama berisiko berubah
menjadi sekadar terapi psikologis. Tanpa fondasi kebenaran, setiap cerita
dapat dibenarkan selama dianggap membawa manfaat. Keberatan
itu layak dihargai. Tidak ada peradaban yang dapat bertahan bila melepaskan
diri dari komitmen terhadap kebenaran. Namun
menurut saya, The Book of Mormon tidak mengajak kita memilih antara kebenaran
dan kasih. Musikal ini justru mengingatkan bahwa keduanya harus berjalan
bersama. Kebenaran
memberi arah agar manusia tidak tersesat. Kasih memberi kehidupan agar
kebenaran tidak berubah menjadi batu yang melukai sesama. Barangkali
karena itulah Yesus lebih sering hadir di tengah orang-orang yang terluka
daripada di tengah mereka yang sibuk memenangkan perdebatan. Ia tidak
mengurangi arti kebenaran. Ia memperlihatkan bahwa kebenaran mencapai
puncaknya ketika menjelma menjadi kasih yang hidup. Namun hari
ini, pencarian akan jawaban tidak lagi berhenti pada ruang-ruang teologi.
Manusia modern bergegas berpaling pada algoritma, menggeledah data demi
menemukan kepastian yang makin melenyapkan kepekaan rasa. -000- Lompatan ke
era kecerdasan buatan kini menghadirkan paradoks serupa. Algoritma memberikan
kepastian data dan jawaban instan, persis seperti doktrin kaku yang
menawarkan formula tanpa empati. Namun, data
tanpa jiwa gagal merawat rasa hampa. Seperti masyarakat desa di Uganda,
manusia modern tak sekadar membutuhkan kalkulasi presisi, melainkan kehadiran
yang mampu mendengar luka dan menyalakan harapan di tengah ketidakpastian. Saya datang
ke Prince of Wales Theatre sebagai penonton sebuah komedi musikal. Saya
pulang membawa satu wajah yang tidak bisa saya lupakan: seorang perempuan
muda yang salah menyebut nama kota impiannya, dan tetap berjalan ke arah itu. Barangkali
begitulah cara iman bekerja pada sebagian besar manusia. Bukan sebagai peta
yang akurat, melainkan sebagai alasan untuk melangkah. Pada
akhirnya, Tuhan mungkin tidak pertama-tama bertanya seberapa banyak kebenaran
yang kita menangkan, melainkan seberapa banyak kasih yang kita hidupkan. ● REFERENSI 1. Fear and Trembling. Søren Kierkegaard. Penguin
Classics. 1843. 2. The Uses of Enchantment: The Meaning and
Importance of Fairy Tales. Bruno Bettelheim. Vintage Books. 1976. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar