|
Rohingya di Ujung
Jalan Rina
Widiastuti : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 26
Juli 2026
|
· Konflik yang memanas di Myanmar memicu
gelombang baru pengungsi Rohingya ke Bangladesh. · Di tengah kamp-kamp yang makin padat di
Cox's Bazar dan berkurangnya bantuan internasional, kondisi pengungsi
Rohingya makin buruk. · Krisis kemanusiaan ini akan terus
berlangsung selama isu Rohingya belum menjadi bagian dari penyelesaian
konflik Myanmar. PENGAMANAN
Bangladesh di perbatasan dengan Myanmar makin ketat. Di sepanjang jalan
menuju Cox's Bazar, kota pelabuhan di tenggara Bangladesh, pos-pos
pemeriksaan berdiri hanya berjarak 2-3 kilometer. Setiap pos dijaga
empat-lima tentara. Barikade dipasang di sejumlah titik. Setiap kendaraan
yang melintas berpotensi dihentikan untuk diperiksa. Pemandangan
itu disaksikan dosen Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia,
Shofwan Al Banna Choiruzzad, ketika mengunjungi Cox’s Bazar pada akhir Mei
2026. Dengan mobil sewaan dari hotel tempatnya menginap, ia berkeliling
kawasan yang berbatasan langsung dengan Negara Bagian Rakhine, Myanmar, itu. Shofwan
lolos dari pemeriksaan. Menurut dia, aparat tampaknya menerapkan penyaringan
berdasarkan profil orang yang melintas. “Kalau terlihat seperti turis atau
tidak mencurigakan, tidak diperiksa,” katanya kepada Tempo di Universitas
Indonesia, Depok, Jawa Barat, pada Sabtu, 11 Juli 2026. Peningkatan
pengamanan di perbatasan itu dipicu memanasnya konflik di Myanmar dalam
beberapa bulan terakhir. Perang saudara berkobar di berbagai wilayah setelah
militer menggulingkan pemerintahan sipil Aung San Suu Kyi pada Februari 2021.
Sejumlah kelompok etnis yang telah lama berkonflik dengan pemerintah angkat
senjata, termasuk Arakan Army di Rakhine. Di
tengah perang itu, etnis Rohingya kembali menjadi kelompok yang paling
rentan. Sejak eksodus besar-besaran pada 2017 akibat operasi militer Myanmar
di Rakhine, lebih dari 1 juta orang Rohingya mengungsi ke Bangladesh. Kini
memburuknya situasi keamanan di Rakhine kembali mendorong warga Rohingya
meninggalkan kampung halaman dan menambah tekanan terhadap kamp-kamp
pengungsi di Cox’s Bazar. Arakan
Army menggencarkan serangan terhadap banyak pos militer di Rakhine. Pada
akhir 2025, kelompok separatis bersenjata itu disebut telah menguasai 14 dari
17 kotapraja di negara bagian tersebut. Ketidakstabilan di perbatasan membuat
Bangladesh memperketat pengawasan sekaligus mengantisipasi limpahan konflik
ke wilayahnya. Shofwan
berada di Bangladesh setelah menjadi pembicara dalam seminar Global South
Solidarity di Dhaka. Seusai acara, Sekretaris Eksekutif ASEAN Study Center UI
ini menyempatkan diri pergi ke Cox’s Bazar untuk melihat langsung kehidupan
pengungsi Rohingya yang selama bertahun-tahun bertahan di kamp-kamp sepanjang
perbatasan Bangladesh-Myanmar itu. Dia
berusaha memperoleh izin memasuki kamp pengungsi. Dari informasi yang
diterimanya, Refugee Relief and Repatriation Commissioner (RRRC) tidak
keberatan. “Tapi enggak dapat izin dari militer Bangladesh,” ujar Shofwan. Meski
Shofwan gagal memasuki kamp, skala krisis di Cox’s Bazar tergambar jelas dari
data pemerintah Bangladesh. Senior Assistant Secretary RRRC Aftabuzzaman Al
Imran mengatakan sekitar 1,2 juta pengungsi Rohingya kini menempati 34 kamp
di sana. Sebanyak 33 kamp berada di dekat perbatasan Myanmar. Enam kamp
berada di Teknaf, kurang dari 5 kilometer dari garis batas negara, sementara
27 kamp lain bisa dicapai dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Kamp
Kutupalong di Kecamatan Ukhia menjadi kamp pengungsi terbesar di dunia. Mayoritas
penghuni kamp berasal dari Rakhine, wilayah paling barat Myanmar. Mereka
melarikan diri akibat kekerasan yang berlangsung selama puluhan tahun, dengan
gelombang eksodus terbesar terjadi pada 2017. Bangladesh menjadi tujuan utama
karena berbatasan langsung. Sebagian kemudian melanjutkan perjalanan ke
Malaysia, Thailand, Indonesia, hingga Australia. Arus
pengungsi itu belum berhenti. “Dalam satu setengah tahun terakhir, kami
menerima hampir 200 ribu pendatang baru Rohingya. Jadi Anda dapat dengan
mudah memahami bahwa situasi di Myanmar sama sekali tidak baik,” tutur Al
Imran kepada wartawan Tempo melalui percakapan WhatsApp pada Rabu, 15 Juli
2026. Masalahnya,
kemampuan Bangladesh untuk menampung mereka justru makin terbatas. Jumlah
dana bantuan internasional terus menurun seiring dengan perhatian dunia yang
beralih ke berbagai konflik lain, seperti di Gaza dan Sudan. Menurut Al
Imran, pemerintah Bangladesh kini hanya menerima sekitar separuh dari
anggaran yang pernah tersedia pada masa awal krisis. “Kami berusaha menarik
perhatian seluruh dunia agar dana tersebut tetap seperti semula sehingga
Bangladesh tidak terjerumus ke dalam masalah yang lebih besar di masa depan,”
katanya. Berkurangnya
dana berdampak langsung terhadap kehidupan pengungsi. Program Pangan Dunia
(WFP) beberapa kali memangkas bantuan pangan bulanan. Menurut data RRRC, pada
2025, hanya 53 persen kebutuhan pendanaan yang terpenuhi. Hingga pertengahan
2026, angkanya turun menjadi sekitar 35 persen. Di
tengah keterbatasan itu, bencana alam memperburuk keadaan. Kamp-kamp
pengungsi berdiri di kawasan perbukitan yang sebelumnya merupakan hutan
lindung. Pemerintah Bangladesh juga tidak memiliki ruang untuk memperluas
kawasan permukiman pengungsi. Karena ruang hidup makin pengap, mereka
meratakan sebagian bukit untuk memperluas permukiman, yang meningkatkan
risiko tanah longsor. Hingga pertengahan Juli, sedikitnya 13 orang dilaporkan
meninggal akibat tanah runtuh. Permasalahan
bisa bertambah kompleks jika konflik di Myanmar terus berlanjut. “Kami
khawatir akan terjadi pembersihan etnis secara absolut dan menyeluruh di sana
dan mereka semua akan memasuki Bangladesh,” ujar Al Imran. Pengajar
di Departemen Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia, Hadza Min
Fadhli Robby, menilai kekhawatiran tersebut sangat mungkin terbukti. Menurut
dia, klaim Arakan Army yang telah menguasai hampir semua wilayah perbatasan
menunjukkan eskalasi konflik belum akan selesai dalam waktu dekat. “Bukan
tidak mungkin penduduk Bangladesh sendiri akan menjadi internally displaced
person yang menambah kerumitan isu pengungsi di sana,” katanya. Di sisi lain,
tawaran gencatan senjata yang diajukan Arakan Rohingya Salvation Army untuk
membuka koridor kemanusiaan belum memperoleh tanggapan dari Arakan Army
ataupun pemerintah Myanmar. Guru
besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Heru Susetyo, menambahkan,
Bangladesh sendiri sedang menghadapi persoalan ekonomi dan kemiskinan setelah
perubahan pemerintahan selepas kejatuhan Perdana Menteri Sheikh Hasina pada
2024. “Menampung Rohingya makin menambah problem dari Bangladesh,” tuturnya. ●●● SHOFWAN
Al Banna Choiruzzad gagal memasuki kamp pengungsi di Cox’s Bazar. Namun dia
bertemu dan berbincang dengan sejumlah warga Rohingya di sana. Ia menemui
mereka dua kali, menjelang dan pada saat Idul Adha. Satu pengungsi yang
menguasai bahasa Inggris menjadi penerjemah. Dari
percakapan itu, tergambar kehidupan yang penuh keterbatasan. Kamp sangat
padat, sanitasi buruk, dan fasilitas kesehatan minim, sementara bantuan
kemanusiaan terus menyusut. “Badannya kurus, lusuh gitu,” kata Shofwan
menggambarkan kondisi para pengungsi yang ditemuinya. Sebagian
pengungsi mencari pekerjaan serabutan dengan upah rendah. Sebagian lain
terjerumus dalam aktivitas ilegal demi bertahan hidup. Ketika
kehidupan di kamp tak dapat menjanjikan masa depan, banyak di antara mereka
memilih meninggalkan Bangladesh melalui jalur laut menuju Malaysia,
Indonesia, atau Australia. Perjalanan itu sangat berbahaya karena mereka
menghadapi badai, kapal yang tidak layak, hingga ancaman perdagangan orang. Peneliti
Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional, Rizka Fiani
Prabaningtyas, mengatakan pengungsi Rohingya yang tiba di Indonesia berasal
dari dua jalur, yakni langsung dari Rakhine dan dari kamp-kamp di Cox’s
Bazar. “Mereka mencari tempat yang bisa memberikan perlindungan karena
situasi di Myanmar sudah sangat mengkhawatirkan,” tuturnya. Kondisi
itu memaksa mereka tetap menempuh mara bahaya di laut di tengah musim angin
kencang. “Makanya banyak yang lebih dulu karam di Teluk Bengali,” ujar Rizka. Pada
pertengahan Juli 2026, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dan
Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR)
melaporkan dugaan tenggelamnya dua kapal yang membawa lebih dari 500 orang di
lepas pantai Myanmar. Sebagian besar penumpangnya merupakan warga Rohingya,
termasuk beberapa yang berangkat dari kamp-kamp di Cox’s Bazar. Menurut
Rizka, tragedi semacam itu akan terus berulang selama Perhimpunan
Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) belum menjadikan persoalan Rohingya
sebagai bagian utama penyelesaian konflik Myanmar. Selama
ini isu pengungsi lebih sering dipandang sebagai dampak keamanan regional,
bukan bagian dari solusi politik. “Padahal tata kelola untuk mengatasi krisis
kemanusiaan yang dihadapi pengungsi ini seharusnya menjadi bagian integral
dari keseluruhan solusi untuk mengatasi masalah Myanmar,” tuturnya. ● Sumber :
https://www.tempo.co/internasional/situasi-pengungsi-rohingya-di-bangladesh-2278169 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar