|
INDONESIA TIDAK PERNAH DITINGGALKAN - Refleksi Kebangsaan di Tengah Kegelisahan Zaman Satrio Arismunandar: Praktisi media, pakar SCSC (South China Sea Council). |
ORBIT INDONESIA, 02 Juni 2026
|
Di berbagai ruang
percakapan hari ini, kita mendengar nada yang sama: kegelisahan. Ada yang gelisah karena
ekonomi dunia melambat. Ada yang khawatir melihat ketegangan geopolitik
antara negara-negara besar. Ada yang mempertanyakan arah bangsa. Ada pula
yang merasa seolah-olah Indonesia sedang berjalan menuju masa depan yang
tidak pasti. Perasaan itu wajar. Namun dalam suasana
seperti inilah kita perlu mengambil jarak sejenak dari hiruk-pikuk berita
harian dan melihat perjalanan bangsa ini dari perspektif yang lebih panjang. Karena sesungguhnya, bila
kita melihat Indonesia hanya dari peristiwa hari ini, kita akan mudah cemas.
Tetapi bila kita melihat Indonesia dari perjalanan 80 tahun terakhir, kita
justru menemukan alasan untuk bersyukur. Sebuah Keajaiban yang
Sering Kita Lupakan Ketika Indonesia merdeka
pada tahun 1945, banyak pihak meragukan bahwa negara ini dapat bertahan. Bagaimana mungkin ribuan
pulau yang dipisahkan lautan, ratusan suku bangsa, berbagai agama, bahasa,
adat, dan budaya dapat bersatu dalam satu negara? Banyak negara yang secara
geografis jauh lebih sederhana justru pecah menjadi beberapa bagian. Tetapi Indonesia
bertahan. Lebih dari itu, Indonesia
berkembang. Dari negara miskin
pasca-kolonial menjadi negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Dari
bangsa yang sebagian besar buta huruf menjadi bangsa dengan jutaan sarjana,
insinyur, dokter, pengusaha, dan profesional. Kita sering terlalu fokus
pada kekurangan sehingga lupa melihat betapa jauhnya perjalanan yang telah
ditempuh. Ada Sesuatu yang Lebih
Besar dari Manusia Dalam dunia modern,
segala sesuatu sering dijelaskan dengan teori ekonomi, strategi politik, atau
kepemimpinan. Semua itu penting. Namun sejarah Indonesia
mengandung sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh teori-teori
tersebut. Terlalu banyak momen ketika
bangsa ini berada di tepi jurang, tetapi kemudian menemukan jalan keluar yang
tidak terduga. Revolusi kemerdekaan. Pergolakan tahun 1965. Krisis ekonomi 1998. Konflik sosial di
berbagai daerah. Tsunami Aceh. Pandemi global. Berkali-kali Indonesia
diuji. Berkali-kali pula
Indonesia bertahan. Karena itu banyak orang
tua, para ulama, rohaniwan, pemuka adat, dan tokoh kebatinan meyakini bahwa
perjalanan Indonesia tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan para
pemimpinnya. Ada kehendak yang lebih besar. Ada tangan sejarah yang
bekerja melampaui perhitungan manusia. Dalam tradisi Jawa
dikenal keyakinan bahwa manusia hanya menjalankan perannya, sedangkan arah
akhir perjalanan berada dalam kehendak Yang Maha Kuasa. Jangan Terlalu Cepat
Menghakimi Zaman Sejarah juga mengajarkan
bahwa tidak semua tindakan pemimpin dapat dipahami pada saat itu juga. Sering kali masyarakat
baru memahami arti suatu kebijakan bertahun-tahun kemudian. Ada keputusan yang pada
masanya dianggap keliru, tetapi ternyata menyelamatkan keadaan. Ada pula kebijakan yang
dipuji pada awalnya, tetapi kemudian menimbulkan masalah. Karena itu kebijaksanaan
menuntut kita untuk tidak terlalu cepat tenggelam dalam euforia maupun
keputusasaan. Bangsa yang matang bukan
bangsa yang selalu memuji pemimpinnya. Tetapi juga bukan bangsa
yang selalu mencurigai segala sesuatu. Bangsa yang matang adalah
bangsa yang tetap menjaga akal sehat, kesabaran, dan persatuan dalam
menghadapi perubahan zaman. Indonesia Selalu
Menemukan Jalan Tengah Salah satu kekuatan
terbesar Indonesia adalah kemampuannya menemukan keseimbangan. Kita bukan negara liberal
ekstrem. Kita juga bukan negara
yang tertutup. Kita bukan negara agama. Tetapi juga bukan negara
yang memusuhi agama. Kita tidak sepenuhnya
Timur. Kita juga tidak
sepenuhnya Barat. Dalam perjalanan
sejarahnya, Indonesia hampir selalu menemukan jalan tengahnya sendiri. Inilah yang dalam
filsafat Jawa sering disebut sebagai upaya menjaga harmoni. Bukan berarti tanpa
konflik. Tetapi selalu berusaha
mengembalikan keseimbangan ketika keadaan mulai terlalu jauh bergerak ke satu
sisi. Tugas Kita Bukan Takut,
Tetapi Menyiapkan Diri Masa depan memang tidak
pasti. Tidak ada seorang pun
yang dapat menjamin bagaimana keadaan dunia lima atau sepuluh tahun ke depan. Tetapi sejarah Indonesia
menunjukkan satu pelajaran penting: Bangsa ini selalu lebih
kuat daripada yang diperkirakan. Karena itu yang
diperlukan hari ini bukan ketakutan yang berlebihan. Yang diperlukan adalah
ketenangan. Yang diperlukan adalah
kerja nyata. Yang diperlukan adalah
memperkuat keluarga, pendidikan, karakter generasi muda, ekonomi produktif,
serta semangat gotong royong. Bangsa yang besar tidak
dibangun oleh rasa takut. Bangsa yang besar
dibangun oleh harapan. Menjaga Keyakinan kepada
Indonesia Di usia 80 tahun
kemerdekaannya, Indonesia tentu masih memiliki banyak persoalan. Namun dibandingkan dengan
apa yang telah berhasil dilalui selama delapan dekade terakhir, kita memiliki
alasan yang jauh lebih besar untuk optimis daripada pesimis. Kita boleh berbeda
pandangan politik. Kita boleh mengkritik
kebijakan pemerintah. Kita boleh khawatir
terhadap keadaan dunia. Tetapi jangan sampai
kehilangan keyakinan terhadap Indonesia. Karena sejarah telah
membuktikan bahwa bangsa ini berkali-kali mampu melewati badai yang jauh
lebih besar daripada yang kita hadapi hari ini. Mungkin justru di tengah
kegelisahan zaman inilah kita perlu kembali mengingat bahwa tidak semua hal
dapat dipahami oleh akal manusia. Ada kerja keras manusia. Ada kebijaksanaan para
pemimpin. Ada pengorbanan rakyat. Tetapi bagi mereka yang
beriman, ada pula penyertaan Tuhan yang tidak pernah berhenti menjaga negeri
ini. Dan selama bangsa ini
tetap menjaga persatuan, gotong royong, serta kepercayaannya kepada Yang Maha
Kuasa, Indonesia akan terus menemukan jalannya. Indonesia tidak pernah
menjadi bangsa yang tanpa masalah. Tetapi selama 80 tahun
terakhir, Indonesia juga tidak pernah menjadi bangsa yang ditinggalkan. (Tidar Heritage Foundation (THF))
● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar