Kamis, 02 Juli 2026

 

Anatomi dan Sosiologi Politik Fragmentasi Demonstrasi Mahasiswa

Jannus TH Siahaan : Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik.

KOMPAS.COM, 14 Juni 2026

 

 

                                                           

TURBULENSI sosial-politik di tingkat akar rumput kembali menguji daya tahan dan elastisitas administrasi Presiden Prabowo Subianto.

 

Gelombang unjuk rasa mahasiswa yang merebak di berbagai sudut kota dalam beberapa pekan terakhir, seolah mengonfirmasi bahwa kepuasan politik tidak selalu berbanding lurus dengan konsolidasi kekuasaan di tingkat elite.

 

Dengan nilai tukar rupiah yang terus berayun mengkhawatirkan di kisaran Rp 17.984 hingga Rp 18.012 per dollar AS, kenaikan harga bahan bakar minyak nonsubsidi yang mendadak tinggi, serta tersendatnya beberapa program mercusuar pemerintah, jalanan kembali dipenuhi warna-warni jaket almamater berbagai kampus.

 

Namun, bagi pengamat sosiologi politik perkotaan seperti saya, misalnya, lanskap perlawanan hari ini tidak lagi memperlihatkan satu wajah yang padu.

 

Di bawah permukaan riuh demonstrasi, tengah terjadi polarisasi taktis dan pembelahan orientasi yang cukup tajam antara gerakan mahasiswa di ibu kota yang dimotori Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) dengan letupan radikal dari daerah yang mengancam bakal menyulut Reformasi Jilid II.

 

Fenomena ini tentu bukan hanya dinamika teknis di lapangan, tapi boleh jadi menjadi refleksi dari fragmentasi struktural dan efektivitas strategi penjinakan gerakan oleh negara.

 

Menengok aksi BEM UI di Jakarta pada pertengahan Juni 2026, tampak jelas adanya pergeseran karakter gerakan yang mengarah pada reformasi kebijakan sektoral, alih-alih mendelegitimasi kekuasaan secara total.

 

Meskipun publikasi digital mereka di media sosial dipenuhi retorika membara yang menuding pemerintah telah memporak-porandakan negara selama hampir dua tahun, lima tuntutan konkret yang dibawa ke aspal Jalan MH Thamrin Jakarta justru berkarakter sangat teknis-administratif.

 

BEM UI, yang konsolidasinya dipimpin oleh Ketua BEM Fakultas Hukum UI, Anandaku Dimas Rumi Chattaristo, menuntut penghentian pemborosan APBN, penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, penghentian program Makan Bergizi Gratis, pembatalan proyek Koperasi Desa Merah Putih, serta penghentian militerisme di ranah sipil.

 

Setiap poin tuntutan ini bersandar pada analisis kegagalan kebijakan riil, yakni kenaikan bensin jenis Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter, skandal korupsi mantan pimpinan Badan Gizi Nasional, hingga insiden pengrusakan sekolah di Ende demi pembangunan fisik koperasi desa.

 

Tak pelak, ini adalah kritik berbasis kajian akademis, upaya untuk mengevaluasi kinerja departemental, namun secara implisit tetap mengakui eksistensi dan otoritas rezim yang berkuasa untuk melakukan perbaikan.

 

Sebagai institusi kemahasiswaan yang mencandra dirinya sebagai kompas moral gerakan nasional, BEM UI cenderung memilih jalan perjuangan rasional guna mempertahankan legitimasi intelektualnya dan menghindari stigmatisasi politik yang destruktif.

 

Sikap reformis-konstitusional tersebut berbanding terbalik dengan kemarahan eksistensial yang ditiupkan dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

 

Di Jawa Tengah, di bawah kepemimpinan aktivis mahasiswa seperti Kailani Rizqi Pratama, unjuk rasa tidak lagi diposisikan sebagai ruang diskusi kebijakan publik.

 

Aksi teatrikal menghamburkan dan membakar uang mainan di atas spanduk kematian rupiah adalah pesan simbolik yang sangat radikal.

 

Pesan tersebut menegaskan bahwa jika pemerintah gagal menahan depresiasi rupiah hingga menembus angka psikologis Rp 25.000 per dollar AS, maka kemarahan kolektif rakyat akan bermuara pada Reformasi Jilid II yang tak terelakkan.

 

Di Jawa Timur, aliansi BEM Nusantara melangkah lebih jauh dengan merajut narasi kemunduran demokrasi yang bersifat sistemik.

 

Mereka mengaitkan kelesuan ekonomi dengan kembalinya represi militeristik terhadap warga sipil, seperti penyerangan terhadap Andrie Yunus, dan dominasi oligarki yang dianggap telah menulikan telinga kekuasaan.

 

Bagi mahasiswa di daerah, krisis hari ini bukan hanya sekumpulan kelalaian teknokrasi, tapi replika sempurna dari situasi menjelang kejatuhan Orde Baru pada tahun 1998.

 

Tuntutan mereka bukan lagi revisi anggaran atau pembatalan proyek, tapi ancaman langsung bahwa kejatuhan rezim tinggal menunggu momentum sejarah.

 

Geografi politik gerakan ini tidak dapat dilepaskan dari konseptualisasi basis oposisi. Jawa Tengah dan Jawa Timur secara historis merupakan lumbung suara terbesar bagi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), satu-satunya kekuatan politik utama yang memilih berada di luar pemerintahan demi menjalankan fungsi kontrol demokrasi.

 

Di wilayah-wilayah inilah, diskursus mengenai ancaman otoritarianisme populis mendapatkan ruang resonansi yang subur.

 

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto secara konsisten memproduksi narasi kritis yang menuding negara tengah mengalami kemunduran demokrasi akibat militerisme dan salah kelola fiskal di mana utang dibayar dengan utang baru.

 

Secara sosiologis, terjadi proses penyelarasan narasi antara elite oposisi dan organ gerakan mahasiswa di daerah.

 

Organisasi mahasiswa seperti HMI Jawa Timur dan berbagai faksi gerakan pemuda setempat menyerap kegelisahan struktural yang sama.

 

Meskipun tidak ada bukti mobilisasi instruktif yang bersifat transaksional, kesamaan musuh politik bersama melahirkan simbiosis mutualisme bahwa mahasiswa memanfaatkan ruang kritik yang dibuka oleh partai oposisi untuk menaikkan daya tawar gerakan, sementara elite oposisi mendapatkan amunisi moral berupa tekanan massa riil di akar rumput yang memperlemah legitimasi moral dari pemerintahan yang berkuasa.

 

Di tengah tajamnya perbedaan gradasi isu ini, muncul pertanyaan apakah sedang terjadi skenario pembelahan suara mahasiswa guna mengamankan Istana dari ancaman Reformasi Jilid II.

 

Sosiologi politik perkotaan mengajarkan bahwa negara modern memiliki instrumen penjinakan yang jauh lebih canggih daripada sekadar represi fisik yang berdarah di jalanan.

 

Pendekatan pertahanan berlapis yang ditunjukkan oleh aparat kepolisian di Jakarta pada aksi BEM UI merupakan contoh nyata.

 

Menggunakan dalih administratif berupa ketiadaan surat pemberitahuan resmi sesuai UU Nomor 9 Tahun 1998, polisi dengan mudah menahan massa aksi di sebelah selatan Menara BCA dan mendesak mereka pindah ke depan Gedung DPR.

 

Melalui taktik ini, negara berhasil mencegah terjadinya benturan fisik yang berdarah, variabel yang secara historis selalu menjadi pemantik terjadinya mobilisasi massa rakyat yang lebih luas.

 

Skenario ini bekerja secara halus dengan menciptakan kanal penyaluran kemarahan yang terkontrol, di mana mahasiswa merasa telah menyampaikan aspirasi, sementara negara tetap mempertahankan kontrol penuh atas ruang kota dan simbol-simbol kekuasaan.

 

Secara simultan, dominasi pemberitaan media nasional terhadap aksi BEM UI di Jakarta yang berfokus pada isu kebijakan sektoral secara tidak langsung mengesampingkan narasi radikal dari daerah.

 

Ketika ruang publik dipenuhi oleh perdebatan administratif mengenai izin demonstrasi atau detail program Makan Bergizi Gratis di Jakarta, gaung tuntutan Reformasi Jilid II dari Jawa Tengah dan Jawa Timur layu sebelum berkembang.

 

Publik dikondisikan untuk melihat bahwa protes mahasiswa saat ini masih berada dalam batas kewajaran evaluasi kebijakan publik, sehingga tuntutan penggulingan rezim di daerah terdelegitimasi sebagai reaksi yang tidak realistis dan ditunggangi kepentingan politik praktis.

 

Istana pun nampaknya memanfaatkan momentum ini dengan sangat cerdik. Pernyataan akomodatif dari Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman yang mengajak menjaga persatuan, dikombinasikan dengan narasi tandingan dari elite komunikasi pemerintah yang menyebut Presiden sebagai pemimpin reformasi sesungguhnya, berhasil mereduksi antipati publik terhadap kekuasaan dan mementahkan tuduhan otoritarianisme.

 

Di sini, pembelahan tidak harus berbentuk instruksi konspiratif dari intelijen negara, tapi dapat bekerja melalui hegemoni narasi yang menonjolkan protes moderat untuk meredam gelombang protes yang revolusioner.

 

Pembelahan dan kelemahan gerakan mahasiswa saat ini merupakan kulminasi dari evolusi relasi mahasiswa dan kekuasaan lintas rezim pasca-1998.

 

Jika pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono gerakan mahasiswa masih mempertahankan karakter oposisional liberal yang independen, era Joko Widodo mulai memperkenalkan teknik kooptasi struktural dan pembelahan faksional melalui perang opini digital di media sosial.

 

Di bawah kepemimpinan Joko Widodo, perpecahan di tubuh faksi mahasiswa semakin diperparah oleh kelihaian "diplomasi meja makan" yang sukses menjinakkan nalar kritis para pengurus pusat lembaga kemahasiswaan.

 

Namun, di era pemerintahan Prabowo Subianto, negara menerapkan strategi asimilasi total yang jauh lebih melumpuhkan kekuatan penyeimbang sipil.

 

Sebagian besar ikon pergerakan mahasiswa 1998, mulai dari Budiman Sudjatmiko, Nezar Patria, Agus Jabo Priyono, hingga Mugiyanto Sipin, kini telah melebur ke dalam struktur Kabinet Merah Putih.

 

Bahkan tokoh buruh yang vokal seperti Said Iqbal pun diintegrasikan sebagai penasihat khusus presiden, menghapus batas pemisah antara gerakan buruh dan lingkaran kekuasaan.

 

Asimilasi massal para aktivis senior ini berimplikasi sangat fatal di mana gerakan mahasiswa hari ini kehilangan jangkar patronase politik yang independen.

 

Dahulu, aktivis mahasiswa selalu memiliki mentor-mentor senior di luar kekuasaan yang siap memberikan arahan strategis dan perlindungan politik.

 

Hari ini, ketika mahasiswa turun ke jalan memprotes militerisme atau pelemahan demokrasi, mereka menyadari bahwa mereka harus berhadapan dengan mantan guru ideologis mereka sendiri yang kini justru telah berubah peran dengan bertugas mendesain benteng pertahanan rezim dari dalam Istana.

 

Kekosongan kepemimpinan taktis ini membuat pergerakan mahasiswa terjebak dalam rutinitas seremonial, kehilangan daya dobrak nasional yang padu, dan mudah terfragmentasi ke dalam faksi-faksi kecil yang saling mengabaikan.

 

Melihat konsolidasi kekuasaan yang kian hegemonik, proyeksi masa depan gerakan mahasiswa di Indonesia tampak berada di persimpangan jalan yang cukup sunyi dan akan semakin sunyi.

 

Kecenderungan pertama adalah lokalisasi dan spesialisasi isu yang semakin akut. Tanpa adanya simpul koordinasi nasional yang mandiri dan hilangnya patronase kritis, mahasiswa akan semakin sulit membangun aliansi nasional yang padu.

 

Gerakan ke depan akan didominasi oleh aksi-aksi lokal kasuistik yang merespons dampak spesifik dari proyek strategis nasional atau konflik agraria di daerah masing-masing, sehingga tidak lagi memiliki daya tekan yang signifikan terhadap stabilitas pusat kekuasaan.

 

Negara pun akan terus mengandalkan teknologi pengendalian sosial secara halus, mengutamakan barikade administratif dan perang narasi digital untuk meredam potensi martir perjuangan.

 

Singkat kata, keberhasilan atau kegagalan gerakan mahasiswa ke depan tidak lagi ditentukan oleh seberapa keras mereka meneriakkan yel-yel di jalanan, tapi oleh seberapa dalam krisis ekonomi riil merangsek masuk ke dalam dapur masyarakat kelas bawah.

 

Selama pemerintah mampu meredam gejolak inflasi domestik dan menjaga stabilitas pasokan pangan, kritik mahasiswa mengenai kemunduran demokrasi akan tetap dianggap sebagai komoditas intelektual yang berjarak dari kebutuhan nyata rakyat.

 

Namun, sejarah selalu mengajarkan bahwa ketika batas toleransi perut rakyat terlampaui akibat krisis ekonomi yang ekstrem, fragmentasi taktis mahasiswa akan melebur dengan sendirinya di bawah tekanan penderitaan bersama.

 

Dan di titik itulah, perpecahan isu akan berakhir, dan Reformasi Jilid II tidak lagi sekadar menjadi ancaman di atas kertas mainan yang terbakar, tapi kenyataan sejarah yang boleh jadi tidak terelakkan. ●

 

Sumber : https://nasional.kompas.com/read/2026/06/14/10150051/anatomi-dan-sosiologi-politik-fragmentasi-demonstrasi-mahasiswa?page=all#page2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar