|
Menimbang Potensi Jepang dalam Politik
Keamanan Indonesia Virdika
Rizky Utama : Peneliti PARA
Syndicate |
KOMPAS.COM, 16 Juli 2026
|
BAGI negara yang selama puluhan tahun
membangun politik luar negerinya di atas prinsip nonblok yang terukur, laju
diplomasi keamanan Indonesia belakangan ini tergolong tidak biasa. Hanya dalam empat bulan, Indonesia
menandatangani kesepakatan keamanan dengan India, Australia, Amerika Serikat,
dan Jepang. Pekan lalu, Perdana Menteri India
Narendra Modi tiba di Jakarta untuk menandatangani kesepakatan senilai 630
juta dollar AS. Berdasarkan kesepakatan tersebut, India
akan memasok sistem rudal jelajah BrahMos kepada Indonesia. BrahMos merupakan salah satu sistem
persenjataan utama dalam portofolio ekspor pertahanan India. Kunjungan Modi berlangsung setelah
Indonesia menyepakati Perjanjian Keamanan Bersama dengan Australia. Kesepakatan tersebut merupakan
perjanjian keamanan bilateral paling penting antara kedua negara dalam hampir
tiga dekade. Pemerintahan Prabowo Subianto juga
membentuk Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama dengan Amerika Serikat,
disertai komitmen dukungan bilateral pada tingkat yang belum pernah dicapai
sebelumnya untuk membangun kapasitas militer Indonesia. Tidak satu pun dari kesepakatan
tersebut membentuk aliansi formal. Jakarta tetap menghindari komitmen
pertahanan semacam itu. Pemerintah memang sudah semestinya
menempatkan doktrin politik luar negeri bebas aktif sebagai dasar resmi
posisi internasional Indonesia. Secara keseluruhan, rangkaian tersebut
menandai gelombang diplomasi keamanan paling intensif dalam sejarah modern
Indonesia. Banyaknya kesepakatan tidak serta-merta
menunjukkan bahwa kapasitas pertahanan Indonesia ikut menguat. Nilai strategis setiap kemitraan tetap
bergantung pada pelaksanaan, kesiapan anggaran, pemeliharaan, serta kemampuan
mengintegrasikan sistem yang dibeli. Perubahan lingkungan strategis di
sekitar Indonesia menjadi salah satu pendorong utama. Kehadiran kapal-kapal China di Laut
Natuna Utara terus menimbulkan persoalan bagi penegakan hak berdaulat
Indonesia. Gangguan di Selat Hormuz juga
memperlihatkan kerentanan negara kepulauan yang bergantung pada jalur-jalur
pelayaran penting terhadap guncangan di luar kendalinya. Persinggungan kepentingan maritim
dengan China merupakan salah satu unsur dalam lingkungan strategis tersebut,
tetapi bukan satu-satunya dasar bagi Indonesia untuk memperkuat kapasitas
pertahanannya. Persoalan yang lebih mendasar terletak
pada kesiapan armada, interoperabilitas, pemeliharaan, dan kemampuan industri
pertahanan nasional. Di tengah seluruh aktivitas diplomatik
tersebut, Australia atau Amerika Serikat belum tentu menjadi mitra yang
paling sesuai untuk memenuhi kebutuhan keamanan Indonesia yang paling
mendesak. Kerja sama dengan Jepang dapat menjadi
salah satu pilihan, terutama untuk menjawab kesenjangan kemampuan maritim
Indonesia. Indonesia dan Jepang menghadapi
sejumlah persoalan keamanan maritim yang beririsan. Keduanya merupakan negara maritim
dengan urat nadi ekonomi yang melintasi Laut China Selatan dan Selat Malaka. Kedua negara juga menghadapi dinamika
maritim yang belum sepenuhnya terselesaikan dalam hubungan mereka dengan
China. Jepang menghadapinya di sekitar
Kepulauan Senkaku, sedangkan Indonesia menghadapinya di Laut Natuna Utara. Wilayah Indonesia juga dilintasi jalur
komunikasi bawah laut yang memiliki arti penting bagi keamanan nasional
Jepang. Perdamaian dan stabilitas Indo-Pasifik
berkaitan langsung dengan kemakmuran kedua negara. Kepentingan bersama tersebut
menyediakan dasar bagi kerja sama yang lebih dalam. Pada April 2026, Tokyo membentuk
mekanisme untuk menjalankan kebijakan tersebut. Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro
Koizumi menyebut situasi keamanan Indo-Pasifik sebagai kondisi paling serius
sejak Perang Dunia II. Di bawah kepemimpinannya, Jepang mulai
membongkar pembatasan ekspor senjata yang telah berlaku selama beberapa
dekade. Perubahan tersebut memperluas ruang bagi Tokyo untuk menjadi pemasok
dan mitra pertahanan bagi sejumlah negara di kawasan. Bagi Jakarta, perubahan kebijakan itu
membuka sejumlah pilihan baru. Beberapa platform pertahanan Jepang
kini masuk dalam pembahasan. Platform tersebut berpotensi menambah kemampuan
Indonesia dalam menjaga perbatasan maritim dan melindungi kepentingan
nasionalnya. Tokyo dilaporkan telah menawarkan
fregat kelas Mogami kepada Indonesia. Kapal tersebut memiliki kemampuan dalam
pertahanan udara, peperangan antikapal selam, peperangan antikapal permukaan,
serta penanggulangan ranjau. Salah satu aspek yang relevan bagi
Jakarta terletak pada kebutuhan personelnya. Fregat Mogami hanya memerlukan sekitar
90 awak. Jumlah tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi angkatan laut yang
sejak lama menghadapi keterbatasan personel. Tidak lama setelah Jepang mengubah
aturan ekspor pertahanannya, Koizumi dan Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie
Sjamsoeddin membuka pembicaraan mengenai kemungkinan pengalihan kapal perusak
kelas Asagiri. Asagiri merupakan platform yang lebih
tua daripada Mogami. Kapal tersebut tetap dapat memberi Angkatan Laut
Indonesia tambahan kemampuan untuk menghadapi ancaman hibrida. Kemampuan pertahanan udara dan
pengawasannya juga dapat memperluas jangkauan operasi Indonesia di perairan
Asia Tenggara. Sejumlah laporan turut menyebut
kemungkinan transfer kapal selam. Opsi tersebut masih dalam peninjauan di
Jakarta. Di luar platform angkatan laut, Jepang
telah mengembangkan kemampuan serang jarak jauh secara mandiri, termasuk
rudal antikapal jarak jauh dan Hyper Velocity Gliding Projectile atau HVGP. HVGP dirancang untuk menghadapi
kekuatan laut lawan dari jarak lebih jauh dan sejak tahap konflik yang lebih
awal. Jakarta belum tentu akan memilih sistem tersebut. Pengembangannya menunjukkan jenis
teknologi pertahanan yang kini mulai dibuka Jepang untuk kerja sama dengan
negara-negara Indo-Pasifik. Arti strategis kerja sama dengan Jepang
baru terlihat jelas apabila dibandingkan dengan kondisi pertahanan Indonesia
saat ini. Pada April 2026, Kepala Staf TNI
Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali menyatakan bahwa tingkat kesiapan kapal
perang Indonesia hanya mencapai 60,93 persen. Bagi negara kepulauan dengan lebih dari
17.000 pulau, armada yang hanya sedikit di atas 60 persen siap operasi
merupakan risiko keamanan serius. Angka tersebut memperlihatkan
keterbatasan diplomasi pertahanan yang terlalu bertumpu pada penandatanganan
kesepakatan. Penambahan mitra dan platform baru
tidak otomatis memperbaiki kesiapan armada. Tanpa pemeliharaan yang konsisten,
dukungan logistik, personel terlatih, dan anggaran operasional yang memadai,
pengadaan baru berisiko menambah aset tanpa memperkuat kemampuan nyata. Proses pengadaan pertahanan Indonesia
yang terpecah-pecah semakin memperumit keadaan. Sejak 2020, Jakarta membeli
tiga kelas kapal perang berbeda dari Inggris, Italia, dan Turki. Diversifikasi pemasok masuk akal secara
geopolitik bagi negara nonblok. Dari sisi operasional, kebijakan tersebut
menghasilkan kekuatan laut dengan tingkat interoperabilitas antarkapal yang
sangat rendah. Perbedaan kelas kapal membawa kebutuhan
pelatihan, pemeliharaan, suku cadang, dan sistem operasi yang berbeda. Pola pengadaan yang tidak terintegrasi
dapat meningkatkan biaya, memperpanjang masa perawatan, dan menyulitkan
armada untuk beroperasi sebagai satu kesatuan. Tawaran Jepang perlu dinilai terutama
dari kemungkinan peningkatan interoperabilitas dan keterlibatan industri
pertahanan Indonesia. Kerja sama semacam itu dapat membantu
memperkuat kemampuan keamanan maritim, tetapi hasilnya tetap bergantung pada
desain pengadaan, kesiapan institusi, dan kemampuan Indonesia menyerap
teknologi. Rencana pengadaan fregat Mogami memberi
dimensi tambahan pada kerja sama tersebut. Empat kapal akan dibangun di
galangan Jepang, sedangkan empat lainnya akan dibangun di Indonesia. Skema itu membuka kemungkinan masuknya
teknologi angkatan laut Jepang ke dalam industri pertahanan domestik
Indonesia. Nilai skema tersebut tetap bergantung
pada isi transfer teknologi yang sebenarnya. Pembangunan kapal di Indonesia
belum tentu menghasilkan penguasaan teknologi apabila industri domestik hanya
terlibat pada tahap perakitan. Manfaat jangka panjang baru akan muncul
jika Indonesia memperoleh kemampuan desain, integrasi sistem, pemeliharaan,
dan produksi komponen penting. Pertemuan Koizumi dan Sjafrie pada Mei
2026 tidak hanya membahas pengalihan platform. Pembicaraan keduanya juga mencakup
kerja sama yang lebih luas dalam peralatan pertahanan dan kemampuan
penangkalan, serta pembentukan dialog tingkat tinggi secara berkala antara
kementerian pertahanan kedua negara. Kerja sama dengan Jepang dapat menjadi
salah satu pilihan bagi Indonesia dalam menjawab kesenjangan kemampuan
maritim. Penilaian tersebut tidak berarti setiap
tawaran Jepang harus diterima atau bahwa hubungan dengan Tokyo otomatis lebih
menguntungkan daripada kerja sama dengan mitra lain. Setiap pilihan tetap harus diuji
melalui biaya, kesiapan operasional, tingkat transfer teknologi, serta
dampaknya terhadap struktur kekuatan Indonesia. Dalam waktu singkat, pemerintahan
Prabowo menumpuk kesepakatan keamanan dengan sejumlah negara. Banyaknya kesepakatan itu belum
membuktikan bahwa kelemahan pertahanan Indonesia telah dibenahi. Indo-Pasifik menjadi semakin
kompetitif, sementara kesiapan armada, interoperabilitas, pemeliharaan, dan
kapasitas industri pertahanan masih tertinggal dari tuntutan strategis
Indonesia. Persoalan utamanya bukan kekurangan
mitra, melainkan kegagalan mengubah kemitraan menjadi kapasitas pertahanan
yang dapat digunakan. ● |
Sumber
: https://www.kompas.com/global/read/2026/07/15/135800270/menimbang-potensi-jepang-dalam-politik-keamanan-indonesia?page=all#page2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar