Momen Ekonomi dan
Bisnis
|
Defisit Perdagangan
Pertama Setelah 72 Bulan Fery
Firmansyah : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 05
Juli 2026
|
· Indonesia mencatatkan defisit
perdagangan pertama setelah 72 bulan surplus berturut-turut. · Daud Joseph turun dari kursi Direktur
Utama Pos Indonesia karena permintaan pribadi. · PMI manufaktur merosot dari level
ekspansi pada Mei ke level kontraksi pada Juni. BADAN
Pusat Statistik mencatat defisit neraca perdagangan US$ 1,61 miliar pada Mei
2026. Ini adalah defisit perdagangan pertama setelah Indonesia mengalami
surplus selama 72 bulan berturut-turut. “Defisit terutama disebabkan oleh
komoditas minyak dan gas,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa
BPS Ateng Hartono pada Rabu, 1 Juli 2026. Pada Mei
2026, nilai ekspor sebesar US$ 23,2 miliar, turun 5,73 persen dibanding pada
periode yang sama tahun sebelumnya. Berdasarkan data BPS, nilai ekspor minyak
dan gas bumi atau migas sebesar US$ 0,76 miliar atau turun 31,76 persen
secara tahunan. Sedangkan ekspor nonmigas sebesar US$ 22,45 miliar, turun 4,5
persen secara tahunan. Adapun
nilai impor pada Mei sebesar US$ 24,81 miliar atau meningkat 22,16 persen
secara tahunan. Nilai impor migas pada periode tersebut sebesar US$ 4,51
miliar atau meningkat 70,78 persen. Sedangkan nilai impor komoditas nonmigas
mencapai US$ 20,30 miliar atau meningkat 14,89 persen secara tahunan. Secara
kumulatif, neraca perdagangan pada Januari-Mei 2026 mencatatkan surplus US$
4,03 miliar. Surplus tersebut ditopang komoditas nonmigas sebesar US$ 16,31
miliar. Sementara itu, komoditas migas masih mengalami defisit US$ 12,28
miliar. ● Direktur
Utama Pos Indonesia Mundur DAUD
Joseph mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Direktur Utama PT Pos
Indonesia (Persero). Daud menempati posisi ini sejak 11 Maret 2026 atau baru
tiga bulan. Sebelumnya dia menjabat Direktur Operasional dan Keselamatan PT
Transportasi Jakarta atau Transjakarta. Sekretaris
Perusahaan Pos Indonesia Iwan Gunawan mengatakan Daud mundur terhitung per 2
Juli 2026. “Alasan pengunduran diri adalah murni keinginan dan pertimbangan
pribadi yang bersangkutan,” ujar Iwan dalam keterangan tertulis. Iwan
menyebutkan transisi kepemimpinan di PT Pos Indonesia akan digelar mengikuti
tata kelola perusahaan. “Selama proses tersebut berlangsung, Pos Indonesia
memastikan kegiatan operasional perusahaan tetap berjalan dan tidak
mengganggu layanan kepada semua stakeholder,” tuturnya. Dia pun menegaskan
bahwa pelaksanaan program transformasi perusahaan terus berjalan sesuai
dengan rencana. Sebelum
bekerja di Transjakarta dan Pos Indonesia, Daud menjadi eksekutif di
perusahaan swasta. Dia pernah menjabat Komisaris Utama PT Steady Safe Tbk
serta berkarier di PT Triputra Agro Persada Tbk dan PT SMART Tbk. ● Indeks
Kinerja Manufaktur Merosot LEMBAGA
pemeringkat S&P Global melaporkan Purchasing Managers’ Index atau PMI
manufaktur Indonesia turun dari 50 (level ekspansi) pada Mei 2026 menjadi
46,9 (level kontraksi) pada Juni. Menurut S&P Global, penurunan PMI ini
dipicu melemahnya permintaan terhadap barang manufaktur Indonesia. “Tingkat
penurunan merupakan yang paling kuat dalam setahun. Pesanan baru yang masuk
kembali menurun, menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak April
2025,” kata ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, yang
dikutip pada Rabu, 1 Juli 2026. S&P
menyatakan terjadi kenaikan cukup besar pada rata-rata beban biaya. Tingkat
inflasi harga input merupakan yang terbesar sejak September 2013. Menurut
Usamah, laju inflasi itu merupakan yang tertinggi kedua sepanjang sejarah dan
mendorong kenaikan harga jual pabrik paling kuat dalam hampir 13 tahun. Di
sisi lain, tren negatif permintaan mendorong perusahaan menurunkan output
empat bulan berturut-turut dan paling tajam sejak April 2025. Penurunan
tingkat kebutuhan produksi dan permintaan juga menghambat akumulasi stok. Kondisi
tersebut membuat produsen barang menurunkan jumlah tenaga kerja. S&P
mencatat laju pemutusan hubungan kerja pada Juni 2026 sebagai yang terbesar
sejak September 2021. “Menanggapi keadaan ini, perusahaan menurunkan jumlah
tenaga kerja dan aktivitas pembelian mereka besar-besaran, sementara
inventaris juga menurun seiring dengan melemahnya kondisi permintaan,” ujar
Usamah. ● Sumber :
https://www.tempo.co/ekonomi/pos-indonesia-defisit-perdagangan-pmi-2273561 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar