Rabu, 08 Juli 2026

 

Momen Ekonomi dan Bisnis

Defisit Perdagangan Pertama Setelah 72 Bulan

Fery Firmansyah :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 05 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Indonesia mencatatkan defisit perdagangan pertama setelah 72 bulan surplus berturut-turut.

 

·      Daud Joseph turun dari kursi Direktur Utama Pos Indonesia karena permintaan pribadi.

 

·      PMI manufaktur merosot dari level ekspansi pada Mei ke level kontraksi pada Juni.

 

BADAN Pusat Statistik mencatat defisit neraca perdagangan US$ 1,61 miliar pada Mei 2026. Ini adalah defisit perdagangan pertama setelah Indonesia mengalami surplus selama 72 bulan berturut-turut. “Defisit terutama disebabkan oleh komoditas minyak dan gas,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono pada Rabu, 1 Juli 2026.

 

Pada Mei 2026, nilai ekspor sebesar US$ 23,2 miliar, turun 5,73 persen dibanding pada periode yang sama tahun sebelumnya. Berdasarkan data BPS, nilai ekspor minyak dan gas bumi atau migas sebesar US$ 0,76 miliar atau turun 31,76 persen secara tahunan. Sedangkan ekspor nonmigas sebesar US$ 22,45 miliar, turun 4,5 persen secara tahunan.

 

Adapun nilai impor pada Mei sebesar US$ 24,81 miliar atau meningkat 22,16 persen secara tahunan. Nilai impor migas pada periode tersebut sebesar US$ 4,51 miliar atau meningkat 70,78 persen. Sedangkan nilai impor komoditas nonmigas mencapai US$ 20,30 miliar atau meningkat 14,89 persen secara tahunan.

 

Secara kumulatif, neraca perdagangan pada Januari-Mei 2026 mencatatkan surplus US$ 4,03 miliar. Surplus tersebut ditopang komoditas nonmigas sebesar US$ 16,31 miliar. Sementara itu, komoditas migas masih mengalami defisit US$ 12,28 miliar. ●

 

Direktur Utama Pos Indonesia Mundur

 

DAUD Joseph mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero). Daud menempati posisi ini sejak 11 Maret 2026 atau baru tiga bulan. Sebelumnya dia menjabat Direktur Operasional dan Keselamatan PT Transportasi Jakarta atau Transjakarta.

 

Sekretaris Perusahaan Pos Indonesia Iwan Gunawan mengatakan Daud mundur terhitung per 2 Juli 2026. “Alasan pengunduran diri adalah murni keinginan dan pertimbangan pribadi yang bersangkutan,” ujar Iwan dalam keterangan tertulis.

 

Iwan menyebutkan transisi kepemimpinan di PT Pos Indonesia akan digelar mengikuti tata kelola perusahaan. “Selama proses tersebut berlangsung, Pos Indonesia memastikan kegiatan operasional perusahaan tetap berjalan dan tidak mengganggu layanan kepada semua stakeholder,” tuturnya. Dia pun menegaskan bahwa pelaksanaan program transformasi perusahaan terus berjalan sesuai dengan rencana.

 

Sebelum bekerja di Transjakarta dan Pos Indonesia, Daud menjadi eksekutif di perusahaan swasta. Dia pernah menjabat Komisaris Utama PT Steady Safe Tbk serta berkarier di PT Triputra Agro Persada Tbk dan PT SMART Tbk. ●

 

Indeks Kinerja Manufaktur Merosot

 

LEMBAGA pemeringkat S&P Global melaporkan Purchasing Managers’ Index atau PMI manufaktur Indonesia turun dari 50 (level ekspansi) pada Mei 2026 menjadi 46,9 (level kontraksi) pada Juni. Menurut S&P Global, penurunan PMI ini dipicu melemahnya permintaan terhadap barang manufaktur Indonesia. “Tingkat penurunan merupakan yang paling kuat dalam setahun. Pesanan baru yang masuk kembali menurun, menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak April 2025,” kata ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, yang dikutip pada Rabu, 1 Juli 2026.

 

S&P menyatakan terjadi kenaikan cukup besar pada rata-rata beban biaya. Tingkat inflasi harga input merupakan yang terbesar sejak September 2013. Menurut Usamah, laju inflasi itu merupakan yang tertinggi kedua sepanjang sejarah dan mendorong kenaikan harga jual pabrik paling kuat dalam hampir 13 tahun. Di sisi lain, tren negatif permintaan mendorong perusahaan menurunkan output empat bulan berturut-turut dan paling tajam sejak April 2025. Penurunan tingkat kebutuhan produksi dan permintaan juga menghambat akumulasi stok.

 

Kondisi tersebut membuat produsen barang menurunkan jumlah tenaga kerja. S&P mencatat laju pemutusan hubungan kerja pada Juni 2026 sebagai yang terbesar sejak September 2021. “Menanggapi keadaan ini, perusahaan menurunkan jumlah tenaga kerja dan aktivitas pembelian mereka besar-besaran, sementara inventaris juga menurun seiring dengan melemahnya kondisi permintaan,” ujar Usamah.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/ekonomi/pos-indonesia-defisit-perdagangan-pmi-2273561

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar