|
Main Api Menteri
Keuangan Memutar-mutar Saldo Anggaran Lebih Fery
Firmansyah : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 05
Juli 2026
|
· Pemerintah menempatkan dana SAL sekitar
Rp 276 triliun di bank milik negara sejak akhir 2025. · Dana SAL tadinya diharapkan bisa
menggerakkan ekonomi melalui kredit produktif yang disalurkan bank. · Tarik-ulur dana SAL membuat bunga pasar
uang antarbank melejit karena bank-bank besar berebut likuiditas. IBARAT
bermain pingpong. Begitulah pemerintah memperlakukan saldo anggaran lebih
(SAL). Dana sisa belanja tahunan yang biasanya disimpan di Bank Indonesia
ini, oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, disuntikkan ke bank-bank
milik negara. Tapi
belakangan pemerintah menarik lagi dana itu untuk mendanai belanja negara
sehingga bank kelimpungan. SAL yang
terbentuk dari akumulasi sisa lebih pembiayaan anggaran dan sisa kurang
pembiayaan anggaran setelah tahun anggaran ditutup ini sejatinya menjadi
buffer atau bantalan bagi anggaran negara. Apabila
kas negara cekak, SAL bisa menjadi dana darurat sekaligus penyeimbang jika
target pendapatan negara tidak tercapai. Karena berhubungan dengan postur
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, penggunaan dana SAL tidak boleh
dilakukan sembarangan dan membutuhkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Tapi, di
tangan Menteri Purbaya, dana SAL diperlakukan bak “uang dingin” yang bisa
dipakai buat apa saja. Karena itu, tak lama setelah menempati kursi bendahara
negara, ia punya ide membuat SAL “lebih produktif”. Caranya:
menyuntikkan dana itu ke bank-bank milik negara sebagai tambahan likuiditas
untuk intermediasi atau penyaluran kredit. Singkat
kata, Purbaya ingin semua anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara)
menyalurkan dana SAL sebagai kredit, terutama untuk mendanai usaha produktif
yang menggerakkan perekonomian. Dengan cara ini, Purbaya yakin dana SAL bisa
mempercepat pertumbuhan ekonomi. Itulah
yang terjadi sejak September tahun lalu. Ketika itu Purbaya mengucurkan dana
sekitar Rp 200 triliun bagian dari SAL Rp 400 triliun yang disimpan di BI.
Rinciannya: PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero)
Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mendapatkan Rp 55 triliun; PT
Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk beroleh Rp 25 triliun; dan PT Bank Syariah
Indonesia (Persero) Tbk memperoleh Rp 10 triliun. Dua bulan kemudian, Purbaya
menambah suntikan dana Rp 76 triliun. Bagi
bank, suntikan dana SAL ini menjadi berkah lantaran mereka bisa menggenjot
penyaluran kredit sekaligus beban karena dana ini dapat ditarik
sewaktu-waktu. Bank sebenarnya tak terlalu memerlukan tambahan likuiditas
karena ketika itu undisbursed loan atau tingkat kredit yang belum tersalurkan
masih cukup tinggi. Di sisi
lain, lesunya kondisi ekonomi membuat penyaluran kredit lambat. Banyak pelaku
usaha yang segan meminjam uang ke bank karena khawatir bisnis mereka lesu dan
utang menjadi kredit macet. Para
bankir pusing tujuh keliling karena ternyata dana SAL ini menjadi bola bekel
yang pantulannya liar. Tak sampai enam bulan, pemerintah sudah menarik
kembali dana SAL. Pada akhir Desember 2025, pemerintah menarik sebagian dana
SAL di bank Himbara untuk memenuhi kebutuhan akhir tahun. Pada
akhir kuartal I 2026, Menteri Purbaya kembali menyuntikkan dana SAL ke
anggota Himbara. Tapi, pada Juni, pemerintah memutuskan menariknya lagi.
Kondisi ini membuat bank terjepit. Sebab, ibarat jaring ikan, dana SAL itu
kadung ditebar ke mana-mana dalam bentuk kredit dengan tenor bervariasi. Bisa
kita bayangkan jika nelayan atau kapal ikan tiba-tiba disuruh menarik jaring
mereka. Mereka tentu akan kesal karena ikan belum didapat dan perahu telanjur
berada di tengah laut. Akibat tarik-ulur dana SAL ini pun tak main-main. Bank
berebut dana untuk menutup celah yang bolong setelah duit itu ditarik. Bunga
pasar uang antarbank pun kian mahal sehingga menambah beban para bankir. Kami
mendapat sejumlah cerita tentang betapa repotnya bank karena kadung
menyalurkan dana SAL itu sebagai kredit bertenor panjang pada proyek
prioritas Presiden Prabowo Subianto, seperti koperasi desa merah putih dan
makan bergizi gratis. Bagaimana akhir kekisruhan ini dan siapa yang
berperan? Kami mengulasnya dalam tiga artikel plus kolom dari ekonom “Tarik-Serok
Saldo Anggaran Lebih yang Bikin Bank Terguncang”, “Jejak Dana Saldo Anggaran
Lebih di Proyek Presiden”, “Mengapa Suntikan Uang Negara Tak Mendorong Kredit
Tumbuh” dan “Intermediasi Perbankan di Tengah Kondisi Sulit”. ● Sumber :
https://www.tempo.co/ekonomi/sal-purbaya-yudhi-sadewa-mbg-himbara-2273600 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar