Rabu, 08 Juli 2026

 

Main Api Menteri Keuangan Memutar-mutar Saldo Anggaran Lebih

Fery Firmansyah :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 05 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Pemerintah menempatkan dana SAL sekitar Rp 276 triliun di bank milik negara sejak akhir 2025.

 

·      Dana SAL tadinya diharapkan bisa menggerakkan ekonomi melalui kredit produktif yang disalurkan bank.

 

·      Tarik-ulur dana SAL membuat bunga pasar uang antarbank melejit karena bank-bank besar berebut likuiditas.

 

IBARAT bermain pingpong. Begitulah pemerintah memperlakukan saldo anggaran lebih (SAL). Dana sisa belanja tahunan yang biasanya disimpan di Bank Indonesia ini, oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, disuntikkan ke bank-bank milik negara.

 

Tapi belakangan pemerintah menarik lagi dana itu untuk mendanai belanja negara sehingga bank kelimpungan.

 

SAL yang terbentuk dari akumulasi sisa lebih pembiayaan anggaran dan sisa kurang pembiayaan anggaran setelah tahun anggaran ditutup ini sejatinya menjadi buffer atau bantalan bagi anggaran negara.

 

Apabila kas negara cekak, SAL bisa menjadi dana darurat sekaligus penyeimbang jika target pendapatan negara tidak tercapai. Karena berhubungan dengan postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, penggunaan dana SAL tidak boleh dilakukan sembarangan dan membutuhkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

 

Tapi, di tangan Menteri Purbaya, dana SAL diperlakukan bak “uang dingin” yang bisa dipakai buat apa saja. Karena itu, tak lama setelah menempati kursi bendahara negara, ia punya ide membuat SAL “lebih produktif”.

 

Caranya: menyuntikkan dana itu ke bank-bank milik negara sebagai tambahan likuiditas untuk intermediasi atau penyaluran kredit.

 

Singkat kata, Purbaya ingin semua anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menyalurkan dana SAL sebagai kredit, terutama untuk mendanai usaha produktif yang menggerakkan perekonomian. Dengan cara ini, Purbaya yakin dana SAL bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi.

 

Itulah yang terjadi sejak September tahun lalu. Ketika itu Purbaya mengucurkan dana sekitar Rp 200 triliun bagian dari SAL Rp 400 triliun yang disimpan di BI. Rinciannya: PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mendapatkan Rp 55 triliun; PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk beroleh Rp 25 triliun; dan PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk memperoleh Rp 10 triliun. Dua bulan kemudian, Purbaya menambah suntikan dana Rp 76 triliun.

 

Bagi bank, suntikan dana SAL ini menjadi berkah lantaran mereka bisa menggenjot penyaluran kredit sekaligus beban karena dana ini dapat ditarik sewaktu-waktu. Bank sebenarnya tak terlalu memerlukan tambahan likuiditas karena ketika itu undisbursed loan atau tingkat kredit yang belum tersalurkan masih cukup tinggi.

 

Di sisi lain, lesunya kondisi ekonomi membuat penyaluran kredit lambat. Banyak pelaku usaha yang segan meminjam uang ke bank karena khawatir bisnis mereka lesu dan utang menjadi kredit macet.

 

Para bankir pusing tujuh keliling karena ternyata dana SAL ini menjadi bola bekel yang pantulannya liar. Tak sampai enam bulan, pemerintah sudah menarik kembali dana SAL. Pada akhir Desember 2025, pemerintah menarik sebagian dana SAL di bank Himbara untuk memenuhi kebutuhan akhir tahun.

 

Pada akhir kuartal I 2026, Menteri Purbaya kembali menyuntikkan dana SAL ke anggota Himbara. Tapi, pada Juni, pemerintah memutuskan menariknya lagi. Kondisi ini membuat bank terjepit. Sebab, ibarat jaring ikan, dana SAL itu kadung ditebar ke mana-mana dalam bentuk kredit dengan tenor bervariasi.

 

Bisa kita bayangkan jika nelayan atau kapal ikan tiba-tiba disuruh menarik jaring mereka. Mereka tentu akan kesal karena ikan belum didapat dan perahu telanjur berada di tengah laut. Akibat tarik-ulur dana SAL ini pun tak main-main.

 

Bank berebut dana untuk menutup celah yang bolong setelah duit itu ditarik. Bunga pasar uang antarbank pun kian mahal sehingga menambah beban para bankir.

 

Kami mendapat sejumlah cerita tentang betapa repotnya bank karena kadung menyalurkan dana SAL itu sebagai kredit bertenor panjang pada proyek prioritas Presiden Prabowo Subianto, seperti koperasi desa merah putih dan makan bergizi gratis.

 

Bagaimana akhir kekisruhan ini dan siapa yang berperan? Kami mengulasnya dalam tiga artikel plus kolom dari ekonom “Tarik-Serok Saldo Anggaran Lebih yang Bikin Bank Terguncang”, “Jejak Dana Saldo Anggaran Lebih di Proyek Presiden”, “Mengapa Suntikan Uang Negara Tak Mendorong Kredit Tumbuh” dan “Intermediasi Perbankan di Tengah Kondisi Sulit”.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/ekonomi/sal-purbaya-yudhi-sadewa-mbg-himbara-2273600

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar