|
Hassan Wirajuda:
Diplomat Kecelakaan Sejarah Aisha Shaidra : Jurnalis Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 05
Juli 2026
|
· Sejak masa kecil di Pinang, Tangerang,
Hassan Wirajuda gemar membaca dan akrab dengan berbagai persoalan hukum. · Bercita-cita menjadi insinyur, kuliah
di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dan masuk Departemen Luar Negeri. · Menjadi notulis dalam rapat-rapat
krusial yang menentukan invasi Timor Timur. Bagi
Hassan Wirajuda, setiap orang punya jalannya. Menteri Luar Negeri pada
2001-2009 ini tidak pernah bercita-cita menjadi diplomat. Sewaktu kecil, dia
ingin menjadi insinyur. Namun hasil ujian mengantarkannya kuliah di Fakultas
Hukum Universitas Indonesia tanpa bayangan soal masa depannya. Dia menjalani
hidup berbekal kecintaan yang besar terhadap ilmu dan proses belajar. Karier
Hassan di Departemen Luar Negeri—kini Kementerian Luar Negeri—bermula dari
mesin tik. Sebagai notulis, dia menjadi saksi sejarah diskusi para menteri
yang berujung pada aneksasi Timor Timur pada 7 Desember 1975. Catatannya
menyebutkan gagasan pertama invasi ke wilayah bekas koloni Portugis itu
datang dari Menteri Luar Negeri Adam Malik, sementara petinggi Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia dan Presiden Soeharto awalnya cenderung
menolak. “Soal ini baru pertama kali saya buka,” ujarnya kepada wartawan
Tempo, Aisha Shaidra, Mitra Tarigan, dan Reza Maulana, di Jakarta pada Kamis,
18 Juni 2026. Sepanjang empat dekade kariernya sebagai diplomat, bekas
provinsi ke-27 itu menjadi persoalan yang terus hadir pada tiap fase
perjalanannya. Dalam
tiga kali pertemuan, Hassan, yang berulang tahun ke-78 pada 9 Juli 2026,
menceritakan perjalanan hidupnya. Dari anak kampung di Tangerang, Banten,
sampai menjadi perwakilan Indonesia di sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa di
New York, Amerika Serikat. Dari penyelesaian masalah Timor Timur, soal hak
asasi manusia, konflik Aceh, sampai urusan kelembagaan Kementerian Luar
Negeri. Bagian pertama dari empat artikel dituliskan kembali oleh wartawan
Tempo, Aisha Shaidra. ●●● SAYA
lahir dan besar di Pinang, Tangerang, Banten, pada Jumat, 9 Juli 1948. Dulu
tempat itu masih benar-benar kampung. Di sanalah cara pandang saya mulai
terbentuk. Ayah
saya, Djiran Bahrudji, adalah guru yang kemudian menjadi kepala sekolah.
Beliau merupakan generasi pertama guru pribumi yang mendapat pendidikan pada
masa Hindia Belanda. Hobinya mendirikan sekolah dan masjid. Mendirikan
sekolah zaman itu susah. Beliau
adalah sosok yang sederhana dan tidak pernah mengejar jabatan tinggi,
misalnya penilik sekolah yang dianggap lebih bergengsi. Beliau memilih tetap
mengajar karena mendidik jauh lebih penting daripada kedudukan. Ibu
saya, Rohana, tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Bahkan beliau tidak
bisa membaca. Namun dari Ibu-lah saya melihat betapa berharganya pendidikan.
Ibu sering bilang, “Kalau dulu Ibu bersekolah....” Kalimat sederhana itu
menjadi motivasi bagi sembilan anaknya untuk belajar setinggi mungkin.
Terbukti, lima di antaranya lulus dari Universitas Indonesia. Hal itu juga
selaras dengan pesan Ayah, “Saya tidak bisa mewariskan apa-apa. Jadi
belajarlah.” Sejak
kecil, membaca adalah kemewahan yang bisa saya nikmati. Sejak duduk di
sekolah dasar, saya sudah biasa membaca koran. Saya membaca apa saja, dari
berita politik sampai iklan toko di Jakarta. Saya bahkan hafal letak
toko-toko di Senen dari hasil membaca iklan di koran, padahal belum pernah ke
sana langsung. Kebiasaan
membaca sejak kecil menjadi modal besar saya untuk terus belajar. Di rumah,
tersedia buku-buku bacaan Barat yang Ayah bawa dari masa pendidikan guru yang
ia ikuti. Saya tumbuh dengan kegemaran membaca yang kuat. Saya
terlatih berdisiplin sejak kecil. Saya tinggal di kampung, sementara lokasi
sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di kota. Jaraknya sekitar
10 kilometer dari rumah. Selama enam tahun itu saya terbiasa pergi-pulang
naik sepeda. Perjalanannya memerlukan sekitar satu jam. Jadi saya harus
berangkat pagi. Perjalanan
lebih berat ketika musim hujan tiba. Jalan yang saya lalui sering disebut
orang “meletus” karena lumpurnya tinggi. Bagaimana bersepeda dalam kondisi
seperti itu? Jadi seringnya sepeda yang naik saya. Saya mengangkat sepeda,
menyusuri jalan di pinggiran sawah, kemudian baru bisa kembali bersepeda
ketika sampai di jalan berbatu. Dulu belum ada aspal. Pada
musim hujan, saya harus berangkat ke sekolah pada pukul 5 pagi. Seragam saya
taruh di dalam tas untuk saya pakai nanti. Tapi saya pernah balik lagi ke
rumah pada pukul 7 karena tercebur di lumpur. Kondisi ini yang paling membuat
saya kecewa. Keluarga
kami punya sawah, kebun, serta beberapa ekor kerbau dan kambing. Saya ikut
menggembala kerbau, mengurus kebun, juga membantu membawa hasil panen ke
pasar. Ada satu pengalaman yang sangat membekas. Di dekat
kampung kami, ada sebuah rawa yang mengairi puluhan hektare sawah. Suatu
hari, rawa itu dikeringkan, kabarnya bakal dijadikan kaveling perumahan. Bagi
sebagian orang, hal itu dianggap bagian dari pembangunan. Bagi saya yang saat
itu duduk di bangku kelas III SMP, itu adalah ketidakadilan. Saya
mulai membaca Undang-Undang Pokok Agraria. Saya menyusun surat keberatan dan
mengirimkannya ke berbagai instansi, bahkan mendatangi Direktorat Agraria di
Jakarta dengan bersepeda. Kantornya kini menjadi Kementerian Agraria dan Tata
Ruang di Jalan Sisingamangaraja, Jakarta Selatan. Saya
bolak-balik dari Pinang ke Jakarta untuk menanyakan perkembangan surat yang
saya kirim. Belakangan, saya juga mengirim tulisan ke lima surat kabar
nasional. Akibatnya, saya dipanggil Bupati Tangerang, seorang kolonel. Saya
dibujuk, diingatkan, bahkan diancam secara halus. Sejak remaja, saya memang
tidak mudah menerima sesuatu yang saya anggap tidak adil. ●●● SAYA
tidak pernah bercita-cita menjadi diplomat. Saat bersekolah, pelajaran yang
saya sukai adalah ilmu pasti. Nilai matematika saya bagus, tapi ponten kimia
saya buruk. Karena itulah saya tidak bisa masuk ke jurusan ilmu alam dan
harus masuk jurusan sosial. Saya kecewa. Tapi Ayah berkata, ilmu apa pun, kalau
dikuasai dengan baik, akan bermanfaat. Saat
diterima di Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada 1967, saya sama sekali
tidak punya gambaran apa-apa. Saya memilih fakultas hukum semata karena
naluri dan saat kuliah baru menyadari bahwa banyak hal yang saya lakukan
sejak remaja berkaitan dengan hukum. Keberatan saya terhadap pengeringan
rawa, surat-surat yang saya tulis, sampai kegemaran membaca peraturan,
semuanya mendapat tempat di fakultas hukum. Saya
lulus dengan nilai yang baik. Saya lalu bekerja di PT Dok, perusahaan negara
bidang perbaikan kapal di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Gaji saya bagus,
karier saya moncer, bahkan saya mendapat mobil dinas. Secara materi, tidak
ada yang kurang. Pekerjaan saya selesai pada pukul 5 sore. Tapi saya kehilangan
kesempatan belajar sama sekali. Saya merasa perkembangan intelektual saya
terhenti. Suatu
waktu, ada seorang teman datang ke rumah. Dia bercerita bahwa ia gagal masuk
pendidikan calon diplomat karena harus mengulang dua mata kuliah. Saya lantas
membantu mengajarinya. Sebelum
pulang, ia meminta saya membuat surat lamaran. Padahal saat itu penerimaan
calon diplomat sudah tutup. Teman saya bilang, dia mengenal pegawai yang
mengurus lamaran dan menyarankan saya tidak mencantumkan tanggal pada surat
lamaran tersebut. Kata dia, tanggalnya nanti bisa disesuaikan. Saya mencoba
mendaftar. Lalu saya mengikuti ujian dan lulus. Maka saya sering bilang
menjadi diplomat by accident. Begitu
saya masuk Departemen Luar Negeri, gaji saya jauh lebih kecil daripada
bayaran kerja sebelumnya. Pekerjaan pun tidak terlalu banyak. Saya sempat
bertanya-tanya, apakah keputusan berganti karier ini tepat? Keadaan
berubah akibat peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 atau Malari. Setelah
kerusuhan itu, pemerintah membentuk Dewan Stabilisasi Politik dan Keamanan
Nasional. Saya yang masih anak baru saat itu ditarik menjadi notulis Kelompok
Kerja Bidang Luar Negeri. Rapatnya
dihadiri sejumlah menteri, Panglima Angkatan Bersenjata RI, Kepala Badan
Koordinasi Intelijen Negara—kini Badan Intelijen Negara—dan para pejabat
tinggi lain. Setiap kali selesai rapat, saya membawa pulang alat perekaman
yang besar dan kembali mendengarkan rekamannya berulang kali agar bisa
menyusun notula sebaik mungkin. Rupanya,
penugasan sederhana ini menjadi salah satu sekolah diplomasi terbaik yang
pernah saya jalani. Di sana saya menyaksikan bagaimana keputusan-keputusan
nyaris tak pernah lahir dari hanya satu pertemuan. Semuanya dibahas
berkali-kali. Ada pertimbangan politik luar negeri, pertahanan, dan intelijen
hingga dampaknya terhadap hubungan Indonesia dengan dunia internasional. Dari
ruang rapat itulah saya mengikuti persoalan Timor Timur—sekarang Timor
Leste—sejak awal. Portugis baru saja mengalami Revolusi Anyelir pada 1974 dan
melepaskan daerah-daerah jajahannya. Timor Portugis pun menjadi wilayah tanpa
pemerintahan yang jelas. Sebagai
tetangga, kita berkepentingan mengikutinya dari dekat. Soal ini, Presiden
Soeharto mengambil sikap yang konsisten sejak awal: menghormati proses dekolonisasi
sesuai dengan aturan, tidak ingin ada intervensi. Namun
keadaan di lapangan tidak semulus itu. Selepas kepergian Portugal, muncul
partai-partai politik. Ada UDT (União Democrática Timorense), Fretilin
(Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente), Apodeti (Associação
Popular Democrática Timorense), KOTA (Klibur Oan Timor Asu'wain), dan
sejumlah kelompok lain. Terjadi perang saudara. Pada
saat itulah muncul pertanyaan, apa yang harus dilakukan Indonesia? Dalam
pertemuan tingkat menteri itu, orang pertama yang mengemukakan gagasan agar
Indonesia menyerbu Timor Timur adalah Menteri Luar Negeri Adam Malik. Ini
belum pernah Anda baca di buku mana pun. Pak Adam
mengatakan, “Lakukan secepat mungkin sebelum dunia internasional ribut.” Dia
menggambarkan situasi yang sama pernah dihadapi India saat merebut Goa—juga
bekas jajahan Portugis—pada 1961 yang prosesnya rampung dalam semalam.
Aneksasi Goa dipermasalahkan dalam Sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa, diveto
Uni Soviet, lalu selesai. “Akan saya pertanggungjawabkan,” ujar Pak Adam. Semua
peserta rapat terdiam. Saya duduk di samping Kolonel Effendi Singgih, ajudan
Panglima ABRI Jenderal M. Panggabean. Dia berbisik kepada saya, “Dik, ini
inisiatif melakukan operasi militer datang dari pejabat sipil.” Seiring
dengan waktu, saya mencoba memahami alasan tak adanya peserta rapat yang
memberi respons. Saat itu ABRI baru saja melewati serangkaian operasi militer
besar, Operasi Tri Komando Rakyat atau Trikora untuk pembebasan Irian Barat
berlangsung pada 1962 dan Indonesia baru saja mengakhiri konfrontasi dengan
Malaysia pada 1966. Saya
menangkap kesan bahwa militer sedang mengalami kelelahan, war fatigue. Di
sisi lain, setelah Soeharto berkuasa, ABRI mulai menjalankan fungsi politik
dan sosial. Perhatian mereka tidak lagi sepenuhnya tertuju pada operasi
militer. Hal yang
paling menentukan adalah sikap Presiden Soeharto yang sangat berhati-hati.
Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) baru berdiri pada 1967 dan
Indonesia sedang membangun citra sebagai negara yang damai serta bersahabat
di kawasan. Tindakan militer yang tergesa-gesa bisa meruntuhkan semua itu
dalam semalam. Pada
akhirnya, ketika Fretilin memproklamasikan kemerdekaan pada 28 November 1975,
pemerintah baru mulai mengambil langkah yang lebih konkret. Ketika Operasi
Seroja berlangsung pada 7 Desember 1975, saya tidak berada di Jakarta karena
sedang mengambil studi Certificate in Diplomacy di Oxford University,
Inggris. Saya
baru kembali terhubung dengan Timor Timur pada 1982, sepulang dari studi dan
ditempatkan di Direktorat Organisasi Internasional. Salah satu tugas pertama
saya adalah mendampingi rombongan calon duta besar berkunjung ke Dili. Saya
menginginkan para calon kepala perwakilan negara lain itu bisa memahami
langsung persoalan di sana sebelum penugasan mereka. Sebab, persoalan ini
pasti akan selalu menjadi pertanyaan. Jika para diplomat tidak pernah melihat
kondisi nyata di lapangan, bagaimana mungkin mereka bisa memberi penjelasan? Dalam
kunjungan itu, saya melihat Pulau Atauro, tempat pengungsian warga
Lospalos—kota di timur Timor Timur. Kebijakan itu merupakan bagian dari
strategi militer memindahkan penduduk untuk memotong dukungan bagi para
gerilyawan. Di sana terjadi kelaparan dan pemerintah Indonesia akhirnya
terpaksa meminta bantuan Palang Merah Internasional. Pada
awal 1989, saya ditugasi menjadi Kepala Bidang Politik II/Minister Counsellor
pada Perwakilan Tetap RI di Jenewa, Swiss. Saya bertugas menangani berbagai
isu politik, termasuk di Komisi Hak Asasi Manusia PBB. Di sini, Timor Timur
menjadi persoalan internasional. Saban tahun, Indonesia menjadi sasaran
kritik. Saat
saya kembali ke Jakarta pada 1993 sebagai Direktur Organisasi Internasional,
urusan Timor Timur masih menjadi pekerjaan utama. Direktorat yang saya pimpin
adalah dapur penyusunan kebijakan Indonesia di forum internasional. Semua
pengalaman ini menjadi bekal saat saya dipercaya menjadi Menteri Luar Negeri.
Bekal itu saya gunakan saat masuk ke babak yang melahirkan Komisi Kebenaran
dan Persahabatan Indonesia-Timor Leste (CTF) pada 2005. CTF ibarat halaman
penutup perjalanan panjang yang saya ikuti lebih dari tiga dekade sejak
menjadi notulis muda pada 1974. ● Sumber :
https://www.tempo.co/tokoh/memoar-diplomat-hassan-wirajuda-2273499 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar