Rabu, 08 Juli 2026

 

Penanda Alam Pembangkit Mikrohidro Ciptagelar

Muhammad Iqbal :  Koresponden Tempo untuk wilayah Tangerang, Banten, dan sekitarnya.

TEMPO MINGGUAN, 05 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Lebih dari dua dekade masyarakat adat Kasepuhan Gelar Alam mengelola pembangkit listrik tenaga mikrohidro.

 

·      Tiga unit PLTMH itu menjadi penanda alam atas gangguan yang terjadi di sungai dan hutan sekitar Kasepuhan Gelar Alam.

 

·      Selain murah, keberadaan energi terbarukan dianggap masyarakat adat Kasepuhan Gelar Alam penting untuk menjaga tradisi mereka.

 

DENGAN cekatan, Ana Karna segera menutup pintu penampungan air di tepian Sungai Cisono, Kasepuhan Gelar Alam, Desa Sinaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Aliran air dari sodetan kali yang terhubung dengan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Situmurni itu harus disetop sementara. Jumat siang itu, 5 Juni 2026, Ana dan rekan-rekannya akan memperbaiki turbin mini berkapasitas 50 kilowatt tersebut.

 

“Belt dan bearing-nya sudah tidak bisa dipakai lagi. Jadi harus diganti,” kata Ana.

 

Ana, 42 tahun, adalah satu dari enam anggota Manintin, kelompok di Kasepuhan Gelar Alam—sebelumnya bernama Kasepuhan Ciptagelar—yang bertugas mengelola sistem pengairan. Nama kelompok ini diambil dari sebutan lain burung yang habitatnya berada di sekitar aliran sungai pegunungan: kacer air (Enicurus leschenaulti). Pemeliharaan pembangkit listrik tenaga mikrohidro termasuk yang menjadi tanggung jawab mereka.

 

PLTMH Situmurni sebenarnya bukan satu-satunya pembangkit mikrohidro di kampung tersebut. Dua pembangkit skala kecil lain berjejer dan beroperasi di Sungai Cisono, yakni PLTMH Cipulus (50 kW) dan PLTMH Cibadak (60 kW). Tiga pembangkit ini sekarang menyalurkan listrik ke sedikitnya 600 rumah di Kasepuhan Gelar Alam.

 

Ada pula satu unit turbin yang dibangun di area Sungai Cibareno, yaitu PLTMH Sukamulya. Namun pembangkit dengan kapasitas daya 20 kW ini tidak aktif lagi.

 

Setiap dua pekan atau setidaknya sebulan sekali, Ana dan rekan-rekannya mengecek semua turbin tersebut dan melakukan pemeliharaan ringan, seperti memberi pelumas. Mereka juga harus siap sedia ketika masyarakat mengeluhkan gangguan aliran listrik. Keberadaan PLTMH seakan-akan menjadi penanda alam jika ada masalah di sungai dan hutan.

 

“Jadi kalau listrik padam biasanya karena banjir membawa sampah yang menyumbat saluran air ke turbin,” ujar Upat Supatja, tokoh Kasepuhan Gelar Alam yang juga memimpin kelompok Manintin. “Atau juga kalau longsor,” dia menambahkan.

 

Karena itu, menurut Upat, masyarakat telah menganggap PLTMH sebagai bagian dari hidup mereka. Pembangkit energi terbarukan ini, kata dia, sesuai dengan nilai-nilai adat Kasepuhan Gelar Alam karena ramah lingkungan.

 

“Kami menerapkan ini juga agar masyarakat tetap sadar menjaga alam, hutan, dan lingkungan,” tutur Upat. “Kalau hutannya gundul, nanti airnya akan berkurang dan mesin ini tidak dapat mengeluarkan energi,” dia menambahkan.

 

Ojel, warga Kasepuhan Gelar Alam, mengamini. Pria 26 tahun itu menganggap keberadaan PLTMH mengubah kebiasaannya. Karena listrik berlimpah dan tak ada habisnya, dia memilih memasak menggunakan perangkat elektronik ketimbang kompor gas atau tungku di dapur yang masih memerlukan kayu bakar.

 

Kayu sebenarnya tidak sulit didapatkan di wilayah Kasepuhan. Namun masyarakat adat Kasepuhan Gelar Alam menganggap pohon sakral dan harus dijaga. Mereka tidak bisa sembarangan mencari kayu, kecuali dari pohon yang tumbang alami. “Jadi kayu hanya untuk kebutuhan pokok sehingga memang harus dijaga agar alam tetap lestari,” kata Ojel.

 

Bapak satu anak itu juga senang karena listrik yang dinikmati keluarganya terbilang murah. Setiap bulan, Ojel membayar Rp 16.500 untuk listrik yang mampu menghidupkan empat lampu dan teko listrik. Warga lain yang menggunakan kulkas dan televisi kudu membayar sedikit lebih mahal.

 

Dengan semua keuntungan itu, Ojel berharap kehidupan di kampungnya tak berubah. “Kami bisa hidup berdampingan dengan rukun dan makan dengan hasil bumi yang berlimpah, itu sudah cukup,” ujarnya.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/lingkungan/mikrohidro-kasepuhan-ciptagelar-gelar-2273555

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar