|
Penanda Alam
Pembangkit Mikrohidro Ciptagelar Muhammad Iqbal : Koresponden Tempo untuk wilayah
Tangerang, Banten, dan sekitarnya. |
TEMPO MINGGUAN, 05
Juli 2026
|
· Lebih dari dua dekade masyarakat adat
Kasepuhan Gelar Alam mengelola pembangkit listrik tenaga mikrohidro. · Tiga unit PLTMH itu menjadi penanda
alam atas gangguan yang terjadi di sungai dan hutan sekitar Kasepuhan Gelar
Alam. · Selain murah, keberadaan energi
terbarukan dianggap masyarakat adat Kasepuhan Gelar Alam penting untuk
menjaga tradisi mereka. DENGAN
cekatan, Ana Karna segera menutup pintu penampungan air di tepian Sungai
Cisono, Kasepuhan Gelar Alam, Desa Sinaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten
Sukabumi, Jawa Barat. Aliran air dari sodetan kali yang terhubung dengan
Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Situmurni itu harus disetop
sementara. Jumat siang itu, 5 Juni 2026, Ana dan rekan-rekannya akan
memperbaiki turbin mini berkapasitas 50 kilowatt tersebut. “Belt
dan bearing-nya sudah tidak bisa dipakai lagi. Jadi harus diganti,” kata Ana. Ana, 42
tahun, adalah satu dari enam anggota Manintin, kelompok di Kasepuhan Gelar
Alam—sebelumnya bernama Kasepuhan Ciptagelar—yang bertugas mengelola sistem
pengairan. Nama kelompok ini diambil dari sebutan lain burung yang habitatnya
berada di sekitar aliran sungai pegunungan: kacer air (Enicurus
leschenaulti). Pemeliharaan pembangkit listrik tenaga mikrohidro termasuk
yang menjadi tanggung jawab mereka. PLTMH
Situmurni sebenarnya bukan satu-satunya pembangkit mikrohidro di kampung
tersebut. Dua pembangkit skala kecil lain berjejer dan beroperasi di Sungai
Cisono, yakni PLTMH Cipulus (50 kW) dan PLTMH Cibadak (60 kW). Tiga
pembangkit ini sekarang menyalurkan listrik ke sedikitnya 600 rumah di
Kasepuhan Gelar Alam. Ada pula
satu unit turbin yang dibangun di area Sungai Cibareno, yaitu PLTMH
Sukamulya. Namun pembangkit dengan kapasitas daya 20 kW ini tidak aktif lagi.
Setiap
dua pekan atau setidaknya sebulan sekali, Ana dan rekan-rekannya mengecek
semua turbin tersebut dan melakukan pemeliharaan ringan, seperti memberi
pelumas. Mereka juga harus siap sedia ketika masyarakat mengeluhkan gangguan
aliran listrik. Keberadaan PLTMH seakan-akan menjadi penanda alam jika ada
masalah di sungai dan hutan. “Jadi
kalau listrik padam biasanya karena banjir membawa sampah yang menyumbat
saluran air ke turbin,” ujar Upat Supatja, tokoh Kasepuhan Gelar Alam yang
juga memimpin kelompok Manintin. “Atau juga kalau longsor,” dia menambahkan. Karena
itu, menurut Upat, masyarakat telah menganggap PLTMH sebagai bagian dari
hidup mereka. Pembangkit energi terbarukan ini, kata dia, sesuai dengan
nilai-nilai adat Kasepuhan Gelar Alam karena ramah lingkungan. “Kami
menerapkan ini juga agar masyarakat tetap sadar menjaga alam, hutan, dan
lingkungan,” tutur Upat. “Kalau hutannya gundul, nanti airnya akan berkurang
dan mesin ini tidak dapat mengeluarkan energi,” dia menambahkan. Ojel,
warga Kasepuhan Gelar Alam, mengamini. Pria 26 tahun itu menganggap
keberadaan PLTMH mengubah kebiasaannya. Karena listrik berlimpah dan tak ada
habisnya, dia memilih memasak menggunakan perangkat elektronik ketimbang
kompor gas atau tungku di dapur yang masih memerlukan kayu bakar. Kayu
sebenarnya tidak sulit didapatkan di wilayah Kasepuhan. Namun masyarakat adat
Kasepuhan Gelar Alam menganggap pohon sakral dan harus dijaga. Mereka tidak
bisa sembarangan mencari kayu, kecuali dari pohon yang tumbang alami. “Jadi
kayu hanya untuk kebutuhan pokok sehingga memang harus dijaga agar alam tetap
lestari,” kata Ojel. Bapak
satu anak itu juga senang karena listrik yang dinikmati keluarganya terbilang
murah. Setiap bulan, Ojel membayar Rp 16.500 untuk listrik yang mampu
menghidupkan empat lampu dan teko listrik. Warga lain yang menggunakan kulkas
dan televisi kudu membayar sedikit lebih mahal. Dengan
semua keuntungan itu, Ojel berharap kehidupan di kampungnya tak berubah.
“Kami bisa hidup berdampingan dengan rukun dan makan dengan hasil bumi yang
berlimpah, itu sudah cukup,” ujarnya. ● Sumber :
https://www.tempo.co/lingkungan/mikrohidro-kasepuhan-ciptagelar-gelar-2273555 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar