|
Apa Itu Bahasa Ibu Rahmat Pakaya :
Penyunting dan penerjemah. Mengelola jurnal
Humaniora Binus University |
TEMPO MINGGUAN, 05
Juli 2026
|
· Istilah 'bahasa ibu' kerap
disalahpahami sebagai bahasa yang pertama kali diajarkan ibu. · Padahal 'bahasa ibu' merujuk pada
bahasa pertama yang diperoleh anak secara alami. · Beberapa literatur merekam bahwa
istilah ini dipilih karena ibu berperan penting dalam mengasuh sekaligus
mengajarkan bahasa kepada anak, bahkan sejak dalam kandungan. ISTILAH
bahasa ibu kerap disalahpahami sebagai bahasa yang pertama kali diajarkan
ibu. Padahal ia merujuk pada bahasa pertama yang diperoleh anak secara alami.
Secara internasional, bahasa ibu dikenal dengan mother tongue. Pertama kali
muncul di Eropa pada 1933, bahasa ibu dikenalkan oleh seorang linguis ulung,
Leonard Bloomfield. Tak jarang mungkin yang penasaran akan alasan penggunaan
istilah bahasa ibu, bukan bahasa ayah. Sumber
mengenai alasan penggunaan kata ibu dalam bahasa ibu memanglah terbatas.
Beberapa literatur merekam bahwa istilah ini dipilih karena ibu berperan
penting dalam mengasuh sekaligus mengajarkan bahasa kepada anak, bahkan sejak
dalam kandungan. Ibu hamil sering sekali berinteraksi dengan anak dalam
kandungan. Bisa saja ini juga menjadi alasan bahasa pertama dikenal dengan
bahasa ibu. Dari
sisi sosial-budaya, kata ibu dalam bahasa ibu adalah sebuah penghormatan
kepada perempuan yang mempunyai andil penting dalam pewarisan budaya, bahasa,
dan nilai-nilai kehidupan. Sebuah unggahan oleh XinXin Wang di LinkedIn juga
mengutarakan rasa penasarannya mengenai penggunaan istilah bahasa ibu. Dalam
unggahan itu, ia menulis: “Mother language” is linked to nurture, origin, and
identity—which makes sense because we usually acquire our first language
naturally, at home, through family and caregivers. Lalu ia melanjutkan:
“Father” is often associated with formality, structure, and authority—which
is why some cultures use terms like “Fatherland”. Unggahan ini menunjukkan
bahwa penggunaan istilah bahasa ibu tidak lepas dari peran ibu di rumah yang
sangat dekat dalam mengasuh dan merawat anak. Terlepas
dari alasan penggunaan kata ibu dalam bahasa ibu, patut disadari bahwa, dalam
dunia modern, kesetaraan gender tidak lagi menimbulkan tembok antara peran
ibu dan ayah. Namun, secara sosial-budaya dan sejarah, istilah bahasa ibu
dipilih karena relevan dengan peran ibu sejak dulu. Lantas, pertanyaan
berikutnya adalah siapakah ibu dari bahasa ibu? Ibu dari
bahasa ibu adalah siapa pun yang berperan mewariskan bahasa pertama kepada
seorang anak. Tokoh yang menjadi pewaris ini juga bisa bersifat berkelompok.
Misalnya seorang anak memperoleh bahasa pertama karena bahasa itu dituturkan
semua anggota keluarga di rumah. Bisa
juga bahasa pertama diperoleh karena seorang anak tinggal di lingkungan
bahasa tertentu yang berbeda dengan bahasa anggota keluarganya, lalu orang
tuanya mengajarkan bahasa itu kepada anak tersebut. Konteks “pertama” juga
terjadi dalam beberapa keluarga di Indonesia yang menjadikan bahasa Inggris sebagai
bahasa pertama, padahal mereka tinggal di wilayah yang tidak berbahasa
Inggris. Di
Indonesia, lazimnya bahasa ibu kental dengan bahasa daerah. Banyak orang
sering mengaitkan bahasa ibu dengan bahasa daerah secara langsung, dibanding
bahasa pertama. Ini bukanlah pemahaman yang salah. Sebagai negara
multilingual terbesar kedua di dunia, banyak orang Indonesia memperoleh
bahasa daerah sebagai bahasa pertama mereka. Selaras
dengan sejarah, bahasa ibu memang erat dengan bahasa daerah atau bahasa lokal.
Hal ini juga sejalan dengan sejarah perbantahan bahasa yang terjadi antara
Pakistan dan Bangladesh pada 1952. Untuk menyelamatkan bahasa Bangla dan
bahasa-bahasa di dunia dari ancaman kepunahan, seorang penutur bahasa Bangla,
Rafiqul Islam, menulis surat kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan
Bangsa-Bangsa Kofi Annan. Peristiwa ini kemudian menjadi cikal bakal adanya
perayaan Hari Bahasa Ibu Internasional, yang dirayakan sejak tahun 2000 oleh
salah satu badan PBB, UNESCO. Perayaan
yang dilaksanakan setiap 21 Februari ini menjadi refleksi akan pentingnya
bahasa ibu. Ahmad Khoironi Arianto dalam tulisannya yang dimuat di Kompas
pada 2 Maret 2025 menyebutkan, dengan bahasa ibu, masyarakat mampu menelusuri
histori diri untuk merawat kebinekaan dan menjaga perilaku baik. Penggunaan
istilah bahasa ibu menyimpan sebuah makna khusus terhadap peran pewaris
bahasa daerah kepada penjaga bahasa daerah. Lebih dari proses pemerolehan
bahasa, menghargai bahasa ibu sama dengan menghormati orang-orang yang telah mewariskan
bahasa pertama dalam kehidupan manusia. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar