Rabu, 08 Juli 2026

 

Apa Itu Bahasa Ibu

Rahmat Pakaya  :  Penyunting dan penerjemah. Mengelola jurnal Humaniora Binus University

TEMPO MINGGUAN, 05 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Istilah 'bahasa ibu' kerap disalahpahami sebagai bahasa yang pertama kali diajarkan ibu.

 

·      Padahal 'bahasa ibu' merujuk pada bahasa pertama yang diperoleh anak secara alami.

 

·      Beberapa literatur merekam bahwa istilah ini dipilih karena ibu berperan penting dalam mengasuh sekaligus mengajarkan bahasa kepada anak, bahkan sejak dalam kandungan.

 

ISTILAH bahasa ibu kerap disalahpahami sebagai bahasa yang pertama kali diajarkan ibu. Padahal ia merujuk pada bahasa pertama yang diperoleh anak secara alami. Secara internasional, bahasa ibu dikenal dengan mother tongue. Pertama kali muncul di Eropa pada 1933, bahasa ibu dikenalkan oleh seorang linguis ulung, Leonard Bloomfield. Tak jarang mungkin yang penasaran akan alasan penggunaan istilah bahasa ibu, bukan bahasa ayah.

 

Sumber mengenai alasan penggunaan kata ibu dalam bahasa ibu memanglah terbatas. Beberapa literatur merekam bahwa istilah ini dipilih karena ibu berperan penting dalam mengasuh sekaligus mengajarkan bahasa kepada anak, bahkan sejak dalam kandungan. Ibu hamil sering sekali berinteraksi dengan anak dalam kandungan. Bisa saja ini juga menjadi alasan bahasa pertama dikenal dengan bahasa ibu.

 

Dari sisi sosial-budaya, kata ibu dalam bahasa ibu adalah sebuah penghormatan kepada perempuan yang mempunyai andil penting dalam pewarisan budaya, bahasa, dan nilai-nilai kehidupan. Sebuah unggahan oleh XinXin Wang di LinkedIn juga mengutarakan rasa penasarannya mengenai penggunaan istilah bahasa ibu.

 

Dalam unggahan itu, ia menulis: “Mother language” is linked to nurture, origin, and identity—which makes sense because we usually acquire our first language naturally, at home, through family and caregivers. Lalu ia melanjutkan: “Father” is often associated with formality, structure, and authority—which is why some cultures use terms like “Fatherland”. Unggahan ini menunjukkan bahwa penggunaan istilah bahasa ibu tidak lepas dari peran ibu di rumah yang sangat dekat dalam mengasuh dan merawat anak.

 

Terlepas dari alasan penggunaan kata ibu dalam bahasa ibu, patut disadari bahwa, dalam dunia modern, kesetaraan gender tidak lagi menimbulkan tembok antara peran ibu dan ayah. Namun, secara sosial-budaya dan sejarah, istilah bahasa ibu dipilih karena relevan dengan peran ibu sejak dulu. Lantas, pertanyaan berikutnya adalah siapakah ibu dari bahasa ibu?

 

Ibu dari bahasa ibu adalah siapa pun yang berperan mewariskan bahasa pertama kepada seorang anak. Tokoh yang menjadi pewaris ini juga bisa bersifat berkelompok. Misalnya seorang anak memperoleh bahasa pertama karena bahasa itu dituturkan semua anggota keluarga di rumah.

 

Bisa juga bahasa pertama diperoleh karena seorang anak tinggal di lingkungan bahasa tertentu yang berbeda dengan bahasa anggota keluarganya, lalu orang tuanya mengajarkan bahasa itu kepada anak tersebut. Konteks “pertama” juga terjadi dalam beberapa keluarga di Indonesia yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama, padahal mereka tinggal di wilayah yang tidak berbahasa Inggris.

 

Di Indonesia, lazimnya bahasa ibu kental dengan bahasa daerah. Banyak orang sering mengaitkan bahasa ibu dengan bahasa daerah secara langsung, dibanding bahasa pertama. Ini bukanlah pemahaman yang salah. Sebagai negara multilingual terbesar kedua di dunia, banyak orang Indonesia memperoleh bahasa daerah sebagai bahasa pertama mereka.

 

Selaras dengan sejarah, bahasa ibu memang erat dengan bahasa daerah atau bahasa lokal. Hal ini juga sejalan dengan sejarah perbantahan bahasa yang terjadi antara Pakistan dan Bangladesh pada 1952. Untuk menyelamatkan bahasa Bangla dan bahasa-bahasa di dunia dari ancaman kepunahan, seorang penutur bahasa Bangla, Rafiqul Islam, menulis surat kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan. Peristiwa ini kemudian menjadi cikal bakal adanya perayaan Hari Bahasa Ibu Internasional, yang dirayakan sejak tahun 2000 oleh salah satu badan PBB, UNESCO.

 

Perayaan yang dilaksanakan setiap 21 Februari ini menjadi refleksi akan pentingnya bahasa ibu. Ahmad Khoironi Arianto dalam tulisannya yang dimuat di Kompas pada 2 Maret 2025 menyebutkan, dengan bahasa ibu, masyarakat mampu menelusuri histori diri untuk merawat kebinekaan dan menjaga perilaku baik.

 

Penggunaan istilah bahasa ibu menyimpan sebuah makna khusus terhadap peran pewaris bahasa daerah kepada penjaga bahasa daerah. Lebih dari proses pemerolehan bahasa, menghargai bahasa ibu sama dengan menghormati orang-orang yang telah mewariskan bahasa pertama dalam kehidupan manusia. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/kolom/arti-bahasa-ibu-2273495

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar