|
Listrik Komunitas:
Terang Sendiri Ketika Sumatera Gelap Fachri Hamzah : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 05
Juli 2026
|
· Lebih dari sedekade mandiri energi,
Desa Sarah Baru di Aceh Selatan tetap terang ketika sistem kelistrikan
Sumatera lumpuh. · PLTMH berkapasitas 16 kilowatt menjadi
satu-satunya tumpuan warga Desa Sarah Baru setelah unit PLTS bantuan
pemerintah mangkrak. · Desa Sarah Baru menjadi benteng di sisi
barat daya Kawasan Ekosistem Leuser. MUHAMMAD
Nasir awalnya tak mengetahui bahwa listrik di semua penjuru Sumatera sempat
padam. Sebab, kampungnya, Desa Sarah Baru, Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten
Aceh Selatan, Aceh, tetap terang benderang. “Saya baru tahu sehari setelah
pemadaman ketika keluar dari kampung,” kata Nasir pada Selasa, 30 Juni 2026,
menceritakan peristiwa di akhir Mei lalu tersebut. Nasir
adalah Kepala Desa Sarah Baru. Jika ditarik lurus dari Tapak Tuan, pusat
pemerintahan Kabupaten Aceh Selatan, kampung ini sebenarnya hanya berjarak
sekitar 15 kilometer ke arah timur laut. Tapi, karena lokasinya diapit
jajaran perbukitan yang penuh hutan belantara di sebelah barat daya Gunung
Leuser, desa ini tergolong terpencil. Perlu waktu lebih dari empat jam
perjalanan memutar, via darat dan sungai, untuk menuju Sarah Baru dari Tapak
Tuan. Pada 22
Mei 2026, Sumatera gelap gulita. Peristiwa blackout ini, menurut PT
Perusahaan Listrik Negara (Persero), dipicu gangguan pada jaringan transmisi
275 kilovolt Muara Bungo-Sungai Rumbai di Jambi. Perlu tiga hari bagi
perusahaan setrum milik negara itu untuk memulihkan gangguan layanan listrik
yang berdampak terhadap sekitar 13,1 juta pelanggan mereka di Aceh hingga
Lampung. Nasir
dan 63 keluarga yang tinggal di Gampong Sarah Baru tak ikut jadi korban.
Mereka bukan pelanggan PLN. Dalam dua windu terakhir, Desa Sarah Baru
mendapat pasokan setrum dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH)
Sarah Baru. Pembangkit berkapasitas 16 kilowatt ini dibangun pada 2010,
memanfaatkan aliran Sungai Kluet yang berhulu di Leuser. Kala itu
pembangunan PLTMH didanai Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Lingkungan
Mandiri Perdesaan yang bergulir pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono. “Ada bantuan dari pemerintah pusat. Dan, setelah dicek, potensi
mikrohidro di sini sangat bagus,” ujar Nasir. Pembangkit
itu kini menjadi aset pemerintah desa, yang juga bertindak sebagai pengelola.
Warga kampung secara bergiliran menjaga turbin yang terletak sekitar 500
meter di sisi timur permukiman. Setiap bulan, warga Sarah Baru membayar biaya
layanan Rp 20 ribu per rumah. Dana
hasil iuran warga itu, kata Nasir, sebenarnya kerap tidak cukup untuk
membiayai perawatan berkala dan honor penjaga pembangkit. Apalagi uang tak
selalu terkumpul tepat waktu. Masa paceklik kerap menyulitkan kondisi
perekonomian masyarakat Desa Sarah Baru yang mayoritas adalah petani. “Tapi
setidaknya dana yang ada sudah bisa menjadi penopang agar PLTMH tetap
beroperasi,” tuturnya. Sebetulnya
PLTMH Sarah Baru bukan satu-satunya pembangkit energi terbarukan yang menopang
desa di tepian Sungai Kluet tersebut. Mereka juga memiliki instalasi
pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 20 kilowatt-peak, yang
dibangun pada 2014 memanfaatkan program bantuan Kementerian Energi dan Sumber
Daya Mineral (ESDM). Namun, sejak dua tahun lalu, panel surya pembangkit itu
tak berfungsi lagi, diduga karena perangkat pengisian daya rusak. Karena
itu pula, walau desanya telah mandiri secara energi, Nasir kini waswas.
Mereka bisa selamat dari peristiwa blackout Sumatera pada Mei 2026. Namun
pasokan setrum saat ini sejatinya tak lagi mencukupi semua kebutuhan warga,
terutama untuk menyalakan barang elektronik selain lampu penerangan. Daya
yang dihasilkan PLTMH Sarah Baru juga terasa makin lemah seiring dengan
menyusutnya debit air Sungai Kluet. Pada musim kemarau, turbin pembangkit tak
bisa lagi berputar maksimal. Selain
debit air berkurang, Nasir menduga menyusutnya kapasitas daya PLTMH Sarah
Baru disebabkan oleh masalah desain dam mini dan bak penampung yang terlalu
dekat dengan turbin. “Karena terlalu dekat, tinggi jatuhnya air tidak memadai
untuk menciptakan tekanan air lebih besar,” kata Nasir. “Saat musim hujan
masih aman. Tapi, saat kemarau, kami agak kesusahan,” dia menambahkan. Persoalan
itu juga menjadi sorotan Perkumpulan Pembela Lingkungan Hidup (P2LH),
kelompok masyarakat sipil berbasis di Banda Aceh, ketika dua kali berkunjung
ke Desa Sarah Baru pada akhir 2025 dan April 2026. Juru Kampanye Energi
Bersih P2LH, Aldi Ferdian, menilai pasokan listrik di Sarah Baru tidak stabil
karena hanya mengandalkan satu unit pembangkit yang tersisa, yaitu PLTMH
Sarah Baru. “Karena
PLTS rusak,” ujar Aldi kepada Tempo pada Kamis, 2 Juli 2026, “saat ini cuma
bisa untuk menghidupkan lampu. Itu pun satu rumah hanya bisa dua lampu.” Melihat
kondisi tersebut, P2LH melayangkan surat kepada Pemerintah Kabupaten Aceh
Selatan; Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi
pada Kementerian ESDM; serta Presiden Prabowo Subianto. Melalui surat itu,
mereka meminta pemerintah memperbaiki perangkat pembangkit di Sarah Baru,
terutama PLTS. Menurut
Aldi, penyediaan listrik yang andal di Desa Sarah Baru tidak semata-mata
bertujuan memenuhi hak publik. Bagi P2LH, warga Desa Sarah Baru memiliki
peran strategis dalam upaya pelindungan Kawasan Ekosistem Leuser. Sungai
Kluet merupakan salah satu pintu masuk menuju Taman Nasional Gunung Leuser.
“Mereka, warga Desa Sarah Baru, secara tidak langsung menjadi pemantau
kondisi Leuser dari ancaman pembalakan liar atau aktivitas ilegal lain,”
tutur Aldi. ● Sumber :
https://www.tempo.co/lingkungan/desa-mandiri-energi-pelosok-leuser-2273554 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar