Rabu, 08 Juli 2026

 

Listrik Komunitas: Terang Sendiri Ketika Sumatera Gelap

Fachri Hamzah :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 05 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Lebih dari sedekade mandiri energi, Desa Sarah Baru di Aceh Selatan tetap terang ketika sistem kelistrikan Sumatera lumpuh.

 

·      PLTMH berkapasitas 16 kilowatt menjadi satu-satunya tumpuan warga Desa Sarah Baru setelah unit PLTS bantuan pemerintah mangkrak.

 

·      Desa Sarah Baru menjadi benteng di sisi barat daya Kawasan Ekosistem Leuser.

 

MUHAMMAD Nasir awalnya tak mengetahui bahwa listrik di semua penjuru Sumatera sempat padam. Sebab, kampungnya, Desa Sarah Baru, Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, Aceh, tetap terang benderang. “Saya baru tahu sehari setelah pemadaman ketika keluar dari kampung,” kata Nasir pada Selasa, 30 Juni 2026, menceritakan peristiwa di akhir Mei lalu tersebut.

 

Nasir adalah Kepala Desa Sarah Baru. Jika ditarik lurus dari Tapak Tuan, pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Selatan, kampung ini sebenarnya hanya berjarak sekitar 15 kilometer ke arah timur laut. Tapi, karena lokasinya diapit jajaran perbukitan yang penuh hutan belantara di sebelah barat daya Gunung Leuser, desa ini tergolong terpencil. Perlu waktu lebih dari empat jam perjalanan memutar, via darat dan sungai, untuk menuju Sarah Baru dari Tapak Tuan. 

 

Pada 22 Mei 2026, Sumatera gelap gulita. Peristiwa blackout ini, menurut PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), dipicu gangguan pada jaringan transmisi 275 kilovolt Muara Bungo-Sungai Rumbai di Jambi. Perlu tiga hari bagi perusahaan setrum milik negara itu untuk memulihkan gangguan layanan listrik yang berdampak terhadap sekitar 13,1 juta pelanggan mereka di Aceh hingga Lampung. 

 

Nasir dan 63 keluarga yang tinggal di Gampong Sarah Baru tak ikut jadi korban. Mereka bukan pelanggan PLN. Dalam dua windu terakhir, Desa Sarah Baru mendapat pasokan setrum dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Sarah Baru. Pembangkit berkapasitas 16 kilowatt ini dibangun pada 2010, memanfaatkan aliran Sungai Kluet yang berhulu di Leuser.

 

Kala itu pembangunan PLTMH didanai Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Lingkungan Mandiri Perdesaan yang bergulir pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Ada bantuan dari pemerintah pusat. Dan, setelah dicek, potensi mikrohidro di sini sangat bagus,” ujar Nasir.

 

Pembangkit itu kini menjadi aset pemerintah desa, yang juga bertindak sebagai pengelola. Warga kampung secara bergiliran menjaga turbin yang terletak sekitar 500 meter di sisi timur permukiman. Setiap bulan, warga Sarah Baru membayar biaya layanan Rp 20 ribu per rumah.

 

Dana hasil iuran warga itu, kata Nasir, sebenarnya kerap tidak cukup untuk membiayai perawatan berkala dan honor penjaga pembangkit. Apalagi uang tak selalu terkumpul tepat waktu. Masa paceklik kerap menyulitkan kondisi perekonomian masyarakat Desa Sarah Baru yang mayoritas adalah petani. “Tapi setidaknya dana yang ada sudah bisa menjadi penopang agar PLTMH tetap beroperasi,” tuturnya.

 

Sebetulnya PLTMH Sarah Baru bukan satu-satunya pembangkit energi terbarukan yang menopang desa di tepian Sungai Kluet tersebut. Mereka juga memiliki instalasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 20 kilowatt-peak, yang dibangun pada 2014 memanfaatkan program bantuan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Namun, sejak dua tahun lalu, panel surya pembangkit itu tak berfungsi lagi, diduga karena perangkat pengisian daya rusak.

 

Karena itu pula, walau desanya telah mandiri secara energi, Nasir kini waswas. Mereka bisa selamat dari peristiwa blackout Sumatera pada Mei 2026. Namun pasokan setrum saat ini sejatinya tak lagi mencukupi semua kebutuhan warga, terutama untuk menyalakan barang elektronik selain lampu penerangan.

 

Daya yang dihasilkan PLTMH Sarah Baru juga terasa makin lemah seiring dengan menyusutnya debit air Sungai Kluet. Pada musim kemarau, turbin pembangkit tak bisa lagi berputar maksimal. 

 

Selain debit air berkurang, Nasir menduga menyusutnya kapasitas daya PLTMH Sarah Baru disebabkan oleh masalah desain dam mini dan bak penampung yang terlalu dekat dengan turbin. “Karena terlalu dekat, tinggi jatuhnya air tidak memadai untuk menciptakan tekanan air lebih besar,” kata Nasir. “Saat musim hujan masih aman. Tapi, saat kemarau, kami agak kesusahan,” dia menambahkan.

 

Persoalan itu juga menjadi sorotan Perkumpulan Pembela Lingkungan Hidup (P2LH), kelompok masyarakat sipil berbasis di Banda Aceh, ketika dua kali berkunjung ke Desa Sarah Baru pada akhir 2025 dan April 2026. Juru Kampanye Energi Bersih P2LH, Aldi Ferdian, menilai pasokan listrik di Sarah Baru tidak stabil karena hanya mengandalkan satu unit pembangkit yang tersisa, yaitu PLTMH Sarah Baru.

 

“Karena PLTS rusak,” ujar Aldi kepada Tempo pada Kamis, 2 Juli 2026, “saat ini cuma bisa untuk menghidupkan lampu. Itu pun satu rumah hanya bisa dua lampu.”

 

Melihat kondisi tersebut, P2LH melayangkan surat kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan; Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi pada Kementerian ESDM; serta Presiden Prabowo Subianto. Melalui surat itu, mereka meminta pemerintah memperbaiki perangkat pembangkit di Sarah Baru, terutama PLTS.

 

Menurut Aldi, penyediaan listrik yang andal di Desa Sarah Baru tidak semata-mata bertujuan memenuhi hak publik. Bagi P2LH, warga Desa Sarah Baru memiliki peran strategis dalam upaya pelindungan Kawasan Ekosistem Leuser. Sungai Kluet merupakan salah satu pintu masuk menuju Taman Nasional Gunung Leuser. “Mereka, warga Desa Sarah Baru, secara tidak langsung menjadi pemantau kondisi Leuser dari ancaman pembalakan liar atau aktivitas ilegal lain,” tutur Aldi.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/lingkungan/desa-mandiri-energi-pelosok-leuser-2273554

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar