|
Kesepakatan Damai Baru Iran-AS: Langkah Maju
dengan Banyak “Hantu” Penghalang Jannus
TH Siahaan : Doktor
Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. |
KOMPAS.COM, 17 Juni 2026
|
PENGUMUMAN mengejutkan pada 14 Juni 2026, mengenai tercapainya
kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran
menandai lahirnya momen geopolitik baru yang sangat dramatis di Timur Tengah. Konflik bersenjata yang pecah sejak serangan gabungan Amerika
Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026, sempat menyeret dunia ke jurang
krisis energi akibat lumpuhnya Selat Hormuz. Kini, melalui kesepakatan darurat ini, Presiden Donald Trump
dengan gaya khasnya mengumumkan pembukaan kembali selat strategis tersebut
sembari menyerukan agar aliran minyak global kembali normal. Namun, di balik kemeriahan diplomatik yang ditiupkan dari
Washington dan Teheran, analisis mendalam saya masih menunjukkan bahwa
dokumen memorandum saling pengertian (MoU) 14 poin yang dijadwalkan akan
ditandatangani di Jenewa pada Jumat, 19 Juni 2026 mendatang, sesungguhnya
menyimpan kerapuhan struktural yang luar biasa besar. Alih-alih piagam perdamaian jangka panjang, kesepakatan ini lebih
tepat ditempatkan sebagai jeda taktis dari dua musuh bebuyutan yang sama-sama
mengalami keletihan luar biasa di medan tempur. Jika ditelisik lebih dalam, draf kesepakatan transisional ini
sengaja dirancang secara bertahap demi menjembatani jurang perbedaan yang
sangat lebar antara kedua belah pihak. Tahap pertama fokus pada de-eskalasi militer segera di seluruh
front, penutupan operasi militer di Lebanon, pengakhiran blokade maritim
Amerika Serikat per Senin pagi, serta pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa
pengenaan biaya masuk. Sementara itu, masalah pelik seperti program nuklir Iran dan
skema penghapusan sanksi ekonomi secara permanen sengaja digeser ke tahap
kedua, yang dialokasikan dalam masa gencatan senjata selama 60 hari
pascapenandatanganan. Pada awalnya, Iran menuntut penghentian total serangan udara
sekutu, penarikan mundur pasukan asing dari Lebanon Selatan, serta hak
pengelolaan penuh atas Selat Hormuz. Sebaliknya, Washington menuntut pembongkaran total infrastruktur
rudal regional Iran serta pemindahan seluruh timbunan Uranium dengan tingkat
pengayaan tinggi ke luar negeri. Tarik-ulur ini akhirnya menghasilkan kompromi sementara yang
pragmatis, tapi menyisakan ketidakjelasan mendasar pada parameter-parameter
krusial. Ketidakcocokan paling kentara terlihat pada perebutan akses dana
keuangan yang dibekukan di luar negeri. Teheran pada mulanya menuntut pencairan langsung tanpa syarat
atas aset finansial mereka senilai minimal 24-25 miliar dolar AS untuk
menyelamatkan perekonomian domestik yang tercekik blokade total. Tuntutan ini sempat menemui jalan buntu ketika Trump secara keras
menegaskan bahwa tidak akan ada uang tunai langsung yang berpindah tangan
sebelum adanya pembuktian kepatuhan. Di sinilah Qatar memainkan peranan vitalnya sebagai pelumas
finansial dengan mengajukan proposal kompromi awal senilai 12 miliar dolar AS
yang terbagi atas dana kemanusiaan yang ditempatkan di bank-bank Qatar serta
jalur kredit perdagangan terarah. Meskipun draf akhir menyebutkan persetujuan pelepasan bertahap
aset finansial Iran hingga 25 miliar dolar AS, mekanisme pencairan ini tetap
menjadi subjek verifikasi yang sangat ketat dan berpotensi memicu
perselisihan baru di masa depan. Keberhasilan meretas jalan buntu setelah kegagalan perundingan
terbuka di Islamabad pada April 2026 lalu, adalah buah dari diplomasi
belakang layar yang sangat rapi. Kepercayaan kedua belah pihak terhadap para mediator regional
bukanlah tanpa alasan. Pakistan dipilih karena posisinya sebagai tetangga
geografis langsung Iran yang memiliki hubungan historis kuat, namun di saat
yang sama memelihara kemitraan militer dan keamanan yang sangat erat dengan
Amerika Serikat serta Arab Saudi. Sementara Qatar, dengan rekam jejak panjangnya sebagai perantara
keuangan netral, dipercaya untuk menampung dan mengawasi aliran dana sensitif
agar tidak disalahgunakan untuk kepentingan militer. Didukung oleh Mesir yang membantu menstabilkan keprihatinan blok
Arab-Sunni serta Turkiye yang menjembatani jalur komunikasi politik dengan
NATO, arsitektur mediasi ini berhasil meredakan ketegangan tepat di saat
eskalasi militer sempat memuncak kembali lewat saling balas serangan rudal
balistik dan jet tempur siluman. Di dalam negeri Iran, tercapainya draf kesepakatan ini
mencerminkan adanya konsensus elite politik yang sangat langka. Kolaborasi erat antara Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Wakil
Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi, dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher
Ghalibaf memastikan bahwa keputusan kompromi ini mendapat lampu hijau dari
lingkaran militer konservatif dan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC). Namun, konsensus ini tidak didasarkan pada tumbuhnya rasa saling
percaya dengan Barat. Media-media yang berafiliasi dengan elite kekuasaan di
Teheran, seperti harian Khorasan dan Javan, secara terang-terangan membingkai
MoU ini sebagai instrumen taktis perang untuk mengelola musuh di masa-masa
sulit. Bagi Iran, kesepakatan ini hanyalah taktik untuk melonggarkan
jepitan ekonomi di awal proses dan mengamankan dana finansial sebelum
perundingan nuklir tahap kedua dimulai, sehingga mereka memiliki posisi tawar
yang jauh lebih kuat dan fleksibilitas untuk keluar dari meja perundingan
jika tuntutan Amerika Serikat di masa depan dinilai terlalu merugikan. Kalkulus pragmatisme yang serupa juga bekerja di Washington.
Pemerintahan Trump menghadapi tekanan domestik yang luar biasa berat akibat
lonjakan harga bahan bakar global dan inflasi yang mengancam stabilitas
politik dalam negeri. Keletihan operasional Komando Sentral Amerika Serikat (CENTCOM)
dalam menghadapi perang laut asimetris melawan taktik ranjau dan serangan
drone Iran di Selat Hormuz, ditambah dengan langkah Kongres yang mulai
membatasi kekuasaan perang presiden, memaksa Trump untuk memprioritaskan
pemulihan aliran energi komersial dengan slogan terkenalnya untuk membiarkan
minyak kembali mengalir. Di sisi lain, bagi Iran, kelanjutan perang asimetris ini telah
menuntut harga pertahanan yang terlampau mahal. Blokade total telah memangkas ekspor minyak mereka hingga
mendekati nol, sementara sistem pertahanan udara mereka mengalami kerusakan
parah akibat serangan udara berulang kali. Gencatan senjata ini memberikan kesempatan emas bagi kedua belah
pihak untuk melakukan rekonstruksi kekuatan militer masing-masing. Di tengah optimisme yang cukup meragukan tersebut, Israel berdiri
sebagai pihak yang paling meradang dan merasa dikhianati oleh sekutu
strategis utamanya. Pemerintah di Yerusalem memandang kesepakatan ini sebagai konsesi
berbahaya yang memberikan napas segar bagi perekonomian Teheran tanpa
melumpuhkan infrastruktur nuklir atau jaringan proksinya di kawasan. Ketegangan diplomatik antara Trump dan Perdana Menteri Benjamin
Netanyahu meledak ke permukaan setelah militer Israel meluncurkan serangan
udara besar-besaran ke pinggiran Beirut pada hari Minggu, tepat saat
kesepakatan damai sedang difinalisasi di Teheran. Trump dilaporkan mengecam keras tindakan tersebut dengan
meluapkan kekesalannya secara vulgar bahwa Netanyahu tidak memiliki penilaian
strategis yang waras karena berpotensi menyabotase proses perdamaian. Penolakan Netanyahu secara mutlak terhadap usulan fisik penarikan
pasukan darat Israel dari Lebanon Selatan menunjukkan bahwa Yerusalem tidak
akan membiarkan kebebasan operasi militernya dikebiri oleh kesepakatan yang
dirancang di Washington dan Teheran. Kerapuhan terbesar yang dapat menggagalkan kesepakatan ini di
tengah jalan terletak pada kontradiksi mendasar mengenai hak kedaulatan di
Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi secara tegas menyatakan bahwa
selat tersebut berada di bawah kedaulatan bersama Iran dan Oman, di mana
Teheran berhak memungut biaya layanan navigasi dari kapal komersial dan
memberlakukan aturan terpisah bagi kapal militer asing. Klaim sepihak ini secara langsung menabrak doktrin kebebasan navigasi
internasional yang dijunjung tinggi oleh Amerika Serikat yang menuntut selat
tetap terbuka bebas bea dan tanpa pengelolaan militer Iran. Jika pascapenandatanganan militer Iran mulai menahan kapal tanker
komersial atau memaksakan pemungutan biaya navigasi di lapangan, kesepakatan
ini dipastikan akan runtuh seketika dalam baku tembak baru. Selain sengketa Selat Hormuz, masalah nuklir dan potensi sabotase
fisik tetap menjadi ancaman nyata yang siap meledakkan gencatan senjata ini
kapan saja. Laporan intelijen mengenai tindakan ekstrem Iran yang menyegel
dan memasang ranjau darat eksplosif di pintu terowongan penyimpanan uranium
diperkaya tinggi menunjukkan bahwa Teheran sedang bersiap menghadapi skenario
kegagalan negosiasi. Ditambah dengan perbedaan pandangan mengenai durasi moratorium
pengayaan uranium. Amerika Serikat menuntut waktu 20 tahun sedangkan Iran
hanya bersedia menerima maksimal 5 tahun, perundingan nuklir tahap kedua
diproyeksikan akan menemui jalan buntu. Kondisi ini diperparah dengan besarnya insentif strategis bagi
Israel untuk melakukan tindakan sabotase sepihak, baik melalui serangan siber
maupun operasi militer rahasia, guna memancing respons keras dari Iran yang
secara otomatis akan menyeret militer Amerika Serikat kembali ke dalam
konflik berskala penuh. Pendeknya, untuk sementara waktu, proyeksi hubungan masa depan
antara Amerika Serikat dan Iran pasca-Juni 2026 tidak akan mengarah pada
rekonsiliasi yang hangat, tapi pada perdamaian dingin yang sarat
ketidakpercayaan. Bagi perekonomian global, pembukaan kembali Selat Hormuz
pasca-upacara penandatanganan di Swiss itu memang akan membawa kelegaan
jangka pendek berupa penurunan premi risiko harga minyak dan tarif asuransi
perkapalan. Namun, jalur energi terpenting di dunia tersebut tidak akan
pernah benar-benar aman selama Iran mempertahankan kapabilitas militer
asimetrisnya di sepanjang pantai selatan dan terus memperlakukan Selat Hormuz
sebagai tombol krisis geopolitik yang siap ditekan kapan saja. Dengan demikian, dunia tidak sedang menyaksikan fajar perdamaian
baru di Timur Tengah, tapi hanya menyaksikan para petarung yang sedang mundur
beberapa langkah ke sudut ring untuk mengusap keringat dan darah, mengatur
napas, lalu bersiap menghadapi ronde berikutnya yang jauh lebih brutal. ● |
Sumber
: https://www.kompas.com/global/read/2026/06/17/122000170/kesepakatan-damai-baru-iran-as--langkah-maju-dengan-banyak-hantu?page=all#page2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar