|
Remiliterisasi Martin Lukito
Sinaga : Pengajar teologi. Menulis sejarah dan
pemikiran agama dalam Masyarakat. |
TEMPO MINGGUAN, 05
Juli 2026
|
·
Jenderal T.B. Simatupang percaya bahwa
orang sipil yang akan melanjutkan perjuangan dan cita-cita Republik. ·
Ia pun menyusun dan menguji coba
pemisahan sipil-militer setelah revolusi kemerdekaan. · Sukarno kurang
setuju dengan status sebagai kepala negara sipil belaka. WARTAWAN
Far Eastern Economic Review, Michael Vatikiotis, menulis bahwa
Presiden Soeharto cukup lama membiarkan krisis utang Pertamina terjadi ketika
lembaga itu dipimpin Letnan Jenderal Ibnu Sutowo. Saat itu, 1974, Pertamina
bertanggung jawab langsung kepada presiden. Vatikiotis menyebut Pertamina
menjadi sumber pembiayaan utama militer Indonesia. Hal itu
yang mendatangkan protes dari sejumlah perwira senior. Letnan Jenderal T.B.
Simatupang paling serius mengkritik meluasnya peran tentara dalam masyarakat
yang menurut dia bisa mengorbankan pengembangan lembaga sipil dan mengancam
pembangunan ekonomi rakyat. Agar
Indonesia berhasil, kata Simatupang, dwifungsi Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia harus dihapuskan. Sikap ini muncul dari pengalaman panjang saat ia
berperang. Dalam Laporan dari Banaran, dokumen yang ia buat saat menjadi
Wakil Kepala Staf Angkatan Perang mendampingi gerilya Panglima Besar
Soedirman 1948-1949, tergambar arah yang jadi penentu hubungan sipil-militer. Akibat
aksi militer Belanda, Yogyakarta jatuh. Pemerintahan Republik berhenti dan
pada 19 Desember 1948 Presiden Sukarno ditawan. Laporan dari Banaran
menggambarkan kompleksitas perang semesta, “total peoples’s war” yang
dilancarkan rakyat untuk menghadapi Belanda. Indonesianis Ben Anderson
menerjemahkan laporan itu ke bahasa Inggris dan diterbitkan Cornell University
(1972). Dalam Pengantar edisi Inggris buku ini, R.W. Smail menulis bahwa
dokumen itu merupakan sumber primer masa-masa revolusi pemuda, yang
dilanjutkan dengan refleksi politis seorang perwira militer. Selagi
bergerilya, Simatupang mengingat filsuf Machiavelli yang mengatakan bahwa
benteng terakhir suatu negara ada di hati para tentaranya. Tapi, di lembaran
refleksinya, ia tetap yakin bahwa diplomasi politikus sipil seperti Sjahrir
yang akan memimpin saluran politik perang gerilya dan memaknai arti
kemenangan perang yang sesungguhnya. Selagi
menyaksikan tentara dan pemuda rakyat berbondong-bondong menghindar atau
memulai gempuran, Simatupang teringat studinya di akademi militer. Ia
teringat Clausewitz, perwira militer dan pemikir strategi perang Jerman, yang
mengatakan lawan yang kuat selalu ingin tuntas melancarkan “Vernichtung”,
pemusnahan atas perlawanan Republik. Simatupang mengutip taktik “Ermattung”,
melemahkan keganasan lawan dengan membuat mereka lelah. Selama
gerilya, pengorganisasian teritorial merupakan strategi. Di sana rakyat
terlibat bersama unit gerak cepat militer dalam menahan dan menyerang musuh.
Yang membuat Simatupang terkesima ialah bagaimana pengetahuan militer
tersebar bahkan ke wilayah-wilayah perdesaan yang udik. Hal itu, menurut dia,
terjadi karena Seinendan, barisan pemuda semi-militer; Keibodan, laskar
cadangan keamanan rakyat; dan Heiho, prajurit pembantu tentara Jepang, balik
mudik, lalu bahu-membahu bertempur bersama rakyat di desa-desa. Militerisasi
tak terelakkan kala itu. Bahkan Belanda di akhir kekuasaannya mengadakan
inheemse militia, pelatihan milisi rakyat di berbagai daerah untuk
dimanfaatkan pada masa perang. Setelah
Soedirman meninggal, pada 1950 Simatupang menjadi Kepala Staf Angkatan
Perang. Saat itu dia menata hubungan kompleks sipil-militer yang ia renungkan
sepanjang perang gerilya. Salah satu usulannya: meminta Presiden Sukarno
tidak memakai seragam militer. Tanpa jas berbintang di dada, Presiden
menunjukkan dirinya sebagai pemimpin sipil yang mengepalai negara. Adapun
Angkatan Perang berada di bawah kabinet. Parlemen menjadi pendukung kerja
kabinet yang dipimpin seorang perdana menteri. Eksperimen
ini prematur. Saat itu partai politik tak henti berselisih satu sama lain dan
pertentangan partai—yang di dalamnya Presiden Sukarno juga ikut
serta—merembes ke tubuh tentara. Simatupang bergegas mendorong perumusan
Sapta Marga agar Angkatan Perang hanya boleh setia kepada Pancasila dan
konstitusi. Simatupang menentang praktik Kuomintang di Tiongkok yang
menjadikan militer bersetia kepada partai. Selanjutnya Sekolah Staf dan
Komando Angkatan Darat atau Seskoad, pendidikan untuk menyiapkan tentara
profesional. Soebadio
Sastrosatomo, diplomat dan pendiri Partai Sosialis Indonesia, mengatakan
kepada Simatupang bahwa obsesinya itu terhalang, antara lain, oleh obsesi
Sukarno yang tak mau menjadi sekadar kepala negara simbolik. Ketegangan pun
terjadi di Istana Negara pada 17 Oktober 1952. Saat itu Sukarno berniat
menghapus jabatan Kepala Staf Angkatan Perang, yang sebelumnya bertugas
memandu semua kebijakan militer. Ketika itu A.H. Nasution diberhentikan
sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Simatupang marah, lalu pergi dengan
membanting pintu Istana. Model
hubungan sipil-militer yang dipikirkan dan diupayakan Simatupang akhirnya tak
tuntas. Dalam studi Harold Crouch tentang militer dan politik setelah Sukarno
jatuh, yang terjadi hanya reformasi militer yang terbatas. Setelah reformasi,
melalui Presiden B.J. Habibie, militer tumbuh dalam demokrasi tapi tanpa
kapasitas ofensif ke sistem politik, sementara kapasitas defensif dan hak-hak
korporasinya tetap nyata. Dalam
wawancara pada 12 Mei 2017, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Letnan
Jenderal Agus Widjojo menegaskan, setelah dwifungsi militer dicabut, Tentara
Nasional Indonesia menjadi instrumen presiden. Sejak Indonesia merdeka sampai
kini, remiliterisasi akan selalu bermula atau berhenti di tangan presiden. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/sejarah-hubungan-sipil-militer-2273496
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar