|
Jejak Dana Saldo
Anggaran Lebih di Proyek Presiden Han Revanda
Putra : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 05
Juli 2026
|
· Agrinas Pangan mendapat tugas membangun
koperasi desa merah putih dengan dana dari bank Himbara. · Suntikan dana SAL untuk Himbara juga
digunakan untuk membiayai dapur makan bergizi gratis. · SAL akan lebih produktif jika mengalir
ke sektor manufaktur, logistik, dan usaha yang memperluas lapangan kerja
formal. DIREKTUR
Utama PT Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota punya syarat
sendiri soal anak buah: bukan eks pegawai badan usaha milik negara. Dia
mengklaim Agrinas Pangan digerakkan pegawai berlatar belakang swasta yang
terbiasa gigih dalam mencetak laba. Termasuk ketika Agrinas menggarap proyek
pemerintah seperti koperasi desa merah putih. “Walaupun membangun koperasi,
kami tetap harus dapat untung,” katanya kepada Tempo pada Kamis, 2 Juli 2026. Joao,
yang pernah menyatakan mundur dari jabatannya pada Agustus 2025, mengatakan
cara yang ia tempuh untuk mendulang cuan adalah menjalankan proyek seefisien
mungkin. Dari plafon kredit Rp 3 miliar dari bank anggota Himpunan Bank Milik
Negara (Himbara) untuk membangun satu gerai koperasi, Agrinas hanya
memerlukan Rp 1,58 miliar atau separuhnya. Penghematan ini, menurut Joao,
didapatkan lantaran Agrinas melibatkan Tentara Nasional Indonesia untuk
membangun gerai. Mandat
Agrinas Pangan Nusantara membangun gedung koperasi desa merah putih termaktub
dalam instruksi presiden serta surat keputusan bersama Menteri Koperasi,
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Menteri Dalam Negeri, dan
Menteri Keuangan yang terbit pada Oktober 2025. Agrinas Pangan telah menerima
pendanaan Rp 175 triliun dari bank-bank Himbara. “Tadinya hendak dikasih Rp
200 triliun, cuma, yang turun Rp 175 triliun,” tutur Joao. Hingga
akhir Juni 2026, Joao menambahkan, Agrinas sudah membelanjakan Rp 115,3
triliun. Tak cuma digunakan untuk membangun gerai, dana dari Himbara dipakai
buat mengimpor 105 ribu pikap dan truk roda enam dari dua perusahaan India,
Mahindra dan Tata Motors. Nilainya Rp 24,66 triliun. Belakangan, jumlah
kendaraan yang diimpor melonjak menjadi 160 ribu dengan tambahan merek Jepang
dan Cina. Agrinas juga membeli peralatan seperti rak, meja kasir, penyejuk
udara, alat pemadam api ringan, kamera pengawas, dan perangkat jaringan
Internet. “Totalnya 26 item,” ujar Joao. Pendanaan
koperasi desa merah putih tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15
Tahun 2026. Aturan ini menyatakan dana akan disalurkan kepada Agrinas Pangan
dengan limit maksimal Rp 3 miliar per gerai, bunga 6 persen per tahun, dan
tenor 72 bulan atau enam tahun. Adapun masa tenggang (grace period) berkisar
6-12 bulan. Pasal 2
ayat 1 aturan ini menyatakan, untuk mendukung pembiayaan bank, Menteri
Keuangan menempatkan dana sebagai sumber likuiditas. Penempatan dana ini
dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan keuangan negara. Sebelum Joao
menyatakan mendapatkan kucuran Rp 200 triliun, pada September 2025, Menteri
Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menempatkan dana saldo anggaran lebih (SAL) Rp
200 triliun yang disimpan di Bank Indonesia ke bank Himbara. Dengan
plafon Rp 3 miliar per unit, dana yang akan disalurkan bank Himbara kepada
Agrinas Pangan untuk membangun 80 ribu gerai koperasi merah putih mencapai Rp
240 triliun. Untuk meyakinkan para anggota Himbara, Purbaya menandatangani
surat yang menyatakan pinjaman untuk koperasi akan dijamin dengan dana desa.
Selama enam tahun mendatang, dana desa akan menanggung cicilan utang koperasi
desa merah putih Rp 40 triliun per tahun. Setelah
mendapatkan jaminan dari dana desa, bank berangsur-angsur menyalurkan kredit
untuk koperasi merah putih. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI,
misalnya, telah menyalurkan Rp 66 triliun kepada Agrinas. Hingga Januari
2026, realisasi penyaluran kredit telah mencapai Rp 55 triliun dengan sisa
sekitar Rp 11 triliun akan dicairkan secara bertahap hingga akhir tahun.
“Kami mendapat penugasan untuk mendukung koperasi merah putih melalui Agrinas
Pangan,” kata Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan pada 26 Januari 2026. Melalui
SAL, pemerintah mendorong anggota Himbara mendanai program prioritas Presiden
Prabowo Subianto. Dalam pertemuan dengan jajaran komisaris dan direktur
Himbara di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, 18 Juni 2026, Presiden
Prabowo meminta bank-bank pelat merah memegang posisi strategis dalam
pencapaian pertumbuhan ekonomi. Adapun Chief Executive Officer Badan
Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Rosan Perkasa Roeslani
yang hadir dalam pertemuan itu mengatakan, “Bank tidak hanya mengejar laba,
tapi juga harus dirasakan kehadirannya di masyarakat.” Selain
menyokong koperasi desa merah putih, bank Himbara menyalurkan kredit ke
proyek makan bergizi gratis (MBG). Pada 22 November 2025, Badan Gizi
Nasional, Danantara, dan Himbara menandatangani nota kesepahaman untuk
mendukung pembangunan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Dadan
Hindayana, yang ketika itu menjabat Kepala Badan Gizi Nasional, mengatakan
kredit akan disalurkan melalui virtual account khusus. Dengan begitu, menurut
dia, dana tidak akan mampir ke rekening kantornya, tapi langsung menuju
setiap mitra. “Saat ini sudah Rp 39 triliun yang mengalir melalui virtual
account di lima bank Himbara,” tuturnya pada 29 November 2025. Dadan kini
ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi proyek MBG. BNI
telah menyalurkan kredit sebesar Rp 1,5 triliun kepada 577 debitor yang
terlibat dalam proyek MBG. Perseroan juga menyediakan virtual account dan BNI
Direct di 6.560 titik dengan nilai transaksi mencapai Rp 26 triliun.
Sedangkan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN telah menyalurkan
kredit investasi Rp 53,5 miliar untuk membangun 24 SPPG hingga 31 Mei 2026. PT Bank
Syariah Indonesia Tbk atau BSI juga telah menyalurkan pembiayaan Rp 198
miliar untuk 211 dapur SPPG hingga kuartal I 2026. Adapun PT Bank Mandiri
(Persero) Tbk telah menyediakan layanan virtual account untuk 6.000 dapur
SPPG. Di Jawa Barat, pada Desember 2025, Bank Mandiri telah menyalurkan Rp 24
miliar kepada 16 debitor dalam program makan bergizi gratis. Kepala
Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, jika dana SAL mengalir ke
sektor manufaktur, logistik, dan kegiatan usaha yang memperluas lapangan
kerja formal, dorongannya terhadap pertumbuhan ekonomi, perluasan basis
pajak, daya beli, dan ketahanan fiskal akan lebih terasa. “Ini lebih kuat
daripada dana yang hanya berputar di sistem keuangan atau masuk ke pembiayaan
yang efek lanjutannya terbatas,” katanya.
● Sumber :
https://www.tempo.co/ekonomi/sal-mbg-koperasi-desa-merah-putih-2273564 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar