Rabu, 08 Juli 2026

 

Dua Diplomasi Damai Hassan Wirajuda: Moro dan Aceh

Aisha Shaidra :  Jurnalis Tempo Mingguan

TEMPO MINGGUAN, 05 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Keberhasilan menengahi perang saudara di Kamboja membuat Indonesia diminta Filipina dan MNLF menjadi mediator konflik Moro pada 1993.

 

·      Hassan Wirajuda mengajak kedua belah pihak berunding dan mengakhiri dua dekade konflik bersenjata.

 

·      Perdamaian di Moro membuat Gerakan Aceh Merdeka meminta Jakarta menunjuk Hassan sebagai mediator dalam perundingan.

 

Peran Hassan Wirajuda sebagai mediator dalam penyelesaian konflik bermula saat ia menjadi ketua komite gabungan perundingan antara pemerintah Filipina dan Moro National Liberation Front pada 1993.

 

Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi Hassan saat ditugasi membuka jalur komunikasi dengan Gerakan Aceh Merdeka pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Bagian ketiga dari empat artikel dituliskan kembali oleh wartawan Tempo, Aisha Shaidra.

 

●●●

 

SEPULANG dari penugasan di Jenewa, Swiss, pada 1993, saya diminta Departemen Luar Negeri menjadi fasilitator atau mediator perundingan antara pemerintah Filipina dan Moro National Liberation Front (MNLF). Saya berperan sebagai ketua komite gabungan (mixed committee).

 

Proses perundingan aktualnya berlangsung di lapangan. Pesan Pak Ali Alatas—Menteri Luar Negeri pada 1988-1999—adalah "upayakan dulu gencatan senjata. Kalau para pihak masih saling tembak, tidak mungkin bicara damai". Itu menjadi pegangan saya.

 

Pada 23 Desember 1993, saya berangkat ke Filipina selatan. Ada pulau kecil paling selatan, Pulau Sulu. Ibu kotanya bernama Jolo. Di kota kecil itulah untuk pertama kalinya Manila dan gerakan separatis itu bertemu. Dari situ proses damai bergulir.

 

Saya disambut personel marinir Filipina di kanan dan anggota pasukan Moro di kiri. Dari bandar udara, kami naik mobil bak terbuka menuju kota. Duta Besar Indonesia untuk Filipina, Pak Pieter Damanik, yang merupakan tentara, bilang, “Pak Hassan, lihat kiri-kanan. Kalau ada letusan senjata, kita tahu ke mana harus loncat." Saya mengucap bismillah saja.

 

Konflik Moro berlangsung sangat lama. Bahkan akarnya bisa ditelusuri sampai masa penjajahan Spanyol pada abad ke-16. Momentum penting muncul saat terjadi krisis minyak dunia pada 1972. Filipina menghadapi tekanan yang makin besar, sementara negara-negara Timur Tengah mulai memperhatikan persoalan Moro.

 

Presiden Ferdinand Marcos sempat mengutus istrinya, Imelda, ke Libya untuk meminta bantuan negara itu menjadi penengah. Libya mengajak Organisasi Konferensi Islam­—kini Organisasi Kerja Sama Islam atau OKI—memfasilitasi perdamaian. Upaya tersebut menghasilkan kesepakatan prinsip pada 1973. Tapi konflik tidak benar-benar selesai dan hampir 20 tahun tak ada perubahan berarti.

 

Kebuntuan itu mendorong kedua belah pihak mencari jalan baru dan meminta Indonesia menjadi penengah. Kenapa Indonesia? Ini adalah buah rekam jejak diplomasi Indonesia di kawasan ASEAN, antara lain dalam penyelesaian konflik Kamboja.

 

Departemen Luar Negeri menggelar Jakarta Informal Meeting pada 1988-1990. Forum itu menjadi ruang pertama yang mempertemukan berbagai faksi Kamboja dalam suasana dialog.

 

Pak Ali Alatas bercerita, saat enam faksi Kamboja pertama kali dipertemukan, mereka duduk satu meja, tapi tidak ada yang bersedia saling memandang. Tiap orang mengalihkan pandangan ke arah lain. Perlahan perdamaian berkembang sampai dibawa ke perundingan internasional di Paris dan membuka jalan bagi pemulihan kedaulatan Kamboja.

 

Pengalaman itu menjadi modal penting bagi Indonesia ketika diminta menjadi mediator dalam konflik Filipina selatan. Ketika bertemu di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, pada Juni 1993, pemerintah Indonesia menegaskan kesediaan menjalankan peran penengah hanya bila pemerintah Filipina dan pihak Moro sama-sama meminta kami. Saya sendiri baru bergabung ketika perundingan formal dimulai di Hotel Indonesia, Jakarta, pada September 1993.

 

Selama hampir tiga tahun saya memimpin forum yang mempertemukan wakil Filipina dengan MNLF. Sebagian besar perundingan berlangsung di wilayah selatan Filipina, di Jolo, di berbagai kota di Mindanao, berpindah-pindah mengikuti perkembangan situasi keamanan.

 

Tidak banyak yang tahu, perundingan sesungguhnya jarang terjadi di meja formal. Hal yang paling menentukan sering tercipta di luar ruangan. Mitra saya adalah jenderal-jenderal senior Filipina, menteri-menteri, dan pemimpin-pemimpin MNLF yang sudah bertahun-tahun berjuang.

 

Sedangkan saya waktu itu masih seorang direktur, belum menjadi duta besar. Tapi mereka memanggil saya Ambassador Hassan. Bahkan mereka memasang spanduk selamat datang di beberapa kota dengan tulisan "Welcome, Ambassador Hassan". Duta besar Indonesia yang resmi, yang mendampingi saya, tidak berkomentar apa-apa.

 

Pada 1996, Perjanjian Jakarta ditandatangani, mengakhiri lebih dari dua dekade konflik bersenjata dan memberikan otonomi kepada wilayah muslim Mindanao.

 

Beberapa tahun kemudian, Menteri Luar Negeri Filipina bertanya, "Pak Hassan, bagaimana Anda bisa begitu netral, tidak memihak sebagai mediator?" Saya menjawab, "Sebagai muslim, saya tentu mudah bersimpati kepada rakyat Moro yang bertahun-tahun menderita. Tapi saya teguh pada sikap."

 

Pertama, Indonesia hadir karena diminta kedua belah pihak. Kedua, kami berkepentingan menyelesaikan konflik ini supaya seluruh ASEAN bersama-sama bisa membangun ekonomi. Itu pesan Presiden Soeharto sebetulnya. Kalau kami berpihak, perundingan ini tidak akan pernah berjalan.

 

●●●

 

PENGALAMAN di Moro menjadi bekal saat saya diminta membantu menyelesaikan konflik Aceh. Ada benang merah yang menghubungkan keduanya. Pasukan Moro National Liberation Front dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sama-sama pernah menjalani pelatihan di Libya. Kisah itu saya dengar langsung dari pemimpin MNLF, Nur Misuari.

 

Saya menduga karena hubungan itulah, ketika pihak GAM bersedia berunding, mereka meminta saya menjadi mediator. Bondan Gunawan, utusan Presiden Abdurrahman Wahid yang membuka kontak dengan mereka, menyebutkan pihak GAM sendiri yang meminta saya ditunjuk. Setelah itu, saya dipanggil Gus Dur—panggilan Abdurrahman Wahid. Sebelumnya saya tidak pernah berurusan langsung dengan beliau.

 

Saya mengenal pendiri GAM, Hasan Tiro, dalam konteks persidangan internasional. Ia sering menyampaikan pandangannya mengenai kemerdekaan Aceh dan saya memberikan tanggapan atas pernyataan-pernyataannya dalam persidangan di Jenewa.

 

Saya menduga pengalaman saya menangani konflik Moro, kesan baik yang saya bangun saat berunding dengan Nur Misuari, sampai pula kepada pihak GAM. Saat pertama kali bertemu secara personal dengan Hasan Tiro di Bavois, Swiss, dia sempat bertanya, “Pak Hassan mendengarkan pidato saya di Libya?”

 

Saya bisa saja judes, gitu, ya, tapi saya memilih menanggapinya dengan baik. Bagi saya, itulah entry point untuk membangun hubungan. Sebagai manusia, kita bisa saling menghargai, pantang saling bermusuhan secara pribadi.

 

Saya memiliki cara pendekatan yang mungkin berbeda dengan buku-buku teori negosiasi. Saya tidak pernah menyudutkan lawan. Kalau perbedaan substansinya tajam, yang saya gali bukan orangnya. Saya menggali keprihatinan paling dalam kenapa ia mengusulkan sesuatu.

 

Kalau terjadi perbedaan tajam, tunda dulu pembicaraan di meja perundingan. Istilahnya ngomong di bawah pohon. Itu terjadi saat saya berbicara dengan perunding Aceh, Malik Mahmud. Saya menanyakan alasannya menolak usulan saya. Dia bilang, "Kami kelompok pemberontak, bukan ahli negosiasi. Kami tidak mengerti apa yang Pak Hassan bicarakan tentang otonomi."

 

Saya tawarkan bantuan dengan mendatangkan ahli negosiasi dari Harvard Negotiation Team, William Ury, dan profesor otonomi dari Fletcher School of Law and Diplomacy, Amerika Serikat. Kalau ada keraguan, mereka bisa bertanya.

 

Mungkin orang Indonesia kaget. Kok, saya memberdayakan lawan?

 

Bagi saya, kalau tidak begitu, mereka akan terus menolak karena tidak mengerti. Mereka perlu mengerti agar perundingan bisa dilanjutkan. Proses itu berjalan sejak 1999 dan menghasilkan kesepakatan Jeda Kemanusiaan yang ditandatangani pada 12 Mei 2000.

 

Pada 2001, saya mengakhiri peran negosiator karena diangkat menjadi Menteri Luar Negeri. Alasannya sangat mendasar. Kami tidak menginginkan perundingan dengan GAM dipersepsikan sebagai urusan diplomasi luar negeri. GAM bukanlah entitas asing sehingga penyelesaian konflik dengan mereka jangan sampai terkesan menjadi persoalan hubungan antarnegara.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/tokoh/hassan-wirajuda-konflik-moro-gam-aceh-2273505

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar