Selasa, 10 Januari 2017

Visi dan Perbaikan Berkelanjutan

Visi dan Perbaikan Berkelanjutan
Hasanudin Abdurakhman  ;   Cendekiawan; Penulis;
Kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia
                                                  DETIKNEWS, 09 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Saya selalu mengajak anak muda untuk punya visi karir. Banyak dari mereka yang berprinsip "jalanin aja". Artinya, bagaimana masa depan, tidak tahu. Yang penting jalani saja yang sedang dihadapi sekarang. Urusan nanti, biar diurus nanti.

Tidak sulit untuk mengerti kenapa mereka bersikap seperti itu. Bagi banyak anak muda, berpikir soal sesuatu yang jauh ke depan, itu sesuatu yang mewah. Untuk sekedar dapat pekerjaan sekarang saja pun mereka sudah kelabakan.

Ini sebenarnya soal pola pikir atau mindset saja. Dalam banyak kasus, banyak anak muda yang tidak mendapat pekerjaan karena hidup tanpa visi. Waktu mulai kuliah, mereka berprinsip, pokoknya kuliah saja dulu. Artinya, mereka tidak melihat kuliah dan dunia kerja itu saling berhubungan.

Masa kuliah tidak dipakai untuk mengumpulkan keahlian dan keterampilan yang kelak bisa dipakai untuk bekerja, baik secara intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Ketika lulus, bingung menghadapi dunia kerja, karena tidak ada satu pun hal yang didapat selama kuliah yang relevan dengan lowongan yang tersedia.

Apakah visi itu sesuatu yang mewah? Tidak. Saya ajak seorang anak muda yang bekerja sebagai guru les untuk membangun visi, ia tertawa. "Cuma pekerjaan remeh begini, masak harus punya visi, Pak," katanya tak percaya. Saya beri tahu dia bahwa guru les pun bisa ditekuni secara profesional.

Secara perseorangan, ada guru-guru les yang penghasilannya bisa mencapai puluhan juta per bulan. Secara korporasi, kita mengenal berbagai perusahaan bimbingan belajar, yang punya cabang di seluruh Indonesia. "Kamu tinggal pilih, mau punya usaha yang sifatnya perseorangan, atau perusahaan," kata saya.

Bagaimana seorang guru les bisa menjadi profesional seperti itu? Di situ bekerja prinsip differentiation strategy yang dikenal dalam dunia marketing. Guru les tersebut harus bisa menunjukkan bahwa ia bisa memberi layanan berbeda, misalnya dari sisi metode pengajaran, bahan ajar, soal-soal tes, serta alat yang digunakan. Sekarang misalnya, sudah banyak guru les yang memanfaatkan gadget dalam pengajaran. Semua itu hanya bisa dilakukan kalau seorang guru les punya visi, kemudian belajar, menambah ilmu dan mengasah kreativitasnya.

Hal yang sama berlaku pada siapapun, termasuk orang-orang yang bekerja sebagai karyawan perusahaan. Tidak sedikit yang bekerja tanpa rencana karir. Tanpa rencana artinya tak ada agenda soal apa yang harus dikejar dan dicapai. Segala sesuatu berjalan seperti benda hanyut di sungai. Mereka menganggap jenjang karir itu sebagai anak tangga yang sudah disiapkan perusahaan, mereka pasti akan naik. Kenyataannya tidak demikian. Hanya orang tertentu yang akan naik ke anak tangga selanjutnya.

Prinsipnya adalah, kita harus selalu meningkat dalam berbagai aspek. Jenjang karir dan penghasilan itu adalah dua hal yang saling berhubungan secara erat. Peningkatan di sisi karir akan berakibat pada peningkatan penghasilan. Tapi sebelum itu, mutlak diperlukan peningkatan keahlian dan keterampilan.

Artinya, seseorang harus menetapkan visi soal jenjang karir apa yang akan dia tempuh, berikut target waktu pencapaiannya. Berdasar pada visi itu, ia membuat rencana soal keahlian apa yang diperlukan untuk menapak jenjang karir tadi, kapan dan bagaimana keahlian itu akan ia peroleh. Dari visi karir, ia kini punya rencana belajar. Berikutnya tinggal mengeksekusi rencana ini.

Prinsip selalu meningkat ini dalam manajemen disebut continuous improvement, atau keizoku kaizen dalam bahasa Jepang. Prinsipnya, tidak ada level yang sempurna, selalu ada celah yang harus diperbaiki. Bahkan bagi orang yang sudah berada di puncak karir sekali pun, ia harus selalu melakukan upaya peningkatan. Tentu aneh bila anak-anak muda yang baru mulai menapak karir tidak punya rencana perbaikan, bukan?

Prinsip perbaikan berkelanjutan ini tidak hanya berlaku bagi pribadi. Sebenarnya prinsip ini terutama berlaku untuk korporasi. Pasar terus membesar, saingan terus bertambah. Perusahaan yang bertahan apa adanya akan tergilas, lalu tersingkir. Kita menyaksikan ada begitu banyak perusahaan yang begitu, meski tadinya ia adalah perusahaan raksasa sekalipun.

Sayangnya, banyak pula perusahaan yang enggan melakukan perbaikan. Salah satu sebabnya, sama seperti anak-anak muda tadi, karena para pemimpinnya tidak punya visi. Visi memang memerlukan tenaga ekstra untuk dirumuskan. Mewujudkannya menjadi nyata, memerlukan tenaga yang jauh lebih besar lagi. Tidak banyak orang yang mau berpeluh-peluh melakukan hal itu. Eksekutif perusahaan cenderung memilih jalan aman, mengamankan posisi yang saat ini pun sudah nikmat.

Yang lebih parah adalah pemerintah. Sangat sedikit pemimpin pemerintah yang mau membangun visi dan mewujudkannya. Kebanyakan asyik menikmati jabatan sambil berkubang korupsi. Seperti pribadi dan perusahaan tadi, bangsa yang dipenuhi oleh pemimpin-pemimpin tanpa visi, akan menjadi bangsa yang terlindas oleh zaman. Kalau kita tidak segera melakukan tindakan koreksi, kita sebenarnya sedang menghancurkan bangsa kita sendiri. ●