Sabtu, 28 Januari 2017

Maaf

Maaf
Komaruddin Hidayat  ;  Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
                                                KORAN SINDO, 27 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Tak terbayang, andaikan kata “maaf “ dihilangkan dari kosakata harian, pasti ada jurang psikologis yang menganga dalam pergaulan sehari-hari, yang menyimpan kepedihan dan kebencian.

Mengapa? Karena tiap orang tak bisa dan tak pernah terbebaskan dari berbuat salah. Kapan saja, di mana saja, disengaja atau tidak disengaja seseorang melakukan kesalahan yang bisa merugikan diri sendiri atau orang lain. Tanpa adanya kata dan mekanisme saling memaafkan, betapa pengapnya hidup ini. Kesalahan yang terjadi pada seseorang itu bisa bermula dari salah niat atau salah dalam mengambil keputusan.

Coba hitung sendiri, setiap hari berapa banyak kita mesti membuat keputusan mengingat setiap saat selalu dihadapkan pada beragam pilihan. Sejak dari urusan yang terlihat kecil, misalnya begitu bangun tidur, kita dihadapkan pada pilihan adakah mau mandi dulu baru kemudian sarapan, seseorang mesti membuat keputusan. Ketika memulai berkomunikasi, kata, nada, dan kalimat apa yang hendak kita gunakan itu pun pilihan. Ketika membuka lemari mau mengambil pakaian, itu pun sebuah pilihan. Ketika ada telepon berdering, apakah akan diangkat ataukah didiamkan, itu pun sebuah putusan. Pendeknya setiap hari kita membuat ratusan putusan dan pilihan yang semuanya potensial terjadi kesalahan.

Yang menjadi masalah adalah ketika membuat salah dalam mengambil putusan yang kemudian berakibat fatal baik bagi kehidupan pribadi maupun sosial. Lagi-lagi contoh kecil. Ketika kita mengendarai mobil dan dihadapkan untuk memilih jalan tol, jika salah, adakalanya perjalanan menjadi panjang atau bahkan sesat jalan.

Demikian pula halnya dengan rute kehidupan. Ada mahasiswa yang salah memilih program studi, semata karena tidak punya pertimbangan matang atau sekadar memenuhi desakan orang tua, akhirnya tidak antusias menjalani perkuliahan dan tidak meraih prestasi optimal karena tidak cocok dengan bakat dan minatnya. Ada lagi orang yang salah memilih pasangan hidupnya. Bayangan dan kesempatan membangun rumah tangga surgawi malah berubah jadi penyesalan karena penuh percekcokan dan saling tidak percaya yang berujung pada perceraian dengan segala risikonya.

Bagi seorang pemimpin dan public figure, salah bicara bisa berlaku formula: mulutmu harimaumu. Perhatikan saja apa yang menimpa Ahok dan Rizieq Shihab. Karena berbicara sembarangan keduanya berurusan dengan polisi dan menimbulkan keresahan masyarakat. Jadi gara-gara kesalahan yang dilakukan seorang pemimpin atau tokoh masyarakat, yang dirugikan bukan sebatas wilayah pribadi, melainkan juga institusi dan masyarakat.

Orang yang paling merasakan akibat dari kesalahan kita adalah orang-orang yang terdekat dengan kita. Jika seseorang melakukan korupsi lalu berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), misalnya, yang langsung merasakan akibatnya adalah keluarga terdekatnya. Minimal sekali mereka malu. Harga dirinya turun. Dalam kehidupan keluarga, tak ada yang terbebaskan dari berbuat salah. Bisa saja bergantian antara suami, isteri, anak, pembantu, menantu, mertua, tetangga, dan melebar lagi di lingkungan tempat kerja.

Bayangkan jika manusia tidak mengenal kata “maaf“, tidak ada mekanisme untuk saling memaafkan. Jika semuanya pendendam, betapa menjemukan dan melelahkan hari-hari yang kita lalui. Energi kita akan terkuras habis untuk merancang pembalasan. Hati dan pikiran akan dipenuhi sampah dan sumpah kebencian serta kekesalan yang kian lama kian membusuk dan mengeras.

Mengingat manusia adalah makhluk yang lemah, sering lupa dan berbuat salah, salah satu asma Allah adalah Al-Ghafur. Dia yang Maha Pengampun, yang menghapus dan memaafkan dosa-dosa manusia. Sampai-sampai ada ungkapan populer di kalangan sufi, kalau saja bukan karena kasih dan ampunan Allah, manusia tak pantas masuk surga. Dosanya lebih banyak dari amal kebaikannya. Kalau saja Allah membuka tabir aib kita, orang-orang di sekeliling kita akan terbelalak kaget dan meninggalkan kita. Bahwa kita tidak sebaik yang mereka duga.

Demikian pula halnya dalam pergaulan sehari-hari yang bersifat horisontal, jika masih ingin menikmati panggung dunia dengan nyaman dan ramah, kita mesti membuka pintu maaf setiap saat. Jangan pelit mengulurkan jabat tangan persahabatan dan senyum kasih sayang. Memaafkan tidak berarti meninggalkan prinsip moral dan menggeser kebenaran, tetapi sikap mental untuk menyembuhkan dan menjahit luka yang menganga yang selalu muncul hampir setiap hari. ●