Selasa, 24 Januari 2017

Meredupnya Pamor Arab Saudi

Meredupnya Pamor Arab Saudi
Ibnu Burdah  ;  Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam
                                                    TEMPO.CO, 20 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Beberapa upaya proses perdamaian di Suriah dan perang terhadap kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Irak akhir-akhir ini menunjukkan terkikisnya peran besar Arab Saudi. Kini Iran dan Turki memainkan peran yang sangat menonjol. Padahal, postur Arab Saudi sebagai salah satu pemimpin Timur Tengah, bahkan dunia Islam, selama ini cukup meyakinkan. Jarang negara itu ditinggal dalam isu-isu Timur Tengah dan dunia Islam yang strategis.

Sejak 1970-an, Arab Saudi memang mempunyai modal sangat besar untuk mewujudkan mimpinya sebagai pemimpin dunia Islam. Negara itu menguasai Mekah dan Madinah, dua kota suci umat Islam. Negeri itu juga menjadi negara produsen minyak terbesar di dunia. Ditambah lagi dengan hasil bumi yang lain seperti gas plus hasil dari kegiatan haji-umrah, pemerintah Saudi mampu menyulap negeri padang pasir itu menjadi sangat megah.

Rakyat Saudi seperti dimanjakan. Mereka hidup makmur tanpa bekerja terlalu keras. Bahkan, hingga 2010-an, tak ada warga negara Saudi yang menjalankan pekerjaan "kasar," seperti menyapu jalan, pelayan rumah tangga, dan seterusnya.

Dengan sentralitas sebagai pelayan dua kota suci dan kemampuan ekonomi yang luar biasa, ekspansi pengaruh Arab Saudi ke dunia Islam terus digencarkan sejak 1980-an. Organ-organ penyebaran pengaruh Arab Saudi terpusat pada penyebaran paham Wahabi (Salafi) serta lembaga-lembaga filantropinya, semacam Rabithah al-Alam al-Islamiy, Hai’ah al-Ighatsah al-Islamiyyah al-‘Alamiyyah, dan al-Nadawaat al-Islamiyyah li al-Syabab al-Islammy.

Tak hanya itu, mereka telah berhasil menggalang negara-negara di dunia Islam melalui organisasi Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Maqar (markas besar) organisasi itu hingga sekarang berada di Arab. Karena itu, masuk akal jika sentralitas Arab Saudi itu begitu kokoh di dunia Islam.

Namun, "Arab Springs" atau tepatnya "Arab Tragedies" menciptakan lingkungan baru yang benar-benar belum pernah dihadapi monarki itu sebelumnya. Arab Saudi terlibat dalam perang di mana-mana.

Untuk membiayai perang-perang yang sangat mahal, terutama di Yaman, anggaran Arab Saudi jebol. Pada 2015–2016, anggarannya mengalami defisit signifikan. Bahkan, negara yang superkaya dan selama empat dekade menebar bantuan keuangan ke mana-mana itu harus berutang ke lembaga keuangan internasional.

Implikasi lain adalah pengurangan subsidi dan program-program sosial bagi rakyatnya, yang sudah sangat terbiasa dan bahkan bergantung pada bantuan itu. Jumlah besar para pekerja asing dikurangi untuk mengatasi pengangguran di kalangan warga negaranya sendiri.

Di sisi lain, rezim Arab Saudi juga harus menghadapi tekanan dari rakyatnya yang sudah sangat melek Internet dan media sosial. Para sarjana yang menganggur menjadi ancaman yang sangat nyata bagi rezim karena kesadaran kritis mereka jauh lebih kuat dibanding rakyat kebanyakan.

Bagaimanapun, apa yang terjadi di Tunisia, Mesir, Yaman, dan Libya berpengaruh besar terhadap para sarjana penganggur itu, kendati propaganda pemerintah Saudi yang menyudutkan gerakan rakyat di negara-negara itu sangat kuat. Kesadaran demokratisasi yang menjalar dari media-media baru itu sungguh tak bisa diremehkan. Apalagi suara oposisi di pengasingan luar biasa keras dan intens.

Sejauh ini, penulis belum memperoleh informasi valid mengenai pengaruh hal ini terhadap jumlah bantuan Saudi untuk dunia Islam. Tapi pemerintah Arab Saudi tentu merasa dilematis. Di satu sisi, mereka harus mempertahankan pengaruh dan eksistensinya di Timur Tengah dan dunia Islam. Di sisi lain, kemampuan mereka semakin berkurang.

Pengaruh Iran, pesaingnya, saat ini semakin kuat. Selepas perjanjian nuklir tahun lalu, posisi Iran dalam pergaulan internasional kian kokoh. Pihak-pihak yang didukung Iran di Timur Tengah kini memperoleh kemenangan signifikan. Di Suriah, perkembangan semakin menunjukkan kemenangan Presiden Bashar al-Assad dan para pendukungnya. Di Yaman, Arab Saudi sudah habis-habisan untuk merebut kembali Sana’a tetapi gagal. Kelompok Houti masih bertahan di ibu kota Yaman dan sejumlah wilayah lain. Di Libanon, pengaruh Hizbullah tak terbendung. Di Irak apalagi.

Sementara itu, peran Saudi semakin mengecil di kawasan. Aktor kawasan ini tak lagi diajak bicara dalam penyelesaian isu Suriah. Mereka retak dengan sekutu strategisnya, yakni rezim Mesir, bahkan dengan AS, yang seolah merupakan sekutu abadinya. Mereka tak mudah mendekat ke Rusia karena musuh-musuh kawasan mereka sudah lama bersama Rusia. Saudi menghadapi tantangan yang sungguh besar. Apakah Saudi mampu untuk melewatinya, kita lihat perkembangannya. ●