Senin, 23 Januari 2017

Pluralisme Itu Sunatullah

Pluralisme Itu Sunatullah
Saliyun Moh Amir  ;  Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU
(LKKNU) Jateng 1993-2003
                                             SUARA MERDEKA, 21 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

“Siapa pun yang menolak kebhinekaan atau pluralisme di negeri kita, logikanya sama dengan menolak takdir Tuhan”

KETIKA berpidato di depan Sidang Majelis Umum PBB New York akhir tahun 1962, Presiden Soekarno menjadi perhatian dunia khususnya dari delegasi negara-negara Islam dan Timur Tengah. Apa pasal? Sebab dalam pidatonya ketika mengajak para utusan negara-negara anggota badan dunia itu untuk bersatu menghindari peperangan dan penjajahan, Bung Karno menyitir ayat Suci Alquran Surat Al-Hujurat ayat 13.

Ayat tersebut artinya : ”Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersukusuku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui Mahateliti.”

Keberanian Bung Karno menyampaikan itu dan gebrakan lainnya dengan mengadakan Konferensi Asia-Afrika sebelumnya tahun 1955 di Bandung, telah mendorong perubahan negara-negara di benua Asia dan Afrika yang saat itu masih terjajah.

Satu persatu negara-negara imperalis menyerahkan kekuasaan negara kepada penduduk asli/pribumi. Namun, ada pula negara yang merdeka karena kemenangan tentaranya di medan perang. Contoh negara yang merdeka seperti ini adalah Vietnam yang dijajah oleh Prancis.

Begitu pula dengan diselenggarakannya Konfernsi Negara-Negara Non-Blok (CONEFO) dan Olimpiade Negara-negara Non- Blok (GANEFO) di tahun 1963 dan1964, telah menjadi bara api dalam mengusir penjajah bagi negara-negara di Asia dan Afrika yang masih dijajah negara-negara Eropa.

Kita harus bangga menjadi bangsa Indonesia, sebuah negara dengan jumlah penduduk nomor empat terbesar di dunia, setelah Tiongkok, Amerika Serikat dan India. Satu bangsa yang memiliki negara kepualuan yang besar, dengan 17.504 pulau besar dan kecil. Jika data sensus tahun 2010 bisa dipercaya, maka negeri kita memang unik.

Ada 300 kelompok adat, dengan 1.340 suku bangsa, dengan mayoritas populasi penduduk atau 41% di antaranya adalah suku Jawa. Di samping terdapat perbedaan adatistiadat, menganut beragam agama dan kepercayaan. Karenanya, Indonesia dikenal sebagai negara yang multikultural dan plural.

Pluralisme menjadi qonditio sine qua non bagi Indonesia. Kebesaran negeri dengan tipologi seperti itu tidak sematamata merupakan berkah, tetapi di sisi lain menyimpan berbagai tantangan yang tidak sederhana. Beberapa kali dalam perjalanan sejarah bangsa ini telah membuktikan peristiwa- peristiwa tersebut.

Meskipun mayoritas penduduk negeri ini muslim, namun jangan lupa bahwa entitas Islam sebagai rahmatan lil’alamin mengakui dan menghormati eksistensi pluralitas. Sebab Islam memandang bahwa pluralitas adalah sebagai sunatullah, yaitu fungsi pengujian Allah pada manusia setelah diciptakan sebagai khalifah Tuhan di muka bumi.

Pluralisme dan nasionalisme disebut sebagai hukum alam atau sunatullah. Lalu apa yang dimaksud dengan sunatullah? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka Jakarta, 2005, Depdiknas) kata sunatullah bermakna hukum Allah Swt yang disampaikan kepada umat manusia melalui para rasul.

Makna lainnya adalah undang-undang keagamaan yang ditetapkan oleh Allah SWT yang termaktub di dalam Alquran. Kata sunnatullah juga bisa berarti hukum (kejadian) alam yang berjalan secara tetap dan otomatis.

Petunjuk Keberagaman

Pluralisme itu memang merupakan iradah (kehendak) dari Sang Maha Pencipta. Hal itu bisa kita simak dalam Surat Ar-Rum ayat 22 yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”.

Ayat-ayat tersebut menempatkan kemajemukan atau pluralitas sebagai determinan (condition sine qua non) bagi Allah dalam penciptaan makhluk. Makhluk yang bernama manusia diciptakan berbeda-beda, dan hidup di tempat yang terpencar secara global membentuk kelompok kebangsaan dan nation sendiri-sendiri yang berbeda. Itulah artinya bahwa pluralisme dan nasionalisme memang sudah sejak dari ”sononya”.

Dengan demikian maka siapa pun yang menolak kebinekaan atau pluralisme di negeri kita, logikanya sama dengan menolak takdir Tuhan. Sebenarnya petunjuk agama sudah sangat gamblang tentang adanya keberagaman. Mestinya tugas kita manusia sebagai khalifah Tuhan adalah merawat kebhinekaan itu guna mewujudkan maslahat dan rahmat dalam kehidupan bersama.

Sayang, di tengah-tengah kita ada kelompok radikal yang tidak mau tahu terhadap kebenaran petunjuk Tuhan yang amat jelas itu. Atas nama kebebasan dan hak asasi, mereka berani melakukan aksi intoleransi. Dan celakanya mereka juga tidak malu membawa atribut agamnya.

Kondisi demikian digambarkan secara tepat oleh seorang penyair: Wa kam min aaibin qaulan shahiha, wa afatuhu minal fahmis saqiimi. Banyak orang yang menentang (mengabaikan) kebenaran, sebabnya karena pemahamannya yang tidak akurat (sakit).

Sekalipun diciptakan dalam dimensi pluralitas, Tuhan menyuruh manusia supaya hidup dalam kerukunan dan perdamaian, serta saling mengenal di antara satu dengan yang lain. Dari ayat itu bisa ditarik kesimpulan untuk mewujudkan perdamaian, semua orang harus merasa bersaudara.

Persaudaraan menurut versi Islam bukanlah persaudaraan yang eksklusif, terbatas dengan umat Islam atau satu golongan tertentu saja. Tapi persaudaraan yang luas, yang inklusif bahkan dengan negara atau orang atheis sekalipun, selama mereka tidak memusuhi kita, mereka harus kita lindungi. ●