Sabtu, 28 Januari 2017

Nasionalisasi Tubuh dan Kosmopolitanisasi Pendidikan

Nasionalisasi Tubuh
dan Kosmopolitanisasi Pendidikan
Ardhie Raditya  ;  Dosen Pendidikan Kritis dan Kajian Budaya di Sosiologi Unesa; Penulis buku Sosiologi Tubuh
                                                    JAWA POS, 23 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

HASIL reportase Jawa Pos mengenai fenomena pijat plus-plus perkotaan beberapa waktu lalu sungguh mengejutkan. Bukan karena tukang pijatnya kaum perempuan sekaligus bisa dipakai dalam transaksi seksual. Lebih dari itu, kaum perempuan yang menyediakan pijat plus-plus itu didominasi perempuan dari negara luar. Asal mereka pun beragam. Ada yang dari Tiongkok, Vietnam, dan Rusia. Karena dianggap ’’produk impor’’, tarifnya pun tergolong mahal (Jawa Pos, 21/1).

Perdagangan tubuh manusia di atas boleh dibilang tergolong baru di Indonesia. Sebelumnya, kasus perdagangan manusia, tampaknya, masih berkutat pada skala nasional saja. Hasil analisis IOM (International Organization for Migration) menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat pertama dalam perdagangan manusia. Beberapa tahun terakhir ini telah tercatat sekitar 7.193 korban perdagangan manusia. Para korban didominasi kalangan perempuan. Yakni, anak-anak di bawah umur (950 orang), remaja (165 orang), hingga dewasa (4.888 orang). Dari jumlah itu, 82 persen merupakan perempuan korban eksploitasi tenaga kerja, baik yang bekerja di dalam maupun di luar negeri.

Lebih tragis, menurut Unicef, setiap tahun diperkirakan ada 100.000 anak dan perempuan yang diperdagangkan di Indonesia. Sekitar 30 persen perempuan yang terjebak dalam praktik prostitusi di Indonesia di bawah umur 18 tahun. Tak heran, Winterberger (1997) mengatakan, kendala terbesar negara berkembang adalah kualitas pendidikan yang memicu praktik eksploitasi penubuhan generasi bangsanya.

Selama ini, sebagian besar orang menganggap bahwa tubuh tak berarti apa-apa, selain organ fisik manusia. Hal ini semakin diteguhkan melalui nyanyian berjudul Dua Mata Saya. Secara kasatmata, lagu tersebut mengajarkan kepada anak-anak tentang bagian organ alamiah manusia. Hal itu tampak jelas dalam penggalan liriknya ’’Dua kuping saya, yang kiri dan kanan. Satu mulut saya, tidak berhenti makan’’.

Masalahnya, apa yang disebut tubuh bukanlah badan dalam arti fisik dan fungsi alamiahnya. Sebab, secara logika, penubuhan (thelogic of embodiment) tubuh manusia merupakan entitas yang multidimensi, sehingga tubuh kita amat rentan menjadi sumber ketegangan dari berbagai kekuatan ekonomi, politik, gender, bahasa, dan budaya di baliknya. Contohnya kaki kita. Fungsi alamiah kaki adalah melangkah atau berjalan. Namun, di zaman modern ini, ia berubah sebagai komoditas alas kaki global melalui tayangan iklan. Bahkan, dongeng Cinderella mengisahkan pentingnya kaki perempuan bagi sarana transformasi kelas sosial, dari babu menjadi ratu dalam semalam.

Diakui atau tidak, bangsa ini dijajah bangsa asing sekian lamanya melalui struktur sosial penubuhan. Di antara mayoritas etnis di Indonesia, manusia Madura boleh dibilang kelompok etnis yang paling dicitrakan negatif dalam sejarah sosialnya. Berbagai riset sejarah yang ditulis sebagian besar ilmuwan Belanda menunjukkan bahwa laki-laki Madura terkesan menyeramkan dilihat dari penampilan tubuhnya. Sementara itu, perempuan lokal Madura sering kali dikonotasikan dengan simbol seksualitas tubuhnya (semisal, jamuan rapet Madura).

Padahal, cara berpikir seperti itu menandakan berjalannya praktik rasial yang diterima tanpa sikap kritis. Tumpulnya sikap kritis tersebut juga menimpa kalangan kelas atas seperti artis. Tesis Aquarini (2003) menegaskan bahwa artis Indo juga terjebak pada ideologi penubuhan global. Ketika mereka menjadi model iklan sabun mandi dari luar negeri, berarti tubuh orang Indonesia perlu dibersihkan secara masal. Tujuannya, rakyat Indonesia terintegrasi dengan tuntutan peradaban tubuh global yang terawat, putih, murni, dan universal.

Di tengah ancaman dunia global ini, tubuh kita, tubuh manusia Indonesia, sangat perlu ’’dinasionalisasikan’’. Tubuh adalah sumber kedaulatan dan kepemilikan berharga bangsa kita. Pada kondisi inilah, kosmopolitanisasi pendidikan sangat dibutuhkan. Kosmopolitanisasi berbeda dengan globalisasi. Menurut Beck (1998), globalisasi berorientasi universalisasi, sedangkan kosmopolitanisasi berorientasi multidimensi. Meskipun globalisasi merupakan keniscayaan, karakter bangsa kita yang multietnis, budaya, bahasa, agama, ekologi, geografis, dan historisitasnya harus dijaga, dirawat, dan dipertahankan keberadaannya.

Kosmopolitanisasi pendidikan itu dapat berjalan bila ilmu eksakta dan sosial-humaniora bisa diposisikan secara adil dalam kurikulum pembelajarannya. Hancurkan stigma bahwa orang eksakta lebih unggul atau pintar atas orang sosial-humaniora. Begitu juga berikan porsi yang seimbang antara penelitian berbasis teknologi tepat guna dan kajian budaya, sosiologis, agama, seni, antropologis, gender, filosofis, dan kajian ilmu sosial lainnya. Semua ini harus bermuara pada eksplorasi keunikan lokalitas bangsa kita. Tanpa itu semua, bangsa kita akan terus dijajah bangsa asing dengan beragam taktiknya. Mungkinkah terwujud? Tanyalah pada hatimu, kawan. ●