Jumat, 27 Januari 2017

Henry Kissinger

Henry Kissinger
Dinna Wisnu ;  Pengamat Hubungan Internasional;
Co-founder Paramadina Graduate School of Diplomacy
                                                KORAN SINDO, 25 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pada 26 Desember 2016 tabloid media massa berbahasa Jerman, Bild Zeitung, memublikasikah laporan yang disinyalir adalah laporan dari tim transisi Presiden Donald Trump yang menyebutkan tentang peluang kerja sama yang konstruktif antara Washington DC dan Kremlin pascapemilihan umum di Amerika Serikat (AS).

Media itu juga menyebutkan tentang peran penting dari Henry Alfred Kissinger sebagai penasihat bayangan untuk urusan luar negeri. Media itu bahkan juga menyebutkan bahwa Henry Kissinger adalah salah seorang yang membuat draf rencana untuk mengharmoniskan hubungan antara Rusia dan AS yang selama ini terlibat dalam konflik yang mendalam. Henry Kissinger adalah seorang diplomat, mantan menteri luar negeri di masa pemerintahan Richard Nixon dan Gerald Ford. Dia juga seorang pemikir hubungan internasional yang mumpuni. Usianya saat ini sudah mencapai 93 tahun.

Bagi negara-negara dunia ketiga dan berkembang, Henry Kissinger adalah arsitek segala campur tangan Amerika dalam politik dalam negeri negara lain. Presiden Chile, Salvador Allende yang berasal dari kelompok kiri atau sosialis, ditumbangkan melalui kudeta dan kampanye yang terus-menerus. Kissinger menegaskan sikapnya pada 1970 dengan mengatakan, ”I don’t see why we need to stand by and watch a country go communist due to the irresponsibility of its people. The issues are much too important for the Chilean voters to be left to decide for themselves. ”

(Saya tidak melihat alasan mengapa kita harus menunggu dan menyaksikan suatu negara beralih komunis karena tidak bertanggungjawabnya masyarakat di sana. Isu ini terlalu penting untuk ditentukan sendiri oleh para pemilih Chile). Sikap realisnya itu yang mendekatkan Kissinger dengan Presiden Putin. Meski dia terlibat dalam perang dingin dengan Rusia, Kissinger tidak memiliki beban untuk membina hubungan dekat dengan Rusia. Putin sangat mengagumi Kissinger dan mereka telah bertemu lebih dari 10 kali sepanjang Putin berkuasa.

Putin mengenal dan bertemu Kissinger ketika dia masih pejabat junior di tahun 1990-an. Dia memandang Kissinger dengan penghormatan karena mereka berdua samasama memiliki latar belakang intelijen. Pada saat itu Kissinger sudah mendirikan perusahaan konsultan untuk berbagai bidang terutama energi. Sikap Realis Kissinger dalam memecahkan masalah-masalah hubungan luar negeri adalah karakter utama pemikiran tokoh ini. Sikap realis dan pragmatis juga diambil pada saat AS menormalisasi hubungannya dengan Republik Rakyat China (RRC) pada tahun 1972.

Henry Kissinger adalah diplomat yang dikirim oleh AS untuk melakukan pembicaraan rahasia dengan China. Kapasitasnya sebagai national security advisor membuatnya memiliki wewenang untuk membicarakan perjanjian kedua negara hingga akhirnya Presiden Nixon datang secara formal dan memulai hubungan dengan RRC dan mengakui hanya ada satu China. Tujuan AS untuk menormalisasi hubungan dengan China tidak lain adalah upaya untuk memutus hubungan aliansi atau poros negara-negara komunis yang diwakili oleh negara Uni-Soviet (USSR) pada masa itu dengan RRC.

Hubungan USSR dan RRC pada saat itu memang tengah panas akibat perbedaan doktrin ideologi kiri yang tidak dapat terdamaikan. USSR dan RRC saling tuduh bahwa masing-masing adalah Marxist revisionis karena sikap yang berbeda terhadap negaranegara kapitalis. RRC dikenal garis keras dan menolak kerja sama dengan negara kapitalis sementara USSR menerima kerja sama selama tidak mengintervensi. Ketegangan ini yang dimanfaatkan oleh Kissinger dengan mendekat ke China dengan harapan, China tetap kritis terhadap USSR, meskipun AS juga memiliki perjanjian tidak tertulis dengan USSR untuk tidak saling menyerang.

Strategi normalisasi hubungan dengan China pada 1972 atau 45 tahun yang lalu untuk mengisolasi USSR tampaknya akan digunakan kembali, namun saat ini pihak yang akan diisolasi adalah China oleh Presiden Amerika serikat ke-45 Donald Trump atas nasihat dari Kissinger. Pandangan masa depan hubungan Amerika Serikat dan Rusia disampaikan oleh Kissinger ketika memperingati kematian Yevgeny Maksimovich Primakov, mantan Perdana Menteri semasa mendiang Presiden Boris Yeltsin tahun 1998-1999.

Kissinger dan Primakov memimpin kelompok mantan para diplomat AS dan Rusia sepanjang tahun 2007- 2009. Di Amerika kelompok ini dikenal dengan Track II Group yang bekerja bipartisan dan didorong oleh Gedung Putih, tetapi tidak melakukan negosiasi atas nama negara. Kissinger telah menilai bahwa hubungan Rusia dan AS berada di titik paling bawah saat di masapemerintahanObama. Hubunganinibahkanlebihburukdibandingkan masa Perang Dingin karena telah hilangnya rasa kepercayaan di antara dua negara.

Hubungan dua negara ini memang justru semakin rumit setelah berakhirnya Perang Dingin. Amerika mengharapkan dengan meredanya ketegangan internasional maka waktu yang ada dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kerja sama internasional. Di sisi lain, Rusia juga merasa tidak nyaman dan aman dengan semakin berkurangnya batas-batas kedaulatan tradisional setelah USSR bubar. Seperti kita ketahui, banyak wilayah bekas USSR yang kemudian mendirikan negara dan berafiliasi secara politik ke Barat daripada ke Rusia.

Kissinger menilai bagi AS berakhirnya perang dingin adalah takdir bahwa nilai-nilai revolusi demokratik tidak bisa dihindarkan dan dunia perlu memilik tata kelola internasional yang diatur oleh sebuah sistem hukum. Di sisi lain, Rusia yang meyakini bahwa keamanan tergantung dari saling pengaruh faktor-faktor geopolitik yang sama kuatnya dengan hukum. Dengan kata lain, Rusia ingin mengatakan bahwa hubungan antara negara itu memiliki hubungan kekuasaan dan tidak netral begitu saja.

Dua paradigma ini yang menjadi tanggung jawab bagi AS dan Rusia untuk memecahkannya. Persoalan ini penting untuk dijawab karena ancaman sekarang tidak lagi lahir dari akumulasi kekuasaan dari negara yang kuat atau dominan. Tetapi justru dari negara yang wilayahnya mengalami disintegrasi dan wilayah itu kemudian tidak memiliki pemerintahan. Menyebar dan meluasnya kekuasaan kosong tersebut tidak dapat dihadapi oleh satu negara saja seberapa pun kuatnya. Hal itu hanya dapat diselesaikan dengan kerja sama antara Rusia, AS dan negara-negara kuat lainnya.

Karena itu, unsur-unsur kompetisi, terkait dengan konflik tradisional antarnegara, harus dibatasi agar kompetisi itu tetap dalam batas dan menciptakan kondisi yang mencegah terjadinya pengulangan konflik yang berkepanjangan. Persepsi realis Kissinger ini tampaknya akan menjadi landasan hubungan yang baru Rusia dan AS. Presiden Donald Trump sudah memberikan indikasi bahwa ia tidak menutup kemungkinan akan mencabut sanksi terhadap Rusia seandainya Rusia mau membantu AS dalam memberantas terorisme dan mencapai tujuan-tujuan yang sesuai dengan kepentingan Paman Sam.

Apabila normalisasi ini terjadi, kitamungkinakanmenghadapi sebuah realita baru yang membutuhkan strategi luar negeri baru untuk menghadapi dampak-dampak yang ditimbulkan. ●