Selasa, 31 Januari 2017

Sekretaris

Sekretaris
Samuel Mulia  ;  Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                      KOMPAS, 29 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dua minggu yang lalu seorang anggota staf saya menghubungi sekretaris seorang konglomerat di negeri ini. Singkat cerita, laporan yang masuk ke gendang telinga saya adalah, "Massss. ampunn deh. itu mbak galaknya setengah mati. Ketus abis. Belum juga selesai menjelaskan uda main potong aja. Ampunnn. ada orang kayak gitu."

Judes dan galak

Sejujurnya waktu saya meminta tolong, saya sudah mempunyai perasaan bahwa cerita di atas akan terjadi. Saya sudah beberapa kali mengalami hal serupa. Saya bukan seorang sekretaris, saya tak pernah membayangkan pekerjaan yang dihadapi setiap hari sebagai sekretaris. Justru karena itulah saya kemudian bertanya, mengapa seorang sekretaris bisa sejudes itu.

Pengalaman saya bekerja yang sudah lebih dari 20 tahun memberikan gambaran bahwa kejadian seperti yang dialami anggota staf saya umumnya terjadi kepada sekretaris orang-orang besar. Maksudnya besar itu ya perusahaannya, ya namanya, ya prestasinya. Kalau badannya, itu tak jadi masalah.

Saya sendiri bertanya-tanya mengapa mereka sampai harus bersikap seperti itu kepada orang kecil seperti saya. Saya ini berpikir, kalau bosnya punya nama besar, prestasi besar, kekayaan luar biasa, kan sejujurnya tak ada hubungannya dengan kebesaran sekretarisnya.

Karena sekretaris itu bermain di belakang layar meski saya tahu perannya sungguh penting. Karena beberapa di antaranya malah lebih galak dari seorang istri dalam menentukan jadwal hidup majikannya. Saya sendiri juga tak tahu apakah istri seorang pengusaha kaya raya nan ternama lebih kurang jeli ketimbang sekretarisnya untuk melihat kegiatan suaminya. Sungguh saya tak tahu.

Kalau ada cerita-cerita miring soal profesi sekretaris, atau yang pada akhirnya menikahi majikannya yang dimulai dari perselingkuhan, itu tak saya pikirkan. Karena miring dan berselingkuh itu bisa diciptakan oleh siapa saja, bukan? Miring itu tak memedulikan kaya atau miskin, ternama atau tidak.

Tetapi yang saya ingin tanyakan, mengapa mereka sampai harus perlu bersikap galak dan ketus? Kalau pekerjaan mereka terlalu banyak, kalau mereka menyimpan rahasia terlalu banyak, kemudian semuanya itu memberi tekanan terlalu banyak, dan pada akhirnya mereka menjadi tertekan, mengapa mereka tidak berhenti saja bekerja?

Ibadah

Mengapa mereka tidak berhenti dari sebuah pekerjaan yang telah mengubah mereka menjadi manusia yang menyakiti orang lain, yang membuat mereka menjadi manusia yang tidak berbahagia? Karena saya ini selalu percaya, perilaku judes, songong, dan galak itu tak pernah dilahirkan dari sebuah hati dan jiwa yang bahagia.

Sering saya mendengar percakapan macam begini, "Emang orangnya kayak gitu. Tapi hatinya baik, kok." Benarkah demikian? Benarkah buah yang busuk dapat dihasilkan dari sebuah pohon yang diairi, dipupuk, dan dipelihara dengan baik dan benar?

Bagaimana hati yang baik mampu menghasilkan tabiat yang judes dan galak? Bukankah katanya baik dan tidak baik itu tak pernah bertemu, seperti tak pernah bertemunya siang dan malam, seperti tak pernah bertemunya yang negatif dan yang positif? Apakah itu hanya katanya?

Ataukah mereka sudah terbiasa menjadi judes dan galak, karena melihat majikannya juga seperti itu, meski khalayak ramai melihat majikannya seperti malaikat. Saya ini tak pernah menjadi sekretaris, hanya pernah punya sekretaris, tetapi sekretaris ecek-ecek, bukan seperti sekretaris para konglomerat yang pernah saya lihat, penampilannya saja seperti nyonya besar.

Saya ini sampai berpikir, apakah karena bekerja dengan orang besar, mereka merasa turut menjadi besar? Sungguh saya tak tahu. Yang saya tahu lingkungan itu bisa memengaruhi individu untuk berubah.

Pada akhirnya, saya berkata pada diri sendiri. Mungkin tak hanya sekretaris yang dapat bersikap seperti itu, kita semua bisa. Kita semua bisa menjadi jahat, menjadi judes dan galak, bisa menjadi begitu tidak bersahabatnya, bisa menyakiti orang dengan keketusan. Nurani saya langsung menyambar. "Elo apalagi, ya, cinn.."

Terus apa keuntungannya bersikap judes? Dan apa ruginya menjadi manusia yang baik dan bersahabat? Karena buat saya, kalau seandainya majikannya atau bosnya tak mau melayani permintaan anggota staf saya untuk diundang sebagai pembicara, itu tak jadi masalah.

Tetapi menyambut orang lain dengan keketusan dan kegalakan itu sama sekali tak ada hubungannya dengan melindungi majikan, tak ada hubungannya dengan jadwal majikan yang padat. Mau padatnya bohong atau tidak.

Bukankah seharusnya seseorang tak hanya mencitrakan perusahaannya dengan baik, tetapi mencitrakan profesi dan dirinya sendiri juga dengan baik? Bukankah ketika seseorang ingin mengakhiri pertandingan hidupnya, ia tak bisa hanya ingin mengakhirinya dalam kebaikan, tetapi perjalanan mencapai akhirnya dilakoni dengan sikap yang jauh dari baik?

Saya pernah dinasihati, bekerja itu juga ibadah. Bagaimana seseorang bisa menjalankan ibadahnya dan menodainya dengan mulut yang seperti belati? ●