Selasa, 31 Januari 2017

Media Sosial dan "Mendacity"

Media Sosial dan "Mendacity"
Bre Redana  ;  Wartawan Senior Kompas
                                                      KOMPAS, 29 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kalau dirasa-rasakan, media sosial dekat sekali dengan mendacity. Kosakata bahasa Inggris mendacity berasal dari kosakata Latin mendacitas, artinya kebohongan. Seseorang yang terus-menerus berbohong disebut memiliki karakter mendacity, karakter pembohong. Frustrasi kita menghadapi pembohong patologis seperti itu.

Kini, seiring kian akrabnya orang dengan media sosial, makin diakrabi istilah hoax alias kabar bohong. Banyak kosakata baru seakan melekat dengan media sosial: hoax, hater, buzzer, follower, crowd, dan lain-lain.

Mungkin karena sifat medianya, digerakkan saraf jari-jari yang lama-lama terlatih, kemampuan jari-jari mereproduksi dan mengotak-atik informasi dan image akhirnya melebihi kecepatan kerja otak. Secara sederhana, mekanisme tubuh seperti itu disebut refleks. Orang menyerap dan menanggapi informasi secepat gerak refleks. Cepet bingitz, istilah remaja dan orang-orang berumur yang kekanak-kanakan. Tak perlu dipikir.

Ditambah kualitas literasi yang rendah dengan minat baca nomor dua terendah di dunia, jadilah otak yang tak terlatih dengan mudah diperdaya kebohongan. Otak yang terus diperdaya kebohongan akhirnya menyesuaikan diri, mengembangkan kesanggupan dirinya sendiri untuk tak kalah memproduksi kebohongan.

Bersemai kebohongan-kebohongan, dari kecil sampai besar, dari main-main seperti humor tak lucu di WhatsApp sampai yang serius dan berpotensi memecah belah persaudaraan bangsa. Telah lahir kelas sosial pembohong: the mendacity class. Kelas sosial ini terdiri atas penderita patologi sosial sebagai pembohong tadi ataupun mereka yang pantas dikasihani, mayoritas yang dikarenakan kebodohan dan tingkat pendidikan yang rendah menjadi korban pembodohan. Pembohong besar mengangkat diri sebagai pemimpin besar, bicara berapi-api tentang hakikat langit seolah bicara kasunyatan, menyangkal segalanya, termasuk bahwa Bumi bulat. Ada juga yang jadi melankolis berlebihan. Oh, kenapa jadi begini..

Tidak semuanya salah manusia. Teknologi selalu membawa manusia pada fase evolusi lanjut. Revolusi digital telah membawa manusia pada fase pasca kasunyatan, post-truth. Yang sebelumnya diyakini banyak orang sebagai kebenaran tengah dibongkar, sebagaimana otoritas kepakaran, expertise, kini diolok-olok dan dianggap tidak ada. The death of expertise, Mas, kata Mbak Sarie mengutip ahli di Amerika. Amatir-profesional sama saja, pintar-bodoh sami mawon. Dari kerabat ataupun teman-teman yang punya anak baru tahu bahwa sekarang ini tidak ada anak sekolah tidak naik kelas seperti zaman dulu. Semua naik, semua lulus.

Kecepatan informasi berlangsung bersamaan dengan ledakan jumlah penduduk dan kemudahan mobilisasi manusia. Tempat-tempat sepi dan alam perawan diburu para fundamentalis selfie. Tahun-tahun terakhir ini, selain ledakan jumlah penduduk, juga ditandai ledakan pelancong. Libur beberapa hari, tempat-tempat tertentu dibanjiri fundamentalis liburan. Bali, Yogya, Bandung, menyusul kota-kota lain, seperti Cirebon, di ambang krisis air tanah dikarenakan perkembangan hotel-hotel murah untuk mengakomodasi turisme massal. Belum krisis lingkungan yang lain, termasuk sampah.

Bagaimana dengan perkembangan media? Dulu populer istilah pers sebagai anjing penjaga, the press is a watchdog. Kini media-media atau medium menurut pakar media Marshall McLuhan menentukan isi-telah berubah. Isi atau konten, menurut McLuhan, hanyalah "sekerat daging yang dibawa pencuri (dalam hal ini maksudnya medium tadi) untuk mengalihkan perhatian anjing penjaga di otak". Watchdog baginya bukan anjing penjaga yang menggonggongi lembaga pemerintah, legislatif, atau hukum, melainkan anjing penjaga sebagai penjaga kesadaran otak kita. Sesuatu yang ada dalam diri kita sendiri.

Media digital membuat yang nyata dan tidak nyata kabur batasnya. Kita harus terus-menerus memelihara kewaspadaan anjing penjaga di otak kita, the watchdog of the mind. Kesadaran harus dipelihara. Eling. Jangan mau otak kita dikadali kebohongan. ●