Senin, 23 Januari 2017

Setelah Trump Dilantik

Setelah Trump Dilantik
Chusnan Maghribi  ;  Alumnus Hubungan Internasional FISIP
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)
                                             SUARA MERDEKA, 20 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

DIPASTIKAN tidak semua warga Amerika Serikat (AS) antusias menyambut pelantikan Donald Trump sebagai presiden ke-45 pada 20 Januari ini di The Lincoln Memorial Washington DC. Malah tidak sedikit di antara warga AS dari kelas menengah ke atas memboikot acara pelantikan tersebut. Mereka terutama dari kalangan selebriti dan politisi (anggota Kongres).

Sederet nama selebriti senior papan atas semisal David Foster dan Meryl Strep jauh hari sudah mengungkapkan boikotnya, tidak (akan) ambil bagian dalam acara pesta pelantikan Trump. Ini tentu mudah dimengerti. Sebagian besar artis Hollywood mendukung kandidat presiden Hillary Rodham Clinton dari Partai Demokrat dalam pemilihan presiden (pilpres) AS, 8 November 2016.

Dari kalangan politisi, sekurangnya terdapat 26 anggota Kongres dari Partai Demokrat yang memastikan diri tidak hadir dalam pelantikan Trump, di antaranya adalah John Lewis dari Negara Bagian Georgia, Tvette Clarke dari New York, Ted Lieu dari California, Luis Guttierres dari Illinois, dan Katherine Clark dari Massachusetts.

Alasan mereka memboikot cukup beragam. John Lewis misalnya, politisi senior sekaligus pejuang hak-hak sipil AS ini mengatakan dirinya memboikot pelantikan Trump lantaran menganggap kemenangan Trump dalam pilpres November tahun lalu tidak sah karena dibantu intelijen Rusia dengan melancarkan serangan siber terhadap Partai Demokrat.

Sikap atau pandangan Lewis ini membuat Trump naik pitam dan lewat tweet-nya dia meminta Lewis agar tidak banyak omong serta menyarankan untuk fokus mengurus konstituennya saja. Statemen Trump ini memicu kecaman rekan-rekan sejawat Lewis terhadap Trump.

Katherine Clark menyatakan dirinya memboikot karena takut (khawatir) jika antiperempuan, anti-imigran, antimuslim, dan janji-janji yang memecah-belah yang menjadi kampanye Trump akan nyata-nyata menjadi kebijakan-kebijakan yang berpengaruh pada kesehatan, keamanan, dan keselamatan hidup warga AS. Lantas, apa arti semua itu? Tentu, itu semua berarti penanda kegagalan Trump ‘’mengambil hati’’ segenap pihak yang sikap (pilihan) politiknya berseberangan.

Pidato kemenangan yang disampaikan tak lama setelah pasangan Donal Trump- Mike Pence ditetapkan sebagai pemenang pilpres 8 November 2016, yang salah satu isinya mengajak segenap elemen masyarakat AS untuk bersama-sama bekerja keras meraih kembali kejayaan negeri, tidak cukup ampuh mendorong (membujuk) warga pendukung Hillary Clinton legawa menerima kemenangan Trump.

Trump gagal merangkul segenap pihak yang berseberangan. Bukti atau penanda lain adalah, setelah pasangan Donald Trump-Mike Pence ditetapkan sebagai pemenang pilpres, tidak jarang pihak-pihak berseberangan menggelar aksi protes terhadap presiden terpilih dengan mengangkat berbagai isu, mulai dari kekhawatiran sebagian masyarakat atas supremasi kulit putih di Gedung Putih hingga (kemungkinan) terbentuknya ‘’kabinet horor’’ lantaran sebagian pembantu (menteri maupun penjabat setingkat menteri) yang diangkat Trump terdiri dari sosok-sosok ultrakonservatif semisal Jeff Sessions (69) yang pada 18 November 2016 dipilih untuk menempati pos Jaksa Agung, Letjen (Purn) Michael Flynn (57) yang ditunjuk sebagai Penasihat Keamanan Nasional, dan anggota Kongres Mike Pompeo (52) yang dipilih sebagai Kepala CIA (Central Intelligence Agency).

Pembentukan kabinet horor benar-benar bisa menjelma menjadi kenyataan bilamana sosok-sosok kontroversial seperti Jenderal James ‘’Mad Dog’’Mattis (66), Kris Kobach, Rex Tillerson dan Mitt Romney jadi turut mengisi jajaran kabinet Presiden Trump.

James Mattis disebutsebut sebagai calon favorit penjabat Menteri Pertahanan. Mattis adalah seorang pensiunan jenderal Angkatan Laut dari korps marinir yang memimpin komando sentral AS periode 2010-1013.

Mattis pernah ditugaskan mengawasi penarikan pasukan dari Irak dan Afghanistan. Kris Kobach digadang-gadang bakal menempati salah satu posisi penasihat penting di lingkaran presiden. Petinggi Urusan Luar Negeri Negara Bagian Kansas inilah yang menggagas (rencana) pembangunan tembok tinggi yang memisahkan AS dengan Meksiko, yang kemudian dikampanyekan oleh Trump dalam pilpres 2016.

Sedangkan Rex Tillerson dan Mitt Romney berebut kursi menteri luar negeri (menlu). Trump diperkirakan bakal memilih Tillerson atau Romney yang memiliki karakter nyaris sama, yakni cenderung agresif dan ofensif, untuk menjabat menlu.

Siapa pun yang bakal dipilih jadi menlu dari dua sosok tersebut, tentu hal itu menjadi sinyal kurang baik terutama dalam upaya mengatasi berbagai konflik (perang) terbuka maupun ketegangan-ketegangan yang tengah berkecamuk di berbagai belahan bumi dewasa ini. Akankah Trump akhirnya benar-benar membentuk kabinet horor? Kita tunggu saja perkembangan politik dalam negeri AS khususnya setelah dia resmi dilantik menjadi presiden ke- 45 pada tanggal 20 Januari 2017 ini. ●