Jumat, 27 Januari 2017

New Normal

New Normal
Rhenald Kasali  ;  Pendiri Rumah Perubahan
                                                KORAN SINDO, 26 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Tanpa banyak disadari, cara kita mengemudi kendaraan sekarang sudah berbeda dengan dulu. Dulu kita wajib memanaskan mesin beberapa menit, baru bisa jalan.

Sekarang sebelum jalan kita hidupkan aplikasi Waze atau Google Maps, lalu ketik tujuan. Dari kedua aplikasi tersebut kita bukan saja mendapat panduan untuk mencapai tujuan, tetapi juga bisa memantau kondisi arus lalu lintas di jalan-jalan yang bakal kita lalui. Di Waze, kalau ada ruas jalan yang diwarnai kuning atau oranye, itu artinya masih ramlan alias ramai lancar. Kalau merah itu berarti pamer atau padat merayap. Kalau merah gelap itu berarti, maaf, pamer paha atau padat merayap tanpa harapan.

Dengan bantuan Waze atau Google Maps, kita bisa memilih jalur-jalur mana saja yang tidak macet. Bahkan sampai ke jalan-jalan alternatif atau jalan tikus. Kalau dulu mana ada? Kita baru sibuk mencari jalan alternatif setelah terjebak kemacetan. Kalau di jalan tol? Mungkin kita hanya bisa pasrah, berlatih kesabaran. Kadang geram.

Kian Melambat

Waze atau Google Maps adalah dua dari beberapa aplikasi berbasis teknologi yang kita gunakan dalam menghadapi era “normal baru” atau “new normal“ di jalan-jalan raya. Apa maksudnya? Iya, jalan-jalan raya di banyak negara sekarang sudah berada dalam kondisi new normal. Apakah itu di Jakarta, New York, atau Paris. Sama saja. Bukannya semakin lancar, tetapi semakin macet. Ini membuat perjalanan kita menjadi semakin lambat, dan lama.

Kalau dulu mungkin hanya butuh satu jam, kini kita harus mengalokasikan waktu setidak-tidaknya dua jam. Bahkan lebih! Coba saja jalan dari Jakarta ke Bandung. Tak ada lagi yang bisa ditempuh dua-tiga jam. Bukankah ini persis dengan kondisi perekonomian kita? Juga perekonomian dunia. Negara kita juga kena dampaknya. Sejak 2013 dunia dan negara kita mulai memasuki era pertumbuhan yang kian melambat.

Sebelum tahun itu kita masih sanggup tumbuh di atas 6%. Ibarat ikan mati, siapa pun yang berada di atasnya akan terkayuh ke tempat yang jauh. Namun, memasuki 2013 perekonomian kita hanya tumbuh 5,78% dan terus menurun. Sampai 2015 ekonomi kita hanya tumbuh 4,79%. Bagaimana untuk tahun 2016? Mungkin hanya di kisaran 5%. Sekarang ini rasanya nyaris mustahil mendorong pertumbuhan ekonomi hingga mencapai di atas 7%. Tapi jangan khawatir, kita masih di antara negara-negara yang luar biasa.

Mari tengok kondisi perekonomian dunia. IMF memperkirakan tahun 2016 hanya tumbuh 3,2%. Jadi begitulah, selamat datang di era new normal. Sejak sekarang kita harus mulai membiasakan diri hidup dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tak seramah dulu lagi. Jadi kita, dan perekonomian dunia, bisa saja terjerembap dan masuk dalam era new normal? Anda tentu masih ingat dengan krisis Subprime Mortgage yang terjadi di Amerika Serikat (AS) pada 2007.

Krisis itu bukan hanya menghancurkan industri properti di negara itu, tetapi juga menyeret lembaga pembiayaan dan bank-bank investasi, seperti Fannie Mae atau Fredie Mac, bahkan Lehman Brothers. (Anda bisa menyaksikan krisis ini dalam film mengasyikkan yang berjudul Too Big to Fail.) Seperti pusaran air, krisis yang berpusat di AS itu akhirnya menyeret ekonomi dunia ke dalamnya.

Perekonomian dunia jadi lesu. Krisis melanda Eropa, bahkan menyeret China—yang selama beberapa tahun terakhir menjadi mesin penggerak perekonomian dunia. Pada tahun-tahun itu, ekonomi China—dan juga India (keduanya dikenal dengan fenomena Chindia), masih sanggup tumbuh di atas 8%. Kini ekonomi China hanya bisa tumbuh pada kisaran 6%. Lesunya perekonomian dunia jelas menurunkan tingkat permintaan global. Anda tahu hukum supply & demand, bukan? Begitu permintaan turun, harga-harga ikut turun.

Harga minyak dan gas turun. Harga batubara anjlok. Begitu pula dengan hargaharga komoditas lain seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan karet. Era new normal juga ditandai oleh munculnya sejumlah ketidakpastian baru. Di mana-mana ancaman terorisme menguat. Lalu, isu nasionalisme juga ikut menguat, sebagaimana ditandai oleh keluarnya Inggris dari Uni Eropa (fenomena Brexit) dan yang paling akhir adalah terpilihnya Donald Trump sebagai presiden ke-45 AS.

Berani Berubah

Sekali lagi, sebenarnya beberapa tahun belakangan kita sudah hidup dalam era new normal. Ini ditandai oleh beberapa hal. Pertama, penurunan harga BBM—sebagaiimbasmenurunnya harga minyak dunia. Pada 1 April 2016 pemerintah menurunkan harga BBM bersubsidi, premium, dari Rp6.950 per liter menjadi Rp6.450 dan solar dari Rp5.650 ke Rp5.150 per liter. Kedua, biaya transportasi kita juga turun, karena hadirnya perusahaan-perusahaan aplikasi.

Kalau biasanya kita naik taksi bisa habis Rp200.000 sekali jalan, kini tinggal separuhnya. Semua masih ditambah dengan cara pemesanannya yang semakin mudah. Hanya modal jempol. Bersyukurlah pada smartphone. Kalau ada sisi yang menyenangkan, pasti ada yang sebaliknya. Betul sekali. Sekarang coba tanyakan kepada para eksekutif yang menangani urusan sales & marketing di perusahaan- perusahaan konvensional.

Pasti isinya banyak keluhan. Susah sekali mencari meningkatkan penjualan. Pangsa pasar terus menyusut, order baru tak kunjung datang, dan sebagainya. Banyak incumbent yang bisnisnya tergerus perubahan dan akhirnya hanya bisa mengeluh. Ekonomi lagi sulit. Bisnis tidak berkembang. Mencari lapangan kerja susahnya minta ampun. Tapi, fenomena semacam itu tidak dialami oleh perusahaan-perusahaan yang berbasis teknologi. Lihat saja, pasar e-commerce kita terus tumbuh.

Sepanjang 2012- 2015, misalnya, pasar e-commerce kita tumbuh lebih dari 40%. Kita, dan terutama anak- anak kita, kini semakin akrab saja dengan Lazada atau Zalora. Kita juga semakin akrab dengan Go-Jek atau Grab, Uber, dan Airbnb. Pesan ojek semakin mudah. Cari kendaraan kian gampang. Pesan hotel atau penginapan apalagi. Pangsa pasar bisnis ini terus tumbuh, meski mendapat serangan kiri dan kanan dari para pesaing—dan bahkan dari regulator. Betul, tata kelola bisnis ini masih menyisakan sejumlah masalah.

Maklum ini bisnis-bisnis yang relatif baru sehingga belum banyak orang yang mengerti aturan mainnya. Tapi, menurut saya, ini hanya soal waktu. Apa yang mau saya sampaikan adalah teknologi sebetulnya mampu membantu kita, termasuk untuk perusahaan-perusahaan konvensional, dalam menghadapi era new normal yang, itu tadi, penuh dengan ketidakpastian. Ia membantu kita menemukan jalan-jalan alternatif. Persis seperti Waze atau Google Maps yang membantu kita menemukan jalan-jalan mana yang macet dan yang tidak macet.

Hanya, ada syaratnya, yakni Anda mesti berani men-disrupsi bisnis-bisnis Anda. Berani meninggalkan cara-cara bisnis lama dan masuk ke cara-cara bisnis baru. Bahkan harus berani meninggalkan bisnis-bisnis lama dan masuk ke bisnis-bisnis baru. Misalnya kalau dulu bisnis Anda begitu mengagung-agungkan kepemilikan (owning). Sekarang lupakan! (Saya heran, kita punya banyak ribuan pulau yang kosong dan menganggur, tetapi begitu mau disewakan ke orang lain ributnya setengah mati.) Semua tidak perlu dimiliki sendiri. Ini eranya sharing dan empowering. Ini eranya berbagi dan memberdayakan.

Beranikah Anda? Kalau Anda gamang, saya maklum. Tapi, itulah kenyataan yang harus kita hadapi. Kita tak punya pilihan untuk menghindar. Ini era new normal. ●