Kamis, 19 Januari 2017

The Art of Ora Mbahas

The Art of Ora Mbahas
Iqbal Aji Daryono  ;  Praktisi Media Sosial; Penulis; Kini ia tinggal sementara di Perth, Australia, dan bekerja sebagai buruh transportasi
                                                  DETIKNEWS, 17 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Almarhum bapak saya seorang guru SMP. Meski resminya ia guru pelajaran Biologi, sekolah tempat Bapak mengajar sempat memberinya tugas sebagai guru BP.

Sebagai guru BP di sebuah sekolah yang biasa-biasa saja, dengan mayoritas murid dari kalangan bawah, Bapak tentu sangat sering menghadapi anak-anak bermasalah. Mulai anak yang penuh problem dengan pelajarannya, anak yang berkelahi dengan temannya, hingga anak yang patah hati karena ditolak cintanya.

Khazanah pengalaman dalam mengelola problem kehidupan khas remaja begitu semakin membuat Bapak kaya referensi persoalan. Sebab di kampung kami, Bapak pun lumayan sering jadi tempat mengadu. Anda tahu, pada zamannya, guru adalah profesi yang sangat kajen, kalau istilah Jawa-nya. Sangat dihargai oleh lingkungan. Belum lagi kadang Bapak jadi guru ngaji pula di masjid kampung. Lengkaplah sudah kepercayaan para tetangga kepada beliau.

Pada masa-masa itu, kadang saya menguping saat ada orang datang mengadukan aneka persoalan mereka. Ada yang minta tolong dicarikan sekolah untuk anaknya, padahal NEM-nya kecil banget. Ada yang minta tolong dicarikan orang yang bisa memberi utangan. Ada juga yang menangis karena anaknya bunting padahal belum juga menikah. (Untunglah tak ada yang datang buat minta pesugihan atau penangkal santet.)

Segenap pengalaman Bapak sebagai "guru BP" di mana-mana tersebut pada akhirnya bermuara di keluarga kami sendiri. Bapak selalu menjadikan meja makan di rumah kami sebagai semacam ruang BP. Kerapkali sidang keluarga digelar, dan kami semua dipertemukan. Entah saat ada konflik antara anak-anaknya, antara anak dan ibu, atau antara anak dan Bapak sendiri. Semua "stakeholder masalah" diminta menyampaikan versi masing-masing. Segenap sudut pandang dicari titik temunya, untuk kemudian dicari solusi bersama.

Indah sekali, bukan? Ya, sekilas tampaknya sempurna. Namun segala yang indah-indah itu ternyata membawa pula sejenis efek sampingnya. Entah bagaimana dengan kakak dan adik saya, namun saya pribadi merasa tumbuh dengan karakter khas: terlalu detail dalam melihat masalah, tidak gampang melupakan konflik, dan suka berdebat.

Dengan karakter demikian, pada usia 26 tahun saya menikah.

Istri saya dibesarkan dalam keluarga yang berbeda dengan saya. Bapak mertua saya seorang dosen filsafat. Barang tentu, kurang kerjaan juga bila lantas Anda mengira ada adegan mertua dan menantu yang tiap sore ngobrol filsafat di Socrates Cafe. Namun saya membayangkan, dengan latar demikian, mestinya Pak Mertua juga sedetail bapak saya. Lha filsafat tuh tugasnya membongkar segala hal-ikhwal sampai ke level lower ground, je. Wajarnya kan tiap kali ketemu konflik, Pak Mertua akan menjelaskan hakikat persoalan yang kami temui, mulai dari perspektif Plato sampai Suhrawardi, lantas masalah dianggap selesai hanya setelah setiap anggota keluarga berteriak "Eureka!"

Nyatanya, bukan itu yang tampak di mata saya. Saya memang orang luar di keluarga itu, tidak pernah tinggal bersama mertua, sehingga pasti ada banyak sisi dan cerita yang belum sepenuhnya saya kenali hingga hari ini. Namun setidaknya bisa saya lihat, keluarga istri saya sungguh berbeda dengan keluarga saya sendiri.

Pak Mertua punya cara unik dalam mengelola konflik di dalam keluarganya. Tiap kali muncul letupan di antara anak-anaknya, misalnya, ini yang ia lakukan: mengajak seluruh anggota keluarga buat jalan-jalan, makan-makan.

Apakah di tempat makan lantas digelar pembahasan menyeluruh sebagaimana yang dilakukan mendiang bapak saya? O, tidak. Di situ mereka ngobrol hal-hal lain, membincangkan topik-topik menyenangkan, yang blas nggak ada hubungannya dengan konflik sebelumnya.

Hasil dari kebiasaan itu ternyata ajaib, terutama di mata saya yang dibesarkan dalam varian peradaban lain. Konflik di rumah mertua cenderung cepat berlalu. Memang tidak tuntas dikupas, namun juga tidak lama membekas. Itu berbeda dengan di keluarga saya, yang meski pembahasannya selesai, memarnya sering bertahan lebih panjang.

Istri saya pun tumbuh dengan karakter tersendiri. Walau bukan jenis orang yang senang tertawa seperti saya, ia jauh lebih pintar dalam melupakan hal-hal buruk di antara kami. Sial buat dia sih, sebab jika persoalan kami saya seret masuk ke pola resolusi konflik dengan tipe ajaran bapak saya, ia kewalahan. Data-data saya lebih lengkap, sementara ia yang cenderung melupakan persoalan kerap kehabisan referensi hahaha.

Maaf, saya membicarakan keluarga saya sendiri. Saya tahu, keluarga saya nggak ada penting-pentingnya buat Anda semua. Namun pola seperti ini saya yakin ada di mana-mana. Konflik juga ada di mana-mana. Apalagi sejak internet dan medsos menjajah alam kesadaran kita, kita jadi sangat suka berdebat, sangat suka membahas banyak hal sampai terperinci setengah mati, dan selalu merasa pembahasan kita sangat berguna dan begitu menentukan masa depan dunia.

Dari situ tak jarang yang terjadi justru konflik-konflik turunan antarteman, antartetangga, bahkan antarsaudara. Sebab kebiasaan membahas persoalan-persoalan besar akhirnya terbawa saat kita menghadapi dinamika sehari-hari. Sendi-sendi yang lebih riil pun jadi rapuh, padahal semua itu lebih nyata daripada isu-isu besar (atau isu yang dibesar-besarkan) yang tak henti menjejali mata dan telinga kita.

Saya jadi ingat sebagian ulasan Jared Diamond dalam salah satu bukunya, The World Until Yesterday. Ia memaparkan, lebih kurangnya begini. Dalam masyarakat modern, sebuah konflik diselesaikan dengan orientasi pemenuhan rasa keadilan. Maka ada pengadilan, ada hakim, dan ada hukuman bagi yang bersalah. Di situ tidak terlalu dipusingkan apakah di kemudian hari para pelaku konflik berhasil memperbaiki hubungan mereka atau tidak. Asal dirasa adil, selesai sudah.

Berbeda dengan itu, dalam masyarakat tradisional, yang dikejar bukanlah pemenuhan rasa keadilan, melainkan rekonsiliasi. Kadang hasil keputusan dari dialog yang digelar tidak cukup fair bagi korban. Namun ada satu tujuan lebih mendasar, yakni pulihnya harmoni antaranggota kelompok.

Harmoni memang merupakan hal vital dalam masyarakat tradisional. Anggota masyarakatnya relatif sedikit, satu sama lain saling mengenal, saling bersinggungan hingga seterusnya. Jika harmoni gagal dibangun kembali, potensi konflik akan terus tertinggal, menetap, dan sewaktu-waktu bisa meledak. Nah, konsep peradilan dalam masyarakat modern tidak cukup peduli itu, sebab cakupan populasinya jauh lebih luas. Antara pelaku konflik bisa tidak saling kenal, dan sangat mungkin tidak akan perlu saling berinteraksi hingga seterusnya.

Berkaca dari gambaran Jared Diamond tadi, saya menduga, boleh jadi selama ini kita terlalu menempatkan diri sebagai sepenuhnya makhluk modern. Kita merasa sebagai anggota masyarakat yang sangat luas, yang menyediakan solusi-solusi rasional untuk menyelesaikan segenap persoalan. Sementara itu, kita lupa bahwa kita punya keluarga, saudara, tetangga, teman-teman baik, yang setiap saat ada di dekat kita, dan tidak bisa selalu kita sikapi sebagai bidak-bidak mati bagian dari sebuah konfigurasi besar bernama negara.

Memang, dalam konteks kehidupan bernegara, atau di bangku-bangku akademis, segenap hal ikhwal harus dikuliti dan dibongkar. Namun dalam lingkup-lingkup kecil yang dekat dan lekat dengan realitas kehidupan keseharian kita, apa iya sih kita mesti setiap saat menjadi semacam peneliti sosial, atau filsuf pemburu kebenaran, yang tak lelah-lelahnya menggali setiap jengkal persoalan?

"Kamu harus belajar 'the art of ora mbahas'. Seni untuk diam, menahan diri untuk tidak membahas masalah. Sebab tidak semua hal harus dibahas dan didiskusikan. Kadang lebih enak kalau diabaikan, dilupakan. Cobalah." Begitu istri saya mengutip nasihat Ning Fina, guru ngajinya.

Saya manggut-manggut mendengarnya, bersepakat dengannya, dan langsung teringat wajah ganteng bapak mertua saya. ●