Kamis, 19 Januari 2017

Memahami Konflik Suriah, Tragedi Kemanusiaan Terbesar Abad 21

Memahami Konflik Suriah,
Tragedi Kemanusiaan Terbesar Abad 21
M Najih Arromadloni  ;  Alumni Universitas Kuftaro Damaskus; 
Sekjen Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami)
                                                  DETIKNEWS, 18 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Sampai detik ini, saya tidak pernah lupa peristiwa di tanggal 27 Februari 2011. Itu adalah bulan kedelapan saya di Suriah. Di hari itu, terjadi penangkapan 15 siswa secara kasar di kawasan Hawran Provinsi Dar'a Suriah oleh polisi Suriah, karena membuat grafiti yang menyerang Presiden Basyar al-Assad; sebuah fenomena yang kemudian mengubah kondisi sosial, politik, keamanan, dan apalagi ekonomi di Suriah secara keseluruhan.

Tindakan blunder polisi yang represif ini kemudian membuat masyarakat yang mudah tersulut untuk turun ke jalan pada Selasa dan Jumat (15 dan 18 Maret 2011), menuntut Presiden Basyar al-Assad untuk mundur. Aksi dilakukan di ibukota Damaskus dan secara sporadis merambah ke kota-kota lainnya. Aksi lanjutannya dilakukan biasanya setiap hari Jumat dan dengan mempolitisasi masjid sebagai titik kumpul, berkembang menjadi perang sipil.

Dan di tahun yang keenam ini, kisruh yang merupakan rentetan musim Semi Arab (al-Rabi' al-Arabi/Arab Spring) dan awalnya mengusung slogan perubahan, demokrasi, dan pembebasan rakyat dari thaghut, serta penerapan syariat (kadang-kadang: khilafah), nyatanya telah menjadi musim musibah bagi Suriah, dan rakyat Arab secara keseluruhan.

Akibat krisis ini lebih dari 470 ribu jiwa tewas, dan lebih dari satu juta terluka. Sementara 85% mereka yang masih hidup harus kehilangan pekerjaannya dan seperlima angkatan kerjanya terpaksa mencari uang dari perang, seperti dengan menjarah dan menculik. Kondisi ini diperparah dengan langkanya bahan makanan, jika ada pun harganya selangit. Di dunia pendidikan, jutaan anak tidak bisa menikmati kebutuhan sekolah mereka, sementara ibu mereka harus menghadapi kerasnya hidup menjanda. Sebelas jutaan pengungsi dari Suriah menyebar ke seluruh penjuru, jumlah yang menurut UNHCR terbesar setelah Perang Dunia ke II.

Yang saya tulis di atas adalah sebuah fenomena yang amat menyakitkan, dan yang terjadi di balik fenomena atau nomenanya jauh lebih rumit, bahkan amat rumit. Bisa jadi fenomena penangkapan 15 siswa itu sekadar momentum mewujudkan sebuah konspirasi yang telah disusun jauh-jauh hari. Tetapi sekompleks apa pun kita perlu memahaminya. Dibutuhkan sebuah perspektif yang utuh agar kita tidak hanya fokus dan terjebak pada fenomena. Untuk itu dibutuhkan pikiran yang terbuka, dan pembacaan yang jeli atas sejarah dan geopolitik, serta sumber daya alam negeri berjuluk "the cradle of civilization" ini, termasuk kebijakan luar negerinya terhadap Israel dan negara-negara teluk.

Saking kompleksnya, jika ingin memahami dengan benar tentang Konflik Suriah, Anda harus lebih jeli dan menyeluruh dalam melakukan pembacaan dari beragam sumber. Karena pemberitaan seputar konflik Suriah selama ini sudah jauh dari kata obyektif dan berimbang. Fabrikasi berperan sedemikian besar. Al-Jazeera dan al-Arabiya dalam satu kasus, pernah memberitakan secara manipulatif bahwa telah terjadi penembakan demonstran di Distrik Rukn al-Dien Ibukota Damaskus, padahal saya yang tinggal di distrik kecil tersebut tidak pernah melihat apa-apa.

Parahnya, hal ini dilakukan pula oleh media besar semisal BBC, Reuters, Guardian dan CNN. Di Indonesia pun demikian, media massa umum, sebagian, untuk tidak menyebut rata-rata, men-quote berita dari kantor berita besar dunia yang juga melakukan pemberitaan serupa. Pemberitaan yang tidak obyektif dan berimbang tentu menimbulkan dampak yang merugikan. Tapi apa daya, media telah turut menjadi alat perang.

Faktor Konflik Suriah

Ada banyak perspektif mengenai apa saja faktor yang melatarbelakangi pecahnya konflik Suriah. Sebuah konflik memang terjadi tidak disebabkan oleh sebab tunggal. Konflik selalu lahir dari sebab yang kompleks dan diliputi oleh banyak faktor dan kepentingan. Dan jika melihat peta konflik Suriah yang terjadi, terlalu sederhana (simplikatif) untuk menyatakan bahwa konflik tersebut tirani versus demokrasi, atau apalagi berlatar belakang teologis: perseteruan antara Sunni dan Syiah. Karena sejarah Suriah adalah harmoni antar sekte dan umat beragama. Itu pula yang saya rasakan selama hidup di sana.

Ada empat faktor yang terlibat dalam sebuah konflik, yaitu triggers (pemicu), pivotal (akar), mobilizing (peran pemimpin) dan aggravating (faktor yang memperburuk atau memperuncing situasi konflik). Untuk mengetahui keempat faktor tersebut diperlukan sebuah analisis berupa kajian sistematis terhadap profil, sebab-sebab, aktor, dan dinamika konflik. Klasifikasi faktor juga bisa dilakukan dengan melihat yang primer, sekunder dan tersier.

Intinya, secara global faktor penyebab konflik Suriah bisa dipetakan dalam dua hal:

1. Masalah internal (dalam negeri) Suriah, berupa terbatasnya kesempatan pergerakan/mobilitas sosial dan politik, kesenjangan, korupsi, dan represi aparat keamanan, serta tuntutan reformasi atas rezim klan Assad yang telah berkuasa selama 40 tahun. Anehnya, tuntutan reformasi ini tidak terjadi di delapan negara monarki yang juga tergabung dalam liga Arab yang tidak lebih demokratis. Jadi sejatinya yang terakhir ini tidak cukup kuat.

2. Masalah eksternal (luar negeri), berupa kepentingan politik, keamanan, dan ekonomi. Ini tidak lepas dari fakta bahwa Suriah adalah negara yang kuat secara militer dan selalu menunjukkan sikap perlawanan dan ancaman terhadap Israel sejak awal sejarahnya, termasuk dengan bersekutu bersama Iran, Hamas dan Hizbullah. Kondisi demikian membuat Israel, Amerika, NATO dan sekutunya di Timur Tengah turut berkepentingan mereformasi dan menumbangkan Assad. Demikian ringkasnya kebutuhan politik dan keamanan negara sekeliling Suriah.

Sementara dari sisi ekonomi, di balik koalisi Barat dan sekutu Arab, serta Turki terdapat kepentingan untuk mengeksploitasi cadangan minyak, di samping gas, dengan ketebalan sekitar 350 meter, berkali lipat rata-rata ketebalan kandungan minyak dunia yang hanya sekitar 10-20 meter di tanah milik Suriah. Sumber ini berisi miliaran barel yang kandungannya dapat membuat negara mana pun menjadi pemain minyak penting.

Dengan demikian, mengacu pada penjelasan singkat tersebut, di balik kompleksitas masalah domestik Suriah, kita bisa mengetahui adanya eksistensi negara-negara yang berkepentingan mengobarkan api peperangan di Suriah.

Aktor Konflik Suriah

Mengenai siapa saja aktor yang mempunyai peran penting melanggengkan konflik Suriah, perkenankan saya mengutip Bassel Oudat, seorang kolumnis dari Damaskus. Dalam artikelnya yang berjudul "Syria's Impasse" ia menyatakan bahwa aktor konflik bisa dibagi menjadi tiga: lokal, regional, dan global.

Pada tataran lokal melibatkan rezim al-Assad, organisasi Dawlah al-Islamiyah (ISIS), dan kelompok pemberontak yang afiliasinya amat beragam, misalnya:

1) Free Syrian Army (FSA), Syrian National Council (SNC) dan Syrian National Council for Opposition and Revolutionary Forces (SNCORF) yang dibentuk atas inisiatif Amerika di Doha, Qatar dan berafiliasi kepada Ikhwanul Muslimin;

2) Kelompok yang berafiliasi dengan al-Qaeda yang mempunyai agenda membentuk khilafah, yaitu Jabhat al-Nusrah, Ahrar al-Sham, Kataeb, Liwa' al-Tauhid, Ahrar Souria, Halab al-Shahba, al-Harakah al-Fajr al-Islamiyah, Dar al-Ummah, Liwa Jaish Muhammad, Liwa' al-Nasr, Liwa' Dar al-Islam dan lain-lain. Para milisi mereka datang dari sekitar 100 negara;

3) Kelompok oposisi yang tidak menempuh kekerasan, yang tergabung dalam koalisi bernama National Coordination Body for Democratic Change.

Pada tataran regional, persaingan antara Iran dan Arab Saudi, serta Qatar, Turki, dan Israel di kawasan membuat mereka saling berebut pengaruh politik, pengamanan, dan kue ekonomi dengan mengorbankan rakyat negara yang tercabik-cabik itu. Dalam hal ini perseteruan bukan antara Persia dan Arab, karena dengan kerjasama Arab Saudi dan Israel menyerang Suriah, sesungguhnya solidaritas Arab telah runtuh.

Sementara pada tingkat internasional, tampak bahwa krisis Suriah telah terjerambab dalam keretakan diplomasi internasional atas tarik ulur Amerika dan Rusia, serta para pemegang veto di PBB.

Dari paparan di atas diketahui, bahwa kisruh Suriah adalah tentang beragam peperangan dunia nyata dan maya yang destruktif, dan telah menjadi peluang politik dan sumber keuntungan bagi banyak pihak yang berseteru di dalamnya, dengan mengabaikan nasib jutaan rakyat jelata yang meregang nyawa.

Ini tidak hanya dilakukan oleh negara besar, namun juga oleh sekitar 90.000 milisi berlabel agama dengan profil anggota yang tidak homogen, mulai oportunis yang tidak percaya Tuhan, kelompok pragmatis, para pencari profit dari perang, adventurism, suku-suku yang pragmatis hingga ke kelompok takfiri sejati.

Dari sini kita juga bisa menyimpulkan bahwa sampai hari ini masih bergentayangan perkomplotan (termasuk kapitalis global) yang melibatkan banyak negara untuk melakukan eksploitasi di atas penderitaan negara lain, termasuk dengan memanfaatkan segala potensi ekstremitas sosio-politik sebuah kelompok sosial untuk dibenturkan dengan komunitas sosial lainnya.

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Aleppo?

Sejak konflik Suriah berkobar, kasus Aleppo beberapa kali menyedot eskalasi perhatian masyarakat internasional, pada tahun 2016 ini terjadi selama akhir April, Februari, dan pertengahan Desember. Pertanyaannya kenapa pemberitaan tentang Aleppo selalu lebih masif dari, semisal pembantaian di Palmyra?

Jika dilihat sejarahnya, Aleppo sudah diserang pemberontak/oposisi selama lima tahun terakhir. Dan di masa itu pula rezim al-Assad beberapa kali melakukan serangan balasan mengembalikan kedaulatan negara mereka. Terakhir, rezim mengepung Aleppo selama enam bulan, dan berhasil merebut kembali kota tersebut. Nah, sejumlah itu pula pemberitaan tentang Aleppo muncul secara masif.

Penyerangan lewat media pro oposisi ini menjadi pola yang berulang kali dilakukan oleh oposisi setiap kali mereka dalam posisi terjepit, guna menggalang dukungan atau bahkan menarik intervensi dunia internasional. Aleppo adalah garis depan zona pertahanan oposisi, dan merupakan basis pertahanan mereka dan jalur penghubung dari Palmyra/Tadmor ke Latakia dan Idlieb, sehingga dengan hilangnya Aleppo maka menyebabkan jaringan mereka terputus.

Aleppo bergitu menarik bagi oposisi karena merupakan kota kedua terbesar di Suriah. Dengan menguasai kota itu (Aleppo) pemberontak bisa menampilkan diri sebagai alternatif yang kredibel dibanding pemerintahan di ibukota Damaskus. Posisi Aleppo secara geografis juga amat strategis dilihat dari berbagai segi.

Dengan melihat posisi penting Aleppo maka bisa dipahami mengapa kota tersebut selalu menjadi rebutan, dan secara otomatis menjadi palagan yang kini luluh lantak. Seorang kawan di Aleppo secara subyektif berkomentar, "Dalam kondisi perang, semua datang membawa neraka, meskipun neraka rezim masih lebih baik dari neraka pemberontak, bersama sekutu Baratnya."

Polemik Bantuan Kemanusiaan

Informasi tentang adanya penyimpangan bantuan kemanusiaan ke Suriah yang jatuh ke tangan kelompok teroris, sempat membuat masyarakat Indonesia resah, ini terjadi setelah Euro News memberikan laporannya dari Aleppo pasca ditinggal pemberontak (14/12/16). Tapi bagi WNI yang tinggal di Suriah, kasus ini bukan merupakan fenomena yang baru.

Berdasarkan informasi dari KBRI Damaskus, sejak permulaan konflik pemerintah Suriah memang amat ketat dan protektif dalam hal memberikan izin masuk bantuan kemanusiaan. Hal ini wajar karena berbagai lembaga bantuan kemanusiaan atau NGO sering kali dijadikan kedok dan memiliki rekam jejak dengan agenda terselubung. Info dari KBRI Damaskus pula, bahwa lembaga kemanusiaan Indonesia yang sejak awal berkoordinasi dengan KBRI adalah afiliasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) dan MER-C.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa mayoritas bantuan kemanusiaan dari Indonesia yang masuk ke Suriah adalah ilegal. Menyalurkan bantuan kemanusiaan di medan perang memang tidak mudah. Lembaga bantuan kemanusiaan seperti IHR dan ACT misalnya, tidak menyalurkan sendiri donasi yang mereka dapat, melainkan melalui link IHH (Insani Yardim Vakfi). Sedangkan IHH adalah sebuah LSM Turki yang memiliki ikatan kuat dengan grup teroris Free Syrian Army, begitu pula dengan al-Qaeda.

Harian Turki, Hurriyet, melaporkan hasil investigasi (3/1/2014) yang menemukan amunisi dan senjata dalam jumlah besar dari truk IHH yang menuju Suriah, dengan kawalan personel intelijen Turki. Terkait IHH, Dubes Rusia untuk PBB pernah berkirim surat ke DK PBB (18/3/2016), bahwa IHH bersama-sama dengan Besar Foundation dan The Iyilikder Foundation mensuplai persenjataan dan logistik kepada ISIS atau Islamic State (IS).

Penutup

Krisis Suriah yang begitu memilukan seharusnya mengetuk hati kita untuk lebih peduli dan melihatnya melalui perspektif kemanusiaan. Turut mendorong dihentikannya perang, bukan malah ikut menyulutnya, atau bahkan mengimpornya ke sini. Untuk itulah penting bagi kita untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Suriah.

Konflik Suriah memberikan sebuah pelajaran yang amat berharga bagi kita tentang nikmat kebhinekaan dan kewajiban mutlak bersatu padunya antar entitas generasi bangsa, untuk mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur... ●