Jumat, 06 Januari 2017

Resolusi Tahun Baru yang Terbengkalai

Resolusi Tahun Baru yang Terbengkalai
Hasanudin Abdurakhman  ;   Cendekiawan; Penulis; 
Kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia
                                                 KOMPAS.COM, 05 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Tiap awal tahun banyak orang membuat resolusi. Isinya, target yang ingin dicapai tahun itu. Isinya macam-macam, mulai dari urusan karir, keuangan, sampai urusan berat badan.

Ada banyak orang yang setiap awal tahun bikin resolusi, tapi begitu tahun itu berakhir, resolusinya tak pernah tercapai. Lalu ia bikin resolusi lagi. Di ujung tahun, tak tercapai lagi. Sampai ada guyonan, resolusi tahun 2017 adalah mewujudkan resolusi tahun 2016, yang merupakan resolusi tahun 2015 yang belum terlaksana.

Resolusi itu niat atau impian kita. Niat tentu tak pernah mengubah apapun. Yang bisa membuat perubahan adalah aksi. Yang terjadi pada pembuat resolusi itu adalah mereka tidak melakukan aksi atau perbuatan untuk mewujudkan resolusinya.

Mengapa tidak mengambil tindakan? Umumnya orang menghadapi jalan putus. Di depan sana ada mimpinya, yang ingin dia capai. Tujuan itu terlihat dari tempat ia berdiri saat ini. Tapi ia tak melihat jalan menuju ke tempat itu. Ia hanya melihat hutan belantara atau kabut tebal yang menutupi pemandangan.

Maka, hal pertama yang harus dilakukan oleh pembuat visi adalah mencari jalan atau memilih jalan yang mana yang hendak dia tempuh. Seseorang yang membuat resolusi, tahun ini harus mendapat kenaikan karir, harus tahu jalan apa yang akan dia tempuh. Misalnya, dengan menambah satu atau dua skill tertentu, membuat pencapaian tertentu. Mustahil naik karir tanpa tambahan keahlian dan pencapaian, bukan?

Pebisnis yang ingin meningkatkan laba, harus menetapkan, misalnya peningkatan penjualan sekian persen. Atau, memotong biaya operasi sekian persen. Bagaimana meningkatkan penjualan, bagaimana menekan biaya, itu pun harus dirumuskan.

Orang yang ingin menurunkan berat badan harus memilih cara yang cocok untuk dirinya. Ia bisa diet, mengurangi makan. Atau mungkin ia harus menjalani sebuah program training.

Itu semua saya sebut visi. Tanpa visi itu, Anda hanya melihat mimpi Anda dari jauh, seperti melihat puncak gunung dari kejauhan, tanpa koneksi, tanpa jalan yang menghubungkan Anda dengannya.

Cukup? Belum. Anda harus menyusun rencana aksi. Ingat, rencana itu menyangkut tindakan dan waktu pelaksanaannya. Kalau Anda hanya punya satu daftar tindakan tanpa menetapkan kapan pelaksanaannya, maka itu bukan rencana. Dalam hal bisnis, rencana itu berupa rencana bisnis tahunan dan bulanan, dinyatakan dalam angka-angka keuangan. Berapa penjualan bulan A, berapa biayanya, dan bagaimana strategi untuk mencapai target itu.

Langkah berikutnya adalah aksi. Dalam hal bisnis, jalankan strategi yang sudah dirumuskan, pantau dengan ketat setiap hari. Setiap hari? Ya, banyak bisnis besar yang melakukan kontrol harian. Dengan bantuan IT tidak sulit lagi mengumpulkan data bisnis secara harian. Pantau apakah target produksi, penjualan, delivery, pembayaran, dan lain-lain sesuai rencana. Bila tidak, cari penyebabnya, dan lakukan tindakan koreksi. Ini adalah siklus plan-do-check-adjust (PDCA).

Dalam skala personal bagian ini sangat terkait dengan perubahan kebiasaan. Resolusi tidak akan mengubah apapun. Rencana tidak membuat perubahan. Perubahan datang dari perubahan kebiasaan. Maka secara pribadi Anda harus mengubah berbagai kebiasaan harian Anda untuk mencapai resolusi.

Kebiasaan apa? Buatlah daftar kebiasaan buruk Anda, yang membuat Anda tidak berada pada poisisi yang Anda impikan. Mungkin tidak tepat waktu cara komunikasi buruk, emosi tak terkendali, pola pikir negatif, sering menunda pekerjaan, menyalahkan orang lain, dan masih banyak lagi. Lakukan latihan bertahap dan konsisten untuk mengubahnya. Jangan manjakan diri dengan mentoleransi keinginan untuk kembali ke kebiasaan lama.

Hal terpenting dalam pengubahan kebasaan adalah komitmen. Selalu saja ada halangan kecil yang membuat kita terhenti dalam melakukan kebiasaan baru. Selalu saja ada momen yang membuat kita kembali ke kebiasaan lama. Jangan heran, itu memang sifat alami sebuah kebiasaan, sukar diubah. Itu juga kekuatannya. Maka, kita harus punya komitmen yang tinggi untuk melawan semua hambatan-hambatan itu secara konsisten, dalam durasi yang panjang.

Begitulah. Ada banyak resolusi yang terbengkalai, karena hal-hal di atas tidak dilakukan. Kalau Anda punya resolusi sekarang, beranjaklah untuk membangun visi, membuat rencana kerja, lalu eksekusi rencana itu. Kontrol setiap hari untuk memastikan target-target Anda tercapai. Buang berbagai kebiasaan lama yang selama ini manahan Anda dalam kubangan yang jauh dari tempat impian Anda.

Dream it. Reach it, by changing your habits. ●