Sabtu, 14 Januari 2017

Obama dan Empati dalam Keberagaman

Obama dan Empati dalam Keberagaman
Anna Christi Suwardi ;  Peneliti Pusat Paramadina Jakarta;
Alumnus S-2 Hubungan Internasional UGM Jogjakarta;
Kini menempuh S-3 studi ASEAN di Naresuan University Thailand
                                                    JAWA POS, 13 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

”Our youth and drive, our diversity and openness, our boundless capacity for risk and reinvention mean that the future should be ours.”
”You believe in a fair, just, inclusive America….”
(Presiden AS Barack Obama, 10 Januari 2017)
.
Mendengarkan pidato terakhir Barack Obama sebagai presiden ke-44 Amerika Serikat (AS) mengingatkan saya pada salah satu petuah Gur Dur yang mengatakan, ”Bukankah dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa menerima perbedaan pendapat dan asal muasal bukanlah tanda kelemahan, tapi menunjukkan kekuatan.”

Tidak diragukan lagi, pemimpin yang besar adalah sosok yang mampu merangkul seluruh warga negaranya dari berbagi spektrum identitas. Dengan prinsip dasar kesetaraan, keadilan, dan inklusivitas, negara selayaknya menyadari pentingnya people power yang menjadi sumber daya paling realistis untuk kekuatan dan keberlangsungan suatu bangsa.

Pidato perpisahan Obama di Chicago sarat makna yang sangat menyentuh dan menyita perhatian. Dia merangkum kaleidoskop delapan tahun kepemimpinannya secara apik dengan menanamkan optimisme tidak hanya kepada warga AS, tapi juga seluruh manusia.

Satu hal yang menonjol dari isi pidato Obama adalah perihal keberagaman. Isu-isu seputar pengungsi, imigran, ras, dan diskriminasi sempat menguat di AS, terutama sepanjang musim Pemilu 2016. Dengan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden menggantikan Obama, banyak pihak mengkhawatirkan problematika dan sentimen sosial akan memburuk di AS dan dapat berdampak hingga ke luar AS.

Obama mengingatkan bahwa manfaat demokrasi dapat mengantarkan kejayaan suatu negara manakala warga negaranya tidak sekadar menyepelekannya. Terlebih, demokrasi tidak pernah menuntut keseragaman (uniformity), tapi memerlukan kompromi-kompromi di mana solidaritas menjadi basis utama untuk mengikat perbedaan menjadi satu kesatuan kekuatan yang solid.

Menyinggung soal isu imigran dan pengungsi, Obama menegaskan bahwa dengan berpegang pada prinsip HAM, sudah semestinya AS bersikap terbuka menerima mereka dengan berbagai latar belakang identitas. Sebab, alih-alih dianggap sebagai ancaman kestabilan domestik, para pendatang tersebut jika dikelola dengan baik justru akan menjadi potensi garda tenaga kerja yang mempercepat laju perekonomian nasional AS.

Demikian pula halnya soal isu ras dan agama. Dengan lantang Obama menyampaikan, ”… oleh karena itu, saya menolak diskriminasi terhadap muslim Amerika….untuk memperluas demokrasi, dan HAM, hak perempuan, dan hak LGBT….” Pernyataan Obama itu selaras dengan konsep Responsibility to Protect (R2P) yang sejak 2005 digalakkan PBB. Pidato Obama menjadi refleksi atas pentingnya menentang segala bentuk kekerasan terhadap kemanusiaan.

Menanam Empati

Sebagai presiden pertama AS berketurunan Afro-Amerika, Obama memang memiliki magnet berbeda dibanding presiden-presiden AS sebelumnya. Latar belakang perpaduan ras yang diwarisi Obama menjadikannya sosok yang lebih ramah terhadap pluralisme. Saat terpilih pada 2008, banyak harapan ditumpukan ke pundak Obama untuk wajah Amerika yang lebih demokratis, terbuka, dan mengayomi minoritas.

Sempat mencicipi kehidupan Jakarta pada masa kecilnya, Obama menjalankan administrasi kepemimpinan tidak melulu berkiblat pada kekuatan militer dan perekonomian (ala mayoritas pemimpin AS). Dia juga lebih banyak mengusung gagasan kemanusiaan. Hal tersebut dapat dilihat dari sederet manuver kerjanya, misalnya Obama Care untuk urusan pendidikan, sosial, dan kesehatan. Juga merombak sistem imigrasi AS dengan melegalkan 44 persen imigran, mempromosikan hak kebebasan beragama dan beribadah, mendorong kesetaraan gender, memperkuat kapasitas pemuda, serta menekan tindakan kekerasan dan rasisme.

Dari Obama kita belajar bahwa tautan (attachment) dan pelibatan (engagement) nilai dan norma sosial menjadi fondasi untuk kepemimpinan yang santun dan berwibawa. Obama menerapkan empati dalam gaya kepemimpinannya. Rasa kepedulian dan keberpihakannya kepada rakyat bawah dan kalangan minoritas membuatnya lekat di hati rakyat AS dan memesona di berbagai penjuru dunia.

Obama mengatakan ”hati harus berubah”, lalu mengutip fiksi Atticus Finch: ”You never really understand a person until you consider things from his point of view…until you climb into his skin and walk around in it.” Hanya dengan berusaha masuk lewat pikiran, mata, telinga, dan perasaan orang lainlah, kita akan mampu menjadi pribadi yang memahami satu sama lain. Di sinilah terletak esensi kepemimpinan empatik yang dibawakan Obama. Dengan saling berkepemahaman yang baik, kerja sama dan berbagai kinerja positif dapat dilakukan sejalan dengan hasanah kehidupan demokratis yang diagungkan Amerika.

Obama juga menekankan, dalam rangka menjalankan prinsip-prinsip; penegakan hukum, HAM, kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, dan kemerdekaan pers; dibutuhkan generasi-generasi yang bermental kemanusiaan dan terbuka dengan perbedaan. Sebab, jika tidak, Obama menambahkan, ”Itu mewakili ketakutan atas perubahan, ketakutan terhadap orang yang berpenampilan, berbicara, dan beribadah berbeda, …intoleransi atas perbedaan pendapat dan pemikiran.”

Meski masih dibumbui dengan beberapa protes dan hal-hal problematis yang belum terselesaikan, rasanya layak menyematkan pujian pada kepemimpinan Obama. Maka tidak mengherankan jika Obama menutup episode serial pengabdiannya kepada AS dengan tangis haru dan pelukan hangat dari rakyatnya. Bukan hanya itu, saya yakin para pembela hak perempuan, aktivis LGBT, serta minoritas ras dan agama di seluruh dunia juga angkat topi sebagai simbol apresiasi atas kepemimpinan Obama yang karismatis dan memanusiakan manusia. ●