Sabtu, 07 Januari 2017

Merajut Kebhinnekaan dan Menangkal Radikalisme

Merajut Kebhinnekaan dan Menangkal Radikalisme
Otjih Sewandarijatun  ;   Mantan Direktur Komunikasi Massa LSISI Jakarta; Alumnus Universitas Udayana, Bali
                                                  DETIKNEWS, 06 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Globalisasi menyebabkan kaburnya batasan antar negara. Pasca perang dingin yang dimenangkan blok barat, AS menjadi negara super power yang mampu mengintervensi negara lain pada awalnya dengan menggunakan empat isu yakni demokratisasi, lingkungan hidup, HAM dan terorisme.

Dan dalam perkembangannya ditekankan pada tiga isu strategis dan 'lebih seksi' yaitu pangan, air bersih dan energi. Dalam menanamkan pengaruhnya di negara berkembang, negara adidaya menggunakan proxy war dan asimetris dengan memanfaatkan pihak ketiga.

Kondisi Indonesia saat ini sedang diuji. Pada masa Orba, penegakan hukum dapat dilakukan dengan cara represif menggunakan UU Subversi, namun saat ini setelah UU Subversi dicabut, maka penegakan hukum harus didasarkan pada proses hukum dan perundangan yang masih berlaku. Dengan terkendalanya penegakan hukum, maka paham-paham yang masuk melalui globalisasi sangat mudah berkembang, termasuk terorisme.

Terorisme dan radikalisme semakin mudah masuk ke semua negara termasuk Indonesia, akibat kemajuan media sosial (medsos) yang tidak terbendung, namun di sisi yang lain kedewasaan dalam menggunakan medsos secara bijaksana belum tersublimasi dalam masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda yang menjadi sasaran 'proxy-war' di era "an information edge" sekarang ini.

Anak Muda, Terorisme dan Radikalisme

Pada bulan September-November 2016, International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) bekerja sama dengan Jaringan Gus Durian Indonesia melakukan dua kegiatan. Pertama, merekam persepsi anak muda terhadap radikalisasi agama dan ekstremisme dengan kekerasan melalui survei. Kedua, mengetahui narasi besar ekstremisme, memahami pesan-pesan kunci ekstremisme, dan mengetahui pola penyebaran pesan ekstremisme melalui pemetaan internet dan media sosial.

Survei dilakukan dengan wawancara/tatap muka langsung dengan 1.200 responden terpilih di 6 kota besar Indonesia yaitu Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Pontianak dan Makassar. Responden adalah orang muda usia berumur 15-30 tahun dengan perbandingan jenis kelamin berimbang 50% laki-laki dan 50% perempuan dan menggunakan metode Proportionate Stratified Random Sampling (sampling error 2.98% dengan tingkat kepercayaan 95%).

Dari survei ditemukan mayoritas generasi muda (88,2%) sangat tidak setuju dengan kelompok agama yang menggunakan kekerasan, sementara generasi muda yang setuju dengan kelompok agama yang menggunakan kekerasan hanya sebesar 3,8%, sisanya 8 % tidak tahu dan tidak menjawab. Alasan tidak setuju karena tidak sejalan dengan nilai-nilai agama (44,3%), tidak berperikemanusiaan (18,1%), membuat agama ternodai (16,7%) serta melanggar hukum (9,7%).

Dari sisi persepsi dan sikap toleransi generasi muda, 55% responden tidak setuju pembenaran pembakaran Masjid Tolikara, Gereja di Aceh, Vihara di Tanjung Balai karena dianggap tidak menghormati pemeluk agama mayoritas. Temuan lainnya, dari 1.200 responden, 10,9% sangat tidak setuju dan 57% tidak setuju pandangan "lebih baik mempunyai pemimpin yang dianggap koruptor ketimbang dipimpin oleh non-muslim". Dari aspek pemberian ucapan selamat saat hari raya besar agama, 40,7 % responden muslim setuju bahwa ucapan selamat kepada pemeluk agama lainnya tidak melanggar syariat Islam, sementara 39,1% berpendapat sebaliknya.

Dalam aspek nasionalisme, 94,5% responden merasa bangga sebagai Warga Negara Indonesia. 29,7% mereka bangga karena keragaman suku dan agama yang saling menghormati, 26,8% bangga karena masyarakatnya yang saling membantu, 15,3% bangga karena alamnya yang indah dan bervariasi gunung laut, 8,4% karena negara yang damai dan melindungi warganya, sementara sisanya menjawab lain-lain dan tidak tahu/tidak menjawab.

Pemetaan Internet dan Medsos

Masih mengacu ke hasil survei INFID dan Jaringan Gus Durian Indonesia, dari hasil pemetaan internet dan media sosial, secara khusus dilakukan untuk mengetahui narasi utama ekstremisme, memahami pesan-pesan kunci ekstremisme, dan mengetahui pola penyebaran pesan ekstremisme. Penelitian dilakukan pada periode 26 Oktober-26 November 2016. Pemetaan dilakukan dengan mengamati situs media online, media sosial (twitter, Instagram, dan facebook), aplikasi pesan pribadi (whatsapp dan telegram), serta Youtube.

Mengikuti platform media sosial yang beragam, cara pengambilan data disesuaikan dengan karakteristik masing-masing platform. Pada platform media sosial seperti Instagram, facebook, dan twitter proses pengambilan data dilakukan dengan bantuan alat pencari (peranti lunak) yang didesain khusus untuk pemetaan ini. Dengan menggunakan kerangka dari ICCT (The International Centre for Counter-Terrorism), ditetapkan beberapa kata kunci dari assesment manual di tahap awal. Beberapa kata kunci yang paling sering muncul adalah kafir, sesat.

Framing Analysis Narasi Utama dan Pesan Kunci

Secara umum dapat disimpulkan bahwa pesan-pesan kunci yang beredar di berbagai platform media sosial dan website membawa narasi utama yang sama, yaitu bahwa umat Islam selama ini diperlakukan tidak adil serta mendapatkan ancaman dan serangan dari pihak luar (liyan). Sebagai respons terhadap situasi tersebut, seruan jalan keluarnya adalah kembali menegakkan atau menjalani hukum Islam secara utuh dari level individu hingga negara dan melakukan perlawanan terhadap kelompok yang dianggap mengancam tersebut.

Pijakan motivasionalnya adalah bahwa hal-hal yang harus dilakukan tersebut merupakan perintah atau kewajiban agama yang tidak boleh dibantah. Narasi utama ini diturunkan dalam beberapa pesan kunci, seperti tolak demokrasi, penyesatan dan pengkafiran, dan lain-lain.

Kecenderungan lain yang tertangkap dari sebaran pesan-pesan kunci adalah menguatnya pendekatan tafsir tunggal atas Islam. Semisal mengenai penampilan yang dilabel Islami, atau tafsir atas ayat-ayat Kitab Suci. Ini bertolak belakang dengan kearifan para pemimpin umat Islam di Indonesia yang pada umumnya menghormati perbedaan mazhab dan pendapat.

Meskipun semakin menguat di media sosial dan platform social networking, pesan-pesan ekstremisme ini belum menguasai pandangan arus utama publik Indonesia. Hal ini selaras dengan temuan survei persepsi orang muda tentang tindakan radikal. Dengan mengetahui narasi utama dan pesan-pesan kunci ekstremisme, serta menyelaraskannya dengan modal sosial kita yaitu kepercayaan anak muda terhadap Pancasila dan semangat kebangsaan, kita dapat menentukan langkah-langkah menahan lajunya gelombang radikalisme dan ekstremisme di Indonesia.

Menurut Beka Ulung Hapsara, Manajer Advokasi INFID, Indonesia masih bisa optimis dengan sikap generasi muda yang ada karena mayoritas anak muda tidak menyukai tindakan radikal dan ekstrem berbasis agama meski ada kecenderungan penurunan toleransi di kalangan anak muda. Di sisi yang lain, nilai-nilai kebhinnekaan masih menjadi faktor utama yang membuat anak muda bangga akan Indonesia dan pemersatu generasi muda. Di samping itu, bagaimana para ulama mentransferkan ajaran agama Islam sebagai agama mayoritas secara benar, bijaksana dan menekankan kepada ajaran agama Islam yang substansialis kepada generasi muda kita.

Hal ini penting sebab dalam perspektif agama, terdapat dua pola Islam memandang agama yakni, pertama dengan cara strukturalis artinya mengedepankan simbol-simbol formal seperti syariat Islam dan negara Islam, sehingga dinyatakan bahwa perlu pendirian negara Islam terlebih dahulu. Cara pandang kedua yakni substansialis artinya memandang substansi dengan memahami bahwa menjalankan syariat Islam tidak harus dengan adanya negara Islam.

Ulama di Indonesia umumnya memandang Islam dengan substansialis, namun dengan adanya arus globalisasi, muncul paham-paham dari kelompok puritan yang menyebabkan agama terdistorsi, sehingga timbul kelompok yang sering mengkafirkan kelompok lainnya, sikap intoleran hingga munculnya kelompok teror. Sekali lagi, para pemangku kepentingan dan para pembuat kebijakan di Indonesia harus segera membuat "grand scenario and story strategy" menghadapi serbuan ajakan bergabung kelompok teror yang tersebar di berbagai media sosial.

Salah satu cara membuat grand scenario and story strategy di medsos yang bagus dan efektif adalah mempelajari berbagai hasil survei, mengajak diskusi berbagai komunitas netizen dan pakar di bidang komunikasi sosial dan komunikasi massa. Hanya dengan pelibatan mereka yang profesional dan memiliki jejaring kerja yang luas, maka langkah kita mencegah anak muda bangsa bertindak radikal akan tereliminasikan. ●