Rabu, 04 Januari 2017

Mengapa RI Kalah dari Thailand?

Mengapa RI Kalah dari Thailand?
Suyoto Rais   ;   Ketua Umum Formasi-G (Forum Masyarakat Indonesia Berwawasan Global);  Anggota Dewan Pakar IABIE (Ikatan Alumni Program Habibie)
                                                    JAWA POS, 02 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

KEKALAHAN Indonesia dalam ajang Piala AFF 2016 dari Thailand masih terasa menyakitkan. Bahkan membuat insan Indonesia putus asa karena selama ini kita selalu dikalahkan Thailand. Thailand mampu lima kali menjadi juara AFF, sedangkan kita hanya runner-up. Kalau kita amati, kekalahan kita dari Thailand di kancah global tidak hanya terjadi di lapangan sepak bola.

Cobalah kita lihat beberapa perbandingan dua negara ini. Dari 11 indikasi perbandingan yang bisa dikaitkan dengan tingkat daya saing ini, angka Indonesia hanya lebih besar di lima indikasi pertama, selebihnya milik Thailand di indikasi yang justru menentukan. Angka produksi dan penjualan mobil, misalnya. Pasarnya lebih besar Indonesia, tetapi kita kalah dalam jumlah produksi. Artinya, Thailand berorientasi ekspor, sedangkan Indonesia lebih hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Kalah Gesit Menarik Investor

Lebih-lebih dalam hal kegesitan menarik investor asing, banyak indikasi yang membuktikan ketertinggalan kita dari Negeri Gajah itu. Kita lihat Jepang yang merupakan tujuan ekspor utama dan investor terbanyak di kedua negara tersebut. Sampai dengan dekade 90-an, Indonesia masih di atas Thailand. Tetapi, sejak 2000-an kita telah disalip dan cenderung melebar.

Hal yang sama terjadi pada angka ekspor ke Jepang. Dulu Indonesia berada jauh di atas Thailand dan sampai 2010 kita masih masuk sepuluh negara importer terbesar di Jepang. Tetapi, pada tahun terakhir 2015, kita sudah tidak berada di sepuluh besar, sedangkan Thailand masuk di nomor 8. Lagi-lagi kita disalip Thailand. Karena itu, kalau melihat angka ekspor-impor bilateral kedua negara, sangat wajar kalau angka surplus menjadi milik Thailand. Faktor Kekalahan dan Harapan Berdasar data-data, sebenarnya Indonesia pernah menang dari Thailand hingga 1990-an. Tetapi, dalam perjalanan waktu kemudian, mereka telah melampaui kita.

Tentu masalahnya sangat kompleks dan tidak mudah disimpulkan.
Menurut penulis, minimal ada tiga faktor kekalahan kita. Pertama, kita lengah dan tidak bisa memahami kekuatan lawan-lawan kita. Gesekan internal juga meningkat pasca dibukanya keran pendirian partai-partai baru dengan bebas dan kelompokkelompok yang notabene selalu memprioritaskan kelompok sendiri.

Buat orang-orang Indonesia umumnya, mungkin hal itu dianggap dinamika yang wajar karena iklim yang lebih bebas dan demokratis. Tetapi, bagi para pesaing kita, itu adalah kesempatan emas untuk menyalip di tikungan. Pemerintah pasti selalu berkata sudah berusaha maksimal dan kita berkembang baik. Namun, kalau mau melihat lebih objektif, memang benar kita sudah berjalan ke depan, tetapi para tetangga kita sudah berlari.

Faktor kedua, kita kekurangan negosiator/promotor yang mampu ’’menjual’’ Indonesia di kancah global. Para diplomat dan ujung tombak promosi produk-produk Indonesia di luar negeri umumnya dipenuhi mereka yang berpengalaman sebagai administrator dan birokrator. Sedikit sekali yang berpengalaman sebagai profesional bisnis yang tahu apa yang harus dilakukan terhadap para calon pembeli.

Dalam contoh di Jepang, Thailand punya empat kantor cabang Thai Trade Center Japan (http://japan. thaitrade.com/), kepanjangan tangan Ministry of Commerce of Royal Thai di Jepang. Sementara itu, Indonesia hanya punya satu ITPC (Indonesia Trade Promotion Center), kepanjangan tangan Kemendag di Osaka (http:itpc.or.jp).

Kalau mau tata cara promosi dan kinerja di dalamnya dibandingkan, kekalahan kita semakin terlihat jelas. Misalnya, lihat dua website itu. Tanpa mengerti bahasa Jepang pun, Anda segera tahu bahwa isi dan cara promosi Thailand lebih mengena serta diminati publik Jepang.

Ketiga, terlalu banyaknya trader atau broker yang tidak memberikan nilai tambah pada produk yang dijual. Itu terjadi di mana-mana dan kadang melibatkan orang dalam yang untouchable sehingga rantai produk sampai ke pemakai akhir makin panjang dan harganya makin mahal. Bahkan, gas yang di salah satu produsen terkemuka dunia ini bisa lebih mahal jika dibandingkan dengan negara lain yang impor dari kita (detik.com, 21 Desember 2016). Hal itu masih ditambah biaya logistik di Indonesia yang lebih mahal. Karena itu, tidak heran kalau para importer dan buyer lebih senang membeli barang-barang dari Thailand daripada Indonesia. Tanpa bermaksud mendiskreditkan para diplomat dan promotor Indonesia di luar negeri, harus diakui, kita sudah kalah banyak dari Thailand.

Selama seperempat abad berada di luar Indonesia, saya tahu banyak apa saja kekalahan kita. Saya pun ingin ikut memberikan usul solusi penyelesaiannya. Namun, ketika saya menawarkan untuk duduk bersama mendiskusikannya, hampir semua pihak pemerintah, baik pusat maupun daerah, menolak. Mereka tidak biasa menerima kritik. Itu alasan utamanya. Kalau kita melihat hasil saat ini, saya merasa pasti ada sesuatu yang perlu dikritisi sambal mencari solusinya.

Tetapi, saya masih punya harapan. Ke depan, suatu saat Indonesia mampu kembali berjaya di ASEAN, minimal kembali mengalahkan Thailand. Saya yakin orang-orang di pemerintahan dan para pejabat nanti, pelan tapi pasti, menyadari atau mau menerima masukan mengenai kelemahan diri sendiri agar bisa memperbaikinya. Kalau tidak bisa berubah, waktulah yang akan mengubah orang-orang itu. Musuh kita bukanlah sesama insan Indonesia, tetapi globalisasi dunia yang harus disikapi dengan benar agar menjadi anugerah, tidak malah bikin gerah. Semoga. ●