Selasa, 17 Januari 2017

Bernyanyi

Bernyanyi
Samuel Mulia ;  Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                      KOMPAS, 15 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Tepat di hari Natal dan beberapa hari sebelumnya, saya menghadiri ibadah Natal. Dalam ibadah itu disuguhkan paduan suara yang merdu nan menggelegar, yang membuat saya berkata dalam hati, mengapa mereka tak ikut kompetisi menyanyi bergengsi sejagat raya. Saya kok yakin mereka bisa keluar sebagai juara utama.

Air muka

Tulisan di hari Minggu ini bukan karena saya terinspirasi suara luar biasa itu, tetapi melihat mimik para penyanyi saat melantunkan lagu penuh kegembiraan itu. Mimik yang terlihat begitu kaku, terlihat tegang, bahkan tersenyum saja pun tidak.

Padahal, mereka sedang melantunkan pujian yang menurut pendapat saya bukan hanya untuk jemaat yang tengah mendengarkan, melainkan juga untuk Tuhan yang sudah mengaruniakan mereka suara yang membuat merinding itu.

Saya memang bukan penyanyi. Teman saya saja menutup telinga, bahkan menyarankan untuk berhenti kalau mendengar saya menyanyi. Tetapi, satu hal yang bisa saya rasakan, pujian-pujian dahsyat itu sepertinya tak dilantunkan dari hati. Suara yang menggelegar itu hanya datang dari pita suara yang ciamik, dan bukan dari hati yang memang bergembira.

Di saat menyaksikan dan mendengarkan paduan suara itu, saya berpikir, mengapa itu bisa terjadi? Mengapa lagu gembira bisa dilantunkan dengan wajah tanpa senyum? Apakah karena hatinya lara, tetapi kewajiban bernyanyi tetap harus dilakukan?

Apakah mungkin mereka hanya menyanyi karena sebuah kewajiban, dan sama sekali tak ditujukan untuk siapa-siapa, atau mungkin juga mereka tak bisa tersenyum, karena susah melakukannya sambil menyanyi.

Atau mungkin mereka berkonsentrasi penuh karena takut salah menyanyi, takut salah melafalkan liriknya, takut kalau suara mereka tidak bisa kompak, takut dimarahi oleh pimpinannya kalau membuat kekeliruan karena akan memalukan, apalagi di hari istimewa.

Atau di saat mereka melantunkan lagu-lagu merdu itu, sejujurnya setiap anggota sedang bersaing ingin menunjukkan suara terbaik mereka, sehingga setiap orang berkonsentrasi bersaing dan bukan fokus untuk bernyanyi bersama dengan riang dan dengan gembira. Sungguh saya tak tahu mengapa hal itu bisa terjadi.

Ketar-ketir

Beberapa hari kemudian saya menceritakan dua kejadian di atas kepada seorang teman yang cukup dekat, tetapi bukan sahabat. Saya ini sudah hidup sekian puluh tahun tak pernah punya sahabat. Saya tak pernah menyukai persahabatan, tetapi lebih cocok dengan pertemanan.

Karena pengalaman telah mengajari, persahabatan itu membuat seseorang cenderung merasa punya hak untuk memiliki dan berkuasa atas persahabatan itu. Dan buat saya, itu sama sekali tidak sehat. Saya sungguh angkat topi buat mereka yang bisa bersahabat berpuluh tahun lamanya.

Setelah selesai mendengarkan cerita atas kejadian di atas, teman saya berkomentar. Komentarnya tak berbeda dengan belati tajamnya. "Pertama-tama aku mau minta maaf kalau pendapat aku bakal nyakitin kamu. Tetapi aku yakin kamu masih waras untuk menerima ini, bahkan kalau kamu benar-benar tersinggung."

"Sebetulnya kamu juga sama aja, gak ada bedanya. Mereka bernyanyi dengan muka yang kaku, yang gak tersenyum, dan yang meminjam istilahmu menyanyi bukan dari hati, dan kamu ngejalanin hidup juga banyak menggerutunya, gak ada senyumnya, kamu melihat hidup dengan kekakuan yang sangat. Makanya kamu itu kenapa sukanya protes, karena kamu melihat orang bisa hidup enggak kaku, sementara kamu gak bisa."

"Kamu melantunkan nyanyian kehidupan aja dengan lirik yang paling kasar dan penuh dengan keluhan. Belum lagi kalau uda lihat kamu membanting telepon genggam sampai pecah. Ya, kan? Mereka bernyanyi pakai muka kenceng, kamu nyanyi pakai mulut kagak sekolahan."

Ia tetap bercerita meski tingkat ketersinggungan saya sudah mulai sedikit meninggi. "Kamu mau tahu lirik macam apa yang kamu dendangkan dari mulut dan lidahmu yang tak bertulang itu? Dengerin..."

"Nyanyian kamu itu terlalu banyak lirik yang sumbang. Kamu bilang paduan suaranya terlalu berkonsentrasi karena takut salah, takut ini, takut itu. Lah, kamu? Sama aja, ciinnnn. Kamu itu ngejalanin hidup dengan menghabiskan energi berkonsentrasi dengan ketakutan, dengan ketar- ketir. Takut mati, takut sakit, takut miskin, takut dollar naik, takut kagak laku. Meski maaf, kamu emang sampai sekarang kagak laku-laku."

"Ngapain berdoa siang malam kalau kamu kuatir siang malam? Ngapain berdoa kalau kamu bersaing untuk mengalahkan seseorang? Emang isi doa kamu itu kayak gitu, ya? Kamu tahu enggak sih, bahwa hidup ini bukan sebuah perlombaan, tetapi sebuah lahan luas yang kamu bisa nikmati dengan nyanyian kehidupanmu sendiri?"

"Jadi, ya, bro, kalau paduan suaranya merdu nan menggelegar tetapi menurut elo tidak dinyanyikan dari hati sehingga tak ada senyum di bibir, sekarang coba lihat aja bibir elo sendiri. Bibir elo itu emang menggelegar sih. Menggelegarkan kekhawatiran." ●