Minggu, 27 Desember 2015

Menghadapi Tahun Depan secara Lebih Cerah

Menghadapi Tahun Depan secara Lebih Cerah

  Agustine Dwiputri  ;  Penulis Kolom “PSIKOLOGI” Kompas Minggu
                                                      KOMPAS, 27 Desember 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Setahun telah hampir berlalu, banyak peristiwa hidup yang kita jalani. Ada banyak kesedihan dan pengalaman berduka yang telah kita peroleh. Tulisan ini bermaksud fokus pada cara memaknai dan melalui masa-masa sulit agar dapat menghadapi masa depan dengan lebih ringan.

Di dalam buku A time to Grieve, Carol Staudacher (1994) memaparkan berbagai pandangan dan proses dari pengalaman para penyintas (survivor) yang telah berhasil memulihkan rasa berdukanya akibat kehilangan orang-orang yang dicintainya. Meski latar belakang para penyintas berbeda-beda dan cara ditinggalkan orang yang mereka sayangi juga beragam, mereka semua mempunyai satu pengalaman yang sama, yaitu perasaan kehilangan mendalam setelah kematian orang yang mereka cintai. Dijelaskan lebih lanjut oleh Staudacher, bahwa berduka adalah proses melepaskan, menemukan, dan menyembuhkan. Hal ini tak bisa dilakukan hanya dengan menggunakan pikiran. Otak (pikiran) harus mengikuti hati (perasaan) dengan suatu jarak yang menunjukkan adanya penghormatan atau penghargaan.

Berikut beberapa cuplikan dari bukunya yang menurut saya penting untuk kita renungkan bersama.

Cemas akan masa depan

Melalui kedukaan kita sering melihat hari-hari yang ada di depan kita sebagai sesuatu yang mencemaskan, ada suatu tembok tebal menghadapi masa depan yang harus dilewati agar bisa terus melanjutkan perjalanan hidup. Padahal, sebenarnya tidak demikian karena ternyata masa depan adalah serangkaian peluang yang datang suatu hari pada suatu waktu.

Seorang wanita penyintas mengatakan, ”Saya menemukan cara terbaik untuk mencerahkan pandangan saya tentang hidup dengan melakukan hal ini. Pertama, saya membuat upaya sadar untuk melakukan sesuatu bagi diri sendiri setiap hari. Ini biasanya berupa hal kecil yang benar-benar hanya untuk kesenangan saya sendiri. Suatu hari saya akan membeli susu cokelat di kafe toko buku dan membaca buku selama satu jam. Malam berikutnya saya akan mandi berendam sambil mendengarkan musik, atau membeli seikat bunga untuk diri sendiri, atau menelepon teman yang sudah lama tak ketemu. Atau apa saja.”

Kemudian dia juga membuat tujuan untuk melakukan sesuatu bagi orang lain. ”Kami penyintas perlu ingat bahwa ada orang lain yang juga tengah terluka/bersedih. Tidak perlu pemikiran genius untuk mencari tahu suatu hal yang dapat Anda lakukan untuk membuat hari lebih baik bagi orang lain. Semua itu tidak perlu menghabiskan banyak waktu atau uang.” Kemudian dia menjelaskan bahwa dia menggunakan perilaku berhadiah ini untuk dirinya sendiri dan orang di sekitarnya agar dirinya terguncang lepas dari perasaan putus asa dan kesedihan. ”Sebelum menyadari itu, saya secara dramatis telah mengubah nada hidup saya.”

Dengan terlibat dalam tindakan-tindakan kecil untuk menghargai diri sendiri dan orang lain, kita dapat mengganti perasaan cemas atau putus asa yang kita rasakan dengan suatu imbalan pribadi dan kompetensi.

Berharap ada kesempatan lagi

Ketika kita melalui kedukaan yang terburuk dan berhenti sejenak untuk melihat kembali kehidupan di mana kita telah berbagi dengan orang tercinta, kita mungkin masih menemukan diri kita merasa menyesal untuk sesuatu yang belum sempat dilakukan bersama atau menyesal untuk tidak membuat sebuah langkah yang diinginkan. Misalnya, untuk tidak mengambil liburan bersama-sama, untuk tidak mengalami masa menjadi orangtua, untuk tidak menghadiri acara olahraga atau konser musik yang disenanginya, atau untuk tidak mengambil bagian lebih aktif dalam kehidupan saudara kita. Ini adalah suatu jenis refleksi menyakitkan yang paling melibatkan penyintas dari masa ke masa.

Memiliki penyesalan hingga tingkat tertentu dapat dimengerti, tetapi mengapa kita tidak membuat pilihan untuk melihat kembali kehidupan dengan intensitas yang sama pada keberhasilan, pertemuan berharga, atau saat-saat menyenangkan lainnya? Mengapa tidak menyeimbangkan hal-hal positif terhadap kesempatan yang dirasa hilang tadi? Mengapa tidak mengakui bahwa tidak ada kehidupan siapa pun yang dapat berlangsung terus menyenangkan atau selalu menyedihkan? Tidak berarti dalam kehidupan semua kesempatan hilang, seperti halnya tidak ada kehidupan di mana semuanya hanya berisi prestasi dan kesenangan.

Kesedihan bisa mengajarkan banyak

Pada awal proses berduka, kita hanya berpikir tentang melalui masa-masa itu, bertahan terhadap kehilangan orang yang kita cintai dan keluar dari pengalaman tersebut tanpa menyerah atau menjadi gila. Kita tidak berpikir bahwa kesedihan dapat mengajarkan sesuatu. Kita tidak tahu ataupun peduli bahwa hal itu secara diam-diam akan mendidik kita, membuat kita belajar banyak. Tetapi ternyata kemudian hal itu terjadi.

Satu hal paling penting yang kita pelajari adalah bahwa kita memiliki berbagai sumber daya dalam diri kita yang kita tidak ketahui sebelumnya. Sumber daya ini, begitu terbuka akan terus membantu kita sepenuhnya sepanjang sisa hidup kita.

Para penyintas juga mengembangkan suatu kearifan unik yang datang hanya sebagai akibat dari kehilangan. ”Kami mengenali ini baik pada saat berbicara dengan kelompok pendukung, ketika bertemu dalam situasi sosial, atau ketika sama-sama bekerja.” Kita merasa sulit untuk mengartikan kearifan para penyintas ini kecuali dengan mengatakan bahwa itu ada hubungannya dengan menilai esensi kehidupan, memiliki pemahaman yang lebih jelas tentang tujuan hidup. Dan sekali didapat, ini adalah pengetahuan yang tidak ingin dibuang sampai kapan pun.

Dari beberapa suara para penyintas di atas, mungkin kita bisa memperoleh kekuatan, mengumpulkan harapan, menemukan keberanian untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, kegigihan melalui pelepasan kedukaan yang tengah berlangsung, dan bahkan menemukan kebebasan dari rasa nyeri secara emosional.

Selamat melanjutkan perjalanan hidup dan Selamat Tahun Baru 2016!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar