Selasa, 17 Januari 2017

Rombongan Pertama ke Neraka

Rombongan Pertama ke Neraka
AS Laksana ;  Sastrawan; Pengarang; Kritikus Sastra yang dikenal aktif menulis
di berbagai media cetak nasional di Indonesia
                                                    JAWA POS, 15 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kebodohan manusia, karena berpotensi menimbulkan masalah, sering dijadikan bahan lelucon oleh orang-orang yang pintar membuat kalimat. Kata Albert Einstein: Perbedaan antara bodoh dan genius adalah genius ada batasnya. Dalam kalimat yang sedikit lebih panjang, novelis Prancis Gustave Flaubert merumuskannya seperti ini: Kebodohan adalah sesuatu yang tidak tergoyahkan; kita akan remuk sendiri jika menghajarnya; ia seperti granit, keras, dan alot.

Ayatollah Khomeini, dengan otoritasnya sebagai pemimpin spiritual bangsa Iran, pernah menyampaikan bahwa orang-orang bodoh adalah rombongan pertama yang akan masuk neraka karena beberapa alasan. Saya ingat empat hal. Pertama, orang bodoh bisa menyakiti orang lain tanpa menyadari efek dari perbuatannya. Kedua, ketika berbuat salah, ia tidak tahu di mana kesalahannya dan tidak mampu memperbaiki diri sendiri karena kebodohannya. Ketiga, jika diberi saran yang baik, ia membantah. Keempat, ia mudah dikendalikan orang lain untuk membuat kerusakan.

Khomeini sedang memimpin Revolusi Iran waktu itu, dan dia menyadari bahwa sebuah revolusi niscaya tidak akan menghasilkan apa-apa jika masyarakat terus terbenam dalam kebodohan. Maka, yang harus diberi perhatian sepenuhnya adalah bagaimana membangun kesadaran baru dan meningkatkan kualitas mental orang banyak.

Dari kalangan intelektual muncullah Ali Syariati, dari kalangan ulama ada Murtadha Mutthahari. Keduanya saling melengkapi. Dan, Iran adalah peradaban yang setua Persia dalam sejarah bangsa-bangsa, sebuah peradaban yang gemilang pada masa lalu. Tetapi, apa makna masa lalu? Ada yang jauh lebih penting ketimbang menara yang menjulang di masa lalu, yakni sikap yang tepat dalam menghadapi situasi hari ini. Iran menunjukkannya ketika negeri itu menghadapi embargo ekonomi dari Barat.

Bertahun-tahun lalu seorang penjaga stan Iran pada pameran dagang di Kemayoran menyampaikan bagaimana mereka menghadapi kesulitan gara-gara embargo tersebut. Ia bilang, ’’Kami harus berterus terang kepada diri sendiri bahwa situasi sedang sulit. Para pemimpin kami menyerukan kampanye miskin dan meyakinkan warga negara bahwa kami bisa bangkit dari apa yang kami punya.’’

Saya terpukau mendengarkan penjelasannya. Stan Iran waktu itu hanya memamerkan jagung dan produk-produk turunannya; minyak jagung, tepung jagung, berbagai makanan dari jagung, dan sebagainya. ’’Ini yang kami punya,’’ katanya.

Kampanye miskin, penerimaan atas situasi yang sedang mereka hadapi, adalah keputusan politik yang memperkukuh solidaritas dan menggerakkan mereka untuk bangkit bersama-sama. Hal itu juga membuat para pejabat harus tahu diri untuk tidak meminta fasilitas-fasilitas mewah dari negara. Saya pernah membaca berita bahwa wakil presiden Iran memelopori berangkat ke kantor naik sepeda.

Sejalan dengan itu, masyarakat perfilman mereka melakukan pekerjaan luar biasa dan membawa kejutan ke dunia luar. Barat boleh mengucilkan Iran dalam urusan politik dan ekonomi, tetapi tidak mungkin melakukan embargo kebudayaan. Dimulai dari generasi Abbas Kiarostami, sineas-sineas Iran terus melahirkan film-film yang memukau masyarakat perfilman dunia.

Saya bukan pengamat Iran dan tidak memiliki banyak informasi tentang negara tersebut. Tetapi, percakapan dengan penjaga stan itu, berita tentang wakil presiden berangkat ke kantor naik sepeda, dan keberhasilan perfilman mereka selalu melekat di ingatan saya. Dalam hal itu saya mengagumi mereka dan mengharapkan hal serupa berlangsung di Indonesia.

Karena itu, saya merasa ada harapan baik ketika mendengar cetusan tentang revolusi mental saat kampanye Pemilihan Presiden 2014 dan berpikir itu akan dijalankan. Rupanya tidak.

Sampai sekarang, diakui atau tidak, secara mental kita tidak ke mana-mana. Dan, secara psikologis, kita terbelah dalam dua kutub ekstrem pemuja dan pembenci. Mungkin tiga, yang satunya adalah kubu penonton yang sesekali mencemooh, baik pemuja maupun pembenci.

Kebencian, Anda tahu, adalah emosi yang sulit disingkirkan. Dalam kasus kita hari ini, ia merupakan efek berkepanjangan dari suburnya kampanye hitam dan riuhnya persaingan antarkandidat yang begitu emosional. Saya pikir hanya politisi yang sanggup mengelola kebencian dengan baik.

Seorang politisi pada suatu saat bisa memperlihatkan kebencian sampai ke ubun-ubun kepada lawan politiknya. Tetapi, beberapa saat berikutnya dia sudah bisa berakrab-akrab lagi dengan orang yang sebelumnya dibenci, seolah-olah mereka adalah anak kembar yang saling menyayangi sejak dalam kandungan. Hanya politisi yang sanggup memuji setinggi langit orang yang dua bulan sebelumnya dia caci maki sebagai burung onta, atau kepala mafia, atau apa pun.

Dan, dia menikmati popularitas dengan menyuarakan kebencian; dia didukung secara militan oleh para pemujanya. Nanti, setelah para politikus kembali rukun, kebencian di kalangan rakyat jelata akan tetap bertahan. Seolah-olah kebencian adalah satu-satunya hal terbaik yang mereka punya. Jika harus dilepaskan, lantas apa lagi yang mereka miliki?

Para pembenci biasanya ngotot, dan ngotot adalah gejala umum pada orang-orang yang menolak prosedur berpikir, dan menolak prosedur berpikir adalah kata lain dari kebodohan. Ada satu lelucon lain: Tuhan kelihatannya mencintai orang-orang bodoh; Dia menciptakannya banyak sekali.

Sialnya, pemerintahan yang buruk melipatgandakan jumlah mereka, semata-mata karena tidak tahu bagaimana cara mencerdaskan warga negara. ●