Selasa, 17 Januari 2017

Membidik Lansia Jepang

Membidik Lansia Jepang
Suyoto Rais ;  Ketua umum Formasi-G (Forum Masyarakat Indonesia Berwawasan Global);  Anggota Dewan Pakar IABIE (Ikatan Alumni Program Habibie)
                                                    JAWA POS, 16 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SENIN lalu (9/1) Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyetujui permintaan Jepang untuk mengelola satu wilayah atau pulau di Indonesia buat peristirahatan para orang lanjut usia (lansia) Jepang. Harapannya, bisa mendongkrak jumlah wisatawan asing ke Indonesia yang ditargetkan sekitar 20 juta orang per tahun pada 2019.

Jumlah lansia Jepang, yakni mereka yang berusia 65 tahun ke atas, memang semakin bertambah. Menurut data terbaru yang dirilis Jepang pada September 2016, saat ini ada 34,6 juta orang lansia atau 27,3 persen dari seluruh penduduk Jepang. Persentase itu diprediksi masih akan bertambah karena harapan hidup orang Jepang juga terus naik, saat ini termasuk yang tertinggi di dunia: Perempuan 87 tahun dan pria 81 tahun!

Masalah penanganan lansia menjadi salah satu topik penting di Negeri Sakura. Mulai pengelolaan dan pembagian dana pensiun untuk mereka hingga penyediaan rumah-rumah jompo dalam jumlah banyak. Jepang juga mengimbau perusahaan-perusahaan di negaranya tetap mempekerjakan para lansia itu meskipun tidak full time lagi.

Jepang juga kekurangan tenaga perawat yang bisa mengurus keperluan para lansia. Karena itu, sejak 2008 Jepang menjalin kerja sama dengan Indonesia, Filipina, dan Vietnam untuk mengirimkan tenaga perawat. Selain itu, banyak lansia Jepang yang emigrasi ke negara lain.
Bersama kawan-kawan alumni Jepang lainnya, saya juga sudah cukup lama mendiskusikan masalah itu. Emigrasi Lansia Jepang
Program emigrasi lansia Jepang ke luar negeri sudah cukup lama dimulai. Negara-negara di ASEAN yang menjadi favorit mereka adalah (1) Malaysia, (2) Thailand, dan (3) Filipina. Di luar ASEAN, ada Australia, Selandia Baru, dan Hawaii.

Indonesia baru sebatas tujuan wisata dan tinggal untuk jangka waktu pendek. Itu pun kebanyakan di Ubud, Bali. Sebab, suasana kampung di sana mudah membuat mereka beradaptasi.

Malaysia yang menjadi lokasi terfavorit lansia Jepang saat ini memiliki beberapa rumah jompo khusus lansia Jepang. Malaysia memudahkan izin visa kepada mereka sehingga banyak orang Jepang dan keluarganya yang bebas keluar masuk. Jumlah lansia yang tinggal lebih dari setahun di Malaysia 10.000 orang, sementara jumlah wisatawan Jepang yang berkunjung setiap tahun lebih dari 6 juta orang, lebih dari 2 kali jumlah wisatawan Jepang ke Indonesia. Lagi-lagi kita harus akui, Malaysia lebih agresif untuk menarik minat orang Jepang. Meningkatnya kunjungan wisatawan Jepang itu ternyata juga berbanding lurus dengan kenaikan angka ekspor negeri jiran tersebut ke Jepang. Kalau pada 1990 hingga 2000-an Indonesia masih jauh di atas Malaysia, sekarang Malaysia merupakan negara pemasok kebutuhan hidup Jepang terbesar ke-7.
Sementara Indonesia yang menjadi terbesar ke-2 pada 1990 sekarang sudah tidak masuk 10 besar.

Instansi perwakilan pemerintah Malaysia di Jepang memiliki andil yang cukup penting. MIDA (Malaysian Investment Development Agency) dan MATRADE (Malaysia External Trade Development Corporation) saling mendukung untuk menjual produk, jasa, pariwisata, juga potensi investasi di negeri jiran tersebut. Untuk mengundang para lansia, Malaysia juga menggandeng beberapa pengelola rumah jompo dan biro travel besar di Jepang.

Thailand dan Filipina kurang lebih sama. Untuk bisa mendatangkan lansia, para perwakilan Thailand dan Filipina aktif menggandeng partner Jepang. Juga ada kerja sama G-to-G, baik level pusat maupun daerah masing-masing. Khusus di Filipina, ada kelebihan tenaga perawat yang pernah bekerja di Jepang. Perawat yang dikirim ke Jepang hanya dikontrak maksimal tiga tahun. Untuk bisa tinggal lebih lama, mereka harus lulus ujian bahasa Jepang dan berbagai materi keperawatan lain yang untuk orang Jepang sendiri sulit. Jadi, sebagian besar tenaga perawat itu pulang ke Filipina dan dimanfaatkan untuk mengundang orang-orang lansia Jepang ke Filipina. Kampung Jepang di Indonesia
Indonesia mestinya juga bisa tidak kalah oleh Malaysia, Thailand, dan Filipina. Juga, harus dibuat agar Indonesia tidak hanya dikenal karena Bali. Masih banyak lokasi potensial untuk dijadikan salah satu tujuan emigrasi lansia Jepang. Misalnya Solo-Jogja, Lombok, Jawa Timur bagian selatan, dataran tinggi di Jawa Barat dan Sumatera, Manado yang memiliki banyak spa alam, serta Makassar yang punya pemandangan laut indah. Juga Pulau Morotai yang jelas diminati Jepang.

Tentu tidak mudah membuat mereka mau tinggal dan betah di luar Jepang. Orang Jepang terkenal sangat mencintai negerinya. Mereka sudah terbiasa hidup dengan berbagai kepraktisan dan sistem yang nyaman di Jepang dan tidak mudah beradaptasi di negara lain. Lansia yang beremigrasi ke luar negeri juga memiliki banyak kendala.

Tetapi, orang-orang Jepang juga terkenal memiliki toleransi tinggi dan budaya menghargai orang lain yang luar biasa. Kalau kita bisa menyediakan fasilitas dan sistem yang baik dengan mempertimbangkan keinginan mereka, bukan tidak mungkin mereka mau tinggal di Indonesia sebagai penyumbang devisa negara yang potensial.

Salah satu cara untuk membuat lansia Jepang tertarik adalah membuat lokasi eksklusif. Misalnya kampung Jepang. Selain untuk tempat tinggal, di dalamnya dikembangkan area untuk beraktivitas sehari-hari. Misalnya tempat berolahraga ringan, bermain gateball, bersosialisasi, bahkan berkebun atau melakukan aktivitas produktif lain.

Indonesia juga bisa menggunakan mantan perawat ke Jepang yang sudah pulang. Kabarnya, tenaga perawat kita lebih disukai jika dibandingkan dengan perawat dari Filipina dan Vietnam. Konon lebih ramah dan lebih tulus dalam melayani para lansia. Minat terhadap Indonesia masih tetap tinggi. Sebab, bagaimanapun, kita adalah negara terluas dengan penduduk terbesar di kawasan ASEAN. ●