Kamis, 05 Januari 2017

Hoax yang Merusak Umat

Hoax yang Merusak Umat
Lukman Hakim Saifuddin  ;   Menteri Agama RI
                                                   REPUBLIKA, 04 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pertengahan November 2016 silam, saya meminta maaf dan meralat sebuah informasi yang saya kirim ke Twitter tentang pembatalan biaya visa umrah.

Kata maaf dan ralat segera saya sampaikan sebagai penebus kesalahan lantaran gegabah mencuit ulang informasi yang masih sumir substansi ataupun sumbernya. Segera pula saya sampaikan konfirmasi yang valid dari Kementerian Haji Arab Saudi.

Sejak itu, saya lebih berhati-hati dalam menerima, memilah, dan menebar informasi.

Teringat sebuah hadis Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Muslim: "Sesungguhnya Allah meridhai bagi kalian tiga perkara dan membenci kalian tiga perkara. Dia meridhai kalian agar beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukannya dengan sesuatu pun, kalian berpegang teguh dengan tali Allah, dan agar kalian tidak berpecah belah. Dan dia membenci bagi kalian qiila wa qaala, banyak bertanya, dan membuang-buang harta.

Di antara deretan kalimat di atas, ada satu istilah yang mungkin perlu penjelasan tersendiri. Yakni, kata qiila wa qaala. Karena itu, beberapa ulama memberikan keterangan khusus ihwal istilah itu dalam hadis tersebut.

Imam Nawawi dalam "Syarah Sahih Muslim" mendefinisikan qiila wa qaala sebagai berikut; turut campur dalam kabar orang lain, menyampaikan informasi yang tak diketahui sendiri, dan menceritakan semua yang ia dengar.

Secara teknis, istilah itu dapat diartikan mengabarkan informasi tanpa verifikasi atau menyebarkan desas-desus yang sumir. Pada akhir penjelasannya, Imam Nawawi menambahkan peringatan dari sebuah hadis yang berbunyi: "Cukuplah seseorang itu dikatakan berdusta tatkala menceritakan semua yang ia dengarkan."

Penjelasan hadis ini perlu diingat kembali dalam situasi sekarang ketika informasi hoax betebaran tak keruan. Terdapat sedikitnya empat macam hoax.

Pertama, mitos atau cerita berlatar masa lampau yang boleh jadi salah, tapi dianggap benar karena diceritakan secara turun-temurun. Kedua, glorifikasi dan demonisasi. Glorifikasi adalah melebih-lebihkan sesuatu agar tampak hebat, mulia, dan sempurna.

Sebaliknya, demonisasi adalah mempersepsikan sesuatu seburuk mungkin seolah tanpa ada kebaikannya sedikit pun. Ketiga, kabar bohong atau informasi yang diada-adakan atau sama sekali tidak mengandung kebenaran.

Keempat, info sesat, yaitu informasi yang faktanya dicampuradukkan, dipelintir, dan dikemas sedemikian rupa hingga menjadi seolah-olah benar. Di dunia komunikasi, ada istilah spin doctor untuk menyebut ahli pemelintiran komunikasi.

Informasi-informasi hoax menyalakan sinyal bahaya kerusakan umat. Sebabnya adalah hoax dapat memicu emosi tinggi yang berujung ketidakmampuan mengendalikan diri sehingga rentan bicara ngawur penuh caci maki.

Dari hoax pula bermulanya kerusakan akhlak berupa fitnah yang merajalela, ujaran kebencian sarat makian, dan olok-olok yang menohok. Sederet kalimat bisa menjadi bencana jika menyayat hati, seperti sembilu yang lebih perih ketimbang tusukan belati.

Hoax merupakan ramuan perusak otak yang menurunkan kemampuan nalar. Diciptakan pihak tertentu sebagai pengeruk keuntungan, racikan dan dosisnya bisa disesuaikan dengan keperluan.

Glorifikasi dan demonisasi, misalnya, biasanya digunakan secara berpasangan dengan sasaran ganda. Tujuannya, menciptakan loyalitas pada seseorang atau kelompok yang diglorifikasikan, dan pada saat yang sama menumbuhkan ketidakpercayaan terhadap pihak yang dikesankan busuk.

Kalangan politisi suka menggunakan model ini untuk memperkuat pengaruh terhadap simpatisannya, sekaligus menggerus basis konstituen lawannya. Bagi kalangan bisnis, model ini kadang digunakan untuk memantik konflik demi meningkatkan lalu lintas komunikasi yang dapat dikapitalisasi.

Sebagai produk komunikasi yang bertujuan mengubah perilaku, sebagian hoax berasal dari virus hiperealitas, sebagai gejala pengaburan realitas sehingga sering kali citra lebih dipercaya ketimbang fakta.

Publik terbuai pada simulasi-simulasi yang diciptakan media sehingga mudah menerima sesuatu sebagai kebenaran tanpa sempat mengujinya. Atau terpaksa menelan kepalsuan karena ketidakmampuan menangkap realitas.

Memasuki era digital, hiperealitas yang terus berulang berangsur memicu hipermoralitas atau hilangnya daya nalar dan batas moral. Penyebabnya adalah fatalitas komunikasi tiada henti: informasi-informasi tak penting dan serbatidak jelas berkembang biak cepat menyebar ke arah ekstrem, langsung menjejali otak.

Akibatnya, orang mudah mengumpat, menghujat, menyumpah serapah, bahkan membunuh dengan kata-kata.Hoax tumbuh subur dalam masyarakat yang gegar budaya teknologi informasi. Mereka menjadi sasaran empuk para produsen hoax karena doyan mengonsumsi informasi apa saja.

Pada masyarakat Indonesia yang guyub, hoax mudah menjamur karena ada kecenderungan diperbincangkan ulang. Hal ini disemai kurangnya sikap kritis. Publik mudah terpengaruh opini yang direkonstruksi dari sentimen emosi dan bukan fakta atau logika.

Sentimen itu pula yang menyebabkan sesama anak bangsa terjebak dalam peran sebagai netizen (warganet) yang saling mengancam. Musababnya banyak, tetapi didominasi kondisi internal kita sendiri. Selama ini kita kurang cepat beranjak ketika zaman telah jauh bergerak.

Dengan kata lain, kita telat mengantisipasi perkembangan zaman. Laju teknologi dan banjir informasi tak terbendung regulasi dan edukasi. Padahal, dua hal itulah sumber ketahanan budaya. Kita terlalu lama miskin literasi sehingga terkaget-kaget dengan air bah informasi.

Kita juga terlalu abai mengelola kekayaan negara sehingga hanya bisa marah ketika semua komoditas telah berpindah. Kita tak maju-maju karena tak kunjung mengejar standar mutu. Kita alpa meningkatkan kualitas religi untuk membentuk generasi yang berbudi.

Dan, kita lupa mengajarkan keanekaragaman sehingga gegar budaya ketika berhadapan dengan kelompok berbeda. Namun, perlu diingat, sejatinya hoax bukanlah semata produk zaman digital.

Pada akhir 1980-an, pernah beredar surat berantai yang diklaim berasal dari Habib Syekh, si penjaga makam Nabi. Isinya memperingatkan Muslimin yang menerima selebaran itu agar menyalin dan membaginya ke 10 orang lain.

Pada era 2000-an, surat ini beredar lagi lewat ponsel sebelum ramai SMS "mama minta pulsa." Jauh ke masa awal Islam sepeninggal Nabi SAW, kabar hoax telah menjadi sumber peristiwa yang dalam sejarah disebut Fitnah Besar (Al-Fitnatul Kubra) – aksi unjuk rasa yang dipicu fitnah politik.

Khalifah Utsman bin Affan tewas ditikam seorang penghafal Alquran yang termakan fitnah bahwa sang khalifah melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Kemudian, Ali bin Abi Thalib dibunuh kelompok Khawarij, yang memfitnahnya sebagai penista hukum Alquran karena ingin damai dengan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Terbunuhnya Sayidina Utsman yang dermawan dan Sayidina Ali yang ilmuwan itu menyisakan ironi. Kedua tokoh yang notabene aset besar bagi umat Islam justru meregang nyawa di tangan sesama Muslim. Sejak itu pula, umat Islam terpecah belah.

Pada era berikutnya, terjadi kesimpangsiuran informasi yang makin mencerai-berai umat dalam berbagai kelompok. Marak kabar hoax berupa cerita-cerita Israiliyat, yang mengaburkan sejarah serta orang-orang yang mengaku mewarisi hadis Nabi.

Beruntunglah ada ulama seperti Imam Bukhari yang rajin memverifikasi hadis dan berhasil memilahnya dalam beberapa kategori: sahih, hasan, dhaif, hingga maudhu'.

Saking cermatnya dalam memverifikasi konten sekaligus kredibilitas sumber pembawa informasi, Imam Bukhari sampai mengeluarkan seorang ulama dari daftar perawi hadis karena hal yang mungkin sepele bagi sebagian orang.

Ulama itu, ia nilai punya cela karena berbohong kepada hewan ketika memperdaya hewan untuk masuk kandang dengan iming-iming makanan.

Langkah Imam Bukhari dalam mengelola informasi demi menyelamatkan umat dari kerusakan akibat tersedak hoax jelas luar biasa. Agaknya mustahil dapat ditiru pada era digital ini. Tapi setidaknya, saya berusaha bermedsos dengan lebih cermat.

Kata maaf dan ralat sebagaimana saya singgung di atas adalah upaya saya membonsai hoax agar tak tumbuh liar.

Pikiran saya sederhana saja. Kalaupun sulit menghindarinya, janganlah sampai turut menebar kemudaratannya. Kalaulah belum sanggup berbuat baik, setidaknya jangan berbuat kerusakan. Walaupun kecil, siapa tahu langkah itu menjadi catatan amal baik.

Dalam salah satu hadis riwayat Imam Bukhari, Nabi berkata, "Seorang Muslim adalah seorang yang orang lain merasa aman dari (kejahatan) lisan dan tangannya."

Catatan ini adalah sekadar introspeksi saya selama aktif sebagai warganet pada tahun lalu. Sengaja saya bermawas diri karena sadar segala tingkah laku di jagat maya akan terekam jelas sekali. Jika dianggap baik, silakan diikuti.

Jika perlu dikoreksi, akan saya terima sebagai bahan perbaikan diri. Mengawali tahun ini, semoga kita dapat lebih beradab di jagat medsos yang makin tak pernah sepi. ●