Selasa, 10 Januari 2017

Berinvestasi di Sebuah Dunia yang Tertutup

Berinvestasi di Sebuah Dunia yang Tertutup
Christopher Smart ; Senior fellow di Mossavar-Rahmani Center for Business di Kennedy School of Government di Universitas Harvard; Asisten Khusus Presiden Bidang Ekonomi Internasional, Perdagangan, dan Investasi (2013-2015);
Deputy Assistant Secretary of the Treasury for Europe and Eurasia (2009- 2013);
Senior fellow di Chatham House
                                                      KOMPAS, 10 Januari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Investor, seperti astronom dan antropolog, sama-sama menggunakan model intelektual untuk menjelaskan semesta yang rumit, membuat keputusan-keputusan cepat dan menetapkan prioritas, sebelum melangkah lebih jauh.

Namun, sering kali, sebuah kejadian tak normal memaksa kita berpikir ulang atas apa yang sebelumnya kita pikir telah kita pahami. Anomali itu bisa berupa sebuah lubang hitam, suatu fosil aneh, atau sebuah pergolakan politik, seperti referendum Brexit di Inggris ataupun terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.

Dengan berakhirnya tahun yang penuh gejolak, pasar dunia yang kehilangan orientasi pun terus-menerus mencetak rekor-rekor baru. Akan tetapi, para investor tidak perlu merasa terganggu. Pada 2017, mereka perlu melihat kembali bagaimana perekonomian dunia bekerja dan melakukan penyesuaian atas penilaian mereka terhadap setiap saham atau obligasi yang dijual, karena meskipun prinsip-prinsip dasar pasar tetap sama, banyak hal lain yang berubah.

Setidaknya dalam dua dekade, sebagian besar investor berpegang pada konsensus di antara para ekonom dan ilmuwan politik bahwa dunia semakin mengecil dan semakin terintegrasi. Dengan kebangkitan Tiongkok dan India, sepertiga dari populasi dunia tiba-tiba berubah menjadi pekerja sekaligus konsumen dalam ekonomi global.

Munculnya teknologi baru menawarkan komunikasi yang lebih murah, robotik yang maju, dan analisis data yang semakin kuat, yang memungkinkan perusahaan memperkecil porsi persediaan dan mengintegrasikan rantai pasokan.

Sementara itu, para pemimpin politik secara bertahap mengembangkan rezim peraturan dan perdagangan yang menghapus tarif, menyederhanakan perdagangan lintas batas negara, dan membuka pasar-pasar baru yang menjanjikan. Perusahaan-perusahaan yang baik mencoba untuk mengambil keuntungan dari peluang-peluang baru, dan para investor mencari perusahaan-perusahaan yang terlihat paling menjanjikan.

Kinerja perdagangan

Menurut Organisasi Perdagangan Dunia, ekspor barang dagangan dan layanan komersial telah meningkat empat kali lipat sejak 1995. Mengingat rekor tersebut, ketika kinerja perdagangan menurun setelah krisis keuangan 2008, kebanyakan pengambil kebijakan berasumsi bahwa perjanjian dagang yang baru, sekali lagi, akan mendorong pertumbuhan. Pemerintahan Presiden Barack Obama, misalnya, membayangkan sebuah kawasan perdagangan bebas yang luas, meliputi Asia dan Eropa. Dua perjanjian besar yang kemudian mengikuti-Kemitraan Trans- Pasifik yang melibatkan 12 negara dan Kemitraan Dagang dan Investasi Trans-Atlantik-akan menempatkan Amerika Serikat sebagai pusat dari pasar yang saling terhubung, yang terdiri atas dua pertiga ekonomi dunia.

Akan tetapi, harapan tersebut memudar, sejalan dengan bangkitnya gerakan populis di Barat-yang memanfaatkan ketidakpuasan publik atas kolapsnya tatanan dunia-yang unggul dalam jajak pendapat. Sejak kemenangan Syriza yang radikal anti-kemapanan di Yunani hampir dua tahun lalu, para pemilih tampaknya semakin meyakini ide bahwa pemerintahan nasional perlu lebih berperan daripada organisasi supranasional dan multilateral, seperti Komisi Eropa dan Dana Moneter Internasional.

Demikian juga, banyak pengamat telah menafsirkan jajak pendapat Brexit sebagai sebuah upaya untuk menegaskan kembali kontrol atas batas-batas nasional. Dan sementara sejarawan masih terlalu asyik berdebat tentang penyebab kemenangan Trump, sudah jelas bahwa banyak pendukungnya menginginkan Amerika untuk menutup rapat-rapat pintunya, menimbun persediaannya, dan lebih mengandalkan diri sendiri daripada bergantung kepada mitra-mitra asingnya.

Secara bersama-sama, hasil pertarungan politik-ditambah kekuatan anti-kemapanan yang sedang bergerak pada pemilu di Perancis dan Jerman tahun depan-akan kian mengerem kelangsungan integrasi ekonomi dan politik global, setidaknya dalam jangka pendek. Untuk saat ini, banyak negara akan menghindari kesepakatan perdagangan skala besar dan hanya bertindak setengah hati dalam menyelaraskan peraturan-peraturan mereka.

Perusahaan-perusahaan yang beroperasi secara internasional akan segera menghadapi biaya yang tinggi karena akan semakin sulit memindahkan barang melintasi perbatasan negara dan mempekerjakan pekerja asing. Sementara itu, investor mereka harus puas dengan skala keuntungan yang lebih rendah.

Bahkan, ketegangan kecil dalam perdagangan antara Amerika dan Meksiko, misalnya, bisa sangat mahal bagi produsen mobil. Hal ini disebabkan beberapa komponen harus melintasi batas Amerika sebanyak delapan kali selama proses produksi. Dan seandainya saja Boeing belum menerapkan model rantai pasokan global dalam produksi Dreamliner-nya, barangkali ia juga akan dipaksa untuk melakukannya lebih cepat.

Menyiasati ketidakpastian

Apabila para pemilih menghendaki dibatasinya lalu lintas barang, jasa, dan orang lintas negara, maka kalangan perusahaan akan dipaksa mengadopsi model baru yang mungkin akan menghasilkan banyak kemubaziran di dalam batas wilayah negara. Dengan demikian, para investor perlu mencari perusahaan-perusahaan yang dapat menghasilkan keuntungan dengan kegiatan yang tak banyak melibatkan pelintasan batas, atau yang tetap menghasilkan keuntungan meski gesekan proteksionis semakin meningkat.

Dalam situasi seperti itu, pasar akan lebih menghargai perusahaan-perusahaan yang mampu berargumen dengan pemerintah dan menyiasati regulasi yang saling bertolak belakang ketimbang perusahaan-perusahaan yang mampu meningkatkan produktivitas dan membuka pasar-pasar baru.

Pada saat bersamaan, model baru yang muncul masih perlu memperhitungkan kekuatan arus utama yang menjaga keseimbangan model lama, khususnya kekuatan globalisasi dan inovasi teknologi yang tidak berhenti karena perlawanan pemilih. Dalam perekonomian global dewasa ini, peningkatan substansial produktivitas selanjutnya akan bersumber dari perusahaan-perusahaan yang menganalisis data pelanggan dan rantai produksi dalam skala besar.

Perusahaan-perusahaan yang melakukan hal tersebut dengan baik akan mampu merancang produk yang lebih baik, dengan biaya yang lebih murah. Akan tetapi, mereka akan mendapatkan hasil yang signifikan hanya jika mereka dapat membandingkan data lintas batas dan lintas yurisdiksi. Sementara itu, perubahan terus-menerus tak terhindarkan dari internet, penggunaan robot untuk meningkatkan produktivitas, dan pembagian kerja sebagaimana digambarkan Adam Smith, akan memaksa pemerintah untuk bekerja sama.

Para investor yang cerdik akan mencari perusahaan-perusahaan yang dapat bertahan dari tekanan gerakan perlawanan populis yang menentang globalisasi dan mengambil keuntungan dari munculnya tren ekonomi dan teknologi baru. Kemunculan model ekonomi dan teknologi baru itu akan menuntut suatu analisis yang lebih rumit dalam waktu lama. Akan tetapi, layaknya astronom atau antropolog yang andal, para investor yang sukses akan menemukan pola yang dapat diandalkan dalam samudra ketidakpastian. ●