Rabu, 14 Oktober 2015

Menguji Paket Kebijakan Ekonomi

Menguji Paket Kebijakan Ekonomi

A Prasetyantoko  ;  Dosen di Unika Atma Jaya, Jakarta
                                                       KOMPAS, 12 Oktober 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Carmen Reinhart, Profesor Ekonomi Universitas Harvard, mengingatkan, saat ini negara berkembang tengah menghadapi ancaman krisis amat serius. Cirinya, pertumbuhan ekonomi dan ekspor terkoreksi tajam, sementara defisit neraca transaksi berjalan serta defisit fiskal terus melebar. Di samping itu, utang terus meningkat dan aliran modal masuk menurun. Dalam derajat tertentu, perekonomian kita mengalami hampir semua gejala tersebut. Benarkah kita menghadapi ancaman krisis?

Tidak semua gejolak berakhir dengan krisis. Sebaliknya, tak semua situasi aman tidak berpotensi krisis. Dalam situasi krusial ini, kebijakan pemerintah dan situasi politik jadi sangat menentukan. Begitu kata Nouriel Roubini, Profesor Ekonomi Universitas New York. Krisis berpotensi meletup ketika siklus ekonomi bertemu dengan siklus politik.

Kita masih beruntung siklus ekonomi tak terlalu parah, sementara siklus politik tak terlalu mengkhawatirkan. Meskipun demikian, ada saja gejolak politik yang jika tak dikendalikan berpotensi merusak dinamika ekonomi.

Dinamika pasar keuangan pada minggu lalu menunjukkan tendensi perbaikan. Rupiah menguat kembali menjadi Rp 13.300-an setelah sempat menyentuh Rp 14.900-an. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan kembali ke level 4.500-an setelah sempat berada di level 3.900-an. Apakah ini akibat paket kebijakan ekonomi tahap III? Sejatinya kausalitas di antara keduanya sulit dibuktikan. Ada faktor lain yang memberi konteks.

Pertama, proyeksi perekonomian Amerika Serikat kembali memburuk sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali menurun. Sangat mungkin, kenaikan suku bunga baru akan dilakukan pada kuartal pertama tahun depan. Itulah mengapa likuiditas kembali mengalir ke negara berkembang. Kedua, di pasar keuangan domestik sedang ada hajatan besar penerbitan saham baru PT HM Sampoerna Tbk senilai hampir Rp 21 triliun. Ketiga, Bank Indonesia gencar mengintervensi pasar, terlihat dari cadangan devisa yang terus menurun menjadi 101,7 miliar dollar AS pada September 2015, dari posisi 105,3 miliar dollar AS pada bulan sebelumnya.

Di luar soal teknis, secara umum kepercayaan investor asing terhadap perekonomian domestik masih cukup tinggi. Ditambah dengan paket kebijakan ekonomi tahap III yang semakin fokus, minat investor juga semakin meningkat. Dengan begitu, meski tidak memiliki korelasi langsung dengan perbaikan situasi, paket kebijakan ekonomi tetap berfungsi sebagai faktor moderasi atau membuat gejolak tak berlanjut dan keyakinan investor bertambah.

Ada tiga fokus paket kebijakan ekonomi tahap III ini. Pertama, penurunan tarif listrik, harga solar, dan harga gas. Kedua, perluasan penerima kredit usaha rakyat melalui subsidi bunga. Ketiga, penyederhanaan izin pertanahan untuk kegiatan penanaman modal. Fokus pertama menurunkan biaya produksi, kedua memperbaiki akses permodalan dan ketiga mempermudah investasi. Jika ketiganya berjalan seiring, dampaknya terhadap sektor riil akan terasa.

Majalah The Economist edisi awal Oktober memuat laporan khusus tentang dominasi dollar AS yang dinilai mulai membahayakan. Pasalnya, dominasi nilai tukar dollar AS di pasar global semakin meningkat, sementara ekonomi riilnya justru meredup. Proporsi saham perusahaan AS terhadap pasar investasi global menurun, tetapi dana kelolaan perusahaan investasi AS justru meningkat.

Di sisi lain, negara berkembang menikmati dominasi dollar karena membantu memenuhi kebutuhan keuangan domestik mereka. Sebanyak 20 persen-50 persen surat utang beberapa negara berkembang, seperti Indonesia, Malaysia, Meksiko, Turki, dan Afrika Selatan, dipegang pemilik asing. Prinsipnya, semakin besar proporsi asing terhadap kepemilikan aset keuangan domestik, semakin berpotensi mengalami gejolak. Karena itu, suku bunga di negara tersebut cenderung tinggi guna mempertahankan pemegang surat utang asing agar tak keluar.

Data terkini imbal hasil surat utang pemerintah bertenor 10 tahun di beberapa negara mengindikasikan ketergantungan kepada investor asing. Brasil menawarkan imbal hasil tertinggi, 15,47 persen, dan Turki 10,99 persen. Indonesia termasuk dalam kelompok negara ini dengan imbal hasil 9,79 persen.

Jika melihat polanya, hampir semua negara yang kini begitu bergantung pada pendanaan asing semula merupakan negara pengekspor komoditas primer. Momentum penting pada 2013 ketika harga komoditas turun drastis membuat negara pengekspor komoditas mulai mengalami penurunan kinerja ekonomi, sementara pasar keuangannya mulai bergejolak.

Kini, meski tekanan terhadap nilai tukar mereda, tidak ada jaminan gejolak tak akan terjadi lagi. Selama kita belum mampu mengganti ekspor komoditas dengan produk manufaktur; dan selama ketergantungan pada pendanaan asing masih tinggi, kita harus siap diombang-ambingkan gejolak pasar.

Paket kebijakan I, II, III, dan sebentar lagi IV dalam jangka pendek berfungsi memoderasi situasi. Namun, dalam jangka panjang, paket kebijakan itu harus mampu mengubah pola fundamental ekonomi. Kita menantikan kausalitas langsung dan signifikan antara dinamika pasar keuangan dan paket kebijakan. Selain perlu waktu, juga perlu konsistensi kebijakan. Jangan sampai kegaduhan politik membuat siklus ekonomi tak mampu beranjak naik!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar