Minggu, 25 Oktober 2015

Generasi Wacana

Generasi Wacana

Rhenald Kasali  ;  Pendiri Rumah Perubahan
                                                      JAWA POS, 19 Oktober 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Saya sering kasihan melihat anak-anak muda yang makin pintar tapi hidupnya galau. Penyebabnya beragam. Misalnya, karena hal sepele saja.

Belum lagi tamat SMA, mereka sudah dikejar-kejar orang tuanya, “Mau kuliah di mana? Swasta, atau negeri?”

Bahkan sampai menjelang lulus SMA sekalipun masih banyak yang bingung mau kuliah di mana dan jurusan apa?

Jangan heran kalau banyak yang salah jurusan, bahkan sarjana nuklir pun berkarir di bank, pertanian jadi wartawan dan seterusnya. Susah-susah kuliah di fakultas kedokteran, namun begitu lulus maunya jadi motivator.

Karena sejak awal sudah galau, setelah lulus tetap galau. Generasi ini pada gilirannya bermetamorfosa menjadi generasi wacana. Jadi karena dulu selalu galau, setelah lulus hanya mampu berwacana.

Ribut melulu, paling jauh cuma bisa buat heboh di sosial media, membuat meme, tapi tak berani bertindak. Apalagi mengambil keputusan.

Suaranya Keras

Indikatornya simpel. Kita bisa dengan mudah menemukan mereka di mana-mana. Contohnya begini. Ada dahan yang patah dan menghalangi jalan. Lalu lintas pun jadi macet. Apa yang dilakukan oleh generasi wacana?

Dengan gadget-nya, mereka memotret dahan itu, juga memotret kemacetan yang terjadi. Lalu, mengunggahnya ke media sosial, tentu disertai dengan komentar. Isinya kritik. “Di mana dinas pertamanan kita? Ada dahan tumbang kok didiamkan!”

Lalu, ketika hasil unggahannya dikomentari banyak orang, senangnya bukan main. Begitulah potret generasi wacana. Padahal kalau mau membantu, dia bisa menyingkirkan dahan tersebut dari jalan. Bukan hanya berwacana.

Begitulah kita juga saksikan sikap mereka terhadap asap. Itu hanya satu contoh. Contoh lainnya ada di mana-mana.

Generasi wacana ini sebagian memasuki dunia kerja. Beberapa dari mereka meningkat kariernya dan menduduki posisi-posisi penting.

Kalau di perusahaan swasta, mereka inilah yang berteriak paling keras ketika kondisi ekonomi menjadi lebih sulit. Misalnya, ketika pemerintah mengubah kebijakan, atau ketika Rupiah melemah/ kembali menguat seperti sekarang ini.

Kalau di dunia politik, mereka ributnya minta ampun. Persis seperti anggota DPR kita. Bisanya kritik sana, kritik sini, tapi pekerjaan utamanya, seperti membuat undang-undang, malah tidak diurus.

Kalau di lingkungan pemerintahan, mereka adalah orang-orang yang sibuk mengamankan posisi dan cari selamat.

Caranya? Adu pintar debat dan lihai membangun argumentasi. Mereka sangat pintar kalau soal ini. Tapi, nyalinya langsung menciut ketika ditantang untuk mengambil keputusan.

Akibatnya kita merasakan dampaknya. Penyerapan anggaran akan terus sangat rendah dan kinerja perekonomian kita pun melambat. Kalau pemerintah saja tidak punya nyali, apalagi kalangan swasta.

we-CHANGE

Kalau mau melihat masa depan suatu negara, lihatlah generasi mudanya. Kalau generasi mudanya mudah galau, hanya bisa berwacana, bisa ditebak kelak seperti apa nasib negaranya.

Kata banyak orang, karena galau dan hanya sibuk berwacana, negara kita tertinggal sepuluh tahun dibanding negara-negara lain.

Contohnya gampang. Lihatlah jalan tol kita. Kita mulai membangun jalan tol sejak 1973. Lebih dulu ketimbang Malaysia dan China. Tapi, coba lihat berapa panjang jalan tol yang sudah kita bangun?

Malaysia mulai membangun jalan tol pada 1990. Namanya, jalan tol Anyer-Hitam, panjangnya sekitar 10 kilometer. Itu pun yang mengerjakan BUMN kita, PT Hutama Karya. Kini panjang jalan tol di Malaysia sudah mencapai 3.000-an kilometer.

China pun baru membangun jalan tol pada 1990. Jalan tol pertama yang mereka bangun namanya Shenda, menghubungkan dua kota, Shenyang dan Dalian. Kini, China sudah memiliki jalan tol sepanjang 85.000 kilometer.

Anda tahu berapa panjang jalan tol yang sudah kita bangun hingga saat ini? Belum sampai 900 kilometer!

Begitulah, kalau negara lain sibuk membangun, kita sibuk berwacana lantaran tidak berani mengambil keputusan.

Baiklah saya juga tak mau disebut hanya bisa berwacana. Sebagai pendidik, yang saya lakukan adalah menempa anak-anak muda kita agar mereka tak hanya bisa berwacana, tapi berani mengambil keputusan. Itu sebabnya di Rumah Perubahan, saya menyiapkan program boot champ, we-CHANGE.

Lewat program ini, saya akan merekrut banyak anak muda di bawah usia 30 tahun. Syaratnya sederhana. Gigih, disiplin, berpikiran terbuka, siap belajar dan punya tekad yang kuat untuk memperbaiki masa depan.

Mereka akan saya jadikan mentee, sedang saya mentornya. Saya akan mendidik untuk berani mengambil keputusan. Saya akan mendidik mereka untuk menjadi driver, bukan passenger. Silahkan cari informasinya. Ayo anak-anak muda, siapa berminat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar