Jumat, 16 Oktober 2015

Aktor Intelektual Tragedi Mina

Aktor Intelektual Tragedi Mina

Ali Mustafa Yaqub  ;  Imam Besar Masjid Istiqlal
                                                    REPUBLIKA, 09 Oktober 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Prosesi ibadah haji tahun 1436 H/2015 M selesai sudah. Sebagian jamaah haji telah pulang ke negara masing-masing, sementara sebagian yang lain masih berziarah ke kota suci Madinah.

Ada catatan pahit yang harus ditelan oleh umat Islam pada musim haji tahun ini, yaitu tragedi di Mina yang menelan korban lebih dari 1.000 orang. Sepanjang sejarah kontemporer ibadah haji, setiap tahun memang ada musibah.

Apalagi jika yang disebut dengan musibah itu, adanya jamaah yang meninggal meskipun karena faktor sakit. Namun tampaknya, ada karakter yang berbeda antara musibah-musibah haji yang terjadi sebelum tahun 1980 dan musibah-musibah haji yang terjadi sesudahnya.

Sebelum tahun 1980, musibah-musibah di Mina lebih bersifat alami dan tidak menelan korban yang banyak. Akan tetapi, setelah tahun 1980, musibah-musibah di Mina memiliki beberapa kejanggalan karena musibah itu di samping menelan korban yang massal sampai ratusan bahkan ribuan jamaah, polanya juga sama, yaitu jamaah terinjak-injak.

Sebagai seorang yang pernah tinggal di Arab Saudi sejak tahun 1976 hingga 1985, dan selalu mengikuti prosesi ibadah haji bahkan sesudah itu, kami melihat adanya beberapa kejanggalan dalam tragedi Mina, khususnya yang terjadi pada tahun 2015 ini. Apabila apa yang diberitakan itu benar bahwa pada Kamis, 10 Dzulhijah, jamaah haji yang berjalan menuju tempat pelontaran Jamrah Aqabah, tiba-tiba yang di depan berhenti sehingga yang di belakang berdesakan sampai terinjak-injak dan mati, dan yang mati berjumlah 1.095 orang, maka hal itu tampaknya sulit dapat diterima oleh akal yang sehat.

Sebab, para jamaah yang hendak melontar Jamrah Aqabah itu sedang dalam kondisi ngantuk, letih, dan lapar akibat pada Rabu, ketika mereka wukuf di Arafah, seharian mereka tidak bisa istirahat. Malam hari juga, dalam perjalanan dari Arafah ke Mina, mereka tidak bisa tidur. Sementara pagi harinya, mereka kebanyakan belum mendapat sarapan. Karenanya, perjalanan mereka itu tidaklah cepat melainkan agak santai.

Pada tahun 2000, ketika kami diundang oleh Pemerintah Arab Saudi untuk memberikan penyuluhan haji melalui radio dan saluran televisi Arab Saudi, dari lereng gunung di Mina kami sempat memantau perjalanan jamaah haji. Ternyata, perjalanan mereka itu pelan, tidak berlari, tanpa berdesakan. Berdesakan hanya terjadi ketika mereka sedang melontar Jamrah Aqabah.

Jamaah haji yang berjalan seperti itu, apabila jamaah yang di depan tiba-tiba berhenti, tampaknya sulit diterima akal apabila jamaah di belakangnya langsung terinjak-injak. Apalagi karakter haji adalah beribadah, dan orang yang beribadah selalu akan menolong orang lain.

Sekiranya ada 100 orang yang jatuh dan terinjak-injak sampai mati, maka yang seribu orang tentunya akan berusaha menghindarkan diri dengan mundur ke belakang. Akan tetapi, seperti diberitakan justru semuanya mati terinjak-injak. Maka suatu hal yang mungkin sekali bahwa ada kelompok jamaah haji yang memang mendapatkan tugas untuk merobohkan jamaah yang lain, kemudian kelompok yang lainnya menginjak-injak mereka sehingga yang roboh itu kemudian mati.

Boleh jadi juga, ada kelompok yang sengaja mau melakukan bunuh diri dengan merobohkan diri dan diinjak-injak. Apabila perkiraan ini benar, maka hal itu bukanlah perbuatan orang yang beribadah haji, melainkan perbuatan orang-orang yang sengaja membuat kekacauan.

Pada tahun 2000, kami mencoba untuk melontar Jamrah Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijah dari lantai atas. Waktu itu tempat pelontaran Jamrah baru ada dua lantai. Situasi saat itu sangat padat sehingga kami gagal untuk melontar jamrah dari lantai atas. Akhirnya, kami berhasil melontar jamrah lewat lantai bawah. Pada saat itu, tidak ada satu pun jamaah yang terjatuh apalagi terinjak-injak sampai mati.

Kepadatan yang lebih parah lagi sebenarnya terjadi ketika jamaah haji sedang melakukan thawaf khususnya tawaf ifadhah. Para jamaah hampir bisa disebut berimpitan. Kendati demikian, tidak ada jamaah yang terjatuh apalagi terinjak-injak. Sekiranya ada kecelakaan di mana salah satu jamaah terjatuh, maka tentu yang lain akan segera menolong. Oleh karena itu, tragedi jamaah terinjak-injak yang berulang kali di Mina itu tampaknya memang didesain oleh kelompok tertentu untuk kepentingan tertentu pula.

Di antara kepentingan itu adalah pertama, ingin memberikan kesan kepada dunia bahwa Pemerintah Kerajaan Arab Saudi tidak mampu menjamin keamanan para jamaah haji. Berikutnya adalah untuk memberikan rasa takut kepada umat Islam agar mempertimbangkan kembali niatnya untuk beribadah haji karena Mina adalah kuburan massal, siapa yang datang ke Mina sama artinya dengan setor nyawa.

Ronde berikutnya seperti yang sudah tampak digelindingkan adalah munculnya pendapat bahwa kota suci Makkah harus dikelola secara internasional karena Makkah milik umat Islam. Apabila wacana ini menggelinding, maka akan terjadi negara-negara Muslim saling berebut untuk mendapatkan kesempatan mengelola tanah suci Makkah.

Akhirnya, yang terjadi justru konflik antarumat Islam. Maka sangat baik merenungkan kembali Protokol Zionisme nomor 7 yang menyatakan, "Untuk kawasan Eropa dan demikian pula benua-benua lain, kita wajib menciptakan konflik, mengobarkan api permusuhan dan pertentangan." Dalam kurun waktu paling lama 10 tahun, tidak mustahil, tragedi serupa akan terulang lagi karena memang sudah ada yang mendesain kecuali apabila aktor intelektual dan kelompok jamaah haji yang selalu membuat keonaran di tanah suci itu tidak dizinkan lagi memasuki Arab Saudi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar