Senin, 02 Januari 2017

Perubahan Politik Timur Tengah

Perubahan Politik Timur Tengah
Ibnu Burdah  ;   Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam;
Dosen Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
                                           SUARA MERDEKA, 30 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

ADA dua unsur baru dalam perubahan politik Timur Tengah pada 2016 dan beberapa tahun sebelumnya, yaitu suara sipil dan kelompok teror. Dua hal itu tidak menjadi variabel penting dalam waktu panjang sebelumnya. Penguatan suara sipil tercermin secara jelas dalam gerakan rakyat di sejumlah negara Arab yang sukses menumbangkan sejumlah diktaktor sejak pengujung 2010 hingga kini.

Gerakan rakyat itu lintas ideologi, less leadership, bahkan less organization. Tapi, dampaknya terhadap perubahan rezim begitu nyata. Bagi rezim-rezim yang masih bertahan, kekuatan baru ini menakutkan dan berpengaruh besar terhadap perilaku politik mereka.

Gelombang dan arus kekuatan baru yang terajut melalui media-media baru ini lebih menakutkan rezim daripada kelompok-kelompok gerakan dengan ideologi dan organisasi kuat. Harapan dari munculnya pilar kekuatan baru ini sungguh besar bagi terciptanya Timur Tengah yang lebih demokratis, stabil-damai, sejahtera dan bermartabat. Namun, jalan sejarah ternyata berbeda jauh dari harapan itu.

Istilah Musim Semi Arab (al-rabií al-Arabiy/Arab springs) yang menyiratkan makna harapan tak layak lagi digunakan. Istilah yang tepat bagi fakta Timur Tengah sekarang adalah al-Karitsah al-Arabiyyah (tragedi atau bencana Dunia Arab), bukan lagi Musim Semi. Faktanya memang demikian. Pada 2016 dapat disaksikan tragedi kemanusiaan yang makin parah di banyak negara Arab. Suriah luluh lantak, korban nyawa sudah tak terkira, separuh lebih penduduk jadi pengungsi. Tetapi, semua itu tak cukup membuat para aktor berhenti berperang.

Mereka berkali-kali gagal mencapai kesepakatan damai. Yaman yang semula optimistis dapat melakukan transisi damai, 2016 juga terjadi kekacauan luar biasa. Perebutan kekuasaan antarkelompok, sekte, konstestasi antarkabilah, dan campur tangan aktor-aktor regional mewarnai perjalanan Yaman sepanjang tahun ini. Operasi Ashifah al-Hazm (Badai Penentuan) pimpinan Saudi semakin menyempurnakan kehancuran Yaman. Demikian pula di Libya. Solusi politik apa pun di negeri ini menjadi lemah ketika diimplementasikan di lapangan.

Libya terlalu rumit dibicarakan di meja negosiasi. Aktor bersenjata yang begitu banyak, keterlibatan sejumlah negara tetangga plus leluasanya kelompokkelompok radikal al-Qaeda dan IS. Yaman, Suriah, dan negeri ini adalah tempat yang nyaman bagi kelompok-kelompok radikal itu. Kondisi ini diperparah dengan pengalaman Libya yang minim dalam membangun kehidupan bersama baik dalam konteks kenegaraan maupun sosial. Negeri ini selama 42 tahun dipimpin Khadafi hampir tak mengenal proses pemilu meski secara formal saja.

Mereka juga tak terbiasa dengan partai politik atau ormas sosial yang abalabal sekalipun. Pada 2016, praktis hanya Tunisia yang memberi harapan. Kendati sempat terjadi kekhawatiran akan terjadi skenario Mesir, negeri pelopor Musim Semi Arab itu bisa landing selamat.

Bahkan, peran kwartet masyarakat sipil negeri itu memperoleh anugerah Nobel Perdamaian. “Kemurahan hati” Partai Nahdhah memberi saham besar bagi capaian ini. Hanya Tunisia yang memberi catatan menggembirakan pada 2016. Di negeri Musim Semi Arab lain, institusionalisasi hasil gerakan bisa dikatakan gagal. Pemilu di Mesir berujung pada kenaikan kembali militer ke tampuk kekuasaan. Adapun di Yaman, Suriah, dan Libya, seperti diulas di atas, harapan berubah jadi bencana luas dan mengerikan.

Kelompok Teror Baru?

Sebagaimana 2016, pada 2017 negara-negara Timur Tengah sepertinya masih menghadapi tantangan sama. Upaya penghentian konflik lewat perundingan damai di sejumlah negara Arab serta insitusionalisasi hasil-hasil gerakan rakyat dalam lembaga demokratis.

Persoalan lain yang tak kalah penting, kelompokkelompok teror merajalela di tengah suasana konflik yang meluas. Kekacauan adalah rumah idaman bagi kelompok-kelompok teror untuk merekrut dan melatih dengan kekerasan. Mereka juga memperoleh medan praktik secara langsung di arena konflik sesungguhnya. Cabang-cabang atau sel-sel al- Qaeda dan IS tetap menjadi variabel sangat penting untuk melihat perkembangan Timur Tengah tahun ini. Keduanya bukan kelompok besar yang mewakili lapisan arus utama masyarakat muslim atau Timur Tengah.

Tetapi dampak dari kehadiran mereka sungguh luar biasa. Pada 2016, dapat disaksikan puncak perluasan wilayah teritorial IS di Irak dan Suriah. Bahkan mereka memproklamirkan provinsi (wilayat) di banyak negara seperti di Sinai Mesir, Yaman, dan Libya. Sel-sel mereka menyebar ke hampir seluruh benua. Tapi pada 2016 ini pula kekuasaan teritorial ISIS menyusut. Diperkirakan di pengujung tahun ini, mereka tumbang di Irak.

Wilayah teritorial mereka menyempit di Suriah dan terdesak di negara-negara lain. Tapi mereka masih punya sel-sel yang bisa diaktifkan ketika mereka terdesak atau kapan saja. Sel-sel IS tak kalah dengan al-Qaeda, kelompok teror yang tanpa doktrin teritorial, di masa puncaknya. IS dan al-Qaeda tampaknya masih akan menjadi variabel penting bagi perubahan politik Timur Tengah pada 2017. Dua kelompok itu mungkin masih bertahan seperti sekarang.

IS masih punya basis teritorial dan berpusat di Raqqa Suriah serta memiliki sel yang menyebar dan al-Qaeda dengan sel-sel yang bertamu di banyak negara. Namun mungkin IS tumbang di kedua wilayah pusatnya, yaitu Irak dan Suriah, pada 2017. Lalu mereka berubah menjadi sel-sel dengan jaringan luas sebagaimana al-Qaeda.

Tapi mereka pasti matimatian mempertahankan teritorial. Sebab, doktrin inilah yang membedakan mereka dengan al-Qaeda, pesaingnya. Kemungkinan lain juga bisa terjadi, yakni kelahiran payung kelompok teror baru. Sebagaimana diketahui, al-Qaeda pascapenyerbuan Afghanistan hanya payung ideologi bagi kelompok- kelompok teror di berbagai negara. IS berpotensi juga menjadi kelompok semacam itu. Jika itu yang terjadi, ada kemungkinan bagi kelahiran payung teroris global baru. ●